Melupakanmu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum kudapati jawabannya
Melepaskanmu adalah perkara mudah bagi logikaku namun menjadi sulit untuk hati ini
Semuanya tentang rasa yang ada di dalam dada...
Tetap mengharapkanmu adalah hal terbodoh yang kulakukan ketika dirimu yang mematahkan asa yang selam ini kupegang erat
Tetap bersamamu kusadari ada hati yang terluka dan kecewa
Tak akan ada kebahagiaan yang abadi jika berada diatas derita
Tapi aku bisa apa?
Hanya waktu yang akan menjawabnya
Perlahan akan menghapus segalanya
Antara Aku, Kau, Dia dan Cinta...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka Cerita Masa Lalu
Pada akhirnya Nadia mengalah. Akhir pekan minggu ini ia memutuskan untuk pulang pertama kalinya ke Bogor sejak ia memilih pergi dari kota kelahirannya itu hanya demi menjenguk ibunya di Rumah Sakit Internasional TA. Salah satu rumah sakit tercanggih di Indonesia yang merupakan milik keluarga Nadia. Rumah sakit yang berisi dokter-dokter handal di bidangnya dengan fasilitasnya yang terkenal lengkap dan memberikan pelayanan kesehatan standar Internasional.
BLAMM!
Nadia menutup pintu mobil SUV berwarna silver miliknya yang telah terparkir sempurna di halaman parkir depan rumah sakit. Ia pun berdiri tepat di depan rumah sakit. Dengan pakaian baby doll putih bunga-bunga warna pink selutut berpadu flat shoes pink fanta polos serta tas selempangan kecil serasi dengan sepatunya, ia tampak begitu cantik dan anggun. Tidak ada yang mengira bahwa di dalamnya terdapat karakter pembangkang dan seenaknya. Ia menarik napas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan serta menatap bangunan yang ada dihadapannya. Setelah tujuh tahun berlalu, rupanya rumah sakit milik keluarganya itu telah banyak berubah. Lebih hijau dan lebih asri dari sebelumnya. Dengan fisik bangunan menjulang hingga ketinggian sepuluh lantai dan warna tembok yang didominasi cat putih dan biru langit serta jendela-jendela kaca besar yang terpasang apik memberikan kesan minimalis berpadu sempurna dengan hamparan hijaunya pepohonan dan warna-warni bunga cantik seolah memberikan nyawa bagi sekelilingnya.
"Aku kembali," Nadia melangkahkan kakinya dengan mantap menuju tempat resepsionist sambil menenteng sebuah bingkisan berisi buah kesukaan ibunya. Ia terpaksa bertanya kepada resepsionist dikarenakan catatan yang diberikan oleh ayahnya hilang entah kemana. Sudah berkali-kali ia mencari namun tak menemukannya. Satu-satunya jalan terakhir adalah ia bertanya langsung kepada resepsionist yang saat ini ada di depannya. Sesekali ekor matanya menatap ke sekelilingnya, begitu banyak pasien yang mengantri giliran untuk menjalani perawatan di rumah sakit itu. Masih ramai seperti biasanya. Batinnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" Salah satu resepsionis dengan stelan seragam biru langit dengan syal biru tua bermotif kotak-kotak seperti di perkantoran yang melingkar serasi di lehernya, menyapanya dengan senyuman ramah nan hangat mengalihkan perhatian Nadia.
"Saya Nadia Karameita, saya ingin menjenguk ibu saya," Nadia tersenyum memberi gesture sopan kepada resepsionist tersebut.
"Atas nama siapa pasiennya?"
"Acacia Puteri," Ketika Nadia menyebut nama ibunya, sang resepsionis pun terdiam dengan mulut menganga seolah tak percaya dengan orang yang berada dihadapannya.
"Mbak? Mbak? Mbaakkk?" Nadia mengibas-ngibaskan kelima jari kanannya untuk menyadarkan lamunan atau lebih tepatnya keterkejutan yang tak terduga.
"Oh iya Mbak, maafkan saya, Ibu Acacia dirawat di ruang VVIP kamar nomor 509."
"Terima kasih Mbak atas info berharganya!" Nadia menepuk-nepuk pundak sang resepsionis kemudian segera berlalu menuju lift yang akan membawanya ke lantai lima, tempat sang ibu dirawat.
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka ternyata keajaiban itu ada!" Teriak resepsionis yang tadi melayani Nadia.
"Kenapa memangnya?" Tanya resepsionis lainnya yang baru saja melayani pasien lainnya.
"Orang yang baru saja bicara denganku adalah putri pemilik rumah sakit ini!"
"Tidak mungkin!"
"Dia benar-benar berubah!"
***
Ruang perawatan VVIP nomor 509. Nadia telah berada tepat di depan pintu ruangan tempat sang Mama dirawat. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kenapa harus ruangan ini? Keluhnya dalam hati. Ditekannya gagang pintu untuk membukanya.
"Mama, aku datang untuk...," Belum selesai Nadia mengucapkan kata-kata yang ingin diucapkannya, tiba-tiba terdengar suara lelaki yang mengejutkannya.
"Mohon untuk tidak berisik karena pasien sedang beristirahat!" Lelaki yang semula membelakangi Nadia kemudian berbalik menatap Nadia. Mendadak napas Nadia tercekat melihat sosok yang ada di hadapannya. Sosok yang selama ini sangat ia hindari untuk mencegah luka lamanya kembali terbuka. Saga Airlangga. Lelaki yang bagaimanapun kondisinya tidak mungkin bisa ia miliki. Lelaki yang ternyata tidak pernah benar-benar tulus mencintainya.
Pikirannya pun berputar kembali ke masa lalu. Masa lalu yang ia pendam selama tujuh tahun. Masa lalunya bersama dengan sosok yang saat ini berada dihadapannya.
BRAAAKKK!!
Sebuah gebrakan tangan pada meja ruang keluarga yang dikelilingi satu set sofa berwarna coklat tua mengisi lengangnya ruangan yang hanya terdiri dari tiga orang, Nadia, Amary, dan Acacia.
"Apa?!" Nadia berteriak sekencang-kencangnya. "Apa aku nggak salah dengar nih? Papa dan Mama berniat menjodohkanku dengan salah satu dokter dari rumah sakit yang dipimpin Papa sekarang ini?!"
"Begitulah," Amary dengan tenangnya meminum secangkir kopi yang disediakan oleh istri tercintanya, Acacia. "Dan tidak ada tawar-menawar dalam hal ini."
"Enggak! Aku menolak dengan keras!" Emosi Nadia meledak. Sepasang mata indahnya memberikan tatapan mematikan kearah sang Papa berusaha mengintimidasinya. "Papa egois! Aku ini calon Manajer Keuangan masa depan Pa, masa' pasangannya dokter? Enggak banget! Lagian juga kenal sama orangnya saja enggak."
"Kalau kau bilang Papa egois, Papa juga bisa bilang kau egois kan?" Amary tersenyum tak mau kalah memberikan tatapan mematikan kearah putri satu-satunya. Acacia yang melihat dua orang kesayangannya tetap mempertahankan kekeraskepalaan masing-masing hanya bisa mengelus dada. "Kau seenaknya memilih jurusan Akuntansi daripada Kedokteran padahal jelas-jelas kau adalah anak kami satu-satunya yang menjadi harapan untuk meneruskan rumah sakit. Jadi wajar saja kan Papa ingin punya menantu dokter sehingga bisa menggantikan dirimu menjadi Pimpinan Rumah Sakit, terlebih lagi kau yang bermasalah dalam mencari pasangan. Jadi Papa memutuskan untuk memilihkan jodoh untukmu."
"Ukh," Nadia yang menahan kesal akhirnya kembali duduk dengan kedua tangannya dilipat didada. "Kan salah Papa dan Mama sendiri, siapa suruh produksi anaknya cuma satu? Jadinya aku yang kena imbasnya deh!"
"Kau kan tahu kalau kandungan Mamamu itu sangat lemah belum lagi penyakit jantungnya, lahir kau satu saja kami sudah bersyukur. Hah, kau ini anak perempuan satu-satunya tapi kelakuannya benar-benar tidak seperti perempuan normal yang lainnya," Amary menghela napas agar ia tidak terpancing emosinya. "Perbendaharaan kata yang digunakan kasar, jorok, urakan, dan cuek. Papa dan Mama khawatir jika kau sampai tidak menikah gara-gara kelakuanmu itu."
"Enggak menikah juga tidak apa-apa," Jawab Nadia lantang. "Bagiku menjadi Manajer Keuangan terhebat di sebuah perusahaan minyak terkenal adalah cita-cita yang paling penting jika dibandingkan menikah!"
"Papa pusing lihat tingkahmu itu."
"Ikuti saja dulu permintaan Papamu Nadia," Acacia yang sejak tadi diam mengamati perdebatan yang terjadi antara suami dan anaknya akhirnya angkat bicara. "Mama pernah bertemu dengan orang yang akan dijodohkan denganmu dan Mama setuju dengan Papa, Mama rasa orang itu bisa mendampingi puteri Mama yang urakan ini."
"Jadi itu maksud Papa dan Mama membujukku sampai segitunya agar aku mau pulang ke rumah?!"
"Benar!" Jawab Amary dan Acacia serempak.
"Ampun deh, tahu gitu aku lebih baik nggak pulang dan pergi backpacker-an ke Bali bareng sama teman-temanku," Nadia terduduk lemas di sofa. "Aku memang paling lemah ketika mendengar Mama sakit makanya aku mau pulang. Ternyata itu hanya rekayasa supaya aku mau pulang ke rumah, aku benar-benar terjebak!"
"Ini foto calon tunanganmu," Amary menyodorkan sebuah foto kepada Nadia. "Namanya Saga Airlangga. Pas kan sama kamu, Saga dan Nadia."
Nadia mengamati sosok lelaki yang ada di dalam foto tersebut beberapa saat. Satu kata yang dapat ia utarakan, lelaki itu tampan, tapi...
"Dilihat dari fotonya saja sudah kelihatan nggak meyakinkan," Nadia mengeluh setelah melihat calon tunangannya ini. Ia paling benci dengan tipe cowok perfeksionis seperti Saga. Terlebih lagi ia menangkap ada kesan oportunis dibalik wajah malaikat lelaki itu. "Ini sih calon madesu alias masa depan suram! Dari segi mananya Papa bilang dia cocok denganku?"
"Jangan asal bicara," Amary meletakkan cangkir kopinya. "Dia adalah dokter cemerlang dengan usianya yang masih dua puluh delapan tahun sudah menjabat sebagai Kepala bagian internis, jadi Papa yakin Papa tidak akan salah pilih orang untuk menjadi pasanganmu..."
"O iya, Mama hampir lupa, besok Dokter Saga dengan kedua orangtuanya akan datang untuk berkunjung kesini. Jadi kamu harus dandan yang cantik ya, jangan sampai mereka tahu betapa urakannya dirimu."
"Yah, dilihat saja nanti deh Pa, Ma," Nadia mengangkat bahu dan memilih pergi meninggalkan kedua orangtuanya. Nadia pun tersenyum menyeringai dibelakang kedua orang tuanya. Huh! Siapa yang sudi dijodohin! Pokoknya besok aku mau tampil apa adanya, kaos hitam, celana lapangan, sepatu boots, dan rambut acak-acakan biar itu dokter illfeel dan membatalkan perjodohan ini, memangnya Papa dan Mama saja yang bisa pasang strategi untuk bermain-main denganku? Aku juga bisa!!
Keesokan paginya, Amary, Acacia, Saga, dan keluarganya, Andaru Airlangga Sang Ayah dan Chika Matsumoto sang Ibu, wanita cantik berdarah Jepang yang tidak menunjukkan usia menginjak awal lima puluh tahun, asyik berbincang-bincang di ruang keluarga sambil menunggu Nadia turun dari kamarnya. Namun rupanya si pemilik nama tidak kunjung menunjukkan sosoknya.
"Ngomong-ngomong Nadia agak lama ya?" Keluh Acacia bercampur rasa panik dan tidak enak dengan tamu khususnya hari ini. Seperti sinyal smartphone dari provider yang digunakan Nadia yang selalu berada di sinyal 4G, rupanya Nadia muncul bertepatan setelah dirinya selesai berbicara.
"Maaf menunggu lama, tadi aku bangun kesiangan jadi nggak sempat mandi," Nadia turun dari tangga menghampiri keluarganya dan keluarga calon tunangannya. Dengan penampilannya yang super acak-acakan khas anak gembel yang luntang-luntung di jalan membuat seluruh orang yang ada di ruang keluarga ternganga. Bagaimana pun dipikirkan orang tidak akan percaya bahwa ia kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi yang notabennya berisi orang-orang yang selalu mementingkan penampilan dan kerapihan.
"Nadia?!" Acacia berteriak kemudian lemas di sofa. "Ya Tuhan, kau benar-benar membuat Mama tidak habis pikir."
"Maksud penampilanmu ini apa Nadia?!" Tanya Amary tegas.
"Lho, Papa dan Mama bilang kan aku harus tampil sebaik-baiknya. Ya penampilanku yang paling baik ya seperti ini," Ujar Nadia santai sambil tersenyum licik menghampiri Saga. "Ah, pasti anda Dokter Saga ya? Kenalkan, Namaku Nadia Karameita anak dari Dokter Amary."
"Ah, eh, iya, perkenalkan aku Saga," Nadia membaca gelagat Saga sedikit kikuk berjabat tangan dengannya. Ia pun tersenyum puas karena merasa rencana yang ia susun akan berhasil.
Yes! Sepertinya perjodohan ini akan berakhir gagal dan aku langsung bisa pulang ke kosan serta bertemu dengan anak-anak! Nadia tersenyum puas karena merasa berhasil menjalankan rencananya.
"Maaf ya Dokter Saga, Mas Andaru dan Mbak Chika, anak saya ini kelakuannya biasanya tidak seperti ini," Amary memaksa Nadia minta maaf pada Saga dan kedua orang tuanya. Ia memegang tengkuk Nadia dan sedikit memaksa anaknya itu untuk sedikit membungkuk sebagai gesture meminta maaf.
"Papa ini apa-apaan sih? Aku kan memang biasa seperti ini!" Keluh Nadia melepaskan tangan Papanya dari tengkuknya.
"Nadia!" Bentak Amary namun Nadia hanya merespon dengan memutar bola matanya bosan.
"Fuh, hehehe, hahaha," Saga tak tahan untuk menahan tawanya. Rupanya sikap kikuk yang ditunjukkannya tadi kepada Nadia adalah sikap berusaha menahan tawanya. "Ternyata anak dokter sangat lucu, saya suka dengan anak dokter. Jadi saya putuskan untuk tetap melanjutkan perjodohan ini."
"WHAT?!" Teriak Nadia paling keras.
"Benarkah Dokter Saga tidak keberatan dengan keadaan anak saya ini?" Amary bertanya dengan sangat hati-hati. Namun didalam hatinya merasa lega sang dokter muda itu tidak jadi membatalkan niatnya, karena ia merasa yakin bahwa hanya dokter ini saja yang bisa menggantikan posisinya. Terlebih lagi keluarga Saga termasuk keluarga yang berpengaruh di kota tempat mereka tinggal.
"Saya justru merasa ini tantangan saya untuk membuat calon istri saya bersikap lebih cantik sesuai namanya."
Nadia yang mengetahui rencananya gagal mendadak pingsan karena ekspektasi penolakan yang ia harapkan dari Saga tidak sesuai keinginannya.
***