Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.
Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.
Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.
Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Entah sudah berapa lama Radit menemani Arini saat ini, akan tetapi sepanjang detik yang telah berlalu tak banyak percakapan yang mereka bincangkan, semua semu. Keberanian Radit yang biasa bicara di depan anak buahnya atau bahkan kolega-kolega pentingnya tak nampak sama sekali. Di hadapan Arini, Radit jadi seperti ABG polos yang baru mengenal cinta, kikuk sekali.
Dering telepon di saku Radit memecahkan keheningan yang bisa saja menjadi abadi itu.
Dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian menjauh dari Arini untuk menjawab panggilan masuk.
"Ya ken ada apa?"
"Pak, klien yang kemarin meminta untuk bertemu hari ini, beliau ingin meminta example produk kita." kata seseorang di seberang telepon.
"Kau sudah mengaturnya bukan?" tanya Radit.
"Tentu saja pak, kebetulan pak Bayu sedang berada di kota ini. Pak Bayu menunggu di cafe 'kita' pak."
"Jam berapa janjinya?"
"Satu jam lagi pak."
"Baiklah, kau jemput aku di rumah sakit harapan sekarang."
"Baik pak."
Radit menutup panggilan masuknya dan kembali ke tempat Arini.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada hal penting menunggu." pamit Radit pada Arini.
"Oh baiklah, hati-hati di jalan mas." kata Arini sambil tersenyum.
Deg... senyuman itu membuat Radit merasa berat pergi meninggalkan Arini. Bahkan segala pertanyaan yang sudah ia siapkan untuk Arini seketika ia lupakan.
Bagaimanapun Radit harus tetap pergi sekarang, klien ini penting untuk perkembangan cabang perusahaan miliknya.
°°°
Waktu menunjukan pukul 21:30 WIB saat tiba-tiba suster berlarian keluar masuk ruang ICU tempat neneknya di rawat. Arini yang merasa khawatir menarik salah satu suster untuk menjelaskan situasi yang terjadi di dalam.
"Ada apa sus?" tanya Arini.
"Maaf mba, nenek anda detak jantungnya melemah, sebaiknya mba berdo'a pada Tuhan sekarang."
"Apa yang sebenarnya terjadi sus."
Tetapi suster itu tak menjawab pertanyaan Arini lagi, dia memilih untuk bungkam, bukan tugasnya untuk menjawab segala pertanyaan yang ada di otak Arini saat ini. Dokter lah yang berwenang untuk memberi tahu.
Arini mulai menangis dan tak henti-hentinya melafalkan do'a-do'a yang ia ketahui. Berharap Tuhan akan membantu nenek Arini melewati fase kritis ini.
Tiba-tiba salah satu suster memanggil Arini untuk masuk ke dalam, saat Arini masuk tatapan semua mata orang-orang di depan Arini seperti mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu.
"Maaf, kami telah melakukan hal terbaik semampu kami, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain." kata dokter di ruangan itu.
"Apa maksud dokter?" tanya Arini.
"Nenek anda mengalami gagal jantung dan..."
Belum sempat dokter itu menyelesaikan omongannya, Arini langsung berlari ke arah neneknya berbaring.
"Nek, ini Arini. Nenek bangunlah nek, jangan tinggalin Arini.... Arini sendirian..." tangis Arini pecah, sekuat tenaga Arini menggoyang-goyangkan tubuh neneknya itu, namun beliau tetap tak mau membuka matanya lagi.
"Sabar mbak, ini semua sudah kehendak yang kuasa." salah seorang suster mencoba menguatkan Arini.
Hati Arini merasa hancur, dadanya sesak, Arini merasa gagal dalam menjaga neneknya. Bahkan ia tak berada di sisinya saat nenek Arini melewati saat-saat terakhirnya.
°°°
Pemakaman nenek Arini berlangsung dengan sederhana, tak banyak orang yang hadir di tempat peristirahatan terakhir neneknya. Tentu saja, selain karena memang tak ada anggota keluarga yang lain, Arini dan neneknya bukanlah dari kalangan orang-orang penting di sekitar tempat tinggalnya.
"Yang sabar ya rin, kamu harus ikhlas, agar nenek tenang di alam sana." Silvi menghibur Arini.
"Nenekmu orang yang baik dek, pasti dapat tempat terbaik pula di atas sana." ucap salah seorang warga.
"Terimakasih pak," jawab Arini lirih.
Pilu di hati Arini seolah tak berujung, rasa sakit di tinggalkan kerabat satu-satunya yang Arini miliki tentu akan sangat sulit mengobatinya.
"Kamu nyari siapa rin?" tanya silvi saat melihat Arini tengak-tengok seperti sedang mencari sesuatu.
"Tidak ada kok, bisakah kau mengantarku pulang sil, aku harus membereskan barang-barang ku." Arini meminta bantuan temannya itu.
"Tentu, ayok." ajak silvi.
°°°
Hidup sebatang kara di dunia ini bukanlah perkara mudah bagi Arini, segala kenangan yang ia miliki bersama neneknya harus segera di kesampingkan. Kehidupan haruslah tetap berjalan, dan tentu Arini tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Namun mata sayu itu tak henti-hentinya mengeluarkan cairan bening yang terus mengalir di wajah sendu Arini.
"Kau akan pergi kemana rin?" tanya silvi.
"Aku mau nyari kontrakan sil, nggak enak aku sama pemilik rumah ini yang sekarang. Sepertinya mereka akan segera menempati rumah ini."
"Kalau begitu, tinggallah beberapa hari di rumahku. Kebetulan bapak sama ibu lagi di luar kota, jadi aku sendirian deh."
"Aku nggak enak sama orangtuamu sil."
"Tenang, aku sudah bilang kok, dan di bolehin."
"Baiklah, terimakasih karena sudi menampungku sil."
"Kamu ini kaya sama siapa aja sih rin."
Beruntung sekali ada Silvi bersama Arini, keluarga Silvi pun sangat baik sekali mau menerima keberadaan Arini sekarang.
°°°
Arini kini sedang berada di kamar Silvi saat ia terlihat sibuk dengan telepon genggam miliknya. Raut wajah Arini nampak menunjukan kekesalan sambil terus mencoba menghubungi seseorang.
Maaf nomor yang anda tuju sedang di alihkan, cobalah beberapa saat lagi...
Berkali-kali sudah Arini mencoba menghubunginya tapi tetap saja selalu begitu.
"Nggak di angkat-angkat rin?" tanya Silvi sambil tetap sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Enggak sil, di alihkan terus, nggak biasa-biasanya mas Ferdi begini."
"Coba aja kerumahnya rin."
"Sudah kemarin sore, tapi nggak ada orang."
Sejak terakhir kali Arini bertemu dengannya di rumah sakit waktu itu, sampai saat ini Ferdi sama sekali belum memberi kabar pada Arini. Tak seperti biasanya, Ferdi akan senantiasa memberi kabar tentang apa yang sedang ia lakukan dan dimana dia berada, walau hanya melalui pesan singkat saja. Bahkan saat nenek Arini meninggal pun Ferdi tak kelihatan batang hidungnya.
Tentu Arini tak akan marah, ia hanya khawatir tentang perubahan sikap Ferdi saat ini.
"Apa dia kesal padaku ya?" gumam Arini.
"Kenapa bisa begitu?" Silvi merasa bingung.
"Ya mungkin aku membuat kesalahan padanya, SMS ku saja tak di balas." ucap Arini sedih.
"Mungkin mas Ferdi lagi sibuk ngurusin pilkada rin, tau sendiri kan kalau ada hajat besar begini pasti perangkat desa akan sangat sibuk."
"Tapi tetap saja perasaanku tidak enak sil."
"Jangan pakai perasaan rin, kalau tak sesuai ekspektasi bisa sakit tau."
Sebenarnya tentang apa pembicaraan Ferdi di sambungan telepon waktu itu, sampai membuat Ferdi seolah menghilang dari hadapan Arini saat ini.
Apa Ferdi mempunyai masalah di luar sana? atau mungkin yang di katakan Silvi itu benar?
Bagaimanapun Arini harus segera bertemu dengan Ferdi agar semua prasangka buruk ini usai.