Katarina Putri Sifana, perempuan berusia 22 tahun bekerja di kediaman keluarga Erlanga-salah satu keluarga kaya di kota Surabaya.
Sifana terpaksa menjadi pelakor hanya demi untuk bisa mendapatkan uang, Sifana menjebak Mas Sadam-majikannya agar bisa menjadi istri kedua lelaki kaya dan juga tampan itu.
Sifana melakukan rencananya tidak sendirian, tapi melibatkan kedua orangtua Sadam sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kedua orangtua Sadam malah mendukung Sifana dan mengabaikan Tasya anak menantunya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khairin Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tasya Sampai Kapan Kamu Akan Menyembunyikan Semuanya
Aku mencoba menutupi perasaan gugup ini dengan menundukkan
kepala lalu aku melangkah pelan dengan kaki yang gemetar. Aku memejamkan mataku erat ketika hampir melangkah dekat dengannya, andaikan saja aku bisa melakukan
jurus teleportasi-menghilang mungkin aku tidak harus berada di dalam masalah ini, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya sungguh menyedihkan sekali. Kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku di dorong oleh lelaki ini di dapur membuat aku menggeser langkah lebih mendekati dinding agar tidak dekat dengannya saat melewati pintu
itu. Jarak ini tidak terlalu jauh tapi entah mengapa sepertinya jauh sekali dan membuat aku semakin merasa sesak nafas.
“Tuhan, aku mohon lindungi aku,” batinku meminta bantuan Tuhan untuk menggerakkan hati Mas Sadam agar tidak melakukan hal seperti di
dapur jujur, aku sangat takut sekali sampai kini kedua tanganku mulai menggembung karena cairan bening.
“Maafkan aku,” suara berat lelaki itu menerobos pelan gendang telingaku, spontan aku menatapnya dengan mengerutkan kening tidak mengerti. “masalah di dapur,” sambung Mas Sadam kemudian lelaki itu membuyarkan kedua tangannya di dada dan berbalik arah begitu saja meninggalkan aku yang masih mematung di posisi yang sama.
Semburat kemerahan Ina nampak di Bumantara, warna gradasi biru bagaikan birunya air laut nampak indah dari bumi, aku merentangkan kedua tangan lalu menghirup nafas dalam memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya lalu
menghembuskan nafas perlahan dari mulut. Aku harus menyelesaikan semua tugas di dapur lebih awal agar aku bisa bertemu dengan Anggun lebih cepat sudah tiga hari aku tidak bertemu dengan adik kesayanganku itu dan aku tentu saja sangat merindukannya.
Aku sudah berada di dapur dan baru saja selesai membuat sarapan pagi, semua orang sedang duduk di dapur, seperti biasa Mama Elsa dan juga Papa Damar menyuruh aku untuk ikut bergabung sarapan pagi bersama dengan mereka. Sekilas aku melihat kearah Mas Sadam, lelaki itu sibuk
mengunyah makanan dalam mulutnya sedangkan Mbak Tasya menatapku sinis. Aku kembali menundukkan kepalaku takut, makanan ini sangat lezat sekali tapi entah kenapa rasanya begitu hambar setelah masuk ke lidahku semua tatapan Mbak Tasya tadi seakan menyerap rasa lezat di makanan dalam piringku.
Kami semua sudah selesai sarapan pagi, Mama Elsa meminta Liora untuk keluar dari dapur untuk bermain. Mbak Tasya dan juga Mas Sadam
hendak berdiri dari posisi duduknya untuk meninggalkan dapur ini akan tetapi suara Papa Damar mengurungkan niat awal keduanya.
“Sadam, Tasya dengarkan apa yang akan Papa katakan ini,” lelaki itu memberikan jeda sejenak pada kalimatnya. Atmosfir di dalam ruangan dapur ini mulai berubah menjadi mistik akhibat tatapan serius dari Papa Damar pada Mbak Tasya dan juga Mas Sadam.
“Papa dan juga Mama tidak bisa tinggal di rumah ini lebih lama lagi, pagi hari ini Papa dan juga Mama akan kembali kekediaman kami,” aku
melihat senyuman jahat terukir kejam tersungging dari bibir Mbak Tasya. Entah mengapa firasat ku mulai buruk melihat sorot mata mengancam Mbak Tasya yang di tunjukkan padaku.
“Ma, Pa kenapa harus buru-buru seperti ini,” ucap Mbak Tasya. Tapi aku tahu dengan sangat jelas jika wanita itu hanya berbasa-basi
saja sebab dari sorot matanya menunjukkan sebaliknya.
“Tasya, kamu tidak perlu merasa khawatir karena Mama akan
sering berkunjung kemari,” sambung Mama Elsa sembari menatapku dengan seulas senyuman. Jika bisa aku artikan senyuman itu mengatakan bahwa semua akan
baik-baik saja.
“Mama, bisa datang kapanpun Mama mau.”
“Sadam, kamu tidak lupa, kan jika Sifana sekarang ini adalah istri kamu,” aku lihat Papa Damar menatap Mas Sadam sesaat lalu satu detik
kemudian lelaki itu ganti melihatku.
“Sadam, tidak menginginkan pernikahan itu dan bagi Sadam,
Sifana hanya pelayan di rumah ini, seperti sebelumnya,” aku mengigit keras bibir bagian bawahku untuk melampiaskan rasa sakit di hati ini akan tetapi kata-kata Mas Sadam tercekat jelas di hatiku. Aku menghirup nafas dalam sembari memutar kedua bola mataku agar cairan bening ini tidak sampai menetes.
“Sadam, jaga ucapan kamu! Sifana juga istri kamu,” aku terjingkat usai mendengarkan teriakan Papa Damar yang sangat lantang.
Kepalaku seketika langsung tertunduk takut saat Mbak Tasya membulatkan kedua matanya padaku seakan wanita itu mengatakan jika semua ini
terjadi karena diriku, ya hanya aku yang salah didalam hubungan bahagia mereka dan aku sang pelakor yang tidak tahu diri, miris sekali.
“Aku menerima, dia di rumah ini hanya karena permintaan, Papa
dan juga Mama saja,” ucap Mas Sadam mantap. Mungkin saja kini lelaki itu sedang menatapku tajam entahlah aku tidak bisa menggambarkan air mukanya sekarang sebab aku menundukkan kepala menikmati rasa takut dan harga diri yang sudah hancur ini.
“Sadam, tidak bisakah kamu buka mata kamu dan lihat jika Tasya tidak sebaik yang kamu pikirkan, kamu harus sadar dan melihat siapa wanita
yang telah kamu nikahi ini.” Elsa ikut angkat bicara karena tidak tahan lagi
melihat sikap putranya. Dan aku hanya bisa tetap diam menjadi pendengar setia.
“Mama sudah ribuan kali mengatakan hal itu, bahkan Mama juga
menunjukkan beberapa bukti akan tetapi hal itu semakin membuat aku yakin jika yang tidak baik itu bukan, Tasya melainkan pemikiran kalian berdua.”
Brak … Plak!
Aku seketika mengangkat pandangan terkejut mendengarkan suara kursi yang di hentak kasar kebelakang dan itu adalah kursi milik Papa Damar,
belum bisa aku mencerna semua yang terjadi kini aku melihat Papa Damar mulai mengangkat tangannya ke udara dan bunyi tamparan yang begitu keras menggema ke
seluruh ruangan sepi ini. Aku menatap Mama Elsa membuka mulutnya hampir tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh suaminya barusan satu detik kemudian pandanganku di penuhi dengan wajah Mbak Tasya yang menangis histeris melihat suaminya di tampar oleh Papa mertua.
“Tolong, jangan bertengkar karena aku, tolong biarkan semua berjalan apa adanya,” akhirnya aku membuka suara sebelum pertengkaran ini lebih
parah lagi.
“Hanya karena wanita ini,” Mas sadam menunjukku dengan penuh
kebencian. “Papa, menamparku untuk kali pertama dan ini akan Sadam ingat selamanya.”
Brak!
Suara gebrakan meja dan juga kuris yang sengaja di jatuhkan oleh Mas Sadam membuat atmosfir di dalam ruangan dapur ini semakin pengap saja.
“Tasya, sampai kapan kamu akan menyembunyikan kebusukan di hati kamu? Sudah cukup dengan semua ini, apakah kamu masih belum puas juga?” aku dengar Mama Elsa mulai menajamkan pandangan kearah Mbak Tasya.
“Maaf, Tasya tidak tahu dengan apa yang Mama maksud,” usai berbicara Mbak Tasya buru-buru melenggang pergi begitu saja meninggalkan kami
bertiga.
'tolong jangan bertengkar hanya karena, aku sang pelakor yang tidak tahu diri. Bukankah seperti itu Mas Sadam?'
Jangan lupa berikan love juga ya, untuk bisa membantu author menaikan karya remahan saya ini. Terima kasih.