NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Suami dan Anakku Memohon Aku Kembali

Setelah Cerai, Suami dan Anakku Memohon Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Anak Yang Berpenyakit / Penyesalan Keluarga
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Nadia Prameswari, ibu tunggal driver ojek, terpaksa menikah lagi dengan mantan suaminya Rafi Santoso demi biaya transplantasi sumsum tulang putrinya Aira yang menderita leukemia. Kembali ke rumah keluarga Santoso, ia harus menghadapi Selin yang menggantikan posisinya, dan anak laki-lakinya Raka yang sudah membencinya. Rafi yang dingin terus menghinanya, tapi Nadia hanya punya satu tujuan: menyelamatkan nyawa Aira dengan cara apa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Dua Belas Aturan

Nadia baru selesai mandi ketika pintu kamar diketuk.

Bukan ketukan Rafi. Rafi tidak pernah mengetuk seperti meminta izin. Jika ingin masuk, ia masuk. Jika ingin bicara, ia memanggil dari luar seperti memberi perintah.

Ketukan ini lebih hati-hati.

"Bu Nadia?"

Nadia membuka pintu.

Di luar berdiri Dimas, asisten pribadi Rafi. Pria itu memakai kemeja rapi, wajahnya sopan dengan jarak yang terukur. Di tangannya ada map cokelat.

"Maaf mengganggu. Pak Rafi meminta saya menyerahkan ini."

Nadia menerima map itu.

"Apa?"

Dimas tampak sedikit tidak nyaman. "Beberapa hal yang perlu Ibu pahami setelah kembali ke rumah."

Nadia menatap map itu.

Beberapa hal.

Ia sudah bisa menebak.

"Pak Rafi juga bilang, beliau berharap Ibu bisa menjaga suasana rumah tetap tenang. Terutama karena ada Raka dan... Mbak Selin."

Dimas berhenti sejenak sebelum menyebut nama Selin.

Mungkin ia sendiri tahu kalimat itu aneh.

Nadia mengangguk. "Terima kasih."

Dimas menatapnya sebentar, seolah menunggu ledakan. Tidak ada.

Ia akhirnya menunduk. "Kalau begitu saya permisi."

Nadia menutup pintu.

Kamar tamu itu masih lembap karena AC lama. Di sudut, pakaian Aira yang ia bawa dari kontrakan sudah ia lipat rapi. Boneka kelinci duduk di atas bantal. Nadia duduk di tepi kasur, membuka map.

Di halaman pertama tertulis:

Kesepakatan Privasi dan Tata Tertib Rumah Tangga.

Nadia membaca judul itu dua kali.

Rumah tangga.

Lucu sekali.

Ia membalik halaman.

Ada dua belas poin.

Pertama, Nadia tidak boleh menghubungi Rafi di luar urusan mendesak terkait rumah atau anak.

Kedua, Nadia wajib menjaga nama baik keluarga Santoso di ruang publik dan media sosial.

Ketiga, Nadia tidak boleh mengganggu pekerjaan Rafi, termasuk komunikasi profesional antara Rafi dan Selin Maharani.

Keempat, Nadia tidak boleh menunjukkan sikap tidak pantas kepada Selin di hadapan keluarga, staf, atau rekan bisnis.

Kelima, Nadia harus membantu urusan Raka sesuai jadwal yang ditentukan rumah.

Keenam, Nadia tidak boleh membawa Aira ke ruang keluarga tanpa persetujuan, sampai kondisi medis anak itu dinyatakan aman.

Nadia berhenti membaca.

Anak itu.

Bahkan di dokumen rumah tangga, Aira tidak disebut sebagai putri Rafi.

Ia melanjutkan.

Poin ketujuh sampai kedua belas tidak jauh berbeda. Tentang jam keluar rumah, penggunaan mobil, pengeluaran dengan kartu tambahan, ruang pribadi Rafi, dan larangan membuat keributan.

Di halaman terakhir ada kolom tanda tangan.

Nama Rafi sudah tercetak.

Nama Nadia juga.

Kosong.

Nadia menatap kertas itu lama.

Dulu, ia mungkin akan merobeknya.

Dulu, ia akan turun ke ruang kerja Rafi, melempar map itu ke meja, bertanya apakah ia istri atau tahanan. Dulu ia akan menangis karena merasa dihina.

Sekarang ia mengambil pulpen dari tas.

Ia menandatangani.

Satu goresan.

Cepat.

Tanpa gemetar.

Setelah itu ia membuka buku catatan kecil dari ranselnya. Sampulnya sudah usang, pinggirnya mengelupas. Di halaman pertama ada tulisan tangan Aira yang belum rapi: Mama.

Nadia membuka halaman kosong.

Ia menulis tanggal.

Deposit rumah sakit: dibayar Rafi.

Obat demam: 38.000.

Ojek ke rumah sakit: 27.000.

Sisa uang tunai: 612.000.

Catatan: harus cari biaya transplantasi. Jangan percaya semua janji.

Pulpen berhenti sebentar.

Nadia menatap kalimat terakhir.

Jangan percaya semua janji.

Ia menutup buku itu tepat ketika ponselnya berbunyi.

Dokter Damar.

"Bu Nadia, Aira baru bangun. Dia menanyakan Ibu."

"Saya berangkat sekarang."

"Ada satu hal lagi. Besok pagi sebaiknya Pak Rafi ikut konsultasi. Saya perlu menjelaskan langsung tentang pemeriksaan Raka."

Nadia menutup mata sejenak. "Saya akan sampaikan."

Ia turun ke lantai bawah dengan map di tangan. Rafi ada di ruang makan, sedang minum kopi sambil membaca tablet. Raka duduk di dekatnya, bermain game dengan suara keras. Tidak ada Selin.

Nadia meletakkan map di meja.

"Sudah kutandatangani."

Rafi mengangkat mata.

Ia tampak benar-benar terkejut.

"Kamu baca?"

"Ya."

"Dan kamu setuju?"

"Aku perlu ke rumah sakit. Dokter Damar minta kamu datang besok pagi untuk konsultasi pemeriksaan Raka."

Rafi menatap map itu, lalu menatap Nadia.

"Kamu tidak keberatan dengan isinya?"

"Kamu membuat aturan karena ingin aku patuh. Aku patuh."

Seharusnya itu membuat Rafi puas.

Tapi wajahnya justru menggelap.

"Jangan bicara seperti itu."

"Seperti apa?"

"Seolah aku memaksamu."

Nadia diam beberapa detik.

Raka memencet layar, lalu bersorak karena menang dalam game. Suaranya memenuhi ruang makan.

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi maksudmu begitu."

"Kalau kamu bisa membaca maksudku, kenapa masih butuh dua belas aturan?"

Rafi meletakkan tablet.

"Nadia."

Nada itu peringatan.

Nadia mengambil tas dari kursi. "Aku ke rumah sakit."

Raka tiba-tiba mendongak. "Aku lapar."

Nadia berhenti.

Raka menatapnya tanpa rasa bersalah. "Bikinin mie."

Rafi berkata, "Minta Bi Sari."

"Aku mau dia yang bikin. Papa bilang dia mama aku, kan? Mama harus masak."

Nadia melihat Raka.

Anak itu tersenyum menantang.

Ia tahu.

Entah dari mana, anak sekecil itu sudah belajar bahwa meminta bukan selalu tentang kebutuhan. Kadang tentang membuat orang lain merasa rendah.

"Aku harus ke rumah sakit," kata Nadia.

Raka langsung membanting ponselnya ke meja. "Selalu Aira! Selalu anak itu!"

"Raka," Rafi menegur.

Tapi teguran itu ringan.

Raka menunjuk Nadia. "Dia nggak peduli sama aku! Dia cuma peduli sama anak sakit itu!"

Nadia merasakan nama Aira tersangkut di tenggorokannya.

"Aira adikmu."

"Bukan!"

"Dia sedang sakit."

"Biarin!"

Kata itu jatuh cepat.

Rafi akhirnya mengangkat suara. "Raka, cukup."

Raka cemberut, tapi tidak meminta maaf. Ia turun dari kursi, berlari ke arah sofa, lalu menendang bantal sampai jatuh.

Nadia menunggu Rafi mengatakan sesuatu.

Tidak ada.

Rafi hanya memijat pelipis.

"Kamu lihat? Anak itu merasa ditinggalkan."

Nadia menatapnya. "Anak itu merasa semua orang boleh menuruti kemarahannya."

"Dia lima tahun."

"Aira tiga tahun."

"Jangan bandingkan mereka."

"Aku tidak membandingkan. Aku hanya mengingatkan bahwa dua-duanya anakmu."

Rafi terdiam.

Ponsel Nadia berbunyi lagi. Pesan dari dokter.

[Aira muntah lagi. Ibu sudah jalan?]

Nadia tidak menunggu jawaban Rafi. Ia berbalik.

"Besok pagi jam sembilan. Tolong datang."

"Aku ada meeting."

Nadia berhenti di pintu ruang makan.

"Kalau meeting-mu lebih penting dari nyawa Aira, kirim saja surat kuasa untuk pemeriksaan Raka."

Rafi berdiri. "Kamu mulai mengancam?"

Nadia menoleh.

"Tidak. Aku mulai kehabisan waktu."

Ia pergi.

Di mobil ojek online yang membawanya ke rumah sakit, Nadia membuka kembali foto dokumen aturan yang sempat ia potret.

Dua belas aturan.

Semuanya ditulis untuk membuatnya diam.

Tidak ada satu pun yang menulis bahwa Aira harus diselamatkan.

Nadia menutup layar.

Hujan belum turun, tapi langit sudah gelap.

Ia memeluk tasnya erat-erat, seolah di dalamnya ada seluruh sisa hidupnya.

Mungkin memang begitu.

Di dalam tas itu ada buku catatan, dokumen rumah sakit, dan harapan kecil yang belum boleh mati.

Di lampu merah, Nadia membuka galeri ponsel. Foto Aira muncul paling atas. Anak itu tersenyum dengan dua jari membentuk tanda damai, pipinya lebih berisi dari sekarang. Foto itu diambil sebelum kemoterapi membuat rambutnya rontok sedikit demi sedikit.

Nadia memperbesar wajah putrinya.

"Tunggu Mama, ya," bisiknya.

Pengemudi ojek tidak mendengar. Jalanan terlalu bising.

Tapi Nadia merasa harus mengatakannya. Kalau tidak, ia takut dirinya lupa bahwa ia masih punya alasan untuk terus berjalan.

Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju ruang rawat. Aira sedang duduk bersandar, memegang gelas plastik berisi air.

"Mama lama."

Nadia melepas masker dan tersenyum. "Macet."

"Mama habis nangis?"

"Tidak."

Aira menyipitkan mata, kecil tapi curiga. "Mama bohongnya makin jelek."

Nadia tertawa pelan. Suara itu tipis, tapi nyata.

Untuk beberapa detik, dua belas aturan Rafi terasa jauh.

Yang dekat hanya tangan kecil Aira yang meraih tangannya.

Dan tangan itu masih hangat.

Selama masih hangat, Nadia belum boleh kalah.

Belum hari ini.

Besok pun, kalau bisa, jangan dulu.

Aira masih menunggu.

Di sana.

1
Srijanni
mana lanjutan ny
Titien Prawiro
Gk paham Rafi jadi Bapak gk tegas, plin plan, kalah dengan air mata.
Titien Prawiro
Kenapa Rafi melakukan seperti itu terhadap istrinya, beda dgn si jalangaku benci sama Rafi.
Prajnya Paramita
bagus banget cerita ini.
Wike Susilawatu
lanjut Thor aku baru baca
Srijanni
setelah cerai suami dan anak minta
Meity Londok
lanjutan nya?
Srijanni
kapan terusan ny
Srijanni
kapan lanjutan ny udh ga sabar
Srijanni
sy suka cerita ny menarik lanjut
Eni Satria
terlalu lemah nadia suami biadap ank durhaka mls baca buat emosi
Irawati Soetojo
Cerita ya bagus banget, breres mili sedih suami n Ayah tidak peka ke istri n anak sakit
Daulat Pasaribu
cepat bangkit nadia...smoga aja kamu dan aira cepat merasakan bahagia.biarkan aja si rafi dan arka menyesal
Daulat Pasaribu
rafi rafi setelah aira meninggal baru menyesal...aku sih harapnya aira dan nadia tetap hidup bahagia tanpa si rafi dana si raka
Daulat Pasaribu
rafi rafi setelah aira meninggal baru menyesal...aku sih harapnya aira dan nadia tetap hidup bahagia tanpa si rafi dana si raka
Daulat Pasaribu
penasaran penyeban keluarga nadia bisa tercerai berai itu karena apa
Daulat Pasaribu
aku nangis bacanya,sedih kali novelnya
Daulat Pasaribu
apa alasannya thor kok bisa si aira di telantarkan bahkan di abaikan oleh papanya si rafi
Daulat Pasaribu
penyebab mereka cerai kenapa ya thor?
Daulat Pasaribu
tapi kok bisa si rafi membuarkan anaknya hidup sakit sakit tan.padahal walaupun cerai bukannya itu tanggung jawabnya rafi sbagai ayah kandung aira thor
Dini Suharsono: /Scowl/0
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!