Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Mengerti
Rendra meminum kopinya yang tinggal seteguk. Bersamaan dengan itu, ia mematikan laptop Ayana. Pekerjaannya baru saja selesai. Ia melihat jam dinding sudah pukul hampir setengah satu malam. Saat memulai mengobrol dengan Ayana tadi baru jam sembilan malam, dan sekarang sudah larut sekali. Rendra menaikkan kedua tangannya ke atas dan menegakkan punggungnya. Bunyi gemeretak di punggungnya menandakan bahwa ia lumayan lama duduk di sofa itu berkonsentrasi di depan laptop.
Ayana sudah kembali dari dua setengah jam yang lalu menuju kamar mereka. Kali ini, mereka sudah mulai dapat berkomunikasi. Bisa dibilang, komunikasi pertama yang mereka bangun adalah komunikasi dari hati ke hati. Mereka nampak tak sadar, jika ternyata mereka bisa saling mengerti dan tidak saling men-jugde.
Rendra tadi teringat ia bercerita tentang mantan istrinya pada Ayana. Seumur perceraiannya, ia sangat jarang sekali bercerita pada orang baru tentang apa yang sudah menimpanya. Apalagi itu sebuah aib yang menimpa dirinya. Karena ia pernah telah salah memilih istri. Tapi, ia bisa dengan mudahnya bercerita pada Ayana. Entah apa yang membuatnya gampang sekali untuk melontarkan kata. Karena mungkin Ayana adalah pendengar yang baik.
Rendra tiba-tiba teringat juga kisah Ayana saat bercerita tadi. Entah kenapa terlintas di otaknya bahwa ia juga merasakan kejengkelan pada mantan suami Ayana tersebut. Hanya dengan memikirkannya saja, Rendra merasa tidak terima Ayana diperlakukan seperti itu. Rendra melihat bantal dan selimut yang masih terlipat rapi di ujung sofa, yang tadi dibawakan Ayana. Rendra memperhatikannya dan ia nampak berpikir. Rendra melihat pintu kamar Ayana yang terbuka.
Ia kemudian mengambil bantal dan selimut itu, lalu ia berdiri dan membawanya. Rendra masuk ke dalam kamar Ayana amat perlahan, takut jika Ayana terbangun. Ia melihat Ayana berselimut setengah badan sejenak, lalu dengan sangat pelan ia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di samping Ayana. Dengan sangat hati-hati, ia tidur di samping Ayana dengan membelakangi punggung Ayana. Mereka tidur saling bersingkuran. Ia tidak akan melakukan apa-apa pada Ayana. Ia hanya ingin tidur di samping Ayana. Karena ia merasa, hati Ayana kesepian saat ini. Seolah menemani Ayana, semoga Ayana tidak terkejut jika saat bangun ia mendapati Rendra tidur di sampingnya.
...****************...
Ayana sengaja tidak menutup pintu kamarnya malam ini. Dari tadipun, ia juga tahu jika Rendra masih terjaga di depan laptopnya. Padahal, ia sudah berbaring di tempat tidurnya sekitar dua setengah jam yang lalu ketika selesai berbicara dengan Rendra. Namun, dari tadi ia tidak dapat tertidur walaupun sudah memejamkan matanya.
Ia ingin menulis sesuatu tentang beberapa imajinasi di otaknya melalui ponselnya, tapi rasanya ia tetap tak bisa mengeluarkan dalam bentuk tulisan. Kemudian terpikir lagi olehnya saat ia bercerita pada Rendra tadi. Ia mengingatnya dan merasa malu, kenapa dirinya bisa sejujur itu pada Rendra. Padahal, selama ini banyak sekali teman-teman yang bertanya padanya alasan ia bercerai, namun Ayana tetap bercerita ala kadarnya.
"Mungkin bukan jodoh." Kalimat seperti itulah yang sering diungkapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya memusingkan itu. Tapi kali ini, ia amat jujur pada Rendra, sampai-sampai ia menunjukkan bekas luka yang dibuat mantan suaminya itu.
Ayana dapat merasakan perbedaannya. Ketika dengan temannya, ia merasa mereka hanya sekedar ingin tahu dan selalu menghakimi sendiri. Juga terus berpendapat bahwa perceraian itu adalah sebuah kegagalan. Perceraian tidak baik untuk anak. Perceraian bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Ya. Memang benar. Di dunia ini, siapa yang menginginkan sebuah perceraian? Tentu Ayana juga paham, perceraian mungkin akan berdampak buruk pada anak. Tapi, jika kondisinya seperti yang ia alami dengan mantan suaminya terus menerus, akan tetap tidak baik pada anak pula. Ayana juga sadar, anaknya Aila, tidak harus menanggung kesalahan darinya dulu dengan salah memilih pasangan. Maka dari itu, ia mengorbankan dirinya menikahi Rendra dengan alasan agar Aila tetap memiliki sosok orang tua laki-laki. Dan ia rasa, Rendra memang orang yang sangat cocok sebagai Orang tua laki-laki untuk Aila. Ia juga harus menunjukkan bahwa ia bisa menjadi sosok ibu yang baik untuk putri Rendra pula. Berbeda dengan Rendra yang pernah sama-sama mengalami sebuah kegagalan dalam pernikahan. Rendra lebih bisa mengerti. Selama Ayana bercerita, ia hanya diam mendengarkan, tanpa menasihati apapun. Ayana hanya merasa nyaman saat jujur pada Rendra.
Ia juga mengingat kembali cerita Rendra bercerai dengan mantan istrinya. Ayana dapat menilai, Rendra adalah orang yang baik dapat memaafkan perilaku istrinya dulu. Malam itu, otak Ayana terus saja berpikir tentang suaminya.
Tiba-tiba Ayana mendengar suara langkah kaki mendekat dan memasuki kamarnya. Dengan segera, Ayana menutup matanya dan berpura-pura sedang tidur. Ia tahu, Rendra masuk kamar. Jantung Ayana berdegup lebih kencang dan tidak terkontrol. Ayana merasakan dan dapat menduga pergerakan Rendra menaiki ranjang mereka dengan pelan. Jantung Ayana semakin kencang, ia mencengkeram selimut dengan tangannya karena merasa takut.
Namun, setelah berpuluh-puluh detik berjalan, Rendra bahkan tidak mengenai seujung rambutnya sekalipun. Beberapa menit kemudian, Rendra sudah tidak bergerak. Ia hanya tidur di samping Ayana. Mengetahuinya, degup jantung Ayana kembali normal. Ketenangan-lah yang ia dapatkan. Lama-lama matanya terasa berat, dan ia merasakan kantuk. Ia tak menyangka, saat Rendra tidur di sampingnya justru dapat memberi kenyamanan baginya. Dalam hitungan detik, Ayana sudah terlelap di bawah alam sadarnya.
...****************...
Alarm di setiap pagi Ayana selalu setia untuk berbunyi. Ayana meraba meja di samping ranjangnya dan mengambil ponselnya untuk mematikan alarm tersebut. Ia melihat jam yang tertera disana. Sama seperti biasanya.
Ayana menggosok-gosok matanya, mengumpulkan seluruh kesadarannya. Ia mengembalikan ponselnya di meja, lalu berputar sedikit ke arah berlawanan dari tidurnya. Ia melihat di samping ranjangnya, Rendra masih tidur dengan membelakanginya. Ayana duduk pelan. Ia masih memandangi punggung Rendra, perasaannya menjadi hangat tiba-tiba. Ia melihat selimut Rendra yang tersingkap. Ayana menutupi badan Rendra dengan membenarkan selimutnya dengan sangat hati-hati, menjaga agar Rendra tidak terbangun. Ia lalu turun dari ranjangnya pelan, dan berjalan keluar kamar.
Sedangkan...
Rendra membuka matanya, saat mengetahui Ayana sudah berada di luar kamar. Ayana nampak tidak terkejut mendapatinya tidur di samping Ayana. Selain itu, Ayana bersikap perhatian dengan membenarkan selimutnya. Rendra merasa, dirinya mulai kembali diperhatikan lagi setelah tiga tahun menduda. Itu benar-benar berarti untuknya. Ia dapat tersenyum tenang dan kembali menutup matanya, melanjutkan tidurnya yang amat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ia benar-benar merasa sangat nyenyak tidur tadi malam.
...****************...
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.