Bagaimana jika sihir itu benar-benar ada?
Apa yang akan kalian lakukan jika terdampar di sebuah tempat, yang memiliki segala jenis keanehan, bahaya, dan juga monster-monster yang memenuhi seluruh tempat tersebut.
Pasti kalian akan menggigil ketakutan, Kan? Namun hal itu tidak berlaku untuk pria yang yang satu ini.
Dia terlahir kembali dan menjadi salah satu penduduk dunia aneh tersebut, dengan segenap ingatan dari kehidupan sebelumnya.
Sebuah kehidupan kelam yang selalu dia miliki, kini akan berubah menjadi sebuah petualangan yang sangat berarti setelah dirinya terlahir kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hendra dwi maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK TERDUGA
Bagai berdiri diatas sebuah papan tipis, yang terletak diantara dinding jurang, satu kali salah langkah, maka Kazan dan Yuzu mungkin tidak akan pernah bisa pulang membawa kulit buruan mereka.
Kazan hanya bungkam setelah tatapan matanya dan tatapan binatang di depannya saling beradu. Dia hanya bisa mematung, dengan beberapa bulir keringat yang mulai mengalir dari pelipisnya.
Sedangkan Yuzu bahkan lupa cara bernafas, karena saking terkejutnya dengan bentuk hewan yang sedang berdiri di depan wajah Kakaknya.
Yuzu hanya bisa tercengang dalam bungkam, sembari memandang seekor binatang yang sangat mengerikan, dengan tatapan mata yang sepenuhnya memancarkan bentuk rasa tidak percaya.
Saat ini yang sedang berdiri di depan wajah Kazan bukanlah binatang biasa, binatang itu memiliki sisik hitam legam yang menyelimuti sekujur tubuhnya, dengan sepasang sayap dan juga sepasang kaki dengan cakar yang begitu besar diantaranya.
Kazan masih tidak percaya, untuk pertama kalinya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ukuran dan bentuk dari binatang mitos yang sering ibunya dongengkan untuk menghantar tidur ketika Kazan kecil.
Sosok yang digadang memiliki kekuatan melebihi gabungan prajurit satu benua, dan bisa menghancurkan satu kota dengan satu hembusan nafasnya saja.
Sama dengan kehidupan Kazan yang lalu, ketika dia masih menjadi Raja, dia merupakan satu pemimpin squad yang memiliki nama mirip seperti nama binatang yang tengah dirinya hadapi, binatang yang terkenal dengan keganasannya, yang juga sering disebut sebagi Naga.
Sungguh satu adegan yang belum pernah Kazan bayangkan. Bintang yang hanya ada di dalam mitologi, kini dia benar-benar sedang berdiri menatap kedua bola mata Kazan dengan tatapan yang sukar di jelaskan.
Kazan yang tidak menyangka sama sekali tidak bisa menggerakkan badannya, hawa kehadiran dari naga hitam tersebut berhasil membuat tubuhnya sepenuhnya mati rasa.
Setelah cukup lama saling bertatap, naga itu mendekatkan hidungnya. Dia membungkuk, kemudian mengendus rambut Kazan.
Yuzu hanya bisa gemetar, tubuhnya limbung dan jatuh ke belakang, setelah melihat naga itu mendekatkan bibir ke arah kepala kakaknya.
Namun meski sangat ingin berteriak, Yuzu saka sekali tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa menangis di dalam hatinya, dengan suara yang tidak mau keluar dari tenggorokannya.
Sedangkan Kazan yang masih mematung hanya bisa memejamkan matanya, dia berharap di dalam hatinya jika Ayahnya akan muncul, kemudian membawa pergi adik kesayangannya dari tempat ini.
Naga raksasa itu terus mendekatkan moncong wajahnya, setelah cukup dekat, dia mengendus dengan seksama dan kemudian kembali mengangkat kepalanya.
Naga tersebut mendongak, dia kemudian berteriak sekencang yang dia bisa sembari mengepakkan kedua sayapnya.
Hutan sepi langsung berubah menjadi tempat yang sangat gaduh, dampak dari kepakkan sayap naga benar-benar serasa bagaikan sebuah topan, dan suara teriakan darinya juga terdengar sangat memekakkan telinga.
Yuzu pingsan setelah mendengar raungan naga, sedangkan Kazan langsung bersimpuh sembari terus mencoba mempertahankan kesadarannya.
Setelah tubuhnya begitu lemas, Kazan yang sudah terlepas dari tubuh mematung, mulai bisa berbicara.
Tepat ketika Kazan hampir pingsan, dia berkata dengan nada pelannya, "Ayah... Tolong kami...,"
Itu adalah kali pertama Kazan mengharap bantuan. Baik di dalam kehidupan sebelumnya, maupun kehidupan saat ini.
Kazan benar-benar merasa sangat lemah, dan tidak bisa melindungi satu-satunya adik yang sedang pingsan di belakangnya. Saat itu dia sungguh menyesal, karena sama sekali tidak berusaha lebih keras untuk mempelajari sihir.
Namun seberapa keras pun Kazan mencoba menyalahkan diri sendiri, dia tetap tidak akan bisa merubah apa pun yang sedang terjadi.
Saat itu Kazan dan Yuzu pingsan tepat di depan seekor naga. Naga yang memiliki warna berbeda, dengan naga yang pernah diceritakan oleh orang tuanya.
Tidak lama setelah Kazan dan Yuzu pingsan, Garhan datang entah dari mana. Dia tiba-tiba saja sudah berdiri di balik semak, kemudian mendekat ke arah naga.
Garhan membungkuk di depan Naga, kemudian berkata dengan suara lantang, "Wahai penguasa! Suatu kehormatan bisa melihat sosok yang sangat ingin dilihat oleh semua manusia!" ucap Garhan sembari terus dan terus menunduk hingga berakhir pada posisi sujud.
"Jika engkau bermurah hati, saya akan merasa sangat bahagia jika engkau mau menerima persembahkan tubuh ini, untuk menggantikan dua manusia muda di sana," sambung Garhan masih dengan posisi sujud.
Mendengar ucapan tersebut, Naga besar hitam langsung melirik ke arah Garhan. Dia mendekatkan kembali wajahnya, kemudian mengendus rambut Garhan.
Setelah mengendus, naga tersebut kembali mengangkat kepalanya, kali ini dia tidak berteriak, melainkan memalingkan wajah sembari mengepak sayapnya.
Setelah kaki naga mengambang, satu kejadian tidak terduga kembali terdengar.
Sosok binatang yang sudah menjadi legenda mau membuka suara, dia berkata, "Rantai takdir mulai bergerak. Segera mungkin apa yang seharusnya bersembunyi akan muncul ke permukaan. Karena bunga yang tumbuh di atas kubangan lumpur, hampir mekar seutuhnya."
Naga itu kemudian mengepakkan kedua sayapnya, dia melambung dengan cepat kemudian menghilang sembari meninggalkan gema yang berbunyi, "Jaga dia dengan seluruh hidupmu."
Garhan benar-benar tidak menyangka akan kejadian yang tengah dirinya alami. Ini juga kali pertama untuk dirinya, karena bahkan di dalam dunia sihir, sosok naga merupakan satu hewan yang sama sekali enggan menunjukkan wujudnya.
Hanya keluarga kerajaan yang bisa melihat wujud naga, karena salah satu naga tertidur di bawah istana, dan hanya seseorang yang memiliki segel kerajaan yang bisa masuk ke dalam sangkar tersebut.
Singkatnya, seekor naga hanya mau menemui sosok yang mereka anggap pantas, dan mereka tidak akan menghiraukan apapun, jika mereka tidak merasa tertarik sama sekali.
Setelah sosok naga itu sudah sepenuhnya menghilang, Garhan membopong Kazan dan Yuzu secara bergantian.
Dia membaringkan dua anaknya di bawah tempat yang semula mereka gunakan untuk beristirahat, kemudian menyalakan api untuk menghangatkan tubuhnya dan juga tubuh dua anaknya.
Garhan terus berfikir keras kala itu, dia tidak tahu tentang maksud dari ucapan naga, sehingga mau tidak mau dia hanya bisa menerka.
Saat Garhan sedang berfikir keras, Yuzu mulai terbangun dari ketidaksadarannya. Dia langsung berteriak dengan begitu lantang, sehingga membuat Garhan yang masih melamun begitu terkejut mendengarnya.
Garhan mendekap erat tubuh Yuzu, dia mengusap pucuk kepala, sembari terus mengucap kata yang sama, "Dia sudah pergi... Dia sudah pergi... Dia sudah pergi..."
Mendengar kata tersebut terus diulang oleh ayahnya, tangis Yuzu seketika pecah. Dia meronta dalam pelukan Ayahnya, dan terus menerus menangis untuk melepaskan semua rasa takut, bersalah, maupun perasaan tidak berdaya di dalam hatinya.
Setelah cukup lama menangis, Yuzu mendekat ke arah Kazan yang belum juga membuka matanya, dia berbaring tepat di samping Kazan kemudian memeluk rapat tubuh Kakaknya.
Yuzu sangat ketakutan beberapa saat yang lalu, dia sangat takut jika naga itu memakan Kazan, salah satu pria yang begitu berarti di dalam hidupnya.
Bagaimanapun, cinta pertama seorang gadis selalu menjadi hak seorang ayah, namun bukan berarti seorang kakak mendapatkan perasaan yang lebih sedikit dari ayahnya.
Malam itu, Yuzu terlelap sembari mendekap erat tubuh Kazan. Sedangkan Garhan terus menjaga api dan terus mengawasi keadaan.
Dia hanya bisa melihat dengan wajah sayu, ke arah dimana dua darah dagingnya sedang memejamkan mata mereka.
Meski apa yang diucapkan oleh naga bisa jadi satu pertanda yang tidak bagus, namun rasa cinta Garhan kepada dua anaknya tetaplah sama.
Saat itu Garhan hanya bisa mendongak, dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
Bersambung....
aku mampir mas Thor..
aku tunggu ya kak di persimpangan sini,, kalo sudah sampai beri tanda ,,, wkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkwkw
cerita mu menarik, selalu buat penasaran. semoga secepat nya dikontrak novelnya ya thor 👍👍
kazan up lgii
mksh udah up
semangat