Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai curiga
Hari ini, Mala pergi bekerja dengan naik sepeda. Mala sudah tidak berlarian lagi seperti biasanya karena takut terlambat kerja. Dia mulai terlihat santai dan murah senyum.
Tanpa dia sadari, seseorang memperhatikan Mala dengan senyum lebar. Dia adalah Agam. Sekertaris pak Dicko.
" Mala...kamu lebih manis kalau sedang tersenyum," kata Agam sambil mendekati Mala yang akan masuk lift.
" Pak Agam bisa saja. Kata orang, senyum itu sodakoh jadi karena aku nggak bisa beramal pake uang ya dengan senyum aja," kata Mala.
" Tapi hingga kemaren, aku jarang lihat kamu tersenyum. Atau jangan-jangan kamu tersenyum pilih-pilih orang."
Mala kaget. Dia ingat selama ini Mala tidak pernah tersenyum di depan Pak Dicko dan sekertaris Agam.
" Pak Agam, yang penting sekarang senyum kan?" kata Mala agak panik.
" Atau karena sudah beli sepeda baru. Itu sepeda mahal lho. Kamu hebat bisa beli sepeda itu," kata Agam lagi.
" Itu pemberian teman."
" Teman atau pacar?!" goda pak Agam.
" Teman..." kata Mala agak kesal.
Beberapa teman kantor datang dan bersama-sama masuk kedalam lift. Obrolan merekapun berhenti.
***
Dicko kebetulan baru saja datang ketika Mala mengantar minuman di kantornya. Saat itu Mala hanya mengucapkan selamat pagi pada Dicko tanpa senyum dan tanpa melihatnya.
" Selamat pagi pak Dicko."
" Selamat pagi..." jawab Dicko agak kesal.
Mala segera melangkah keluar dan berpapasan dengan pak Agam. Mala tersenyum ramah padanya. Demikian juga pak Agam membalas senyum Mala.
" Tersenyum sendiri, seperti orang gila saja," kata Dicko meledek Agam.
Dicko dan Agam adalah sahabat sejak kuliah dulu, jadi mereka sangat akrab.
" Siapa bilang tersenyum sendirian. Ck ck ck ... Mala memang punya senyum yang sangat manis. Sepertinya aku menyukai dia. Sudah punya pacar atau belum ya?" jawab Agam membayangkan senyum Mala.
Dicko yang mendengar perkataan Agam tiba-tiba langsung memukul meja membuat Agam terdiam karena kaget dengan reaksi Dicko.
" Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkan kamu. Aku tadi lihat nyamuk, dan ingin membunuhnya," kata Dicko sambil tersenyum sinis.
" Aku pikir kamu marah karena aku menyukai Mala. Tapi sepertinya dia sudah punya pacar," kata Agam agak kecewa.
Dicko terdiam mendengar perkataan Agam
" Darimana kamu tahu dia sudah punya pacar?" tanya Dicko penasaran.
" Pacarnya membelikan dia sepeda baru. Sepeda itu aku tahu harganya mahal dan dia kelihatannya sangat senang sekali. Pacarnya pasti orang kaya. Saingan yang berat," kata Agam sambil menghela nafas berat.
" Sepeda baru? pacar? coba kamu lihat ini."
Dicko menyodorkan lembaran lamaran kerja Mala. Data dan Ktp ada disitu. Agam membaca dengan teliti lembaran yang ada di tangannya.
" Dia sudah menikah? Mana mungkin dia sudah menikah. Dia masih muda dan tidak terlihat dia memakai cincin kawin," katanya tak percaya dengan kenyataan yang ada.
" Mungkin dia lupa pakai," kata Dicko tersenyum melihat reaksi Agam.
" Mungkin dia sedang ada masalah dengan suaminya. Jika tidak, mana mungkin suaminya membiarkan dia bekerja untuk biaya kuliah. Suaminya pasti tidak bertanggungjawab. Jadi aku masih ada kesempatan."
Dicko menghentikan aktivitasnya mendengar perkataan Agam. Pikirannya mulai kacau. Jika benar seperti yang dikatakan Agam, kasihan sekali Mala. Pasti dia sangat menderita harus berjuang sendiri di kota besar yang baru pertama kali dia datangi.
***
Agam mendekati Mala yang sedang termenung sambil menunggu berkas yang dia fotokopy. Mala tidak menyadari Agam sudah ada di belakangnya.
" Mala..."
Suara Agam membuyarkan lamunannya. Mala kaget dan hampir membuatnya terjatuh.
" Pak Agam, ada apa. Bikin jantung saya mau copot saja."
" Pak Dicko minta dibelikan mi ayam dua porsi. Nanti kamu antar langsung keruangannya," kata pak Agam lalu melangkah pergi.
Mala hanya mengangguk pelan dan segera membereskan tugasnya. Hari ini Mala mendapat banyak orderan dari staf lain dengan begitu dia akan mendapat banyak bonus juga dari mereka.
Meski harus bolak-balik, Mala menikmati tugasnya kali ini. Dan benar saja, bonus yang didapatnya lebih dari yang di harapkan. Kini tinggal makanan pesanan pak Dicko. Harapan Mala sama dapat tips.
Tidak lupa Mala mengetuk pintu, setelah terdengar jawaban Mala bergegas masuk.
" Permisi pak Dicko, ini makanan pesanan bapak. Saya taruh sini ?" kata Mala sambil meletakkan makanan di meja tunggu di ruangan bosnya.
" Tunggu, makanan apa itu?" tanya Dicko.
" Ini mi ayam seperti yang pak Agam bilang dua porsi."
" Dia pasti salah dan tidak mendengarkan perkataanku. Aku minta spaghetti bukan mi," kata Dicko menghela nafas.
" Lalu bagaimana ini?" tanya Mala bingung.
Dicko berdiri dan berjalan mendekati Mala yang terlihat bingung. Dicko duduk tepat di depan Mala yang masih jongkok di dekat meja.
" Kamu makan saja, kamu pasti juga belum sempat makan kan?" tanya Dicko.
Mala melihat kearah pak bosnya itu dengan tatapan curiga. Apa dia tahu Mala suka makan mi?
" Kenapa? kamu tidak usah khawatir. Aku yang akan bayar."
" Baik pak Dicko. Saya akan bawa ini keluar."
" Tidak, makanlah disini. Jika kamu bawa keluar aku tidak akan membayarnya."
Mala terdiam sejenak dan berpikir.
" Duduk dan makanlah. Tidak perlu banyak berpikir lagi!" perintah pak Dicko.
Mala akhirnya duduk dengan rasa takut. Duduk dihadapan laki-laki yang mirip suaminya membuatnya canggung. Tapi dia tidak boleh lemah. Semangat bekerja harus tetap terjaga.
Mala mulai makan perlahan makanan kesukaannya itu. Tanpa peduli pada bosnya yang terus menatapnya dengan tatapan kasihan.
Si bos tiba-tiba mendekat dan mengelap bibir Mala yang terlihat ada saos yang menempel. Mala gemetaran dan kaget dengan sikap bosnya.
" Saya bisa sendiri," kata Mala sambil meraih tisu dari tangan bosnya.
" Apakah suamimu bersikap baik padamu?" tanya Dicko.
Pertanyaan yang membuat Mala makin curiga. Jika ditelaah, sejak Mala bekerja disini, semua memang terasa mudah. Bekerja sambil kuliah dengan gaji yang sama tanpa dipotong jam pulang. Makanan yang dipesan pasti ada saja alasan supaya Mala memakannya di ruangannya.
" Tentu saja pak Dicko. Suami saya orang yang sangat baik," jawab Mala sambil tersenyum.
" Lalu kenapa dia membiarkan kamu bekerja dan membiayai kuliah kamu sendiri?" tanya Dicko lagi.
" Pak Dicko, apa bapak tidak merasa terlalu ingin tahu kehidupan pribadi bawahan bapak?" jawab Mala balik bertanya.
" Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin memastikan kesejahteraan karyawan aku," jawab Dicko berusaha tenang.
" Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan bapak tentang suamiku?" tanya Mala.
" Aku hanya ingin memastikan kehidupan pribadimu tidak akan mempengaruhi pekerjaan kamu," jawab pak Dicko.
" Suami saya sangat baik dan selalu menuruti keinginan saya. Saya yang ingin membiayai kuliah saya sendiri."
" Meninggalkan anak demi bisa kuliah?" gumam Dicko pelan tapi Mala masih bisa mendengarnya.
"Darimana pak Dicko tahu, aku sudah mempunyai anak? Apakah dia Gama?"
Kali ini Mala berharap bisa meyakinkan hatinya. Dia ingin mencari tahu kebenarannya agar keraguan dalam hatinya bisa hilang.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁