NovelToon NovelToon
Kawin Lari

Kawin Lari

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Ketika kenyataan tak seindah bayangan...

Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.

Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.


"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~


"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir rasa ini

"Jenna," seru suara yang sudah lebih satu bulan ini jarang sekali Jenna dengar.

Jenna menoleh ke arah suara, sore itu di depan kantor ia sedang menunggu Akbar menjemput dirinya. Jenna tersenyum mendapati Raka yang bersandar pada pilar dengan tangan yang terlipat di depan dada.

Lelaki itu tersenyum padanya, senyum yang tersirat sebagai arti dari rasa yang mulai terkikis.

"Jalan yuk," ajak Raka. "Tadi aku udah minta ijin sama mama," ujarnya lagi.

Jenna mengikuti langkah Raka menuju dimana mobilnya terparkir.

"Kapan pulang?" tanya Jenna membuka pembicaraan saat mereka sudah berada di dalam mobil.

"Tadi pagi," jawab Raka lalu menoleh sebentar ke arah Jenna.

"Kita mau kemana?"

"Liat sunset ... sambil makan siomay," kata Raka tersenyum, mobil melaju ke arah sebuah pantai yang tak jauh dari kota.

"Kamu apa kabar?" tanya Jenna saat mobil berhenti tak jauh dari pantai.

"Kita kayak orang asing," sahut Raka lalu membuka pintu mobilnya berlari kecil menuju penjual siomay langganan mereka dan tak lama kemudian kembali lagi masuk ke dalam mobil.

"Ini," ujar Raka menyodorkan satu porsi siomay pada Jenna.

"Makasih." Jenna menyendokkan satu suapan siomay ke dalam mulutnya.

"Kabar aku baik ... aku yakin kamu juga baik." Akhirnya Raka menjawab pertanyaan yang sempat tertunda tadi.

"Syukurlah," ujar Jenna menarik tisue untuk menghapus noda siomay di bibirnya.

"Dulu yang suka hapus noda di bibir kamu itu aku, sekarang kamu lebih mandiri Na," Raka tersenyum.

"Aku sudah belajar mandiri sejak kamu sudah jarang berada di sisi aku ... jadi aku harus siap jika suatu saat kamu memang benar-benar harus pergi dari aku," jawab Jenna asal namun tatapan matanya tajam kepada Raka.

"Dan aku lihat ... kamu memang benar-benar sudah siap," ujar Raka.

Jenna terdiam, jujur saja satu bulan tanpa hubungan membuatnya akhinya terbiasa mau tak mau ada atau pun tidak ada Raka di kehidupannya. Jenna sudah ikhlas apapun yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua. Rasa itu memang benar sepertinya akan berakhir.

Raka membuang pandangannya ke depan, ada helaan nafas kasar dari dirinya. Diam-diam dia menoleh pada Jenna, dilihatnya gadis itu memang sedikit tidak begitu perduli "lagi" pada dirinya.

"Na," kata Raka lembut.

"Kalo kamu datang, ketemu sama aku hanya untuk bilang minta maaf ... jujur kamu gak ada salah apa-apa Ka," ujar Jenna menatap Raka.

"Kalo kamu datang untuk membicarakan akhir dari hubungan kita ... aku sudah siap." Jenna masih menata Raka, lelaki itu hanya bisa terdiam saat Jenna mengatakan tentang kesiapan ujung dari hubungan mereka.

"Aku minta maaf Na ... gak ada yang bisa aku pilih seperti yang pernah kamu minta kemarin, kamu atau pekerjaan aku, aku merasa jika memang kita berpisah ini sudah yang terbaik," ujar Raka menunduk.

"Karena pada dasarnya dari kita sudah setengah hati mempertahankan ini semua," kata Jenna tersenyum. "Kejar apa yang akan kamu kejar Ka, aku gak bakal halangi lagi ... kamu patut menentukan apa yang akan menjadi kehidupan kamu nanti nya," ujar Jenna lalu meletakkan jarinya di depan bibir Raka. "Kamu gak usah merasa bagaimana dengan aku? aku gak apa-apa, aku baik-baik aja ... semua akan baik-baik saja." Mata Jenna berkaca-kaca.

Inilah akhir dari rasa ini, lelaki yang ia sayang dan yang ia cinta yang ia harap bisa membawanya keluar dari kemelut kehidupan yang selama ini ia rasakan akan pergi, ya pergi ... pergi mencari kebahagiaannya sendiri. Sementara Jenna? masih tetap harus tertatih demi mencari kebahagiaan yang ia mau meski dalam mimpi.

"Aku bakal datang saat semuanya sudah siap Na."

"Jangan Ka ... aku gak pantas untuk kamu datangi ke dua kali, saat memutuskan untuk pergi jangan pernah lagi menoleh ke belakang," ujar Jenna melihat ke atas menahan air matanya.

"Aku gak mau nyakitin hati kamu terlalu dalam Na ... ini bukan tentang orang ketiga, sungguh itu gak ada ... ini tentang ambisi aku, aku gak bisa bawa kamu masuk ke dalam sana."

Jenna mengangguk, "aku percaya, gak akan pernah ada orang ketiga ... pergilah, kejar mimpi kamu buktikan kamu bisa melakukannya, sekali lagi jangan liat aku."

Air mata itu akhirnya jatuh, Raka menyugar rambutnya frustasi. Baru kali ini dia membuat Jenna menangis, baru kali ini dia menyakiti hati gadis itu.

"Na ...."

Raka membawa gadis itu ke dalam dekapannya, mereka saling berpelukan erat. Sakit rasanya, namun semua sudah menjadi keputusan mereka. Daripada saling menyakiti nantinya, lebih baik sekarang sehingga tak berlarut-larut.

"Aku sayang sama kamu Na," ujar Raka samar dalam pelukannya.

"Aku juga sayang sama kamu Ka," jawab Jenna lirih.

"Maafin aku ... aku---"

Jenna menggeleng, dia tak ingin Raka terus menerus menyalahkan dirinya. Ini adalah yang terakhir meski cinta itu masih ada namun percuma jika tak bisa memiliki.

Jenna menangkup rahang Raka, Raka pun menghapus air mata Jenna. Mereka berciuman untuk terakhir kalinya. Ciuman perpisahan yang diiringi oleh derai air mata.

Matahari sore itu menembus pandang melalui kaca jendela mobil itu, deburan ombak di depan sana saling berkejaran. Maka tertutup sudah cerita cinta mereka hanya karena keadaan.

Raka mengusap bibir gadis itu, "baik-baik ya Na." Kembali Raka tarik Jenna ke dalam dekapannya.

Tangan mereka tak saling melepas hingga saat Raka memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah gadis itu.

"Na ...."

"Aku baik-baik aja Ka." Jenna tersenyum, wajah sembab itu kentara sekali.

Mungkin jika orang bertanya kenapa putus jika masih saling cinta, jawaban itu hanya Raka dan Jenna yang tahu. Mereka hanya tak ingin semakin dalam menyakiti satu dengan yang lainnya.

"Hati-hati ... jaga kesehatan, telpon aku kalo kangen," ujar Raka menyematkan rambut gadis itu di balik telinganya.

"Aku usahain gak bakal kangen kamu," ujar Jenna tersenyum. "Kamu baik-baik di sana ya."

Raka mengangguk, mereka harus berpisah. Berpisah secara baik-baik, Jenna turun dari mobil itu berjalan tanpa lagi menoleh ke belakang. Raka memandangi punggung gadis itu, masih berharap jika suatu saat jodoh akan kembali menyapa mereka di saat semuanya sudah siap.

Jenna berjalan lunglai menuju kamarnya, ia tutup pintu kamar itu rapat-rapat. Bersandar di balik pintu lalu terduduk di lantai, meraba dadanya masih terasa sakit. Perpisahan yang menyakitkan masih meninggalkan cinta di sana, ciuman terakhir itu ciuman paling lembut yang Raka berikan padanya selama ini. Lelaki itu benar-benar akan pergi, dan Jenna benar-benar melepaskannya.

"Semoga ini yang terbaik Ka ... semoga ini jalan kita menemukan kebahagiaan," lirih Jenna meneteskan kembali air matanya.

***masih cinta tapi gak bisa memiliki, mungkin begini lah cara menemukan kebahagiaan yang lain.

enjoy reading 😘

jangan lupa untuk selalu like dan komen ya 😘***

1
Wiwik Roviyantini
kpn mulai up cerita terbaru kk
Maryati Subur92
AQ ikut deg deg kan
Aisya
part ini ak nangis malem malem 😭😭
Agus Tina
Baca ini sudah ketiga kalinya ... nggak bosen. Suka ceritanya .... Pak Sofyan sosok ayah yg baik dan bijaksana banget ...
Dewa Nara
gak ada kota bangka Thor, karena bangka itu nama pulau. adanya kota Pangkal Pinang, Mentok, dsb.
Chida: oh iya kota Pangkal Pinang .. makasih ya
total 1 replies
Ulil Baba
jangan pernah berhenti untuk mencintai KU
dalem banget artinya
Ulil Baba
wong gendeng 😤😤 semremet Karo mbok e
Ulil Baba
yaa Allah serius kak nangis nyesek banget,, konyol ku lagi mata masih merah habis nangis ada kurir paket datang,,,ambyar deeehh
T.N
Luar biasa
Ulil Baba
bacanya ikut senyum senyum
Vivo Smart
Budi emang anak baik kek dibuku buku pelajaran
Vivo Smart
duda emang udah lebih berani ya
Vivo Smart
kok diajarin boong Jenna nya Dit
Vivo Smart
aku sudah punya anak dua, tapi masih suka banget kalau dicium
Vivo Smart
waaahhh... kasih pak Manto tips Na. oke banget dia padahal belum dibriefing
Vivo Smart
Radit duda kan
Vivo Smart
kadang cinta datang tanpa menunggu kesiapan Mas.
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba
Vivo Smart
akbar nggak tegas jadi laki
Vivo Smart
Emang Abang nggak kemana-mana Bang?
May Keisya
diajarin ya mas😂..itu senjata dia wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!