DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat manis sang dukun
##BAB 8 - Jerat Manis Sang Dukun
Mendengar persetujuan mutlak dari Rahmat, raut wajah Mbah Cahyo seketika kembali berubah drastis. Kegeraman luar biasa yang tadi sempat memancar dari wajah tuanya lenyap tanpa bekas dalam sekejap mata, digantikan oleh seulas senyum puas yang teramat dingin dan penuh rasa kemenangan.
"Bagus... Bagus. Keputusan yang sangat bijak, Le," ujar Mbah Cahyo dengan nada suara yang kembali pelan dan tenang, sembari mengangguk-angguk kecil penuh arti.
"Jangan pernah kamu sia-siakan kesempatan emas ini. Ingat, kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sekarang... kalian berdua sudah resmi menjadi bagian dari dunia ini. Keuntungan besar yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya, sudah menanti kalian di depan mata."
"Terus apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan semua itu, Mbah?" sahut Rahmat, nadanya terdengar begitu menggebu-gebu penuh semangat.
Sangat berbanding terbalik dengan kondisi Ratna yang duduk di sebelahnya. Ibu muda itu masih saja terdiam membisu, sementara sebutir demi sebutir keringat dingin mulai bercucuran deras dari keningnya, membasahi wajahnya yang kian pucat pasi.
"Tenang dulu, Le... Gak usah terburu-buru begitu. Kekayaan itu tak akan lari ke mana-mana, semuanya sudah mutlak akan menjadi milikmu," sahut Mbah Cahyo, masih dengan mempertahankan senyuman liciknya yang misterius.
Mbah Cahyo menjeda ucapannya sejenak. Ia memalingkan wajahnya ke arah altar, menatap kepulan asap dupa yang membubung tinggi ke langit-langit teras rumah.
"Ada ritual khusus yang perlu kalian penuhi terlebih dahulu, sebelum kalian bisa menikmati semua hasil manisnya nanti," lanjut Mbah Cahyo dengan nada suara yang terdengar dalam dan penuh teka-teki yang mengerikan.
"Ritual khusus apa, Mbah?" potong Rahmat cepat, saking tidak sabarnya ia untuk segera lepas dari jerat kemiskinan.
Seketika itu juga, hawa dingin yang teramat mencekam kembali datang menyelimuti ruangan kecil tersebut. Namun, kali ini rasanya jauh berbeda dari sebelumnya. Segalanya datang secara bersamaan menerobos indra penciuman mereka; perpaduan antara bau amis darah segar, aroma tanah basah pasca hujan, wangi bunga kamboja yang menusuk, serta pekatnya asap kemenyan yang mengepul hebat tepat di hadapan Mbah Cahyo. Kombinasi bau itu mendadak tercium persis seperti aroma pemakaman kuno.
"Hahaha... Dengan kamu bertanya secepat itu, berarti kamu memang sudah benar-benar setuju dengan apa pun yang akan dilakukan di sini," sahut Mbah Cahyo, suara tawa seraknya kembali terdengar di sela-sela kepulan asap dupa.
Rahmat tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat pelan untuk menegaskan bahwa dirinya memang sudah bulat menerima apa pun keputusan Mbah Cahyo. Kepala Rahmat bergerak, mengangguk kecil dengan tatapan mata yang terkunci pada sang dukun. Sementara di sampingnya, Ratna hanya bisa pasrah, meratapi ketidakberdayaan dirinya atas kegilaan yang sedang dilakukan oleh suaminya sendiri.
"Baik, Simbah kasih tahu sekarang," ujar Mbah Cahyo, wajahnya mendadak berubah serius dan suaranya terdengar sangat tegas meraba keheningan.
"Ritualnya... kalian berdua harus berhubungan badan di suatu tempat khusus yang nanti akan Simbah tentukan. Saat kamu sudah mencapai klimaks, bersihkan dan ambil seluruh cairan penutup itu menggunakan celana dalam yang sedang dipakai istrimu saat itu. Ingat baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat atau tertinggal setetes pun!"
Mendengar instruksi ritual yang teramat aneh sekaligus menyimpang jauh dari nalar sehat itu, sontak Rahmat dan Ratna terkejut bukan main. Keduanya langsung saling menoleh satu sama lain, saling melempar pandang dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya besar sekaligus rasa syok yang tertahan di tenggorokan.
Belum sempat Rahmat dan Ratna melayangkan protes atau mempertanyakan keganjilan syarat tersebut, Mbah Cahyo sudah lebih dulu memotong pergerakan mereka. Pria tua itu langsung menyambung perkataannya dengan tatapan mata yang mendadak kembali dingin dan menusuk.
"Ingat... kalian berdua sudah telanjur melangkah masuk ke dalam dunia ini! Kalian tidak akan bisa seenaknya membatalkan semua ini di tengah jalan, atau kalian sendiri yang harus menanggung akibat fatalnya nanti," ujar Mbah Cahyo, kembali mengingatkan mereka dengan nada suara yang penuh dengan tekanan magis.
Mbah Cahyo kembali menyunggingkan senyum tipisnya, menatap kedua tamunya yang kini kembali mati kutu.
"Tenang saja... malam ini juga, Simbah sendiri yang akan mengantarkan kalian berdua langsung ke tempat ritual itu," lanjut Mbah Cahyo pelan, namun terdengar seperti sebuah perintah mutlak yang tidak menyediakan pilihan untuk menolak.
"Jangan pernah kalian sia-siakan kesempatan emas ini. Kelak, kalian akan dihormati karena kekayaan kalian, dan tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menandingi kejayaan kalian lagi," ujar Mbah Cahyo, kembali membujuk dengan nada suara yang begitu manis, menyuntikkan racun keserakahan langsung ke dalam ego Rahmat.
Karena situasi sudah benar-benar terjepit dan tidak ada pilihan lain lagi—istilahnya maju kena, mundur pun kena—akhirnya dengan sangat terpaksa mereka menyetujui untuk melakukan ritual nyeleneh dan penuh kegilaan itu. Walaupun di dalam lubuk hati yang terdalam, keraguan dan rasa ngeri yang teramat sangat masih berkecamuk hebat, mencabik-cabik sisa akal sehat mereka.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁