NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Pahit

...----------------...

"kasih tau gue... apa yang selama ini gak gue tau."

Jawaban singkat dan tegas yang keluar dari mulutku membuat Kak Hendra tersenyum tipis. Sorot matanya yang penuh teka-teki perlahan berubah menjadi tatapan serius. Dia bangkit dari sofa tunggal di kamarku, melangkah perlahan menuju pintu, lalu memutar anak kunci hingga berbunyi klik. Kak Hendra memastikan tidak ada satu pun pelayan rumah atau anggota keluarga lain yang bisa menguping pembicaraan ini.

Setelah memastikan situasi aman, dia kembali duduk dan mengeluarkan ponselnya. Dia menggeser layarnya beberapa kali sebelum menyodorkannya tepat di depan wajahku.

"Gue tahu lo punya hubungan sama Sania, Arka. Tapi percayalah Sania bukan orang yang setia," ucap Kak Hendra, nadanya terdengar rendah dan dingin. "Lihat ini."

Aku menerima ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di layarnya, terpampang beberapa draf laporan mutasi rekening asing, jadwal pemesanan hotel mewah atas nama Pedro, dan yang paling menghancurkan dadaku sebuah foto siluet digital. Di dalam foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari belakang itu, tampak Sania sedang merangkul mesra pinggang Pedro di area mini market depan apartemen milik pedro.

Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika. Seluruh pasokan oksigen di sekitarku seolah menguap. Pedro? Sahabat yang sudah mengikutiku sejak SMP, orang yang selalu kubela di depan kakak kakakku, dan Sania... perempuan yang semalam baru saja memelukku dan memberikan jam tangan mewah.

"Mereka udah main di belakang lo, Arka. Semua barang mewah yang Pedro punya, semua liburan yang dia pamerin ke temen temen lo, itu sebagian besar pakai uang yang dia peras dari lo dengan memanfaatkan nama Sania," sambung Kak Hendra, memperhatikan ekspresiku yang perlahan berubah mengeras.

Aku tidak menangis. Rasa syok yang teramat sangat justru membakar habis air mataku, menyisakan kekosongan yang dingin di dalam dadaku. Aku mengepalkan tinjuku kuat-kuat hingga buku-buku jariku memutih. Ego dan harga diriku sebagai seorang Albian yang selama ini kukira tak tersentuh, runtuh berkeping keping.

"Mereka harus hancur Kak," ucapku. Suaraku tak lagi manja atau ragu. Nada suaraku mendatar ciri khas gaya bicara Keluarga Albian, persis seperti nada bicara Kak Andra. "Gue mau mereka tahu kalau mereka udah salah milih lawan."

Kak Hendra menyeringai puas, menepuk pundakku keras. "Nah, ini baru adik gue. Kita bakal susun rencana. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, kita butuh bukti otentik yang gak bisa dibantah sama Sania atau sama orang lain nanti. Ikut gue sekarang."

...****************...

Pukul dua siang, sebuah mobil sport hitam milik Kak Hendra membelah jalanan ibu kota menuju ke sebuah kawasan superblok mewah di Jakarta Selatan. Alibi yang kami gunakan kepada orang rumah sangat sederhana: kami ingin pergi berolahraga di sebuah pusat kebugaran elite yang terletak tepat di seberang apartemen tempat Pedro tinggal.

Sesampainya di gym yang berada di lantai tiga gedung tersebut, kami tidak langsung menuju ke area angkat beban. Kak Hendra membawaku ke sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah lobi utama dan deretan balkon apartemen Pedro. Kaca besar yang gelap dari luar membuat kami bisa mengintai dengan bebas tanpa takut ketahuan.

Kak Hendra membuka tas olahraganya, namun alih-alih mengeluarkan baju ganti, dia mengeluarkan sebuah kamera DSLR profesional dengan lensa tele super zoom.

"Sania baru aja dapet kiriman uang saku bulanan dari lo dua hari lalu. Tebakan gue, sore ini Sania bakal datang ke unitnya buat ngerayain," bisik Kak Hendra sambil menyeting fokus kamera. "Lo yang pegang kameranya. Biar lo rasain sendiri."

Aku menerima kamera berat itu, menempelkan lensanya ke mataku, lalu membidik ke arah lobi drop off apartemen Pedro. Sesuai dugaan Kak Hendra, tidak sampai tiga puluh menit menunggu, sebuah taksi online berhenti di depan lobi.

Dari dalam mobil, turun seorang perempuan mengenakan kacamata hitam dan topi rajut, mencoba menyembunyikan identitasnya. Tapi aku sangat mengenali lekuk tubuh itu. Itu Sania. Tak lama kemudian, Pedro keluar dari pintu lobi dengan senyuman lebar, langsung menyambut Sania dengan sebuah pelukan erat, bahkan sempat mengecup pelipis kekasihku itu di tempat terbuka sebelum mereka masuk ke dalam lift bersama.

Cekrek. Cekrek. Cekrek.

Jariku menekan tombol rana kamera tanpa ragu. Setiap kilatan rana yang menangkap momen kemesraan menjijikkan itu rasanya seperti palu besi yang menempa ulang kepribadianku. Rasa sakit di dadaku perlahan menguap, digantikan oleh rasa dingin.

"Udah dapet?" tanya Kak Hendra.

Aku menurunkan kamera, menatap layar digital yang menampilkan foto kedekatan mereka dengan sangat jelas. "Udah. Sekarang, apa rencana kita selanjutnya, Kak?"

Kak Hendra bersandar di dinding kaca, menatapku dengan senyum licik. "Sekarang, kita pasang perangkap yang sebenarnya. Kita bikin mereka ngerasa di atas angin, sebelum kita jatuhin ke dasar jurang."

...****************...

Malam harinya, rencana tahap pertama langsung kami eksekusi. Aku menghubungi Sania, Pedro, dan juga Iksan, Aku mengajak iksan agar tidak di curigai oleh Pedro dan Sania. Dengan nada suara yang sengaja kubuat ceria dan agak mabuk seperti biasanya, aku mengajak mereka untuk berpesta di sebuah Club langganan kami.

"Bro! Malam ini gue yang open table di tempat biasa. Rayain ulang tahun gue yang ketunda semalam. Jangan ada yang telat!" ucapku di grup telepon.

Mendengar kata "Arka yang bayar", Pedro dan Sania langsung menyanggupi dengan antusias. Mereka sama sekali tidak menaruh curiga. Di otak mereka, Arka tetaplah si anak kaya yang naif dan mudah dimanfaatkan.

Tepat pukul sepuluh malam, kami berkumpul di sofa VIP kelab yang bising oleh dentuman musik. Sania langsung duduk di sampingku, menggelayut manja di lenganku sembari mengucapkan kata kata manis yang sekarang terdengar seperti sampah di telingaku. Di seberang meja, Pedro duduk bersama Iksan, menuangkan minuman mahal yang dipesan atas namaku dengan tawa lebar.

"Gila, emang cuma Arka yang paling loyal sama kita! Cheers buat Arka!" teriak Pedro sambil mengangkat gelasnya.

Aku tersenyum lebar, mengangkat gelas sapphire ku. "Santai, Bro. Nikmatin malam ini sepuas lo."

Di tengah keriuhan pesta, aku diam-diam meraba ponsel di sakuku, lalu menekan satu tombol jalan pintas untuk mengirimkan pesan singkat kepada Kak Hendra yang malam itu sengaja tidak ikut bergabung ke Club.

Di belahan kota lain, Kak Hendra bergerak dengan senyap. Menggunakan akses kunci duplikat yang berhasil dia dapatkan dari orang dalam pengelola gedung apartemen lewat koneksi bisnis Albian Group, Kak Hendra melangkah masuk ke dalam unit apartemen Pedro yang kosong melompong.

Tanpa membuang waktu, dengan keahlian taktisnya, Kak Hendra mulai memasang beberapa perangkat spy cam berukuran mikro yang terhubung langsung dengan jaringan internet satelit pribadi. Satu kamera dipasang tersembunyi di balik bingkai foto di ruang tamu, satu di sela-sela jam dinding, dan yang paling krusial satu kamera tersembunyi diletakkan tepat di sudut atas kamar tidur Pedro, menghadap langsung ke arah ranjang.

Setelah memastikan semua live feed kamera menyala dengan jernih di tabletnya, Kak Hendra merapikan kembali posisi barang-barang Pedro tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, lalu keluar dari apartemen dengan tenang.

...****************...

Dua hari setelah operasi pemasangan kamera tersembunyi selesai, aku dan Kak Hendra berniat menguji efektivitas jebakan kami sekaligus mengumpulkan bukti pamungkas.

Sore itu, aku sedang duduk bersama Kak Hendra di ruang bersantai rumah kami, memandangi layar laptop yang menampilkan visual kosong dari dalam kamar apartemen Pedro. Aku kemudian mengambil ponselku, lalu menelpon Sania, dan sengaja menyalakan fitur speaker.

"Halo, Sania sayang," ucapku, melembutkan suaraku seolah-olah aku sedang merindukannya setengah mati. "Malam ini kamu senggang gak? Aku udah telanjur pesen tempat buat fine dining romantis dadakan di restoran hotel bintang lima. Aku jemput sekarang, ya?"

Di seberang telepon, terdengar suara Sania yang mendadak terdengar agak gugup, diiringi suara latar belakang yang agak bergema.

"Eh? Malam ini, Arka? Aduh... maaf banget, Sayang. Aku gak bisa," jawab Sania dengan nada suara yang dibuat seolah-olah dia sangat menyesal. "Ini aku lagi sibuk banget nemenin Mama aku. Mama lagi kurang sehat dari siang tadi, jadi aku harus jagain dia di rumah sepanjang malam ini. Maaf ya, ganteng. Next time kita makan malamnya, ya?"

"Oh, gitu ya... Ya udah deh, salam buat Mama kamu ya. Semoga cepat sembuh," ucapku tenang.

"Makasih ya, Arka sayang. I love you!"

Begitu sambungan telepon terputus, aku dan Kak Hendra langsung mengalihkan pandangan kami kembali ke layar laptop di hadapan kami.

Detik itu juga, live feed dari kamera tersembunyi di kamar tidur Pedro menampilkan pemandangan yang sangat kontras. Di atas ranjang, Sania baru saja menurunkan ponselnya dari telinga sambil tertawa terbahak-bahak. Di sampingnya, Pedro sedang bersandar tanpa mengenakan atasan, ikut tertawa puas sambil mengacak rambut Sania.

"Gila, gampang banget ya lo bodoh-bodohin si anak mami itu,"*suara Pedro terdengar sangat jernih melalui mikrofon spy cam yang terpasang.

"Ya iyalah. Arka itu kalau udah dikasih kata-kata manis dikit juga langsung percaya. Lagian, kalau gak ada dia, siapa yang mau bayarin belanjaan tas baru gue besok?" sahut Sania sambil mengecup pipi Pedro.

Melihat adegan menjijikkan itu terekam sempurna di layar laptop, aku tidak merasakan sakit lagi. Rasa sakit itu sudah berubah sepenuhnya menjadi sebuah kebencian yang dingin. Aku menoleh ke arah Kak Hendra yang sedang melipat tangannya dengan senyuman puas.

"Bukti pertama udah dapet. Rekaman video real-time dengan audio yang sangat jelas," ucap Kak Hendra, mengetuk layar laptop. "Sekarang... saatnya kita bawa masalah ini ke forum yang lebih besar. Kita panggil Saudara Saudara kira, kita bakal kasih paham mereka kalau keluarga Albian bukan lah mainan mereka." ucap kak Hendra Dengan wajah khas Keluarga Albian.

Aku menyandarkan tubuhku di kursi, menatap tajam ke arah dua sosok pengkhianat di layar monitor yang tidak tahu bahwa waktu kebebasan mereka sedang berjalan mundur.

"Panggil mereka semua, Kak. Hari Sabtu nanti... kita bikin pertunjukan yang gak bakal pernah dilupain sama Sania dan Pedro."

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!