NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Mengintai dan Sandiwara Pemakaman Palsu

Mereka berdua berangkat menuju TPU San Diego Hills dengan motor trail milik Arka.Alana duduk di belakang, tubuhnya tegang,memeluk tubuh Arka, Dari kejauhan, ia melihat kerumunan orang berkabung.

Peti kayu mahal yang kosong itu dikelilingi bunga-bunga putih. Rendy berdiri di depan, bahunya terguncang pura-pura menangis.

Di sampingnya, Lisa menyeka mata dengan sapu tangan sutra, ekspresi sedih yang sempurna.

Alana menggigit bibir hingga berdarah. "Lihat mereka, Arka. Lihat betapa bahagianya mereka di balik topeng duka. Rendy, kau bajingan. Kau ambil hatiku, ambil hidupku, ambil segalanya. Tapi aku akan ambil balik semuanya, dengan bunga. Lisa, kau akan menyesal lahir sebagai wanita yang merebut suami orang."

Air mata dendam mengalir lagi. Bukan kesedihan, melainkan janji. Janji bahwa badai akan datang. Alana tidak lagi Alana yang lembut. Ia adalah api yang akan membakar rumah tangga palsu mereka hingga hangus. Sakit hati ini akan jadi senjatanya yang paling tajam. Dan saat hari itu tiba, ia akan tersenyum saat melihat mereka berlutut memohon ampun-ampun yang tak akan pernah ia berikan.

Arka berdiri dibelakang  Alana ,Matanya yang tajam mengawasi punggung Alana yang tampak kaku. Ia tahu, di balik ketenangan yang dipaksakan itu, ada badai yang sedang berkecamuk.

"Kau yakin tidak ingin mendekat?" suara Arka rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin bubut dari kejauhan.

Alana tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada sosok Rendy bersandiwara mengenakan jas duka yang sangat rapi.

"Jika aku pergi ke sana sekarang, Arka, aku takut aku tidak bisa menahan diri. Aku takut aku akan berlari ke arahnya dan mencekik lehernya di depan semua kamera itu."

Ia mengepalkan tangannya di atas meja kerja yang berdebu. "Aku ingin dia merasa aman. Aku ingin dia percaya bahwa kebohongannya telah menjadi kebenaran mutlak. Semakin tinggi dia membangun menara kebohongannya, semakin sakit saat aku meruntuhkannya nanti."

Arka melangkah mendekat, meletakkan sebuah tas kanvas berwarna gelap di samping Alana. Di dalamnya terdapat sebuah teropong militer, kamera dengan lensa tele yang panjang, dan sebuah alat penyadap frekuensi radio.

"Kita tidak akan masuk ke area pemakaman," ujar Arka tegas. "Ada terlalu banyak wartawan dan orang-orang Rendy di sana. Tapi, ada sebuah gedung tua yang sedang dalam tahap renovasi tepat di seberang gerbang TPU San Diego Hills. Lantai empatnya memberikan pandangan tak terhalang ke blok tempat nisan itu berada."

Alana berdiri, mengambil topi beanie hitam dan masker medis. Ia menatap pantulan dirinya di layar monitor yang gelap. "Ayo. Aku ingin melihat bagaimana mereka menguburkan namaku."

Mereka berangkat menggunakan motor trail milik Arka agar lebih mudah menyelinap melalui jalan-jalan tikus. Arka mengemudi dengan cekatan, menghindari kamera pengawas jalanan sebisa mungkin.

Bagi Arka, ini bukan sekadar membantu seorang wanita yang terluka, ini adalah misi pribadi untuk membalas dendam pada sistem yang pernah menghancurkannya, yang kini ia lihat terwakili dalam diri Rendy.

Sepuluh menit sebelum upacara dimulai, mereka sudah berada di lantai empat gedung tua yang dingin dan lembap. Debu semen beterbangan di udara, namun Alana tidak peduli. Ia segera mengambil posisi di balik tembok yang retak, mengarahkan teropongnya ke arah kerumunan yang mulai berkumpul di bawah tenda putih mewah.

Melalui lensa teropong yang jernih, Alana bisa melihat segalanya dengan detail yang menyakitkan. Ia melihat Lisa, perempuan yang dulu ia anggap sebagai karyawan terbaiknya, berdiri tepat di belakang Rendy.

Lisa mengenakan gaun hitam panjang dengan kerudung tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, Alana tahu ekspresi itu. Ia tahu gerakan jemari Lisa yang sesekali menyentuh bahu Rendy sebuah gestur menenangkan yang sebenarnya adalah tanda kemenangan.

"Lihat mereka, Arka," bisik Alana, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan. "Mereka bahkan tidak menunggu tubuhku dingin untuk menunjukkan kemesraan itu di depan publik."

"Fokus, Alana," Arka mengingatkan sambil mengatur fokus pada kamera lensanya.

"Jangan biarkan emosi membutakan pengamatanmu. Perhatikan siapa saja yang datang. Kolega bisnis, pejabat bank, atau orang-orang dari dewan komisaris. Mereka adalah bidak-bidak yang akan kita gunakan nanti."

Alana menarik napas dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia melihat Rendy melangkah ke depan mikrofon. Suara Rendy terdengar melalui alat penyadap yang telah dipasang Arka pada frekuensi pemancar stasiun TV di sana.

("Alana adalah segalanya bagiku ..." suara Rendy terdengar serak, seolah tertahan oleh tangis. "Kehilangan ini adalah kegelapan yang tak terbayangkan. Namun, aku berjanji akan melanjutkan cita-citanya, membangun yayasan yang selalu ia impikan, sebagai bentuk penghormatanku pada cintanya yang tulus.")

Alana mendengus jijik. "Yayasan? Dia akan menggunakan namaku untuk mencuci uang hasil penggelapan pajaknya. Dia benar-benar iblis yang cerdas."

Tiba-tiba, kamera tele milik Arka menangkap sesuatu yang menarik. Di barisan paling belakang, ada seorang pria paruh baya yang tampak tidak tenang. Pria itu terus memperhatikan sekeliling, sesekali berbicara dengan nada tegang ke arah ponselnya.

"Siapa itu?" tanya Alana sambil mengarahkan teropongnya.

"Itu Gunawan, pengacara pribadi keluargamu. Dia yang mengurus surat wasiat dan asuransi kematianmu," jawab Arka dingin. "Lihat bagaimana dia menatap Rendy. Itu bukan tatapan duka, itu tatapan ketakutan. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan dokumen yang mereka buat."

### Gema dari Dasar Sungai

Prosesi berlanjut pada saat yang paling krusial: penurunan peti mati. Tentu saja, peti itu kosong. Di dalamnya mungkin hanya ada beberapa pakaian Alana dan bantal sebagai pemberat. Namun, kerumunan penonton yang tertipu tampak terisak melihat momen tersebut.

Rendy mengambil segenggam tanah pertama. Ia mencium tanah itu sebelum melemparkannya ke dalam lubang gelap. Alana memejamkan matanya sejenak. Ia membayangkan dirinya berada di dalam sana, terkubur hidup-hidup oleh pengkhianatan orang-orang yang paling ia cintai.

"Cukup," bisik Alana. Ia menurunkan teropongnya. "Aku sudah melihat apa yang perlu aku lihat."

"Kau tidak ingin menunggu sampai mereka pergi?" tanya Arka.

Upacara itu berakhir dengan penaburan bunga. Satu per satu orang meninggalkan area pemakaman, menyisakan Rendy dan Lisa yang berdiri berdua di depan nisan bertuliskan nama: Alana Putri Adiguna

Rendy berlutut, menyentuh nisan itu dengan tangan yang gemetar. Bagi orang awam, itu adalah gestur cinta yang mendalam. Namun bagi Alana, itu adalah cara Rendy memastikan bahwa "masalahnya" sudah benar-benar terkubur di bawah tanah.

"Kita Pulang Alana," Arka menyentuh lengan wanita itu. "Kau sudah melihat cukup banyak untuk hari ini."

Alana menjauhkan matanya dari teropong. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menunjukkan mata yang merah namun tidak ada setetes pun air mata yang jatuh. Air matanya sudah habis di dasar sungai.

"Belum, Arka. Aku ingin memberikan penghormatan terakhir," Alana mengambil sebuah pemantik api dari saku kemeja Arka. Ia mengeluarkan selembar foto dari sakunya foto pernikahannya dengan Rendy yang ia ambil dari dompet yang tertinggal di tasnya saat ia diselamatkan.

Ia menyulut api pada ujung foto itu. Api dengan cepat menjalar, melahap wajah Rendy dan wajah Alana yang tersenyum lugu dalam balutan gaun putih. Ia membiarkan abu foto itu terbang dibawa angin menuju arah pemakaman di bawah sana.

"Alana yang kau kenal memang sudah mati di sana, Rendy," gumamnya, matanya tajam menatap sosok pria di kejauhan. "Tapi sesuatu yang jauh lebih buruk telah lahir kembali. Kau tidak sedang mengubur jenazah. Kau sedang menanam benih kehancuranmu sendiri."

Arka menatap Alana dengan rasa hormat yang mendalam. Ia melihat transformasi yang sempurna. Alana bukan lagi korban yang memohon belas kasihan. Ia telah menjadi entitas baru, sebuah instrumen balas dendam yang murni.

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!