Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Begitu masuk ke dalam rumah, suasana ruang tamu masih hangat oleh aroma teh jahe yang mama buat. Mama melongok dari sofa.
“Eh, baru pulang? Tadi ke mana lagi?”
Alya tersenyum tipis sambil meletakkan tas di meja. “Habis dari kampus… terus ada urusan sedikit.”
Mama mengerutkan kening. “Urusan apa?”
Alya menelan ludah, menghindari tatapan. “Ehm… urusan sama Reihan.”
Alis mama terangkat. “ohh nak Reihan? Aduh, Alya…” Nada suaranya campur penasaran dan sedikit khawatir.
“Ma, nanti aja ya. Aku mau ganti baju dulu.” Alya langsung melipir ke kamarnya sebelum mama menembak dengan pertanyaan lebih banyak.
Begitu pintu kamar tertutup, Alya menjatuhkan diri ke ranjang. Pikirannya kembali ke momen tadi—saat Reihan menyematkan cincin di jarinya. Hangatnya genggaman itu masih terasa, dan entah kenapa, pipinya memanas lagi.
Ia membuka ponsel. Ada satu pesan baru.
Reihan: Jangan lupa, besok jam 7 malam. Lokasi sudah saya kirim.
Alya menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mengetik balasan.
Alya: Iya, Pak. Siap.
Tangannya sempat ragu untuk menghapus kata “Pak”, tapi akhirnya ia biarkan. Ia meletakkan ponsel di meja.
Begitu selesai ganti baju, Alya keluar kamar dan melihat mama masih duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Ayahnya juga sudah pulang, duduk santaidisamping mamanya.
Alya memberanikan diri duduk di kursi sebelah. “Ma, Yah… besok malam kita makan di luar, ya Mas Reihan yang ngajak"
Mama menoleh. “Makan di luar? Ada acara apa?”
Alya menggaruk belakang leher. “Ehm… makan malam sama… orang tuanya Reihan.”
Ayahnya menoleh kearah ku, . “orang tuanya Reihan?
Alya mengangguk pelan. “Iya. Besok malam jam tujuh. Mereka yang ngajak. Katanya… mau bahas soal pernikahan kami iya yah
Mama langsung menatapku "emang udah pas itu seminggu lagi"
Alya mencoba tersenyum, tapi jelas canggung. “iya ma, makanya nanti biar di bicarain sama orang tuanya mas Reihan, kan mama juga yang ngebet banget buat aku cepet nikah"
Mama akhirnya mengangguk, meski wajahnya masih penuh tanda tanya. “Baiklah. Tapi kamu harus janji… nggak main-main dengan urusan seperti ini.”
Alya menunduk. “Iya, Ma. Aku janji.”
Suasana hening sebentar. Hanya suara TV yang terdengar. Dalam hati, Alya berharap besok malam tidak akan jadi bencana.
___________
Restoran itu terletak di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan, membuat suasananya hangat tapi tetap berkelas.
Alya datang bersama mama dan ayahnya. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua, rambutnya diikat rapi. Tangannya sedikit berkeringat ketika pintu lift terbuka dan matanya langsung menangkap sosok Reihan berdiri di depan meja resepsionis.
Pria itu, seperti biasa, mengenakan kemeja putih bersih dan jas hitam. Ekspresinya datar, tapi matanya sempat melirik Alya sekilas sebelum kembali fokus berbicara pada pelayan.
“Selamat malam om, tante,” sapa Reihan singkat lalu menyalimnya dengan takzim begitu mereka berhadapan. “Keluarga saya sudah di dalam. Silakan.”
Alya hanya mengangguk, membiarkan Reihan memimpin jalan. Mereka melewati beberapa meja sebelum sampai di sudut ruangan yang agak terpisah, di mana dua orang sudah menunggu—pria berambut sebagian memutih dengan tatapan tajam, dan wanita elegan dengan senyum tipis.
“Ini orang tua saya,” kata Reihan, memperkenalkan. “mah, pah … ini Alya dan kedua orang tuanya.”
" Halo jeng akhirnya kita bisa bertemu langsung, nak Reihan sudah pernah cerita tentang kalian" sapa Laras mamanya Reihan.
"Iya senang bertemu dengan kalian"
"Ohh iya ini suami saya" Laras tidak lupa memperkenalkan suaminya
"Prasetyo "
"Saya Dewi dan ini suami saya Pratama" ucap Dewi mamanya Alya, menjabat tangan kedua orangtuanya Reihan secara bergantian.
"Aduhh menantu mama cantik banget sih ngga salah Reihan milih kamu" ucap Laras
"Emmm makasih Tante"
"Kok manggil Tante sih, panggil mama dong kan bentar lagi kalian nikah"
"Dengarin tuh calon mama mertua kamu"
Mama Reihan tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana. “Alya, Nak… kami memang jarang mendengar Reihan bicara soal wanita. Jadi, jujur saja, agak terkejut mendengar kalian ingin menikah.”
"Ohh iya sekarang kamu kerja apa" tanya Prasetyo papanya Reihan
"Saya masih kuliah om, semester akhir di universitas yang sama, kyak mas Reihan " jelas Alya sekilas dia menatap ke arah Reihan yang terlihat tenang mulai dari tadi.
"Ohh jadi kamu mahasiswanya, ya ampun"
"Nak Reihan seminggu yang lalu sudah datang ke rumah untuk mengutarakan niatnya, jadi bagaimana"
Kali ini Pratama yang bertanya.
Alya menahan napas. Reihan, dengan wajah tetap dingin, meletakkan gelasnya di meja.
“Langsung saja,” katanya. “Saya ingin menjalin hubungan serius dengan Alya. Dan… kami sudah membicarakan rencana pernikahan.”
'aduh kok gua deg-degan sih' batin Alya
Dengan tenang Reihan melanjutkan ucapannya tadi.
"Untuk tanggal pernikahannya saya dan Alya sudah sepakat mengadakannya satu Minggu lagi "
'sepakat darimana nya, dari Hongkong ' ingin mengutarakan pendapatnya tapi ahh sudah lah percuma saja.
"Itu ngga kecepatan nak Reihan" tanya Pratama
" Tidak om" "saya sudah jauh hari membicarakan ini dengan Alya dan dia setuju"
Mama Reihan mengangguk pelan, tapi ayahnya masih terlihat ragu.
“Baiklah… kalau memang kalian yakin, kami tidak akan menghalangi. Tapi…” ia menatap Alya tajam, “aku harap ini bukan keputusan yang diambil hanya karena tekanan atau keadaan.”
'iya pah ini karena mama, yang terus mau jodohin aku"
Alya menelan ludah. “Bukan, Yah… ini murni keputusan kami.”
Pelayan kembali datang, meletakkan hidangan utama. Suasana sedikit mencair, tapi di bawah meja, Alya merasakan ujung sepatunya disentuh pelan oleh Reihan—sebuah isyarat singkat yang terasa seperti pesan jangan khawatir, aku yang atur sisanya.
" Untuk urusan vendor , tempat dan lainnya sudah saya persiapkan"
"Kami juga sudah fitting baju hanya papa dan mama jika perlu "
"Kok ngga bilang sama Tante sih kan Tante juga mau repot"
Reihan hanya tersenyum menggapinya.
"Ohh iya , nanti acaranya sederhana aja yaa intimate wedding aja" ucap Alya
"Loh kenapa kan ini hari spesial kalian" terlihat laas dan Dewi kurang setujutu dengan ucapan Alya
"Iya kenapa ngga mewah aja papa sanggup kok kalo soal biaya" jelas Prasetyo
" Bukan ngga mau om aku ngga mau orang kampus tau soal pernikahan ini itu demi kenyamanan kami berdua"
" Iya pah apalagi aku dosen disana nanti malah jadi bahan gosipan dan membuat Alya ngga nyaman"
_______
Orang tua mereka sudah pulang duluan menggunakan mobilnya masing-masing yang tertinggal hanya Alya dah Reihan.
Reihan beralasan ingin mengajaknya ke suatu tempat,tapi itu hanya alasan klise.
Begitu keluar dari restoran, udara malam terasa lebih dingin dibandingkan AC di dalam. Langkah Alya sedikit cepat, ingin segera masuk mobil. Reihan menyusul dari belakang, langkahnya tenang tapi nadanya terdengar datar.
Alya menghela napas, sedikit kesal. “Rencana kamu itu nggak selalu nyelamatin aku dari tatapan curiga, Reihan. Mereka keluargaku, mereka kenal cara aku bicara.”
"Jadi apa rencanamu sesuai dengan harapanmu"
'ngga Reihan rencanaku ngga ada yang bisa kuharap kan' dia hanya mengucapkannya dalam hati.
Alya ingin membantah, tapi ia sadar, melawan Reihan hanya akan memperumit keadaan.
Dengan kesal Alya berjalan ke arah mobilnya Reihan.
"Udah cepat antar aku pulang, aku capek mau tidur"
Ya Tuhan belum juga Menikah sudah buat emosi bagaimana nanti setelah menikah walaupun satu tahun bisa stress lama lama.