Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08: Salah Kirim File
Lima bulan berlalu...
Ruang kerja Alvero di kantor hari itu terasa berat. Klient terus menuntut proposal cepat selesai. Sementara Alvero, saat ini ia sedang menyelesaikan laporan keuangan.
"Al, udah dulu. Ini udah mau sore, kamu belum makan." Regan berdiri di belakangnya.
"Aku belum selesai," jawab Alvero tanpa menoleh.
"Tapi kesehatanmu penting. Jangan sampai kamu kenapa-napa hanya tuntutan klient."
"Tapi aku gak mau bikin perusahaan rugi, apalagi kalau kehilangan klient."
Regan menghela napas panjang. Tanpa banyak tanya lagi, ia pergi dari ruangan Alvero.
Ruangan kembali sunyi, hanya suara jari Alvero yang terus bergerak di atas keyboard laptop. Ia sudah duduk di kursi kerjanya hampir seharian, waktu jam istirahat, Regan mengajaknya untuk makan siang bersama. Tapi Alvero menolak dengan alasan sebentar lagi selesai.
Alvero menatap layar laptopnya, ia memijat pelipis. Pandangannya sedikit kabur, Alvero mengerjap.
"Ini harus selesai hari ini," gumamnya. Alvero tahu tubuhnya sudah capek, tapi pikirannya terus melayang ke proposal yang belum selesai. Seolah kalau tidak selesai hari ini, Alvero merasa akan mengecewakan klient.
Tak lama, pintu kembali terbuka. Regan masuk sambil membawa dua cup bowl dan dua cup minuman jeruk manis hangat.
Ia menyimpan makanan itu di meja. "Al, ayok makan." Ajaknya lagi. "Aku udah makan banyak, kamu belum makan apa-apa dari istirahat tadi."
Regan membuka tutup cup bowl itu, uap hangat langsung keluar tipis. Aroma gurih bawang putih dan daging memenuhi ruangan.
Mencium aroma itu, gerakan jari Alvero berhenti sebentar. Perutnya benar-benar hampir sakit karena menahan lapar. Tapi ia cepat-cepat menggeleng, lalu kembali mengetik.
Sementara Regan, pria itu melahap pangsit kuah yang ia beli. Sambil duduk santai di sofa.
Kurang dari sepuluh menit, makanan Regan sudah habis. Tinggal satu cup lagi yang masih utuh.
"Al, apa dengan seperti itu, kerjaan akan selesai?" Suara Regan kembali terdengar.
Tak ada respon apapun dari Alvero. Sampai akhirnya, Regan membuka tutup cup bowl itu. Ia menarik satu sofa kecil ke sisi Alvero, lalu duduk di sana. Membuat Alver menoleh, alisnya mengernyit. Tapi ia tak bertanya.
Tangan Regan membuka plastik bungkusan sendok. Ia menyondok satu pangsit, meniupnya pelan, lalu menuntunnya ke mulut Alvero.
"Ayo makan," katanya santai.
"Gak! Aku bisa makan sendiri, Regan." Alvero menolaknya mentah-mentah.
"Aku tahu." Regan menjawabnya cepat.
Alvero membuang napas, ia mengusap wajahnya cepat. "Regan, kalau ada yang melihat kita, mereka akan berfikir kamu sudah tidak normal."
"Bukan hanya aku yang mereka pikirkan. Kamu juga."
"Simpan, sebentar lagi aku makan." Perintah Alvero.
"Sebelumnya juga kamu bilang begitu."
Alvero melempar tatapan tajam. Tapi Regan justru malah menyeringai. Sendok berisi pangsit itu masih menggantung di hadapan mereka.
"Regan... atau jangan-jangan... kamu?"
Regan terkekeh. "Jangan berfikir terlalu jauh, Alvero. Aku hanya kasihan padamu, kamu belum makan demi mempertahankan klient perusahaan ini."
"Sekarang kita saling membantu. Kamu bisa sambil menyelesaikan proposal, dan aku menyelesaikan rasa lapar yang kamu tahan." Lanjut Regan.
Alvero diam, tapi alisnya masih bertaut. Antara bingung dan merasa geli sendiri. Kenapa harus Regan yang menyuapinya sekarang. Kenapa bukan Veyra.
Regan mengangkat alis. Sebelum akhirnya Alvero membuka mulutnya. Awalnya mengunyah dengan gerakan pelan, selanjutnya Alvero memakannya dengan lahap.
"Aku pikir kamu gak normal, Regan. Makanya sampai usiamu sudah mau dua puluh tujuh tahun, kamu belum menikah." Alvero tertawa kecil, menatap Regan sebentar, lalu kembali ke layar laptop.
Regan mendecak. "Pikiran konyol seperti apa itu, Al. Jadi di matamu, usia patokan kenormalan?"
Tawa Alvero mengeras, ia cepat-cepat menggeleng. "Bukan gitu maksudku! Kamu terlalu akrab dengan siapapun."
"Iya, kamu benar. Aku bisa akrab dengan orang gila sekalipun."
Mulut Alvero terbuka, ia hendak menjawab. Tapi Regan mendahuluinya cepat. "Jangan bilang aku sama gilanya."
Tangan Alvero menyeka air mata di sudut matanya, karena ia tertawa terlalu keras. Bahkan membuat kulit perutnya sakit.
Sementara Regan menatapnya dengan jengkel setengah mati. Bisa-bisanya Alvero menilainya tidak normal.
Makanan di cup bowl sudah habis, Regan kembali pindah ke sofa panjang. Ia tiduran di sana sambil memainkan ponsel.
Sekarang, ruangan itu jatuh hening. Sampai akhirnya suara ponsel Alvero bergetar di atas meja.
"Baik, Pak. Saya ke sana sekarang?"
Alvero kembali menyimpan ponselnya setelah panggilan itu berakhir.
"Siapa?" Tanya Regan.
"Papa nyuruh aku ke ruangannya."
"Proposalnya udah selesai?"
"Belum. Tapi tinggal sedikit lagi." Jawab Alvero, ia bangun dari duduknya. Melakukan stretching ringan, karena otot-ototnya terasa kaku.
"Aku lihat ya." Regan langsung duduk tegak.
Alvero diam sebentar, menatap Regan tak yakin. Tapi akhirnya, "boleh. Tapi jangan kamu otak-atik."
Regan bangun dari duduknya, beralih ke kursi kerja Alvero. Sedangkan Alvero sudah keluar dari ruangannya.
Regan membacanya perlahan, matanya mulai melebar. "Gila, pantes aja dia kerja sampi gak mau makan. Isinya sedetail ini!" Gumam Regan penuh rasa bangga.
Tak lama, pesan email masuk dari klient. Regan tak sengaja membukanya, membaca isi pesan yang seolah mendesak Alvero. Dengan rasa kesal, ia mengirim salah satu file proposal dengan nama yang hampir sama.
"Nah, udah aku kirim. Bawel banget." Gerutunya. Sekarang ia duduk bersandar. Kaki di silangkan.
Pintu kembali terbuka, Alvero melangkah masuk.
"Masalah udah aku hendle. Klient itu gak akan mendesakmu lagi, Al." Katanya dengan senyum bangga.
Alvero mengernyit bingung. "Maksudmu?"
Regan menunjuk layar laptop.
Alvero langsung melihatnya, beberapa balasan email dari klient masuk. Isinya seperti marah dan kecewa.
Jantung Alvero berdebar, ia rasa ini ada yang salah. Wajahnya berubah serius. Alvero membuka file yang Regan kirim pada klientnya.
Napas terhenti sebentar, sebelum akhirnya dadanya naik turun pelan. Rahangnya mengeras. Darahnya langsung mendidih ketika ada satu pesan yang berisi makian.
Tatapannya beralih ke Regan, dia masih santai. "Kamu keterlaluan, Regan!"
Sisa senyum di wajah Regan luntur, mendengar suara dingin Alvero. Dan mata yang sudah merah. "Kamu kenapa?" Tanya Regan pelan.
Tangan Alvero mengepal di samping tubuh. Ia menelam ludah keras.
"Aku udah bilang, Regan. Jangan otak-atik, kenapa kamu malah kirim file?"
"Aku..."
"Kamu tahu? File yang kamu kirim barusan... itu file proposal yang gagal. Perhitungan belum jelas, masih mentah."
"Al, apa kita gak bisa minta maaf. Lalu kasih..."
"Gak semua hal bisa kamu anggap sepele." Potong Alvero lagi.
Regan tak lagi bersuara. Ia tahu, nada bicara dan sorot mata Alvero sudah menjelaskan semua kekecewaannya.
"Keluar!" Alvero nunjuk ke pintu.
"Al, aku minta maaf. Aku janji bakal perbaiki kesalahan ini." Regan berdiri dari duduknya.
Alvero tidak menjawab, ia membuka pintu lebar. "Aku bilang keluar Regan. Dan mulai besok..." ucapannya terhenti, kata-katanya seperti nyangkut di tenggorokan. "Jangan ikuti aku lagi. Kamu belajar dengan yang lain. Aku kecewa!"
Sebelum keluar, tatapan mereka saling bertemu, sebelum akhirnya Alvero terkekeh dan buang muka.
Regan melangkah keluar dengan pikiran yang masih mencerna semuanya. Tapi dari cara marah Alvero barusan, Regan sadar. Kesalahannya kali ini tidak sesederhana sebelumnya.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan