Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Nggak usah banyak omong, Dion. Temani saya cuci darah sekarang. Kebetulan saya lagi di Rumah Sakit," titah Radit dengan wajah datar.
"Anda lagi di Rumah Sakit? Lagi ngapain Anda di Rumah Sakit, Pak Bos?" tanya Dion dengan terkejut.
"Kamu gak denger saya ngomong apa? Jangan banyak nanya, jangan banyak omong, dateng ke Rumah Sakit sekarang juga!" ucapan terakhir Radit sebelum pria itu menutup sambungan telepon.
Raditya terdiam sejenak, tatapan matanya nampak kosong memandang keluar jendela seolah tengah menikmati pemandangan yang tersaji di luar sana, di mana hamparan area parkir dengan kendaraan beroda empat berjejer rapi terlihat dari lantai dua di mana ia berada. Kembali mengingat penderitaan yang dialami oleh Aqilla dan kedua anak-anaknya, apa ia tega mengambil kedua ginjal wanita itu yang pastinya akan meninggalkan luka yang mendalam di hati Kaila dan Keano?
Mengambil hidup seorang ibu sama saja dengan merampas kebahagiaan anak-anaknya, merebut dan menghancurkan dunia mereka. Mulai diliputi keraguan dan dihinggapi perasaan aneh, Radit seketika menoleh dan memandang pintu ruang VVIP yang tertutup rapat, membayangkan ekspresi wajah dua anak kecil yang sedang merasakan getir akibat perpisahan orang tuanya.
"Ya Tuhan, tegakah saya mengambil nyawa seorang Ibu dari anak-anak yang sedang membutuhkannya? Tapi, saya juga ingin hidup, Tuhan," gumam Radit, dadanya seketika terasa sesak, pelipis wajahnya pun mulai berkeringat.
Bagi penderita gagal ginjal kronis stadium akhir, memang begitu menyiksa apabila terlambat melakukan cuci darah rutin. Terlambat cuci darah pada pasien gagal ginjal dapat menyebabkan penumpukan racun dan cairan dalam tubuh, yang mengakibatkan gejala seperti sesak napas, pembengkakan, penurunan kesadaran, kejang, dan bahkan kematian. Komplikasi serius lainnya termasuk kerusakan organ lain dan potensi kegagalan fungsi ginjal secara permanen. Beruntung, ia sedang berada di Rumah Sakit tempat di mana ia biasa melakukan cuci darah, dirinya bahkan memiliki Dokter pribadi di sana yang senantiasa menangani penyakitnya.
"Maafin saya, Aqilla. Saya benar-benar minta maaf, saya janji akan menjaga anak-anak kamu dan mengangkat mereka menjadi anak-anak angkat saya," gumamnya lagi, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan tempat itu dengan tubuh gemetar, menahan berbagai rasa yang sulit diungkapkan.
***
Keesokan harinya tepatnya pukul 07.00 WIB, Aqilla yang tengah meringkuk di atas sofa di dalam kamar rawat inap, seketika mengedipkan pelupuk matanya pelan dan beraturan, merentangkan kedua tangan lebar-lebar sebelum akhirnya membuka kedua mata secara perlahan. Wanita itu pun bangkit lalu duduk tegak, menatap wajah Kaila yang tengah tertidur di sofa yang berbeda dengannya lalu mengalihkan pandangan mata kepada Keano yang masih tertidur di ranjangnya.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya, menyisir dinding Rumah Sakit, mencari jam dinding yang tertempel di sana. "Pak Radit ke mana? Ko dia gak balik lagi ke sini?" gumamnya lagi, perlahan bangkit lalu melangkah menuju ranjang sang putra.
Pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar, seorang laki-laki dengan jas tanpa dasi dan rambut di sisir rapi, melangkah memasuki kamar dengan membawa beberapa buah kantong belanjaan. Aqilla mengerutkan kening, memandang wajah pria asing itu dengan perasaan bingung.
"Maaf, Anda siapa, ya?" tanyanya seketika takut.
Pria itu tersenyum ringan, melangkah menuju sofa lalu meletakan apa yang ia bawa di atas meja, kemudian berjalan menghampiri Aqilla.
"Perkenalkan, saya Dion asisten pribadi Pak Radit," ucap pria tersebut seraya mengulurkan telapak tangan.
Aqilla menerima uluran tangan Dion dengan ragu-ragu dan senyum paksa. "A-aku Aqilla. Eu ... apa Pak Radit baik-baik aja? Ko dia gak balik lagi ke sini?"
"Kemarin beliau habis cuci darah, makannya tak balik lagi ke sini," jawab Dion seraya melepaskan jabatan tangannya. "Beliau mengutus saya untuk memeriksa keadaan Anda dan anak-anak. Saya sudah bawakan sarapan pagi dan camilan untuk Mbak Aqilla sama anak-anak. O iya--"
Dion menahan ucapannya, merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih amplop tebal berwarna coklat dari dalam sana, kemudian menyerahkannya kepada Aqilla. "Ini ada titipan dari Pak Bos buat Anda. Kata beliau, gunakan uang ini untuk membeli kebutuhan selama kalian di sini. Beliau butuh banyak istirahat, mungkin tak akan mengunjungi Anda di sini."
Aqilla terdiam sejenak, menatap amplop tebal yang sudah dapat ia tebak apa isi di dalamnya. Ia memang sedang membutuhkan uang dan tidak memiliki uang satu rupiah pun. Meskipun begitu, ia merasa ragu untuk menerima pemberian Radit dan merasa sudah terlalu banyak menyusahkan pria itu.
"Kenapa Anda diem saja, Mbak Aqilla? Ambil uang ini, saya tau Anda sedang sangat membutuhkan uang," pinta Dion dengan senyum kecil.
Aqilla akhirnya menerima apa yang diberikan oleh pria itu dengan sangat ragu-ragu, menatap amplop tersebut kemudian mengintip isi di dalamnya, seketika dibuat terkejut, matanya membulat seraya menutup mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan.
"Astaga, uangnya banyak sekali, Pak Dion," ucapnya, lalu kembali menatap wajah Dion. "Eu ... maaf, aku gak pernah megang uang sebanyak ini."
"Nggak apa-apa, Mbak Aqilla. Saya hanya memberikan apa yang diamanatkan oleh Pak Bos. Hanya sepuluh juta, uang segitu tak ada apa-apa bagi Pak Bos," jawab Dion dengan senyum kecil.
"Tapi, Pak, aku--"
"Nikmatilah hidup Anda selagi bisa, Mbak. Saya sudah mendengar semuanya dari Pak Bos. Sebelumnya, saya mau berterima kasih karena Anda sudah bersedia mendonorkan ginjal Anda untuk beliau," ucap Dion, tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebagai ucapan terima kasih, lalu kembali berdiri tegak. "Selama ini, beliau sudah sangat menderita, melawan penyakit mematikan, tapi semangat hidupnya tidak pernah padam. Kehadiran Anda memberi harapan untuk beliau, Mbak Aqilla. Kata Dokter, hidup Pak Bos tidak kurang dari tiga bulan lagi."
Aqilla bergeming, tubuhnya seketika gemetar, menoleh dan memandang wajah kedua putra-putrinya secara bergantian. "Ya Tuhan, aku sampai lupa kalau aku ada perjanjian sama Pak Radit. Walau bagaimanapun, aku gak boleh mengingkari janjiku, setelah menyelesaikan balas dendam, aku akan mendonorkan ginjalku sama beliau. Toh, aku tak akan mati hanya karena hidup dengan satu ginjal," batin Aqilla, seraya memejamkan kedua mata.
Bersambung ....