NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECEMBURUAN SANG IBU.

Setelah perjalanan kurang lebih lima belas menit. Kini Damar tiba di pelataran perusahaan. Setelah memarkir mobilnya, ia segera turun dan bergegas menuju gedung kantor tanpa membuang waktu.

Langkahnya yang terburu-buru membawanya melewati lobi, lalu menyusuri lorong menuju ruangan kepala divisi pemasaran.

Setibanya di depan pintu ruangan, Damar menghentikan langkahnya. Ia merapikan kemejanya sekilas sebelum mengangkat tangan dan mengetuk pintu dengan hati-hati.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk,” sahut seseorang dari dalam.

Damar meraih gagang pintu, menekannya perlahan, lalu mendorongnya hingga terbuka. Ia melangkah masuk dan mendapati Pak Ahmad sedang duduk di kursi kerjanya.

“Duduk,” perintahnya singkat.

Damar mengangguk, lalu menarik kursi di depan meja kerja atasannya.

“Ada apa, Pak?” tanyanya.

Pak Ahmad menyandarkan punggungnya pada kursi, lalu melipat kedua tangan di depan dada.

“Berapa produk kita yang sudah kamu tawarkan?”

Damar sempat terdiam sebelum menjawab, “Baru lima kardus, Pak.”

“Lima kardus?” ulang Pak Ahmad dengan nada tak percaya.

Damar mengangguk pelan. Ia bisa melihat perubahan raut wajah atasannya yang semakin dingin.

“Damar, ini sudah hampir pertengahan bulan. Akhir bulan nanti, kamu harus mencapai target yang sudah ditentukan perusahaan.” Pak Ahmad mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya. “Kalau tidak, jangan harap gaji bulan ini masuk ke kantongmu.”

Damar menelan ludah. “Baik, Pak. Saya mengerti. Saya akan berusaha mengejar targetnya,” jawabnya, berusaha terdengar mantap.

Pak Ahmad mengangguk tipis. “Kalau begitu, kamu boleh pergi.”

Damar segera bangkit dari kursinya. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.”

“Hmm.”

Setelah mendapat jawaban singkat itu, Damar berbalik dan melangkah menuju pintu.

Begitu keluar dari ruangan Pak Ahmad, Damar berhenti tepat di depan pintu. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding, lalu menundukkan kepala sambil mengusap rambutnya dengan kasar.

“Bahaya sekali ibu mertuaku itu. Sampai-sampai membuatku lupa dengan pekerjaanku sendiri,” gumamnya, disusul embusan napas panjang.

Namun, ia teringat kembali pada ibu mertua, lalu terkekeh pelan seorang diri.

“Ah, sial. Gara-gara dia, pikiranku jadi ke mana-mana,” celetuknya sembari menggelengkan kepala.

...****************...

Tak terasa, malam yang di tunggu akhirnya pun tiba.

Di halaman belakang rumah, Nafisa berdiri di dekat meja kecil sambil menyiapkan bumbu barbeque. Sesekali, ia melirik Damar yang sibuk menyiapkan bara api di panggangan.

“Apinya sudah siap, Mas?”

“Sebentar lagi, Naf. Ini tinggal menunggu apinya merata.”

Nafisa mengangguk kecil. Lalu ia mengambil beberapa ikat sayuran yang sudah disiapkan untuk pelengkap.

Nafisa membawa sayuran itu menuju dapur.

Begitu melihat Nafisa berjalan menjauh, Yulia segera mengalihkan perhatiannya kepada Damar. Lalu berjalan mendekat.

Tanpa banyak bicara, Yulia merapatkan tubuhnya ke punggung Damar, lalu melingkarkan kedua tangan di pinggang pria itu dari belakang.

“Damar, kamu sudah beli obatnya?” bisiknya pelan.

“Ada di kantong sayang.”

Yulia mengangguk kecil. Senyum tipis terbit di bibirnya mendengar jawaban itu. Ia sempat mengeratkan pelukannya, menikmati kedekatan singkat tersebut sebelum—

“Bu, seladanya sudah aku cuci.”

Suara Nafisa sontak membuat Yulia tersentak. Ia buru-buru melepaskan pelukannya, lalu berbalik ke arah putrinya.

Nafisa sudah berdiri di dekat meja sambil membawa baskom berisi selada yang baru dicuci. Yulia berusaha bersikap biasa saja, menyembunyikan kegugupannya.

“Oh, iya, Nak. Taruh saja di meja.”

Setelah itu, Yulia mengalihkan pandangannya kepada Damar yang masih berdiri di depan panggangan.

“Dam, apa sudah siap?” tanyanya sekali lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Sebentar lagi, Bu,” sahut Damar.

Yulia mengangguk, kemudian berjalan menuju meja untuk melanjutkan persiapan.

Namun, di sela-sela kesibukannya, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Damar.

. . .

Waktu berlalu tanpa terasa.

Kini di atas meja, berbagai hidangan yang telah dipanggang tersaji rapi. Ada daging panggang, sosis bakar, serta beberapa sayuran yang sudah ditata di atas piring.

Nafisa melirik suaminya yang masih berada di dekat panggangan. Sejak tadi, Damar sibuk memanggang. Melihat itu, ia berinisiatif mengambil beberapa potong daging panggang dan sosis bakar untuk diberikan kepada suaminya.

Baru saja ia hendak melangkah menghampiri suaminya, suara ibunya terdengar dari belakang.

“Mau ke mana, Naf?”

Nafisa menoleh sembari tersenyum. “Mau suapin Mas Damar, Bu. Kasihan, sejak tadi sibuk sama bakarannya.”

Ibunya mengangguk kecil. “Oh, ya sudah. Sana.”

Nafisa kembali melanjutkan langkahnya sambil membawa piring di tangan. Sesampainya di dekat Damar, ia berdiri di samping pria itu, lalu mengangkat garpu yang sudah berisi sepotong sosis bakar.

“Mas, sini aku suapin,” ujarnya lembut.

Namun, bukannya langsung menyambut suapan itu, Damar justru terdiam. Tatapannya lurus mengarah ke suatu tempat di belakang Nafisa.

Kening Nafisa berkerut tipis. Ia mengikuti arah pandang suaminya dan mendapati ibunya sedang berdiri di dekat meja makanan.

Nafisa kembali menatap Damar. “Mas? Ada apa? Kenapa Mas lihatin Ibu?”

Damar seketika mengalihkan pandangannya.

“Enggak, ada apa-apa, Naf. Mas cuma mau cek apa masih ada yang harus dibakar atau enggak.”

Nafisa mengikuti arah pandang suaminya menuju panggangan, kemudian mengangguk pelan.

“Oh, ya sudah, Mas.”

Damar akhirnya membuka mulut, membuat Nafisa segera menyodorkan sosis bakar di garpunya hingga masuk ke mulut sang suami.

“Enak, Mas?” tanyanya sambil memperhatikan Damar mengunyah.

Damar mengangguk singkat. “Enak.”

Yulia yang berdiri di dekat meja makanan dengan napas yang masih memburu. Rasa kesal yang perlahan mengusik hatinya, terlebih ketika melihat putrinya terus memberikan perhatian kepada Damar.

“Lihat saja kamu, Dam.”

Yulia kemudian mengalihkan perhatian pada dua gelas minuman yang telah disiapkannya.

Ia segera memasukkan bubuk pil kuat yang sebelumnya sudah ditumbuk halus ke dalam minuman Damar. Setelah itu, ia melakukan hal serupa pada minuman Nafisa, tetapi dengan pil tidur.

Tangannya bergerak tenang, meski ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap, mengingat perempuan itu adalah anak yang telah ia besarkan selama bertahun-tahun.

Setelah memastikan kedua gelas itu tampak seperti minuman biasa, Yulia mengangkat wajahnya. Pandangannya kembali tertuju kepada Damar dan Nafisa yang masih berada di dekat panggangan.

“Apa sudah selesai?” tanyanya, berusaha terdengar santai.

“Sudah, Bu,” jawab Damar.

Tak lama kemudian, pria itu berjalan menghampirinya sambil membawa sepiring daging panggang. Asap tipis masih mengepul dari permukaannya, menandakan hidangan itu baru saja diangkat dari atas bara api.

“Biar Ibu saja yang taruh,” ujar Yulia sembari mengulurkan tangan.

Damar menyerahkan piring tersebut. Saat jemari mereka bersentuhan, Yulia sengaja mengusap tangan menantunya sekilas.

Tatapannya bertemu dengan mata Damar.

Yulia kemudian berbalik dan meletakkan piring berisi daging panggang di atas meja, berdampingan dengan hidangan lainnya.

“Untuk merayakan kesuksesan putriku, Nafisa, yang kini telah naik jabatan menjadi kepala tim desain!”

Yulia berjalan menghampiri Nafisa, lalu merengkuh tubuh putrinya dalam pelukan hangat.

“Selamat, ya, Nak. Ibu bangga sekali sama kamu,” bisiknya.

Namun, pandangan Yulia justru tertuju kepada Damar yang berdiri di samping Nafisa. Saat tangannya bergerak meraih tangan menantunya secara diam-diam.

Beberapa saat kemudian, Yulia pun segera melepaskan pelukannya.

Ia kembali menatap putrinya dengan senyum manis, lalu berjalan menuju meja untuk mengambil kue yang telah dipesannya sore tadi. Setelah memotong sepotong kecil, ia menyodorkannya kepada Nafisa.

“Ini, makan dulu kuenya.”

“Terima kasih, Bu,” ujar Nafisa sambil menerima suapan tersebut.

Yulia mengusap lembut bahu putrinya. “Semoga ke depannya kamu semakin sukses, ya.”

“Amin.” Nafisa tersenyum, lalu melanjutkan, “Oh, ya, Bu. Sepertinya tiga hari lagi aku sama Mas Damar bakal pindah ke rumah baru.”

Senyum di wajah Yulia seketika tertahan. Ia menurunkan tangannya perlahan, kemudian menatap Nafisa dengan kening berkerut.

“Rumah baru?”

Nafisa mengangguk antusias. “Iya, Bu. Alhamdulillah, tabungan kami sudah cukup untuk membeli rumah sendiri.”

Yulia terdiam sesaat. Tanpa sadar, matanya beralih kepada Damar yang kini berdiri di samping Nafisa. Ia berusaha membaca ekspresi menantunya, tetapi pria itu justru menatap Nafisa dengan raut tidak percaya.

“Naf, kenapa kamu enggak ngomong dulu sama Mas?” tanya Damar.

Nafisa menoleh pada Damar. “Maaf, Mas. Aku memang sengaja enggak bilang karena mau kasih kejutan.”

Damar terlihat mengembuskan napas pelan, lalu bertanya, “Terus, rumahnya sudah kamu beli?”

“Alhamdulillah, sudah, Mas. Aku belinya tunai.”

“Kenapa harus pindah, Naf?” tanya Yulia. “Ibu sendiri di sini.”

Nafisa menatap ke arahnya dengan senyum lembut.

“Kami akan sering-sering berkunjung ke rumah Ibu, kok. Jadi, Ibu enggak perlu merasa sendirian.”

Yulia memaksakan senyum.

“Ya sudah, Nak. Kalau memang itu keputusanmu, Ibu enggak bisa melarang.” Ia melirik hidangan di atas meja, lalu kembali tersenyum. “Sekarang kita lanjut makan, sebelum makanannya keburu dingin. Nanti malah enggak enak.”

“iya, Bu,” jawab Nafisa. “Ayo, Mas. Kita duduk di sana.”

Damar tampak mengangguk.

Mereka akhirnya berbalik dan berjalan pergi.

Yulia masih berdiri menatap punggung Damar yang kini duduk berdua dengan Nafisa.

Ia berusaha memecah keheningan dengan mengambil beberapa potong sosis, sate, dan daging panggang ke piringnya. Meski selera makannya perlahan menghilang.

Saat melihat putrinya sesekali menyodorkan makanan kepada Damar, disertai senyum manis yang seolah menunjukkan betapa bahagianya mereka sebagai pasangan suami istri.

Yulia menggenggam garpunya sedikit lebih erat.

‘Kenapa harus bermesraan di depanku?’

Napasnya mulai memburu. Ia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan kecemburuan yang kian sulit dikendalikan.

Yulia akhirnya meletakkan garpunya. Ia sudah tidak berselera melanjutkan makan, sehingga memilih melakukan aksinya dengan mengambil dua gelas minuman yang telah disiapkannya.

Dengan wajah setenang mungkin, ia menghampiri Nafisa dan Damar. Gelas yang berada di tangan kirinya ia sodorkan kepada putrinya, sedangkan gelas di tangan kanannya ia berikan kepada menantunya.

“Minum dulu,” ucapnya ringan.

Nafisa mendongak, kemudian menerima gelas tersebut. “Terima kasih, Bu.”

Damar juga mengambil gelas yang disodorkan Yulia tanpa banyak bertanya.

Yulia memperhatikan keduanya dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Ia berusaha menjaga ekspresinya.

Setelah memastikan mereka minum air yang dirinya berikan. Yulia berbalik dan kembali menuju tempat duduknya.

Sesekali, ia melirik ke arah Nafisa dan Damar, menunggu reaksi obat itu bekerja.

1
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!