Anna kira hidupnya akan hancur saat di bawa pergi oleh lelaki itu, awal pertemuan yang bisa di bilang tidak biasa, dan penuh drama.
Dia keras kepala, tidak suka dibantah, benci diabaikan dan setumpul hal buruk lainnya.
akankah hidup Anna baik-baik saja? atau malah sebaliknya. ikuti terus kisahnya dengan judul ~~ Mine
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park Zia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Hari ini buat baik yuk, mari bantu like and comen. Makasih.
Anna pov
Sudah hampir satu minggu aku dirumah ini. Dan lelaki yang mengangu bernama Alfariel juga sudah hampir 5 hari tidak ada.
Sejak hari itu, aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. Nisa juga tidak tau dia kemana saat aku bertannya kemaren.
Aku bukannya kangen dia. Hanya saja aku heran, ayolah kalau dia saja pergi dan tidak ada disini. Jadi untuk apa membawa aku kesini? Aku bahkan lebih nyaman tinggal dipanti dari pada tinggal disini.
Memang, rumah ini besar. Fasilitas dan sebagainya ada disini. Tapi tetap saja, ini bukan rumahku. Aku merasa tidak nyaman bahkan untuk sekedar jalan ketaman atau membaca buku ruang baca. Semua yang aku lakukan terasa cangung. Ini bukan rumahku, tentu saja aku tidak nyaman.
Walau Nisa sudah sering bilang kalau angap saja ini rumahku sendiri, tapi tetap saja semuanya itu terasa lain. Mau bagaimanapun juga aku berusaha biasa saja, aku tetap tidak bisa.
"Nona,"
Aku mendongkakkan kepalaku dan melihat kearah Nisa. Menaikkan satu alisku. "Kenapa?"
"Mau jalan-jalan disekitar pantai. Aku lihat, Nona tampak bosan."
"Adakah?" tanyaku semangat. Aku benar-benar suka pantai, saat air itu menerpa kakiku rasanya sangat nyaman. Dan saat melihat air yang terombang-abing terkena ombak, rasanya sangat indah. Apalagi jika sudah sore, saat matahari tengelam dan digantikan oleh bulan. Aku benar-benar suka warna laut yang tertepa matahari yang hampir tengelam. Itu benar-benar indah.
"Tentu saja ada, dibelakang ada pantai. Ayo ikut saya, Nona."
Kakiku mengingikuti Nisa yang berjalan didepan. Kami melewati jalan setapak yang berada ditaman belakang. Aku tidak tau disini ada jalan, kemaren saat kami jalan-jalan disekitar sini aku tidak melihat ada jalan ini.
Mataku membulat saat melihat pemandangan didepanku, ini benar-benar indah. Didepan matamu terdapat sebuah pantai yang sangat indah. Benar-benar indah.
Ditepi pantai terdapat kursi santai, disampingnya terdapat meja yang terisi penuh dengan makanan ringan. Buah-buahan dan berbagai jenis snack serta air dingin.
Tanpa bisa ditahan. Kakiku langsung berlari kearah air pantai. Bermain dengan ombak, benar-benar menyenangkan saat kakiku terkena air pantai. Rasa sejuk langsung naik kekakiku. Rasanya nyaman.
"Wahh, ini benar-benar menyenangkan." ucapku bahagia. Mengambil air dengan tanganku dan melemparnya keatas. Membuat seolah-olah terjadi hujan.
Aku tertawa saat air itu mengenai wajahku. Coba ku ingat, kapan terakhir kali aku bermain air seperti ini? Haa, saat aku sedang jalan dengan Andre. Huff mengingat lelaki itu aku jadi mengingat pengkhianatan yang dia lakukan.
Menyebalkan, Andre itu adalah pacarku. Uuh salah, maksutku mantan pacarku. Ingat tidak saat aku katakan tentang pengkhianatan sahabatku. Ya, dia selingkuh dengan sahabatku sendiri. Dua orang yang aku angap sebagai keluargaku sendiri, tapi malah menusukku dari belakang. Menyedihkan, mereka berdua benar-benar pasangan yang serasi. Sama-sama bermuka dua. Aku jadi jijik, kenapa dulu aku mau-mau saja pacaran dengan orang seperti Andre.
"Nona, ayo duduk disana." ajak Nisa dan berjalan kearah karpet yang tergelar diatas pasir. Diatasnya juga terdapat payung yang menutupi sinar matahari. Aku mengikutinya dan duduk diatas karpet.
Mengambil air dingin dan menghabiskannya dalam satu tengukkan. Aku benar-benar kehausan, berlari dan bermain air benar-benar menguras tenaga. Apa lagi jika teringat kenangan buruk, bertambah parah saja rasa lelah ini.
"Nisa,"
"Ya, Nona."
"Mau bantu aku?" ucapku tiba-tiba.
Nisa memutar kepalanya dan melihat kearahku. Alisnya naik satu, tampak bingung dengan pertanyaanku.
"Apa, Nona?"
"Aku ingin pergi dari sini." ucapku dengan sorot mata lelah.
Aku sudah benar-benar merindukan buk Laras dan anak panti. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang saat tidak melihat mereka. Dan perasaan itu benar-benar tidak nyaman.
Aku juga rindu sekolah. Walau disekolah tidak ada siapa-siapa yang menungguku. Tapi aku ingin belajar, walau aku ini anak yang sedikit bermasalah. Tapi aku ini rajin sekolah, untuk masa depanku. Aku harus berusaha menata masa depan. Dengan belajar salah satunya.
"Kenapa anda bilang begitu, Nona?" tanya Nisa kaget.
"Aku merindukan rumahku, buk laras dan anak-anak. Aku merindukan mereka. Aku juga merindukan sekolah, aku sudah hampir seminggu tidak masuk." ucapku jujur.
Nisa terdiam. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Dia menatap kearahku dalam, kenapa? Kenapa dia menatapku dengan sorot mata seperti itu.
"Emm, bagaimana jika Nona tanya saja dengan Mr Black Jika Nona yang meminta, saya rasa Mr Black pasti akan menuruti." usul Nisa sambil menatapku lama.
"Kenapa aku harus tanya dia? Dia siapa sih, kenapa aku selalu harus tanya padanya jika ingin melakukan sesuatu!" keluhku kesal. Aku bukan tahanannya, kenapa juga aku harus tanya padanya. Menyebalkan.
"Nona, jangan bilang begitu. Mr..."
"Sudahlah, Nisa. Kamu jangan membelanya lagi, dia itu memang suka seenaknya. Aku tau ini itu rumahnya. Tapi tetap saja, aku juga tidak ingin disini. Menyebalkan." ucapku marah, aku benar-benar kesal dengan lelaki bernama Alfariel itu. Suka sekali seenaknya.
"Nona, jaga ucapanmu. Jika Mr Blcak dengar dia bisa marah." ucap Nisa takut.
"Ck, lalu apa perduliku. Jika dia marah, lalu aku diusir. Itu bagus, aku jadi bisa pulang kepanti." ucapku santi.
"Nona..."
"Sudahlah, Nisa. Aku lelah, ingin istirahat. Diamlah," ucapku dan membaringkan badanku diatas karpet. Menutup mataku, aku ingin istirahat sebentar.
Entah karena lelah atau memang mengantuk. Tidak terasa aku malah terjatuh kealam mimpi, dan semuanya gelap.
*****
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, dimana aku? Aku melihat sekeliling. Dan ternyata aku sudah berada dikamarku. Kenapa aku bisa ada disini? Bukankah tadi aku sedang berada dipantai.
Saat aku ingin duduk, aku merasakan tangan seseorang melingkar diperutku. Tangan siapa ini. Aku memutar kepalaku dan melihat kesamping. Wajah tampan seorang lelaki tetap berada didepanku. Mataku membulat seketika, Alfariel? Sedang apa lelaki ini disini. Astaga.
Aku berusaha melepaskan tangannya dari perutku. Tapi bukannya lepas tangannya itu malah semakin erat memeluk perutku.
"Lepas," ucapku pelan.
"Diamlah, baby. Aku butuh istirahat, biarkan aku istirahat sebentar." ucapnya serak dan makin mengeratkan pelukannya. Kepalanya menyusup kearah sela-sela leherku.
Aku mendadak terdiam saat nafasnya menerpa kulit leherku. Rasa dingin menyerusuk masuk, membuat badanku menggigil.
"Aku tidak pernah melarangmu tidur, Tuan. Jadi lepaskan aku dulu, kamu bisa tidur dengan tenang nanti." ucapku berusaha melepaskan diri.
"Aku nyaman dengan posisi ini. Jadi diamlah,"
"Tapi aku yang tidak nyaman." ucapku kesal. Dia ini memang suka semena-mena denganku.
"Tidurlah, baby."
"Aku tidak bisa, jika kamu lelah ya tinggal tidur sendiri. Tapi, sekarang biarkan aku pergi." ucapku mulai emosi.
"Tidak ada bantahan," ucapnya final dan menarik badanku dan meletakkan kepalaku didadanya.
Dag dig dug, jantungku mulai berdetak diluar kendaliku. Sial, ada apa dengan jantungku. Apakah aku sakit jantung?
"Tenangkan jantungmu, baby." ucapnya dengan geli.
"Diamlah," ucapku kesal dan mencoba menutup mataku lagi.
Karena aku memang lelah, 5 menit setelahntmya aku sudah jatuh kealam mimpi. Dan aku merasakan posisi ini sangat nyaman. Hal yang baru pertama kali aku rasakan, pelukkan ini benar-benar nyaman.
Next to part 9.