"Lagi?"
"Tidak boleh menyakiti hati suami,harus menggembirakan hati suami!"
"Hadist?"
"Tidaklah istri yang berkata kepada suaminya: Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikanmu melainkan Allah menghapus amalannya selama tujuh puluh tahun sekalipun dia berpuasa dan beribadah di malam hari!"
"Masih ada?"
"Menghormati dan bergaul dengan baik!"
"Lagi?"
"Tidak meminta sesuatu kepada suami yang tidak bisa di sanggupi!"
"Ada lagi?"
"Emh,hanya itu yang saya tahu kang!"
"Ya sudah,karena sebentar lagi dzuhur,kita sudahi tes kali ini,besok lanjut di jam yang sama,jangan nunggu di panggil!"
"Baik kang,saya permisi!" Hana sambil memakai kembali cadarnya.
"Jangan dulu di pakai!" kang Hatim menyodorkan tangannya siap untuk di cium.
Hana melepas kembali cadarnya dan mencium punggung tangan kang Hatim.
"Saya permisi kang,Assalamualaikum!" kata Hana.
"Waalaikumusalam!" jawab Kang Hatim.
Hana pun melangkahkan kakinya.
"Tunggu!" kata kang Hatim menghentikan langkah Hana.
Apa lagi sih,aku ingin mandi,ingin nyuci eh malah di panggil lagi!
Hana berbalik badan.
"Duduk"
Dengan malas Hana kembali duduk di kursi tanpa berbicara satu patah katapun.
"Ada apa kang?" tanya Hana malas.
"Ini,kemarin saya ke jakarta,dan bertemu dengan pak Bima ayah kamu,dan dia menitipkan uang kepada saya untuk di berikan pada mu,tapi maaf katanya,cuman ada segitu!" kata kang Hatim menyodorkan uang kertas berwarna merah sebanyak lima lembar.
"Oh,terima kasih kang,saya akan mengambilnya,dan ini untuk akang!" kata Hana mengambil tiga lembar uang merah itu dan menyimpannya dua lembar.
"Tidak tidak,saya sudah di kasih saya ayah kamu,bahkan bukan hanya saya,kakak kakak saya juga di kasih oleh ayah kamu!" kang Hatim berbohong dan hatinya terus beristighfar.
"Oh ya sudah,saya terima kang,terima kasih!"
Biar gak lama...
"Sama sama!" tersenyum.
"Saya pamit kang,Assalamualaikum!"
"Waalaikumusalam!"
Kang Hatim tersenyum setelah kepergian Hana.
"Bahagia terus kayaknya!" kata seseorang yang baru masuk dan langsung duduk di hadapan kang Hatim.
"Astagfirullah,salam dulu,baru masuk!"
"Sudah,tapi maklum lagi bahagia,jadi gak terdengar ada yang salam sampai dua kali!" kata teh Alvi.
"Waalaikumusalam!" kata kang Hatim.
"Kamu sudah memberikan nafkah batin dan dzohir pada istrimu,bagus Hatim!"
"Aku belum memberikan nafkah batin teh,aku baru memberikan nafkah dzohir sedikit!"
"Ngasih ilmu juga sama dengan ngasih nafkah batin Hatim!"
"Oh iya teh,lupa!"
"Makanya,mikirnya jangan macem macem,jadi lupa dan lupa kan!"
"Iya teh!"
"Kalau sudah gak kuat,langsung bagi tahu saja!"
"Aku mau bertemu dengan kang Roni!"
"Mau apa?"
"Mau berlatih kesabaran menghadapi teteh!"
"Astagfirullah,mending teteh dari pada teh Dawa!"
"Sama saja,teteh terlalu cerewet dan teh Dawa terlalu jutek.Harusnya kalian bertukar kepribadian!"
"Hahah,mana mungkin Hatim!"
"Mau apa teteh datang ke sini?"
"Ah iya,ini ada yang harus kamu kerjakan,dari tadi teteh nunggu kamu selesai ngetes istrimu di sana sampai pegel!" menunjuk ke arah pintu.
"Bukankah mendengar ucapan orang lain itu tidak boleh?"
"Hheheh,maaf maaf!"
"Apa ini?" membuka map yang di berikan teh Alvi.
"Itu kira kira dana yang di butuhkan untuk membangun panti asuhan!"
"Ooooh,proposal nya sudah di buat?"
"Belum,makanya teteh datang kesini,mau nyuruh kamu buat proposal!"
"Ok!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
kok mau maunya ya si Hana disuruh buka cadar, tanpa tau alasannya??
mosok gknheran gitu.....
kl blm tau alasan syar'i, yaa hrs kekeuh jgn buka cadar, cium tangan., berduaan,...
2023-12-06
0
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
sudah sekian kali bertemu dengan kang Hatim, belum ada firasat gitu dengan Hana ya, kalo dia sudah dihalalkan oleh Hatim..???
2022-05-07
2
Amanah Amanah
klo udh tau swaminya mungki hatim ngsih kecupan stllah les🤣🤣
2022-02-19
2