Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Gema Kegelapan Dan Dasar Jiwa
Tik... Tik... Tik...
Suara tetesan air dari langit-langit berbatu jatuh menghujam genangan di dasar reruntuhan, memecah keheningan yang menyesakkan.
Rasa sakit yang menghunjam punggungnya membuat pandangan Alice menggelap sejenak. Ia terbatuk, menghirup udara yang terasa berat oleh debu kuno dan aroma amis yang mengendap selama berabad-abad.
"Arthur...? Albertio...?" bisik Alice. Suaranya parau, pecah oleh getaran ketakutan.
Hening. Hanya suara tetesan air yang menjawabnya.
"[Light Orb]"
Alice merapalkan mantra dasar tingkat rendah. Sebuah bola cahaya kecil muncul di ujung tongkatnya, namun anehnya, pendaran itu tidak mampu menembus kegelapan lebih dari dua meter. Kegelapan di sini seolah memiliki jiwa, ia hidup, lapar, dan menelan cahaya sebelum sempat berpendar.
Alice sendirian. Seorang penyihir support level 30 tanpa pelindung, terperangkap di perut reruntuhan yang "bernapas". Saat ia mencoba bangkit, dinding di sekelilingnya mulai berbisik. Suara-suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan merayap langsung ke dalam pusat kesadarannya.
"Kau hanya seorang pengganggu, Alice..."
"Kenapa kau ada di sini? Kau seharusnya mati di dalam tabung Stelion itu..."
Alice membekap telinganya rapat-rapat. "Diam... Pergi, jangan ganggu aku!" Teriakannya bergema, ia terlihat sangat terguncang.
Kegelapan di depannya mulai memadat, membentuk siluet seseorang. Ia melihat dirinya sendiri di dunia nyata, seorang gadis pucat yang kesepian, yang hanya bisa menemukan keberanian di balik dinginnya layar komputer. Bayangan itu menatapnya dengan mata kosong yang menghakimi.
"Di dunia ini, kau tidak punya tombol 'pause', Alice. Jika kau mati, tak kan ada yang mengingatmu. Kau hanya akan menghilang selamanya."
Ini adalah ujian psikologis Reruntuhan Athena. Tempat ini tidak hanya menyerang fisik, tapi menggali lubang di jiwa korbannya.
"Uuuhhh... hentikan... hentikan semua ini!!" gadis itu mengerang kesakitan. Alice merasakan dadanya sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Air mata mulai mengalir, jatuh ke dalam genangan air biru di bawahnya.
Masa lalu yang ia kunci rapat-rapat kini jebol, meluap ke permukaan.
~Alice POV~
Hari itu, aku sedang bermain dengan adik perempuanku yang tiga tahun lebih muda. Kami tertawa ceria di ruang tamu. Tawa yang hangat, tawa yang dulu kupikir akan menetap selamanya.
Tiba-tiba, suara ayah dan ibu mulai menembus dinding kamar. Mereka sedang bertengkar hebat. Suara ayah bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Kau tidak punya hati!" teriak Ayah. "Bisa-bisanya kau meninggalkan aku dan anak-anakmu di sini, sementara kau bersenang-senang dengan laki-laki lain?!"
"Aku bukannya tega, Mas!" balas Ibu dengan nada yang sama-sama bergetar karena tangis. "Aku hanya tidak tahan lagi dengan sikap keras kepalamu itu!"
"Bukannya aku keras ke—" Kalimat ayah terputus.
"Cukup! Aku sudah tidak kuat! Ceraikan aku sekarang!" ucap ibu dengan suara yang berusaha keras menahan isak.
"Bukan begitu maksudku... Dek... dengarkan dulu..." Ayah memohon, namun Ibu sudah berbalik. Ia berjalan menuju kamar, mulai mengemas seluruh hidupnya ke dalam koper.
Cerai? Apa itu?
Pikirku yang saat itu masih berumur delapan tahun. Baru saja aku merasakan kebahagiaan bersama adikku, namun tiba-tiba dunia di sekitarku hancur oleh kata-kata yang tidak kumengerti.
Pandanganku menghitam...
Lalu, adegan berubah. Aku melihat layar laptop dan pena di atas meja kamarku. Tubuhku sudah tumbuh besar. Aku bukan lagi gadis naif yang periang. Aku telah menjadi sosok yang tertutup, membentengi diri dari dunia luar.
Sejak ibu pergi, ayah digerogoti penyakit yang perlahan mencuri jiwanya. Aku bingung, aku hampa. Ibu? Di mana dia? Aku dan adikku hanya bertahan hidup dari tunjangan pemerintah yang tersisa. Setiap detik terasa kosong dan pedih.
Hanya sebuah alat bernama Stelion yang sanggup membuatku merasa benar-benar "hidup". Bermain di dalam dunia virtual membuatku merasa dihargai. Membuatku merasa bahwa aku ada.
Sampai akhirnya aku terbangun di hutan ini. Ini bukan Vlagria yang aku kenal lewat layar. Ini lebih nyata, lebih hidup, dan lebih mematikan. Aku ingat rasa sakit saat seekor serigala beracun menerjangku... rasa sakit yang nyata.
Napas ku sesak, kesadaranku memudar. Aku sadar, jika aku mati di sini, aku akan hilang untuk selamanya. Aku akan lenyap bersama semua kepedihan yang kusimpan sejak kecil.
Aku takut. Aku hanya ingin... pulang.
~End of Alice POV~
Gelap...
Kegelapan itu kini hampir sepenuhnya menyelimuti Alice.
"Maafkan aku, Ayah... Ibu..." ucap Alice dengan bibir gemetar. Matanya kosong, menatap pantulan dirinya yang hancur di atas genangan air.
Tepat saat kegelapan itu hendak menelan kesadarannya, sebuah sensasi hangat muncul dari balik tumpukan puing batu di sudut ruangan. Bisikan-bisikan jahat itu mendadak bungkam, seolah-olah sesuatu yang jauh lebih agung baru saja membisukan mereka.
"Apa... itu?"
Alice mendongak, menyeka air matanya yang tersisa. Di antara celah bebatuan yang runtuh, memancar cahaya hijau yang sangat murni. Itu bukan cahaya sihir biasa. Pendarannya terasa akrab, seolah-olah cahaya itu telah menunggunya selama ribuan tahun.
Dengan sisa tenaga, Alice merangkak mendekat. Ia menyingkirkan puing-puing batu hingga jemarinya menyentuh benda logam yang dingin namun memancarkan kehangatan yang kontradiktif.
Itu adalah sebuah kalung. Sebuah liontin kristal berbentuk bintang yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Alice mencoba menyentuh Kalung itu dengan perlahan.
Pelan...
Sangat pelan...
Saat jemari Alice menggenggam liontin itu, sebuah notifikasi sistem muncul, bukan biru seperti biasanya, melainkan berwarna emas cerah yang membelah kegelapan.
[ ITEM TERDETEKSI ]
Nama: Goddess Pendant (Divine Relic)
Status: Terikat pada Alice (Soul-Bound)
Efek: Membuka akses kekuatan Hidden Class yang hilang...
Alice terpaku. Cahaya dari kalung itu kini menyinari seluruh ruangan, menyingkap kenyataan yang mengerikan di balik keajaiban itu.
Ia tidak sendirian.
Di balik bayang-bayang pilar yang hancur, ribuan mata merah sedang mengawasinya dengan lapar dari kegelapan yang lebih dalam.
cape😅