NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

BAB 6: Meja Judi Berdarah

[Sudut Pandang: SURA]

Pagi itu, asrama putri tidak dibangunkan oleh kicauan burung, melainkan oleh isak tangis yang terdengar seperti saluran air tersumbat.

Sura membuka mata, mengerjap menatap langit-langit kamar yang berjamur. Ia menoleh ke ranjang di seberangnya. Lila sedang duduk memeluk lutut, wajahnya sembab, dikelilingi tumpukan tisu bekas.

"Ada apa?" tanya Sura, suaranya serak bangun tidur. "Hamstermu mati?"

Lila menggeleng hebat. "Lebih buruk," sedunya. "Uangku... uang semesterku... habis."

Sura langsung duduk tegak. "Dicopet?"

"Bukan," Lila membuang ingus ke tisu. "Aku... aku diajak senior ke Ruang Merah tadi malam. Katanya di sana ada permainan investasi cepat. Aku ingin menggandakan uangku supaya bisa beli buku baru... tapi..."

"Tapi kau kalah," potong Sura dingin.

Lila mengangguk lemah. "Lima puluh koin emas. Lenyap dalam satu jam. Kalau aku tidak bayar uang semester besok, aku akan dikeluarkan. Ayahku akan membunuhku, Sura!"

Sura memijat pelipisnya. Ruang Merah. Ia pernah mendengar rumor itu. Kasino ilegal yang dijalankan oleh senior tingkat akhir di basemen gudang anggur akademi.

"Siapa bandarnya?" tanya Sura.

"Gareth," jawab Lila. "Senior dari Faksi Iron Wall. Dia bilang aku bisa dapat uangku kembali kalau aku mau... melayaninya semalam."

Rahang Sura mengeras. Ia melompat turun dari kasur, menyambar mantelnya.

"Jangan menangis," perintah Sura sambil mengikat tali sepatu botnya dengan kasar. "Cuci mukamu. Kita akan ambil uangmu kembali."

"Bagaimana caranya? Gareth itu besar sekali! Dia punya pengawal!"

Sura menoleh di ambang pintu, matanya berkilat tajam.

"Kita tidak akan melawannya dengan otot, Lila. Aku punya teman baru yang punya hobi menghancurkan orang sombong."

[Sudut Pandang: KIAN]

Kian sedang menikmati teh Earl Grey di taman kaca pribadinya saat Sura menerobos masuk tanpa mengetuk. Gadis itu terlihat seperti badai kecil yang marah.

"Kita punya misi," kata Sura tanpa basa-basi.

Kian meletakkan cangkir tehnya perlahan. "Selamat pagi juga, Partner. Etiketmu semakin hari semakin mempesona."

"Teman sekamarku ditipu di Ruang Merah oleh Gareth. Lima puluh koin emas. Kita harus mendapatkannya kembali," tuntut Sura.

Kian menghela napas, tampak bosan. "Gareth si 'Tangan Besi'? Dia curang menggunakan kartu yang ditandai. Semua orang tahu itu. Temanmu saja yang bodoh mau bermain dengannya."

"Dia temanku," kata Sura keras. "Dan kemitraan kita tidak ada gunanya kalau aku tidak bisa melindungi orang-orangku."

Kian menatap Sura. Ada api loyalitas di mata gadis itu—sesuatu yang asing bagi Kian. Di dunianya, teman adalah saingan yang belum menyerang. Tapi Sura berbeda. Dia peduli. Itu kelemahan, tapi... bisa juga jadi kekuatan.

"Baiklah," Kian berdiri, merapikan kerah kemejanya. "Tapi kita tidak hanya akan mengambil uang temanmu. Itu terlalu kecil."

Kian berjalan mendekati Sura, senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Gareth menguasai peredaran rokok dan alkohol ilegal di asrama putra lewat kasino itu. Jika kita menjatuhkannya, Golden Key bisa mengambil alih pasarnya."

Sura mendengus. "Selalu soal bisnis ya?"

"Selalu," jawab Kian. "Ini rencananya. Kau bisa main kartu Triad?"

"Aku bisa membuat kartu menghilang, muncul di telinga, atau berubah jadi burung merpati," jawab Sura sarkas.

"Bagus. Karena malam ini, kita akan merampok bank."

[Sudut Pandang: SURA]

Ruang Merah berbau asap cerutu murah dan keputusasaan.

Ruangan itu tersembunyi di balik rak tong anggur tua di basemen. Cahayanya remang-remang. Di tengah ruangan, duduk Gareth—seorang senior bertubuh gempal dengan banyak cincin emas di jarinya. Dia sedang tertawa keras sambil memunguti koin dari mahasiswa tingkat satu yang menangis.

"Siapa lagi?" tantang Gareth. "Siapa lagi yang mau mencoba nasib?"

"Saya," suara Kian terdengar tenang membelah kebisingan.

Semua orang menoleh. Kian Arselio berjalan masuk, diikuti Sura yang berpura-pura menjadi pelayan pribadinya yang membawa kotak cerutu.

Gareth menyeringai. "Tuan Muda Arselio. Kehormatan besar. Tapi di sini kami tidak terima cek bank. Hanya tunai."

Kian duduk di kursi di hadapan Gareth. Dia melempar sebuah kantong kulit berat ke atas meja. BRAK. Bunyi logam mulia beradu.

"Seratus koin emas," kata Kian datar. "Satu putaran. Winner takes all."

Mata Gareth berbinar tamak. Dia menjilat bibirnya. "Anda serius?"

"Sangat. Tapi saya tidak suka memegang kartu. Tangan saya baru saja dimanikur," Kian melambaikan tangan ke arah Sura. "Pelayan saya yang akan bermain untuk saya."

Gareth tertawa meremehkan melihat Sura yang berdiri menunduk dengan tampang polos. "Gadis kecil ini? Baik. Silakan."

Permainan dimulai. Kartu Triad adalah permainan psikologi dan matematika. Tiga kartu dibagikan. Nilai tertinggi menang.

Sura duduk dengan canggung. Dia memegang kartunya dengan gemetar yang dibuat-buat.

Gareth membagikan kartu. Dia tersenyum licik. Sura tahu kenapa. Kartu-kartu Gareth sudah ditandai dengan goresan mikroskopis di bagian belakang. Gareth tahu persis kartu apa yang dipegang Sura.

"Pasang taruhan," kata Gareth.

Permainan berjalan sengit. Sura sengaja kalah di dua putaran awal untuk memancing ego Gareth. Kian di sebelahnya hanya duduk santai, sesekali menyesap anggur, seolah uang seratus koin itu hanyalah uang jajan.

"Putaran terakhir," kata Gareth. Dia merasa di atas angin. Dia baru saja membagikan kartu Raja (nilai tertinggi) untuk dirinya sendiri, dan kartu Prajurit (nilai rendah) untuk Sura. Dia tahu itu dari tanda di belakang kartu.

"Saya naikkan taruhan," tiba-tiba Kian bersuara.

Dia melepas cincin di jari manisnya. Cincin dengan lambang Faksi Golden Key bertahta berlian hitam.

"Cincin ini bernilai lima ratus koin emas. Dan posisi saya di Dewan Siswa," kata Kian.

Ruangan itu hening total. Orang-orang menahan napas.

"Anda gila," desis Gareth. Tapi keserakahan menguasainya. Dia tahu dia memegang kartu Raja. Dia tidak mungkin kalah. "Saya terima. Saya pertaruhkan seluruh kasino ini dan utang semua mahasiswa di dalamnya."

"Sepakat," kata Kian.

"Buka kartu," perintah Gareth sambil membanting kartunya ke meja dengan penuh kemenangan. "RAJA!"

Penonton bersorak kaget. Itu kartu tak terkalahkan.

"Maaf, Tuan Muda," ejek Gareth. "Sepertinya pelayanmu kurang beruntung."

Sura menatap Gareth. Gemetar di tangannya hilang. Wajah polosnya lenyap, digantikan oleh senyum miring yang mengerikan.

"Apakah saya kurang beruntung, Tuan Gareth?" tanya Sura pelan. "Atau Anda yang kurang teliti?"

Sura membalik kartunya.

Di atas meja, bukan kartu Prajurit yang tergeletak.

Melainkan kartu Joker.

Satu-satunya kartu yang bisa mengalahkan Raja.

Mata Gareth melotot sampai hampir keluar. "T-tidak mungkin! Aku membagikan Prajurit padamu! Aku lihad tand—"

Gareth menutup mulutnya. Dia keceplosan.

"Tanda?" potong Kian, suaranya dingin dan tajam. "Tanda apa maksudmu, Gareth?"

Kian mengambil kartu "Raja" milik Gareth dan kartu "Joker" milik Sura. Dia mengusap bagian belakangnya.

"Sura," panggil Kian.

"Ya, Tuan?"

"Jelaskan pada teman-teman kita bagaimana Tuan Gareth yang terhormat ini kehilangan kasinonya."

Sura berdiri. Dia mengangkat lengan bajunya, lalu dengan gerakan secepat kilat, dia mengeluarkan kartu Prajurit asli dari balik mansetnya.

"Saat Tuan Gareth sibuk menatap cincin Tuan Kian," jelas Sura lantang, "Saya menukar kartu di tangan saya dengan kartu yang saya sembunyikan di lengan baju sejak awal."

Kerumunan tersentak.

"Tunggu!" teriak Gareth panik. "Berarti kau curang! Kau menukar kartu!"

"Benar," jawab Kian santai. "Pelayanku curang. Tapi..."

Kian melempar tumpukan dek kartu Gareth ke udara. Kartu-kartu itu berhamburan.

"...Kau juga curang, Gareth. Semua kartumu ditandai. Dalam hukum judi akademi: 'Jika dua penipu bertemu, penipu yang tertangkap duluan yang kalah.'"

Kian menunjuk Gareth yang kini dikelilingi mahasiswa yang marah karena sadar selama ini dicurangi.

"Kau baru saja mengakui kau melihat tandanya, Gareth. Pengakuan adalah bukti."

Gareth mundur ketakutan. "Kian... tolong... kita bisa bicarakan ini..."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," Kian mengambil kembali cincin dan kantong uangnya, lalu menyapu seluruh uang di meja—termasuk surat utang Lila.

"Mulai malam ini, Ruang Merah berada di bawah manajemen baru," bisik Kian pada Gareth yang pucat pasi. "Lari sekarang, sebelum anak-anak yang kau tipu ini mematahkan kakimu."

Gareth tidak perlu disuruh dua kali. Dia lari terbirit-birit keluar pintu, meninggalkan kerajaan kecilnya yang runtuh dalam sekejap.

Sura dan Kian berjalan keluar dari gudang anggur, menghirup udara malam yang segar. Sura memegang surat utang Lila di tangannya.

"Ini," Kian melempar kantong berisi 50 koin emas (uang Lila) ke Sura. "Dan ini bonusmu." Dia melempar 50 koin lagi.

"Kita benar-benar merampoknya," gumam Sura tak percaya. Jantungnya masih berdegup kencang karena adrenalin. "Saat kau melempar cincin itu... aku pikir kau gila. Bagaimana kalau aku gagal menukar kartunya?"

Kian berhenti berjalan. Dia menatap Sura di bawah sinar bulan.

"Aku menghitung kecepatan tanganmu di kelas kemarin, Sura. 0,4 detik. Gareth butuh 0,8 detik untuk berkedip saat melihat berlian. Secara matematis, kau punya waktu dua kali lipat dari yang kau butuhkan."

Sura terdiam. "Kau mempertaruhkan hartamu berdasarkan... matematika?"

"Aku mempertaruhkannya pada bakatmu," koreksi Kian. "Itu investasi. Dan malam ini, investasiku memberikan profit 200%."

Sura meremas surat utang Lila. Dia ingin marah karena dijadikan alat investasi, tapi dia tidak bisa menyangkal rasa bangga yang aneh di dadanya. Kian percaya padanya. Benar-benar percaya.

Sura membakar surat utang itu dengan korek api. Dia melihat kertas itu berubah jadi abu dan terbang terbawa angin.

"Lila bebas," kata Sura lega.

"Dan Golden Key punya markas baru," tambah Kian puas. "Senang berbisnis denganmu, Partner."

Sura menatap Kian. Pria ini berbahaya, manipulatif, dan mungkin sedikit gila.

Tapi malam ini, dia adalah sekutu terbaik yang bisa Sura minta.

"Senang berbisnis denganmu, Bos," balas Sura sambil tersenyum miring.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!