NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Malam Terakhir

"Kalau dunia buru-buru berakhir," kata Hendry malam itu, "gue juga bisa buru-buru mulai membunuh."

Namun dunia tidak langsung runtuh.

Lima hari terakhir justru berjalan terlalu normal.

Jakarta tetap macet. Orang-orang tetap mengeluh soal harga kopi, jalan berlubang, dan notifikasi kerja yang tidak berhenti. Di media sosial, cahaya hijau yang muncul sekilas di langit hanya menjadi bahan lelucon. Ada yang bilang itu efek kamera. Ada yang menyebutnya iklan drone gagal. Ada juga yang membuat video pendek dengan musik lucu.

Tidak ada yang tahu bahwa langit baru saja mengetuk pintu kematian.

Hendry tidak ikut tertawa.

Ia memadatkan semua rencana.

Yanto mendapat pesan terakhir: Besok siang jangan jauh dari Pondok Indah. Kalau saya telepon, datang sendiri. Jangan bawa siapa pun.

Yanto membalas sepuluh menit kemudian.

Baik, Pak. Saya isi bensin penuh.

Jawaban itu cukup.

Om Hartono mengirim dua pesan, satu panggilan, dan satu ancaman halus lewat sekretaris: pertemuan keluarga tidak boleh ditunda. Hendry membalas singkat bahwa semua dokumen akan ia bawa.

Ia tidak berbohong.

Besok, jika masih ada keluarga yang cukup hidup untuk membaca dokumen, mereka boleh membacanya.

Ferry mengirim revisi draft surat kuasa. Kevin mengirim pesan santai: Hen, jangan ngambek lah. Kita semua cuma mau bantu.

Hendry membaca pesan itu di balkon lantai dua sambil menatap jalan cluster yang bersih.

Ia tidak membalas.

Pada hari terakhir sebelum kiamat, matahari tenggelam dengan warna oranye yang terlalu indah.

Hendry berdiri di ruang kerja. Di depannya, peta besar Cluster Pondok Indah terbentang penuh tanda merah. Di sebelah peta, laptop menampilkan daftar akhir. Ia membacanya bukan karena lupa, tetapi karena manusia yang akan masuk perang tidak boleh percaya pada ingatan saja.

Beras: 80.000 ton.

Daging sapi: 5000 ton.

Daging ayam: 3000 ton.

Seafood: 2000 ton.

Minyak goreng, garam, gula, bumbu, susu, kopi, teh, Indomie: aman.

Genset diesel: 20 unit.

Bahan bakar: puluhan ribu liter.

Obat, disinfektan, perban, antibiotik, alat jahit luka: aman.

Parang, golok, pisau, kapak, linggis, crossbow, busur, rompi, helm, goggles, boots: aman.

Pistol: 3.

Senapan berburu: 2.

Peluru: 200.

Ruang Dimensi Level 2: stabil.

Semua siap.

Hendry menutup laptop dan memejamkan mata.

Kesadarannya masuk ke ruang gelap itu.

Di sana, gunung beras berdiri tanpa suara. Daging beku tidak mencair. Kotak obat tersusun rapi. Peti senjata diam di sisi lain, seperti menunggu tangan yang tepat. Tidak ada bau. Tidak ada waktu. Tidak ada kerusakan.

Di tengah kegelapan itu, titik cahaya dari beberapa hari lalu masih berdenyut pelan.

Tidak tumbuh lagi.

Tidak menghilang.

Seperti mata kecil yang ikut menunggu.

Hendry membuka mata.

Untuk pertama kalinya sejak kembali, rasa dingin menjalar dari tulang belakangnya.

Bukan takut mati.

Ia sudah pernah mati.

Yang ia takutkan adalah terlambat.

Di kehidupan sebelumnya, ada orang yang seharusnya bisa ia selamatkan jika ia tahu lebih cepat. Ada wajah-wajah yang hanya sempat ia lihat sekali sebelum berubah menjadi mayat atau zombie. Ada orang baik yang mati karena percaya pada pemimpin salah. Ada orang jahat yang hidup terlalu lama karena semua orang ragu menarik pisau.

Kali ini, ia punya makanan, senjata, peta, dan waktu.

Tapi waktu selalu menipu.

Hendry mengambil buku catatan hitam dari laci dan membuka halaman baru.

Hari Pertama.

Ia menulis dengan pena hitam.

1. Tunggu pukul 3 sore. Jangan keluar sebelum gelombang awal selesai.

2. Ambil parang, pistol, rompi, goggles.

3. Bersihkan halaman villa dan jalur gerbang belakang.

4. Pergi ke rumah Kevin.

5. Bunuh Kevin Wijaya.

6. Bunuh Ferry Lim.

7. Ambil Kristal pertama dari zombie sekitar.

8. Jika Yanto masih hidup dan bisa dihubungi, gunakan untuk pergerakan logistik.

9. Jangan menyelamatkan orang yang akan mengkhianati.

Pena berhenti di atas angka sepuluh.

Hendry menatap kertas itu lama.

Lalu ia menulis:

10. Jangan terlambat lagi.

Kalimat itu lebih berat daripada semua stok di Ruang Dimensi.

Malam semakin turun.

Dari balkon, Jakarta terlihat seperti kota yang tidak pernah belajar takut. Lampu rumah menyala hangat. Mobil lewat pelan di jalan cluster. Dari kejauhan terdengar suara motor, klakson kecil, tawa anak-anak dari rumah tetangga, dan musik televisi yang samar.

Besok setelah pukul tiga sore, sebagian besar lampu itu akan padam.

Sebagian suara itu akan berubah menjadi jeritan.

Sebagian orang yang tertawa malam ini akan menggigit orang yang mereka cintai.

Hendry menyandarkan tangan di pagar balkon.

Di kehidupan lama, ia pernah berdoa agar semua ini hanya mimpi buruk.

Sekarang, ia tidak berdoa agar kiamat batal.

Kiamat pasti datang.

Yang bisa ia ubah hanyalah siapa yang siap ketika pintu neraka terbuka.

Ia kembali sebentar ke ruang kerja dan mengambil foto keluarga dari meja. Ayah dan ibunya tersenyum di balik kaca tipis, masih hidup dalam satu potongan waktu yang tidak bisa disentuh Om Hartono, Kevin, atau Akta Notaris palsu mana pun. Di kehidupan sebelumnya, Hendry menghabiskan terlalu banyak hari membayangkan bagaimana cara membuktikan kejahatan itu lewat laporan polisi, saksi, dan dokumen.

Besok, hukum lama akan mati bersama jaringan listrik.

Hendry tidak merasa bersalah karena tidak lagi mengejar ruang sidang.

Untuk orang seperti Kevin dan Ferry, hari pertama kiamat adalah pengadilan yang lebih jujur.

"Gue nggak akan biarin siapa pun mati lagi karena gue terlalu lambat," katanya pelan.

Angin malam membawa suaranya pergi.

Tidak ada yang menjawab.

Ia sendirian.

Rahasia reborn tidak bisa dibagi. Ruang Dimensi tidak bisa dijelaskan. Peta masa depan di kepalanya terlalu gila untuk dipercaya orang normal. Bahkan jika ia berteriak di jalan bahwa besok dunia berakhir, orang-orang hanya akan merekamnya dan tertawa.

Maka ia memilih diam.

Diam, menunggu.

Diam, mengasah pisau.

Diam, sampai dunia sendiri membuktikan bahwa ia benar.

Lewat tengah malam, Hendry tidur selama dua jam. Bukan tidur nyenyak, hanya memaksa tubuh beristirahat. Pukul 04.30, ia bangun tanpa alarm.

Ia mandi air dingin, mengganti pakaian dengan kaus hitam, celana lapangan, sepatu boots, dan jaket tebal. Rompi anti-tikam ia letakkan di kursi, belum dipakai. Parang, pistol, dan goggles sudah terkunci dalam posisi tercepat di Ruang Dimensi.

Pukul 04.59, ponselnya tiba-tiba berkedip.

Sinyal hilang.

Muncul lagi.

Hilang.

Muncul.

Layar laptop di meja ikut berkedip satu kali. Lampu kamar meredup sesaat, lalu kembali normal.

Hendry berdiri.

Di luar jendela, jauh di atas garis gedung Jakarta, sebuah pita hijau sangat tipis muncul di langit subuh.

Lebih pucat daripada cahaya lima hari lalu.

Lebih panjang.

Lebih sunyi.

Ia tahu tanda itu.

Di kehidupan sebelumnya, setelah sinyal pertama kacau seperti ini, dunia hanya punya beberapa jam tersisa.

Hendry menarik napas dalam.

Ruang Dimensi terbuka di telapak kanannya. Parang muncul, bilahnya dingin dan bersih.

Di layar ponsel, tanggal sudah berganti.

Hari kiamat.

Hendry menatap langit hijau yang perlahan menghilang.

"Mulai."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!