Awas bisa menyebabkan kram pipi dan perut!
Kisah Cherry gadis putih Abu-Abu yang tak menyangka kaget menikah dengan seorang pria mapan bernama Lucas yang sering mengejeknya cabe-cabean.
Seperti apa ceritanya keseruannya langsung saja cus...
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 9. Pengobatan Ibu
Part. 9. Pengobatan Ibu
Happy Reading...
Cherry masuk keruangan Ibunya, hatinya semakin sesak saat melihat kondisi Ibunya.
"Ibu.. Cherry akan berusaha mendapatkan biaya pengobatan Ibu. Ibu harus sembuh demi Cherry.. hiks.. hiks.. hiks..."
"Untuk biayanya sekitar berapa ya Dok?" tanya Cherry sekalian.
"Sekitar 10 hingga 20 juta sekali terapi Kemoterapi Nona,"
'Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu' gumam Cherry.
Cherry terus mengingat perbincangannya dengan Dokter Ammar. Bagaimana bisa dia mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan posisi dia masih seorang anak sekolah menengah atas.
"Demi kesembuhan Ibu, Cherry akan melakukan apapun Cherry janji bu..," suara Cherry terdengar serak
**
"Neva, kau tahu dimana Cherry?" tanya Prasetya.
"Ga tau Ka.."
"Bukannya kalian sangat dekat?"
"Iya, tapi emang beneran ga tau karena Cherry tak memberi kabar. Ponselnya juga daritadi aku hubungi ga bisa" sahut Neva.
"Emangnya ada apa Ka?"
"Hanya mau ngasih ini, eh iya ini buat kamu dan Steve juga. Datang ya di pesta ulang tahunku..,"
"Iya Ka.., terimakasih ya.."
"Titip sekalian buat Cherry,"
"Beres Ka...," sahut Neva,Prasetya kemudian pergi.
"Neva..!" Steve mengagetkan Neva.
"Astaga naga! suka banget bikin orang jantungan sih Steve..,"
"Gue panggilnya udah daritadi, elunya aja yang bolot..," cibir Steve.
"Eh.., itu si Prasasti Prasejarah ngapain nemuin elu?" tanya Steve.
"Dia cuma ngasih ini," sembari menyodorkan kartu undangan untuk Steve.
"Ulang tahun? kayak anak TK pake ultah segala," ucap Steve terkekeh melihat kartu undangan berwarna pinky.
"Udah ah ngapain juga elu bahas kartu undangan, yang seharusnya kita bahas tuh Cherry.. tumben-tumbenan nih anak bolos sekolah," ucap Neva.
"Cherry bolos sekolah?" Steve memastikan.
"Iya.., gue sudah hubungin ponselnya tapi ga aktif," ucap Neva sedih
"Ga biasanya tuh anak bolos," ucap Steve merasa aneh.
"Sehabis pulang sekolah kita kerumahnya, gue tiba-tiba khawatir,"
"Sama, gue juga" sahut Neva.
Mereka berdua kemudian sepakat untuk kerumah Cherry memastikan kenapa hari ini tak masuk Sekolah tanpa izin.
Jam menunjukkan pukul 2 siang semua anak-anak sekolah berhamburan untuk melepaskan lelah di rumahnya masing-masing. Anehnya ini tak berlaku untuk kedua manusia bernama Steve dan Neva, bukannya pulang terlebih dulu mereka malah melajukan kendaraannya ke rumah Cherry.
"Cherry... Cherr...Cherry... " panggil Neva dan Steve bersamaan sembari mengetuk pintu rumah Cherry yang kecil.
"Nev, sepertinya Cherry ga ada dirumah" ucap Steve.
"Iya Steve sepertinya Cherry dan Ibunya tak dirumah, mungkin mereka ketempat saudaranya"
"Mbak.. Mbak Cherry sedang menemani Ibunya di Rumah sakit," ucap salah satu tetangga yang melintas di depan rumah Cherry.
"Di rumah sakit bu.., Ibunya Cherry sakit ya bu?" tanya Neva memastikan.
"Iya mbak, tadi pagi Ibu Rahayu pingsan untungnya ada bu Asih yang tak sengaja ingin bertemu Ibu Rahayu. Bu Asih dan para tetangga memutuskan membawa Ibu Rahayu ke Rumah sakit,"
"Bu, Kira-kira dibawa ke Rumah sakit mana ya?" tanya Steve.
"Rumah sakit Center Medika mas,"
"Terimakasih bu atas informasinya,"
"Steve, elu tahu kita harus kemana?" tanya Neva sambil menaik turunkan alisnya.
Neva dan Steve memasuki kendaraannya kembali dan melajukannya ke Rumah sakit Center Medika. Sekitar dua puluh menit perjalanan Neva dan Steve tiba di Rumah sakit tersebut.
"Mbak, pasien bernama Rahayu yang baru masuk tadi pagi diruang berapa ya?" tanya Neva.
"Sebentar Nona saya cek dulu," ucap petugas resepsionis langsung mengecek di layar monitornya.
"Nyonya Rahayu alamat gang sadewa 15 dirawat di kamar nomor 30"
"Terimakasih mbak..,"
Neva dan Steve kemudian mencari ruang Ibunya Cherry. Saat mencari ruangan Ibunya Cherry, Neva tak sengaja melihat kakaknya Lucas bersama Reta.
"Kakak...," panggil Neva.
"Dek ngapain lu disini?" tanya Lucas.
"Ngikutin kakak... ya enggak lah..., males banget ngikutin kakak. Neva kesini mau jenguk Ibunya sahabat Neva" jawab Neva.
"Ya udah sonoh.. ga usah ganggu-ganggu kakak disini," usir Lucas.
"Ngapain juga yang pingin dekat-dekat kakak," Neva menjulurkan lidahnya sedikit kearah Lucas.
"Kakak sendiri ngapain disini?" tanya Neva balik.
Lucas tak menanggapi pertanyaan Neva, dia malah asyik memainkan gawainya. Kalau bukan karena Reta yang mengajaknya berubah haluan, Lucas ogah datang ke Rumah sakit ini lagi.
Rencana Reta ingin membawa Lucas bersenang-senang gagal kalau Reta mendapatkan panggilan soal pekerjaannya. Anehnya saat ini Lucas merasa kesal karena Reta dan Ammar terlihat sangat akrab. Bahkan keakraban mereka dinilai Lucas sangat berlebihan.
Sebelumnya Reta dan Ammar sama-sama mendapatkan tugas berada di pedalaman. Lalu mereka juga bisa bersama di pindah tugaskan di Rumah sakit yang sama. Entah hanya kebetulan atau tidak, Lucas sendiri merasa curiga.
"Neva.., ayo!" panggil Steve.
"Buruan pergi tuh sudah dipanggil sama bebebnya," sindir Lucas menirukan ucapan gaul yang sering dipakai adiknya.
"Haisssttt..," desis Neva.
Neva berbalik meninggalkan kakak yang mengesalkan namun merindukan. Meskipun diantara mereka sering sekali bertengkar tetapi mereka saling menyayangi.
Nomor 30.
Tok.. tok.. tok..
Ceklek.
Neva dan Steve terkejut melihat kondisi Ibunya Cherry, Neva yang biasanya cuek meneteskan air matanya. Baru kali ini dia melihat pemandangan yang sangat menyentuh hatinya.
Seorang wanita seumuran Mamanya sedang berjuang melawan sakitnya. Cherry yang masih menelangkupkan wajahnya didekat Ibunya tak mengetahui jika Neva dan Steve sudah berada di belakangnya.
"Cherr.., Cherry...," panggil Neva membangunkan Cherry.
Cherry mengangkat wajahnya, menoleh kearah Neva dan Steve dibelakangnya.
"Kalian..," ucap Cherry.
"Darimana kalian tahu aku dan Ibu disini?" Cherry masih berusaha menutupi kesedihannya padahal sangat jelas terlihat wajah kucel serta mata sembabnya akibat terlalu lama menangis.
"Cherry.. hiks.. hiks.. hiks..," Neva langsung memeluk Cherry dengan tangisan yang keluar dari matanya.
Steve tak bisa berkata-kata lagi, dia masih diam. Dalam hatinya merasa tak tega melihat kondisi Cherry dan Ibunya.
"Do'ain Ibu ya Neva biar kuat menjalani cobaan ini," pinta Cherry.
"Elu yang kuat ya Cherr.., Ibu pasti segera sembuh," Do'a tulus dari Neva.
"Elu harus kuat cherr..," saran Steve.
"Terimakasih Neva, Steve sudah mau mendo'akan Ibu,"
Cherry kemudian meminta Neva dan Steve untuk duduk, Cherry sendiri sudah lelah karena pikiran serta tenaganya sudah terforsir.
"Kalau boleh tahu, Ibu sakit apa Cherr?" tanya Steve.
Cherry menundukkan wajahnya, kemudian menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Terlihat beban berat terlukis di wajahnya yang masih terlihat sangat cantik.
"Ibu terkena kanker paru-paru stadium 4,"
"Apa! Ibu terkena kanker paru?"
Cherry mengangguk sedih, kali ini dia tak bisa menyembunyikan tangisnya setiap mengingat ucapan Dokter Ammar mengenai Ibunya. Neva dan Steve berusaha membantu menguatkan Cherry, mereka berdua bisa mengerti kondisi Cherry saat ini.
"Ibu, harus menjalani pengobatan kemoterapi.. hiks.. hiks.. hiks..,"
Bersambung.....
btw, cherry kelas brapa sih?
ahirnya cherry dan lukas bersatu😍
ahirnya cherry dan lukas bersatu😍