Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C010: Dokumen Rahasia & Sahabat yang Malas
...Selamat Baca...
Setelah pertemuan panjang dan mendetail bersama Tuan Ardian di Kafe Peace tadi pagi, semuanya berjalan sangat cepat dan tepat sasaran.
Liana pulang diantar oleh sopir ke kediaman megah milik Alexander, kembali dengan hati yang jauh lebih lega dibanding saat berangkat.
Ia masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, lalu perlahan melepas gaun biru mudanya yang rapi.
Digantinya pakaian itu dengan satu set pakaian santai berwarna krem lembut berbahan katun yang sangat nyaman dan jatuh indah di tubuhnya.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai bebas, disisir rapi agar terlihat rapi namun tetap santai.
Langkah kakinya membawanya menuju balkon luas di lantai satu, tempat yang menghadap langsung ke taman bunga pribadi yang sangat indah dan wangi.
Di sana, udara segar berhembus pelan, membawa aroma harum mawar, melati, dan bunga-bunga warna-warni yang tertata rapi sejauh mata memandang.
Liana duduk santai di kursi rotan empuk yang ada di sana. Di atas meja kecil di hadapannya, sudah tersedia satu cangkir teh hangat yang mengepulkan asap tipis,
Serta sepiring kecil kue kering buatan koki rumah itu. Di tangannya, kembali tergenggam buku tebal bersampul gelap berhuruf emas itu: "Ratu yang Jatuh, dan Kembali".
Ia membuka halaman yang sudah ia tandai, mulai membaca kembali kalimat demi kalimat dengan perasaan yang kini jauh berbeda dari dulu.
Dulu ia membaca ini sambil menangis dan merasa nasibnya menyedihkan. Sekarang, saat membacanya, ia tersenyum, karena ia tahu... bab "jatuh"-nya sudah selesai. Bab "kembali"-nya akan segera dimulai.
...****************...
Malam telah turun menyelimuti kota. Di dalam kantor hukum Ardian & Partners yang megah namun hening, hanya tersisa satu lampu meja yang masih menyala.
Tuan Ardian menghela napas panjang, menumpuk berkas-berkas tebal ke dalam tas kerjanya. Matanya perih, lehernya kaku. Hari ini benar-benar melelahkan.
Kasus Liana Varella tadi pagi berjalan lancar, jauh lebih lancar dari dugaannya, berkat klien yang kooperatif dan... well, berkat siapa yang mengirim klien itu.
"Ah, akhirnya selesai," gumam Ardian sambil mematikan lampu meja. Ia berdiri, meregangkan punggungnya yang bunyi krak pelan, dan meraih jaketnya.
Ia baru saja melangkah menuju pintu keluar, tangan sudah menyentuh gagang pintu, ketika—
BOOM!
Pintu ruangan didorong terbuka dengan kasar dari luar.
"Aaaargh!" Ardian terlonjak kaget, tangannya refleks memegang dada kirinya.
Jantungnya berdegup kencang seolah ingin keluar dari rongga dada. "Gila kamu, Yan! Mau membuatku mati, henti jantung?!"
Di ambang pintu, berdiri Alexander Sterling. Pria itu tidak terlihat bersalah sedikit pun.
Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring, dan ia bahkan terkekeh kecil melihat reaksi sahabatnya yang ketakutan.
Alexander melangkah masuk dengan santai, menutup pintu belakangnya, lalu berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan seolah-olah itu adalah rumahnya sendiri.
"Refleksmu masih lambat, Din," canda Alexander ringan, duduk bersila di sofa dengan pose yang terlalu santai untuk seorang CEO miliaran dolar. "Kalau tadi itu musuh, kamu sudah mati."
Ardian memutar bola matanya begitu keras hingga hampir terjungkir balik. Ia mendengus kesal, lalu berjalan kembali ke mejanya dan menjatuhkan dirinya di kursi dengan lemas.
"Musuh? Jam segini? Siapa musuh yang nyasar ke kantor pengacara paling sepi di kota ini kecuali kamu, hantu sialan?" gerutu Ardian sambil memijat pelipisnya.
"Aku udah mau pulang, Yan. Aku mau makan malam, mandi air hangat, dan tidur. Bukan di kejutkan sama mantan pendaki gunung yang menjadi psikopat."
Alexander tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Ia mengeluarkan sebuah map dokumen tipis berwarna cokelat dari dalam jas mahalnya, lalu melemparkannya pelan ke arah Ardian.
Map itu mendarat tepat di atas tumpukan berkas Ardian.
"Apa ini?" tanya Ardian curiga, tidak segera menyentuhnya.
"Baca dulu. Itu 'hadiah' penutup kasus Liana," jawab Alexander singkat, matanya berkilat jenaka.
Ardian mengerutkan kening, lalu dengan enggan membuka map itu. Matanya menyipit saat membaca isi dokumen pertama. Lalu, matanya membelalak.
"Ini... ini foto-foto Alistair dan Seraphina? Dari hotel? Dari apartemen pribadi?" Ardian mengangkat alisnya, lalu melihat dokumen berikutnya.
Matanya semakin bulat. "Dan ini... Akta Nikah asli Liana dan Alistair? Yang asli? Bukan salinan?"
Ia menatap Alexander dengan tatapan tidak percaya. "Dari mana kamu dapat ini? Akta nikah asli biasanya disimpan oleh kepala keluarga atau suami."
"Alistair pasti menyimpannya di brankas pribadinya di mansion Sterling."
Alexander tersenyum tipis, senyum yang sering ia berikan saat berhasil memenangkan negosiasi bisnis besar. Senyum arogan namun cerdas.
"Kamu lupa satu hal, Din. Aku tumbuh besar di rumah itu. Aku tahu setiap celah, setiap kode keamanan, dan setiap kebiasaan anggota keluarga Sterling," jelas Alexander tenang.
"Tadi sore, saat Alistair sibuk mengamuk mencari Liana dan Seraphina sibuk menenangkannya di sayap barat..."
"Ibu mereka, Nyonya Margaret, sedang menghadiri acara amal di hotel sebelah. Rumah itu hampir kosong."
"Hanya ada beberapa pelayan tua yang loyal padaku—ingat Bapak Hendra?"
Ardian mendengus, mulai memahami skenario licik sahabatnya. "Jadi kamu menyelinap masuk?"
"Bukan menyelinap. Aku berjalan masuk lewat pintu servis belakang yang kodenya belum pernah diganti sejak dua puluh tahun lalu," kata Alexander sambil terkekeh lagi.
"Aku langsung ke kamar utama Alistair. Brankasnya? Kode lahir Seraphina. Mudah ditebak untuk pria yang narsis seperti dia."
"Aku ambil akta nikahnya, dan sambil keluar, aku sempat menggeledah laci mejanya. Ada beberapa foto polaroid dan bukti transfer ke rekening rahasia Seraphina."
"Bukti perselingkuhan yang cukup untuk membuat hakim langsung mengetuk palu."
Ardian menatap dokumen-dokumen itu, lalu menatap Alexander dengan ekspresi datar yang khas: malas sekali sama dramamu.
"Gila," ucap Ardian pendek.
"Kamu bener-bener gila, Yan. Kamu nekat masuk ke sarang singa hanya untuk mengambil kertas?"
"Kalau kamu ketahuan Alistair, kamu bisa ditembak atau setidaknya dipukul sampai babak belur oleh pengawalnya."
Alexander mengangkat bahu, wajahnya datar kembali. "Risiko kecil untuk hasil yang maksimal. Lagipula, siapa yang akan curiga? Paman Alexander yang kaku dan anti-wanita?"
"Mereka bahkan tidak akan menganggap aku mampu melakukan hal 'seru' seperti itu."
Ardian menggeleng-gelengkan kepala, lalu membuang map itu ke atas meja dengan gerakan lemas. Ia tampak sangat, sangat lelah secara mental.
"Sumpah, Yan... kadang aku pengen nutup kantor aku dan pindah ke desa. Jadi petani. Tanam cabai. Hidup tenang."
"Tanpa klien dramatis, tanpa sahabat psikopat yang suka main mata-mata di malam hari," keluh Ardian panjang lebar, memutar bola matanya lagi.
"Kamu tau tidak sih, aku harus nambahin biaya konsultasi kamu karena stres aku naik drastis tiap ketemu kamu?"
Alexander tertawa renyah, kali ini tawa yang tulus dan jarang ia perlihatkan pada orang lain. Ia berdiri, merapikan jasnya, dan berjalan menuju pintu.
"Stres itu tanda kamu masih hidup, Din. Dan tenang, tagihan konsultasiku sudah lunas. Anggap saja ini investasi persahabatan," kata Alexander sambil membuka pintu.
"Oh ya," tambah Alexander sebelum keluar, menoleh sekilas dengan senyum jahil,
"Jangan lupa siapkan gugatannya besok pagi. Gunakan bukti-bukti itu. Hancurkan Alistair secepat mungkin."
"Aku tidak ingin Liana menunggu terlalu lama untuk bebas sepenuhnya."
Pintu tertutup. Ardian tinggal sendirian di ruangan yang hening.
Ia menatap map cokelat itu lagi, lalu menghela napas panjang sekali lagi.
"Dasar teman brengsek," gumam Ardian pelan, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.
Ia tahu, di balik sikap jahil dan nekat Alexander, ada cinta yang sangat dalam dan perlindungan total pada wanita bernama Liana itu.
Ardian membuka laci mejanya, mengambil pulpen mahal, dan mulai mencatat poin-poin penting dari bukti-bukti tersebut.
Malam ini, dia mungkin tidak bisa tidur cepat. Tapi setidaknya, kasusnya sudah di ujung tanduk kemenangan.
"Demi Tuhan, semoga Liana worth it semua kekacauan ini," bisiknya pada diri sendiri, sebelum akhirnya bangkit dan benar-benar pulang,
Membawa serta dokumen yang akan menjadi mimpi buruk bagi keluarga Sterling.