Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burung dalam Sangkar Emas
Malam itu adalah malam pertama Sesilia di penthouse milik Axel Steel. Bagi banyak orang, hal ini mungkin akan sangat disyukuri, karena bisa tinggal di tempat semegah ini. Tetapi bagi gadis bermarga Kira itu, tempat semegah ini tidak ada bedanya dengan penjara bawah tanah, dalam versi yang lebih upgrade.
Penthouse ini menempati tiga lantai teratas menara Steel Group dan didesain dengan geometri yang sangat presisi. Sistem pengawasannya juga sangat canggih. Bahkan seekor nyamuk pun akan kesulitan memasukinya.
Setiap sudut ruangan dalam penthouse berada dalam jangkauan optik sensor, dan setiap pintu bekerja berdasarkan algoritma yang hanya diketahui oleh satu orang. Yaitu lelaki yang sangat dibenci Sesilia.
Sesilia berdiri di tengah sayap barat yang kini menjadi area pribadinya. Ruangan itu luas, dingin, dan beraroma lili putih—aroma yang seharusnya menjadi rahasia kecil di buku hariannya, namun kini menguar dari setiap ventilasi udara.
Monster itu tidak hanya memberinya kamar, tetapi juga membangun sebuah ekosistem yang dibuat khusus untuk kenyamanan Sesilia seorang. Sebuah kenyamanan yang terasa seperti cekikan halus di leher.
Lantai marmer hitamnya begitu mengkilap hingga Sesilia bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat. Ia berjalan menuju ruang belajarnya, dan jantungnya nyaris berhenti. Di atas meja kerja obsidian itu, terdapat sebuah mikroskop bedah Leica edisi terbatas yang hanya diproduksi sepuluh unit di dunia. Di badan logamnya, terukir namanya, SESILIA STEEL.
"Dia benar-benar gila, namaku adalah Sesilia Kira, dan si monster itu tanpa izin mengubahnya menjadi Steel" bisik Sesilia, suaranya bergetar.
Ia menyentuh ukiran nama itu, tawa hambar keluar dari bibirnya.
"Monster itu tidak menunggu pernikahan untuk mengganti identitasku." Gumamnya serak.
"Axel Steel. I hate You so much." itu adalah suara hati Seorang Sesilia Kira.
Pria itu telah memutuskan bahwa di dalam wilayah kekuasaannya, Sesilia sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Di sisi lain penthouse, di dalam ruang kendali yang kedap suara, Axel Steel duduk di depan susunan monitor 8K yang menampilkan setiap inci sayap Sesilia. Ia tidak melihat Sesilia sebagai manusia biasa. ia melihatnya dalam spektrum yang tidak realistis, memantau suhu tubuh gadis itu yang sedikit meningkat karena stres. Axel menyesap whiskey-nya, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan gadisnya sedang menyentuh mikroskop pemberiannya
"Gunakan itu, tikus kecil," gumam Axel, suaranya parau oleh obsesi. "Aku ingin setiap penemuan medis yang kau buat lahir dari peralatan yang kuberikan. Aku ingin setiap pemikiran cerdasmu terikat pada namaku."
Kehidupan tetap berjalan seperti biasa, walaupun Sesilia berdoa sekuat tenaga untuk membuat dunia agar segera kiamat.
Selama tinggal di penthouse itu, Sesilia harus mematuhi peraturan yang dibuat pemilik rumah seenaknya. Peraturan itu bernama "Protokol Hunian" yang tidak bisa dibantah. Gadis itu dilarang memasak, semua makanannya telah disiapkan oleh koki bintang tiga yang telah melewati skrining kesehatan ketat dan hanya memasak berdasarkan profil nutrisi yang dipantau Axel melalui laporan lab darah Sesilia yang ia curi dari basis data rumah sakit.
Setiap pagi, pukul 06:00 tepat, pintu kamar Sesilia akan terbuka secara otomatis. Tidak ada kunci fisik. Axel memegang kendali biometrik seluruh gedung.
Pada pagi ketiga, Sesilia mencoba melawan. Ia menahan pintu dengan kursi kayu berat dan menolak keluar untuk sarapan. Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki otoritas atas ruang geraknya sendiri.
Namun, perlawanan itu hanya bertahan lima menit.
Suara desis hidrolik terdengar, dan pintu baja itu bergeser seolah kursi kayu yang menahannya hanyalah tumpukan korek api. Axel melangkah masuk, mengenakan kemeja putih tanpa dasi yang lengannya digulung. Ia tidak tampak marah; ekspresinya justru menunjukkan kepuasan seorang ilmuwan yang melihat subjek eksperimennya mencoba memberontak.
"Kursi itu buatan pengrajin Italia abad ke-18, Sesilia. Jangan merusaknya hanya untuk drama yang tidak akan mengubah hasil akhirnya," ucap Axel dingin.
Ia berjalan mendekat, memaksa Sesilia mundur hingga punggungnya menempel pada jendela besar. Axel mengurung Sesilia dengan kedua tangannya, membiarkan aroma sandalwood dan maskulinitasnya mengintimidasi indra Sesilia.
"Kau pikir kau bisa mengunci diri dariku?" Axel membungkuk, bibirnya nyaris menyentuh kening Sesilia. "Gedung ini mengenali detak jantungmu sebagai bagian dari sistem keamanannya. Kau adalah komponen dari rumah ini. Dan aku adalah pemilik rumah ini. Tidak ada satu inci pun di sini yang bukan milikku, termasuk oksigen yang kau hirup."
Axel mengambil jam tangan pintar yang tergeletak di meja rias dan memasangkannya kembali ke pergelangan tangan Sesilia dengan paksa. "Pakai ini. Aku perlu memantau kadar kortisolmu. Jika kau terlalu stres, itu akan merusak fokus belajarmu, dan aku tidak suka investasi yang kinerjanya menurun."
Obsesi Axel mencapai level yang mengerikan ketika Sesilia secara tidak sengaja menemukan "Galeri Suci" di ruang server pribadi Axel.
Suatu sore, saat Axel sedang melakukan konferensi video dengan London, Sesilia menemukan sebuah pintu yang tidak terkunci sempurna. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang dipenuhi dengan server yang berdengung. Di layar utama yang masih menyala, terdapat folder-folder digital yang disusun berdasarkan kronologi waktu: 2021, 2022, 2023, 2024.
Sesilia membukanya dengan tangan gemetar.
Isinya adalah ribuan foto candid resolusi tinggi. Bukan hanya foto saat ia di kampus, tapi foto-foto yang diambil dari sudut-sudut yang mustahil. Ada foto Sesilia saat sedang mencuci piring di apartemen lamanya, foto saat ia sedang mengganti perban di klinik, bahkan rekaman audio saat ia sedang bergumam pelan ketika belajar anatomi.
Ada satu catatan digital yang menarik perhatiannya:
Subjek: Sesilia S. - Analisis Tidur Malam 1.422.
Subjek menggumamkan kata 'Monster' dalam tidurnya pukul 03:12 pagi. Tekanan darah sedikit meningkat. Menginstruksikan Tuan Han untuk menyalakan aromaterapi lavendel melalui sistem ventilasi tersembunyi di unit apartemennya. Subjek kembali tenang dalam sepuluh menit.
Sesilia mundur, rasa mual menghantam perutnya. Axel telah "hidup" bersamanya selama empat tahun tanpa ia sadari. Pria itu telah mengatur suhu ruangannya, aroma mimpinya, dan bahkan gangguan di sekitarnya. Segala hal yang ia anggap sebagai keberuntungan atau kebetulan—beasiswa yang datang di saat kritis, dosen galak yang tiba-tiba bersikap baik—semuanya adalah bagian dari skenario Axel.
"Kau suka koleksiku?"
Suara itu muncul dari bayangan. Axel berdiri di sana, menatap layar dengan ekspresi pemujaan yang gila.
"Kau penguntit... kau gila, Axel!" teriak Sesilia, air mata kemarahan mulai jatuh. "Kau mencuri empat tahun privasiku!"
Axel melangkah maju, tangannya mengusap layar yang menampilkan wajah Sesilia. "Aku tidak mencurinya. Aku mengabadikannya. Kau adalah mahakarya yang terlalu berharga untuk dibiarkan berlalu tanpa catatan. Dunia ini penuh dengan kecelakaan, Sesilia. Aku memastikan tidak ada kecelakaan yang akan menyentuhmu."
Axel menarik Sesilia ke dalam pelukannya, meski gadis itu meronta. "Setiap napas yang kau ambil selama empat tahun ini adalah atas izinku. Dan mulai sekarang, setiap napas itu akan terjadi di depan mataku."
Makan malam adalah ritual wajib di mana Axel melakukan "interogasi sistematis" dengan kedok obrolan romantis. Mereka duduk di meja panjang dari granit hitam. Axel selalu memastikan cahaya lampu fokus pada Sesilia, menjadikannya satu-satunya objek terang di ruangan yang didominasi kegelapan pekat.
"Aku melihat kau kesulitan dengan jurnal patologi hari ini," ucap Axel sambil memotong steak-nya dengan presisi yang menakutkan.
Sesilia membeku, garpunya berdenting di atas piring. "Bagaimana kau—"
"Aku memiliki akses real-time ke riwayat pencarian di laptopmu. Jangan terkejut. Aku sudah membeli perusahaan penyedia layanan internet yang digunakan gedung ini," jawab Axel datar. "Besok, seorang ahli patologi dari Johns Hopkins akan menghubungimu melalui Zoom. Dia akan menjelaskan bagian yang tidak kau mengerti. Aku sudah membayarnya untuk menjadi tutor pribadimu tanpa dia tahu siapa kau sebenarnya."
"Aku tidak butuh bantuanmu, Axel! Aku ingin melakukannya sendiri!"
"Kau akan melakukannya sendiri dengan sumber daya yang kuberikan," koreksi Axel, matanya yang kelabu menatap tajam. "Aku tidak membiarkan wanitaku terlihat bodoh atau kesulitan. Kau harus menjadi yang terbaik, karena kau membawa namaku."
Kegilaan Axel semakin terlihat saat ia memberikan hadiah harian. Malam itu, ia memberikan sebuah kotak kecil berisi cincin platinum. Bukan cincin pertunangan biasa, melainkan cincin dengan sensor biometrik yang terhubung langsung ke ponsel Axel.
"Jika kau menjauh lebih dari satu kilometer dari gedung ini tanpa seizinku, cincin ini akan mengirimkan sinyal darurat ke tim keamananku," jelas Axel, seolah-olah itu adalah fitur yang paling romantis di dunia. "Ini demi keamananmu. Aku tidak ingin ada 'insiden' dengan pria-pria tidak berguna di luar sana yang masih bermimpi memilikimu."
Setelah sesi makan malam berkedok ancaman terselubung itu, Sesilia berdiri di balkon kamarnya. Menatap Jakarta yang berkilau di bawahnya. Ia menyadari sebuah realitas yang pahit bahwa Axel Steel tidak hanya mencintainya dengan cara yang salah, pria gila itu nampaknya telah menjadikannya pusat dari sebuah agama entah berantah di mana Axel adalah satu-satunya pendeta.
Setiap kenyamanan yang ia rasakan—kasur yang paling empuk, makanan yang paling lezat, peralatan medis tercanggih—semuanya adalah suap agar ia tetap berada di dalam sangkar. Axel telah menghapus semua kesulitan hidupnya agar satu-satunya hal yang perlu dilakukan Sesilia adalah menatapnya.
Dari kegelapan ruang tamu, Axel memperhatikan siluet Sesilia. Ia tidak mendekat. Ia hanya menikmati pemandangan itu. Baginya, Sesilia adalah jantung yang berdetak dalam kerajaannya.
"Kau akan mencintaiku, tikus kecil," bisik Axel pada. "Bukan karena kau punya pilihan, tapi karena aku telah melenyapkan semua pilihan lain dari dunia ini."
Sesilia merapatkan blazer-nya, merasakan dinginnya malam, menyadari bahwa di bawah atap ini, ia tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi. Sang Monster tidak hanya tinggal bersamanya; Sang Monster telah menjadi udara yang ia hirup.
bau bau bucin😍😄