Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Hujan mulai reda ketika mereka keluar dari ruangan teknisi tua itu. Udara malam terasa dingin dan basah. Jalanan di sekitar rel kereta hampir kosong, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang lewat, itupun sangat jarang.
Malik berdiri di depan pintu ruangannya sambil menyalakan sebatang rokok.
“Aku ngga suka kalau kalian harus pergi ke sana,” katanya ke Han.
“Aku juga.”
“Itu bukan jawaban meyakinkan.”
Han memakai kembali jaket hitamnya.
“Kalau tempat ini sampai ketahuan, kamu pasti kena imbasnya.”
Malik mendengus kecil.
“Kamu masih seperti dulu, Han. Datang bawa masalah, terus pergi sebelum sempat dibunuh.”
Arga menunjuk Han sambil berjalan mundur.
“Nah, itu deskripsi paling akurat sejauh ini.”
Sebelum mereka pergi, Malik melempar sebuah ponsel kecil ke arah Han.
“Pakai ini kalau keadaan darurat.”
Han menangkapnya dengan cepat. “Terima kasih.”
“Kalau bisa jangan mati dulu.” Kata Malik sambil melirik Nara. “Anak itu kelihatannya belum siap buat hidup di dunia kalian.”
Nara bahkan tidak tahu “dunia kalian” yang dimaksud itu seperti apa. Dan ia mulai takut untuk mencari tahu. Mereka berjalan menjauh sambil menyusuri sisi rel kereta. Semua diam selama beberapa menit. Arga beberapa kali menguap sambil menggosok lengannya sendiri.
“Gue mulai nyesel ikuti kalian,” gumam Arga sambil menguap.
“Kamu kan bisa balik ke apartmen,” kata Han.
“Dan dibunuh sendirian? Wah, pilihan lu emang menarik.” Kata Arga sambil menggerutu.
Han tidak membalasnya lagi. Nara berjalan di samping Han, tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh seperti sebelumnya. Entah sejak kapan ia mulai secara otomatis mengikuti langkah pria itu.
“Kita mau ke mana sebenarnya, Han?” tanyanya pelan.
Han menatap jalan di depan.
“Distrik lama.”
“Kedengarannya menyeramkan.”
“Memang,” jawaban yang jujur lagi.
Mereka akhirnya keluar dari area rel, menuju bagian kota yang jauh lebih sunyi. Gedung-gedung tua berdiri rapat dengan cat kusam dan papan toko setengah rusak. Beberapa bangunan tampak kosong. Lampu penerangan jalan banyak yang mati. Area itu terasa seperti bagian kota yang dilupakan.
“Kamu pernah tinggal di sini?” tanya Nara, sambil memeluk ranselnya.
Han tidak langsung menjawab.
“…pernah.”
Arga langsung melirik Nara.
“Nah, kita masuk bagian trauma karakter utama.”
“Aku masih bisa dengar.”
“Memang sengaja.”
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua tiga lantai, yang tampaknya seperti bekas tempat laundry. Bagian bawah rolling door-nya sudah berkarat dan setengah terbuka.
Han melihat sekitar sebentar sebelum masuk kedalam. Di dalam ruangan suasananya sangat gelap dan berdebu.
Arga langsung terbatuk-batuk, sambil menyalakan senter kecil yang tergantung di ranselnya
“Hebat bener, ini tempat kelihatannya sebentar lagi bakal roboh.”
Han tidak menjawab. Ia lalu menaiki tangga kayu sempit menuju lantai dua. Nara mengikutinya pelan sambil memperhatikan sekitarnya. Tidak ada furnitur bagus hanya peti peti tua yang di taruh asal, tidak ada tanda-tanda kalau tempat itu pernah dihuni. Hanya ruang kosong yang peuh debu dan bau kayu tua yang lembab.
Han berhenti di depan pintu besi di lantai dua lalu membuka kuncinya. Ruangan di balik pintu itu jauh lebih rapi dibanding bagian bawah. Kecil tapi bersih. Hanya ada sebuah sofa tua, meja lipat, kulkas kecil, dan lemari besi di sudut ruangan.
Arga langsung berkata dengan spontan, “Oke… Jadi lu emang punya sarang rahasia.”
“Aku malah lupa kalau tempat ini masih ada.”
“Itu kalimat yang sangat- sangat ngga normal.”
Han menyalakan sebuah lampu kecil di sudut ruangan. Cahayanya yang redup kekuningan, membuat suasananya jadi lebih baik. Nara masuk perlahan sambil melihat ruangan itu. Ia merasa sedikit agak aneh, ruangan itu terasa dingin, bukan karena diluar sedang hujan. Lebih tepatnya seperti tempat yang sudah lama kosong.
Perhatiannya tertuju pada rak kecil yang ada di dekat jendela. Ada beberapa buku lama di sana. Dan satu foto dalam bingkai kecil yang dibalik menghadap tembok.
Han langsung menyadarinya. Tanpa banyak bicara, ia berjalan mendekat lalu memasukkan bingkai itu ke dalam laci meja. Gerakannya cepat, tapi Nara sempat melihat sedikit. Foto seseorang. Seseorang perempuan dan Han yang terlihat jauh lebih muda.
Nara tidak mengatakan apa pun. Tapi sekarang ia semakin yakin: kalau Han bukan sekadar “orang berbahaya” tapi dulu, ia pernah punya kehidupan.
Arga langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Kalau kita selamat dari semua ini, gue serius mau pergi liburan.”
“Kamu kan ngga punya uang buat liburan,” jawab Han.
“Itu masalah kecil,” sanggah Arga.
Han membuka lemari besi kecil di sudut ruangan. Nara memperhatikannya dari jauh. Di dalamnya ia melihat ada:
beberapa dokumen uang tunai dua pistol kotak peluru dan sebuah map hitam tipis Han mengambil salah satu pistol lalu memeriksanya. Nara menelan ludahnya pelan. Pria itu benar-benar hidup di dunia yang berbeda. Han menyerahkan pistol kecil disakunya ke Arga.
Arga langsung mengangkat tangan, menolak.
“Oh ngga... gue tetap jadi warga sipil.”
“Kamu warga sipil yang sedang diburu.”
“Itu terdengar melelahkan.”
Han tetap memaksa memberikan pistol itu ke tangannya.
“Pegang, buat situasi darurat.”
“Lihat hidup gue sekarang, nyesek bangetkan,” sambil menerima pistol itu dengan wajah yang terlihat menderita
Nara duduk perlahan di kursi di dekat meja. Tubuhnya mulai terasa sangat berat. Rasa takut, lari terus, kurang tidur, semuanya mulai menghantam bersamaan. Han memperhatikannya selama beberapa detik.
“Kamu bisa istirahat sebentar.”
Nara hanya tertawa kecil, “…kamu ngomongnya kayak kita lagi liburan aja.”
Han tidak menjawab. Karena mereka semua tahu: malam ini belum selesai.
Beberapa menit kemudian, Arga yang sedang memeriksa isi kulkas kecil mendadak bersuara.
“Eh.. Han.”
“Apa?” jawab Han sambil menoleh ke Arga.
Arga mengeluarkan sebuah amplop coklat dari bagian belakang rak kulkas.
“Ini punya lu?”
Han terdiam sesaat, ekspresinya berubah sedikit. Tipis sekali, tapi Nara melihatnya dengan jelas. Han berjalan mendekati Arga, lalu mengambil amplop itu dengan cepat. Tatapannya berubah jadi lebih dingin.
“Aku pikir, ini sudah lama hilang.”
Nara memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Apa itu?”
Han tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam amplop itu sedikit erat, lalu akhirnya ia berkata pelan,
“…alasan kenapa aku keluar dari Helios.”