"Jadi begini tuan,kedatangan kami kesini bukan hanya untuk sekedar silaturahmi.Namun,ada maksud dan tujuan yang baik tentunya!" kata Kang Ahmad memulai menyampaikan maksud dan tujuan setelah di jamu makan siang oleh tuan rumah.
"Alhamdulillah kalau begitu,kami juga sudah menduga tentang hal itu.Namun,kami juga takut.Takutnya anak kami yang di pesantren mempunyai masalah,hingga kalian sekeluarga dari pesantren datang untuk menemui kami!" kata pak Bima dengan suara serak yang khas.
"Tidak tuan,anak tuan di pesantren tidak mempunyai masalah apa apa,bahkan dia tidak tahu bahwa kami datang kerumahnya!" sambung Kang Rahmat.
"Alhamdulillah kalau begitu.Sebenarnya,kami sudah sangat rindu pada putri kami.Dia sangat enggan untuk pulang ke rumah hanya untuk menemui orang tuanya.Dia lebih betah di pesantren dari pada di rumah.Tapi,walaupun begitu,kami merasa bangga mempunyai anak seperti dia!" pak Bima dengan nada sedih.
"Sebenarnya,pihak pesantren juga sudah memberi waktu kepada para santri untuk pulang dan menemui para orang tuanya.Namun,hanya sebagain santri yang memanfaatkan waktu itu untuk pulang,kebanyakan di gunakan untuk bersenang senang di pesantren!" kata kang Ahmad.
"Iya,saya juga tahu,tidak mungkin pihak pesantren melarang larang santrinya untuk tidak pulang!" kata pak Bima.
"Oh iya tuan,kami punya adik bungsu seorang laki laki,ini orangnya!" kata kang Ahmad sambil menepuk paha kang Hatim.
"Iya?"
"Kami sekeluarga rasa,bahwa adik kami ini sudah cukup umur untuk membangun sebuah kehidupan yang baru!" jelas kang Ahmad.
"Maklum manusia tuan,seorang ustadz,atau seorang santri juga mempunyai hasrat dan rasa cinta!"
"Tadinya,kami mau menjodohkan adik kami ini,namun ternyata,dia sudah punya pilihan sendiri!"
"Dan kebetulan,yang di pilih oleh adik kami ini,anak gadis tuan sendiri!" kata kang Ahmad.
Seketika pak Bima meneteskan air mata,begitu juga dengan istrinya.Mereka tidak menyangka bahwa ternyata putri mereka sudah dewasa sehingga ada yang melamarnya.
"Jadi,kami ingin meminta restu kepada tuan,soal Hana,nanti biar nanti kami yang beritahu!" tambah kang Ahmad.
"Kang,kami sangat bahagia mendengar maksud dan tujuan akang sekeluarga yang ingin meminang anak kedua kami.Kami senantiasa akan merestui pernikahan ini!" jawab pak Bima yang membuat semua orang bahagia.
"Alhamdulillah,namun pak,kami bukan sekedar mau melamar,tapi kami mau menghalalkannya sekarang juga!" kata kang Ahmad.
"Apa? tapi bagaimana dengan putri kami? kan dia tidak ada di sini?" tanya pak Bima.
"Tidak apa apa tuan,dalam kitab Fathul muin,bab Nikah,di perbolehkan seorang pria menikah tanpa ada calon pengantin istrinya.Asalkan ada wali saja yang akan menikahkan putrinya!" kata kang Rahmat.
"Bagai mana tuan?" tanya kang Ahmad.
"Pasti itu yang terbaik untuk putri kami,dari pada di nanti nanti dan malah mendapatkan jodoh yang kurang baik,lebih baik di lakukan saja!" jawab pak Bima.
"Alhamdulillah!" kata semua orang.
Kang Hatim semakin berkeringat karena gugup.
"Saya akan ambil mas kawinnya!" kata teh Alvi.
Teh Alvi pun menuju mobil dan mengambil alat sholat berupa mukena yang terbuat dari sutra dan sajadah.Juga tidak lupa mas seberat sepuluh garam.
Teh Alvi membawa semua itu ke dalam rumah di bantu suaminya.
"Ini mas kawinnya!" kata teh Alvi menyimpan yang dia bawa di atas meja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Alby Upy
gmpang bnget lngsung dihalalin gak ngurus ini itu dulu 🤭
2023-12-07
0
Puspa Trimulyani
Masya Allah.....langsung dihalalkan....😭😭😭😭saya terharu.....Hana sendiri tidak tahu dia dinikahi Hatim....🤭
2023-04-27
2
neng aya
🤗
2023-01-08
0