"Eh...anak kecil minggir kamu!!"-usir bodyguard Naren-
"Lahh...aku duluan yang disini"-jawab Rena dengan ketus-
"Makanya datang lebih pagi dongg...gimana sih!!!"-berkacak pinggang di hadapan Naren-
Seorang Serena yang tidak tahu jika orang dihadapannya adalah ketua Mafia yang paling kejam Narendra Oliver Pradipta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana_Jm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Kabar
Setelah kejadian kebakaran itu, Gavin tak pernah muncul kembali di sekitar Serena. Namun dirinya masih suka mengirim barang untuk Serena, barang itu tidak pernah sampai di tangan Serena karena langsung di ambil oleh suruhan Narendra yaitu Viktor.
Laki-laki itu selalu memberi informasi tentang Serena dan siapapun yang mendekati gadis itu akan ia laporkan ke Tuannya.
"Kemana dia beberapa hari ini?!! Nggak kelihatan sama sekali!!"-gumam Viktor curiga-
"Biasanya suka muncul tiba-tiba!! Ini sama sekali nggak ada orangnya"-ucapnya sendiri sambil menoleh ke apartemen Serena-
Serena pergi dari apartemen ke kota lain untuk sementara waktu, sekaligus menenangkan dirinya dari kejadian lalu yang menimpanya. Sampai saat ini dirinya merasa seperti ada yang sengaja memisahkan ia dengan orang tuanya.
Yang ia punya hanya nomer ponsel Narendra, selain itu dia tidak punya. Hanya beberapa karyawan tokonya saja yang masih sering menghubungi dirinya perihal pekerjaan atau urusan pribadi.
"Lagi sibuk banget ya Non? Jarang banget kesini?"- ucap Lala melalui panggilan telepon-
"Iyaaa....nanti kalau udah selesai urusan yaa"-jelas Serena sambil tersenyum manis-
"Oh iyaaa...Non, dari kemarin ada laki-laki yang mencari Nona?"-celetuk Lala sangat antusias-
"Siapa?!! Kamu pernah melihatnya?"-telisik Serena santai-
"Dia mirip dengan laki-laki yang menjemput Nona waktu kita makan bersama itu"-jelasnya dengan ragu-
"Orangnya tinggi, wajahnya dingin gitu kan?!!"-jelas Serena spontan-
"Nahhh...bener banget Non"-ucap Lala kegirangan-
"Bahkan kita juga mau di sogok uang...supaya memberitahu dimana Nona"-jelas Lala sambil tertawa kecil-
"Terusss...kalian terima uangnya?!"-ucap Serena penasaran-
"Nggak Non...kita takut kalau mereka jahat sama Nona"-celetuknya sambil tersenyum lebar-
Tak disangka, ada penyadap suara di tempat Lala berkerja. Tersambung langsung ke ruangan Narendra,
"Rena! Bukankah itu suara Serena!!"-mendengarkan kembali percakapan keduanya-
"Nona... anak-anak yang lain ingin bertemu Nona"
"Sudah lama nggak lihat toko Nona di mall ini"-jelas Lala pelan-
"Sabar ya fans akuu...masih sibuk soalnya ini"-ucap Serena sambil tertawa lebar-
"Dia masih sama seperti awal bertemu"-gumamnya sambil tersenyum tipis-
Setelah panggilan itu berakhir, Narendra melacak keberadaan Serena saat ini. Namun beberapa kali mencoba tetap gagal juga. Alatnya tidak bisa melacak dimana posisi Serena saat ini.
"Aku harus menyewa rumah sekitar sini"-gumamnya pelan-
"Selamat siang Nona...ada yang bisa saya bantu?"-sapa Bu Thian pengelola rumah sewa-
"Ohh...saya mau sewa rumah di sekitar sini"
"Apa Ibu tau tempatnya dimana?"-tanya Serena dengan lembut-
"Kebetulan saya ada rumah sewa yang masih kosong"
"Jadi Nona bisa menyewa rumah itu"-jelasnya tersenyum ramah-
Serena di ajak Bu Thian melihat rumah sewa yang kosong itu, tempatnya ada di paling ujung setelah 4 rumah di depannya. Deretan 4 rumah di sampingnya sudah ada yang menyewa, tinggal yang ujung saat ini.
"Bagaimana Nona? Suka dengan rumahnya?"-tanya Bu Thian sopan-
"Suka banget Bu....saya sewa yaaa"-ucap Serena antusias-
Gadis itu menyetujui beberapa persyaratan yang terlampir surat sewa rumah, ia tak begitu peduli juga dengan syarat itu. Yang ia mau hanya ketenangan dari orang-orang yang sedang mengincar dirinya.
Tepat di sebelah rumahnya, ada sosok laki-laki yang tinggal disitu. Hanya saja jarang terlihat di rumahnya.
"Apa beberapa rumah ini ada penghuninya?"-tanya Serena penasaran-
"Ada orangnya semua Nona...tapi yang sebelah Nona ini jarang terlihat orangnya"-jelas Bu Thian sambil tersenyum manis-
"Baiklah kalau begitu ..semoga nyaman tinggal di rumah ini Nona"-ucap Bu Thian sambil menunduk sopan-
Di kantor Narendra, ia merasa sangat gelisah dan tak terkendali. Emosinya mudah sekali terpancing, bahkan tak segan untuk berbuat sadis di depan umum.
"Tuan....ada yang bisa saya bantu?"-ucap Viktor pelan-
"Cari dia sampai dapat!!"-menatap tajam Viktor-
"Tapi dimana Tuan? Nona tidak berhasil dilacak"-jelas Viktor gugup-
"Makanya cariii Viktorrrr!!!! Bodoh kamu itu!!!"-melempar buku di hadapan Viktor-
"Ba.....baiklah Tuan"
"Saya permisi dulu kalau begitu"-Viktor meninggalkan ruangan Narendra-
"Malam ini aku nggak pulang ke apartemen!!"
"Aku akan menginap di rumah sewa milikku!!"-jelas Narendra datar-
Sebelum kembali ke rumah sewanya, Narendra mampir ke minimarket terdekat untuk stok makanan di kulkas rumahnya itu. Dia juga berganti penampilan seperti orang biasa.
Bu Thian sudah menunggu kedatangannya, setiap Narendra akan datang, dirinya selalu menghubungi Bu Thian untuk menyiapkan semuanya.
"Tuan Rendra....rumah yang di ujung sudah ada yang menyewa"-jelas Bu Thian dengan sopan-
"Baguslah kalau begitu! Siapa yang menyewa?!"-tanyanya datar-
"Seorang perempuan Tuan...wajahnya sangat cantik dan orangnya mungil"-jelas Bu Thian sambil tersenyum lebar-
"Bukan istri orang kan?!! Siapa tahu lagi ribut sama suaminya...terus kabur!!"
"Aku nggak suka keributan macam itu ada di sekitar rumah ini!!"-jelas Narendra dengan tatapan mata tajam-
"Tidak Tuan, sepertinya dia masih single"-ucap Bu Thian tersenyum tipis-
Narendra berjalan santai ke arah rumahnya itu, letaknya sangat dekat dengan rumah yang di sewa oleh Serena. Ia duduk di depan teras rumahnya sambil bermain ponsel.
Secara tak sengaja gadis itu pulang dari belanja, Serena memakai masker setiap pergi keluar rumah. Ia melewati rumah Narendra begitu saja, bahkan Serena tidak melihat jika ada orang yang duduk di luar.
"Huft...sampai juga akhirnya"-meletakkan paperbag di meja kecil luar rumah-
"Siapa yang barusan lewat?!"-gumam Narendra pelan-
"Aduhhhh!!! Hish...kenapa ikut sih ini kursi!!!"-celetuk Serena sedikit kesal-
"Perempuan?!! Apa diaaa?"-berjalan perlahan dan mengintip tetangga rumahnya-
"Sudah tertutup pintunya!!! Biarin ajalah...selama nggak buat keributan disini!!"-celetuknya dingin-
Keesokan paginya, Serena berniat untuk jalan-jalan pagi sekalian membeli makanan. Tak sengaja dirinya bertemu dengan tetangga sebelah rumahnya yang baru ia lihat.
Laki-laki itu memakai jaket dan topi hitam yang menutupi wajahnya, hanya terlihat bibirnya saja. Serena tampak tersenyum tipis untuk menyapa tetangga rumahnya itu.
"Lahhh...diem aja dia?! Introvert mungkin!"-gumamnya sambil menatap punggung laki-laki itu dari belakang-
"Pantesan aja baru lihat! Pagi-pagi buta begini dia keluarnya"-ucapnya pelan sambil terkekeh-
Narendra pagi-pagi sekali langsung ke apartemen sebelum berangkat ke perusahaan miliknya. Ia masih saja mencari keberadaan gadis kecil itu.
"Hahhh...kenapa belum ada kabar juga sih dia?!!"-menghela nafas berat-
"Serenaa! Kamu dimana Cantik!"-menatap foto Serena di ponsel miliknya-
Viktor masuk tiba-tiba ke dalam apartemen miliknya, ia tak menyadari jika Narendra sudah ada di dalam. Karena pencahayaan ruangan terlihat redup, jadi Viktor tak menyadari kehadiran Bosnya itu.
"Sudah bosan hidup sepertinya!!!"-ucapnya dengan nada tinggi-
"Ehhh....Tuann!"-jawabnya gugup sambil terkekeh pelan-
"Jadi ini kebiasaan kamu kalau aku nggak pulang?!!"-telisik Narendra dengan tajam-
"Nggak Tuan....niatnya mau menyiapkan baju-baju Tuan Naren"-jawab Viktor tersenyum tipis-
"Kapan Tuan datang kesini?"-tanyanya dengan pelan-
"Dari pagi buta!!! Gimana?! Sudah ada kabar tentangnya?!!"-ucap Narendra terdengar dingin-
"Belum Tuan....sama sekali tidak bisa di lacak"-jelasnya menunduk sopan-
Sedangkan gadis yang ia cari sedang olahraga pagi di sekitar rumah sewanya itu. Ada beberapa penjual makanan tak jauh dari tempatnya olahraga.
"Selamat pagi Nona....darimana nih?"-sapa Bu Thian tersenyum ramah-
"Pagiii juga...dari jalan-jalan pagi nih Bu Thian"-jelasnya dengan lembut-
"Wahhh....borong jajanan yaaa?"-melirik plastik berisi jajanan-
"Ehh...iyaa"-jawab Serena tersenyum tipis-
Hari itu Serena hanya memantau pekerjaan tokonya dari kejauhan. dirinya belum mau untuk datang langsung ke toko butik miliknya.
"Pengen jalan-jalan keluar tapi malas rasanya"-ucapnya sambil bersandar di sofa-
"Kenapa tiba-tiba jadi teringat Pak Tua?!"-gumamnya pelan-
"Haishhh...ngapain juga mikirin dia!! Orang nyebelin begitu!"-mengambil minuman dingin-
Viktor mulai melacak kembali keberadaan Serena, namun kali ini muncul dan menghilang sinyalnya. Setidaknya ada peningkatan untuk informasi ke Bosnya itu
Serena mengaktifkan sebentar nomernya yang lama, banyak sekali pesan yang dikirim oleh Narendra.
"Haaa?!!! Banyak banget sih!!"-celetuk Serena sambil menatap ponselnya yang terus berdering-
"Benar-benar yaaa orang ini!!! Gilaaa!"-terkejut melihat pesan yang begitu banyak-
"Ishhh....bisa nge blank ini ponselku!!"-keluhnya sambil mendengus kesal-
Sedangkan Narendra melihat pesannya yang mulai terlihat centang dua langsung beranjak dari posisi duduknya. Ia menatap fokus pesan itu, berharap ada jawaban dari gadis kecilnya.
"Hahhh...sedikit lega rasanya"-menatap ponselnya kembali-
"Aku mohon Cantikkk!! Balas pesanku"-ucapnya lirih-
"TING" (terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponselnya)
"Siapa ini?!"-menatap tajam pesan masuk-
"MAKSUD KAMU APA KIRIM PESAN BANYAK BANGET?!!! HAAAA!!" (tulis Serena dengan ketus)
"Dia balas pesanku?! Ini beneran dia?!"-membaca sekali lagi pesan itu-
"PONSELKU JADI NGE BLANK TAU NGGAK!! DASAR PAK TUAAA!!" (tulis Serena lanjut)
"Aku rindu sekali panggilan ini!"-ucapnya tertawa kecil-
~Kesenangan nih pasti, sampe nggak bisa tidur.. Wkwkwk! Dasar Pak Tua~😀