Karin gadis pemalas yang punya hobby nonton Drakor dan Dracin sepanjang masa remajanya, tidak menyangka bahwa nasibnya akan seperti di drama drama yang pernah ia tonton.
Diumur ke 20 tahun ia dipaksa menikah muda dengan Om Om yang di jodohkan Oleh Ayahnya.
Om Om itu adalah kolega bisnis Ayah Karin bernama Arjuna Prayoga.
Meskipun hanya berbeda 7 tahun tapi Karin yang saat itu masih kuliah, sangat sulit untuk menerima perjodohan dan pernikahan itu.
Apalagi Karin sudah memiliki pacar yang telah dipacarinya selama bertahun tahun bernama Kai Bagaskara seorang cowok populer dan sangat dicintainya.
Dapatkan Karin Lolos dari perjodohan yang disiapkan Ayahnya?
Ataukah pada akhirnya ia akan benar benar menikah dengan Om Arjuna?
Selamat membaca semoga kalian suka dengan karyaku, saranghae 🩷
BTW karena ini cerita tentang pernikahan Harap bijak sebelum membaca okey...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karina si Tukang Kabur
Bulan purnama terlihat sangat indah di malam itu, Karin teringat pertama kali bertemu Kai adalah saat malam bulan purnama 2 Tahun yang lalu.
Kenangan yang indah dan tak akan pernah bisa Karin lupakan. Saat itu ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki tampan bernama Kai Bagaskara Kakak tingkatnya di kampus.
Di malam 2 Tahun lalu itu Kai menolong Karin yang tidak bisa membayar jajanan di sebuah kedai, Karin gadis bandel itu sedang kabur seperti di malam ini, sialnya kala itu dompetnya hilang dan terjatuh.
Karin juga sengaja tak membawa handphonenya demi mengelabui ayahnya agar tidak bisa melacak posisi Karin.
Dan malam ini Karin seperti biasa menyelinap diam diam keluar rumah, untuk menghindari Ayahnya yang sangat tegas dan overprotektif itu.
Karin yang sudah jadi Mahasiswa semester 5, sangat sulit sekali untuk bisa keluar malam, kalaupun keluar rumah di malam hari pasti harus dibuntuti oleh body guard atau Bundanya.
Sementara Kakaknya Tody Andrean Pradipta sangat cuek sekali pada Karin, dia terobsesi dengan musik dan jarang ada dirumah saat malam hari.
Boro boro untuk mengajak Karin keluar rumah hang out atau nongkrong, ada dirumah pun Tody tak pernah memperdulikan Karin, mereka hanya berinteraksi seadanya dan seperlunya seperti orang asing.
Mungkin karena sejak kecil Tody dan Karin tidak tinggal satu rumah, Tody dibesarkan oleh nenek dan kakeknya di Kampung halaman Bunda selama bertahun tahun sampai Ayah dan Bunda mulai sukses dalam bisnisnya baru Tody kembali dirawat oleh Ayah dan Bundanya.
Hal itu karena permintaan Tody sendiri yang memang lebih betah tinggal di kampung halaman Bundanya yang dekat dengan Pantai, karena saat kecil dulu Tody sangat suka sekali Surfing.
Sementara Karin gadis manja itu memang sejak kecil sudah mengintil Ayah dan Bundanya kemana mana.
Karin malah lebih dekat dengan Om Danu Adik kandung yang Ayah besarkan seperti anaknya sendiri, Om Danu adalah Adik bungsu Ayah yang orangtuanya sudah meninggal dunia sejak Om Danu masih berusia 5 tahun.
Om Danu bahkan kehilangan Ibunya juga setelah baru 1 tahun ditinggal oleh Ayahnya, jadi Om Danu adalah anak Yatim Piatu sejak kecil dan dibesarkan oleh Bagas Pradipta Ayah Karin.
Dengan Om Danu Karin malah seperti Kakak dan Adik kandung, sangat dekat, dan juga sangat nyambung kalau mengobrol.
"WOY!!" Teriak Om Danu mengagetkan Karin yang sedang berusaha memanjat tembok belakang rumahnya.
Karin jadi terhuyung huyung dan hampir saja kehilangan keseimbangan.
"Om Danu bisa diem gak!" Perintah Karin spontan namun agak berbisik.
"Mau kemana lagi lu bocah?" Tanya Omnya itu sambil menaruh rokok yang sedang Ia hisap ke asbak di sebelah kursi duduknya.
Tanpa Karin sadari Om Danu sejak tadi memang sedang sebat di halaman belakang.
"Rin, turun, kalau mau kemana mana kan bisa minta anter Om Danu." Ujar Om Danu lembut.
Karin menolaknya cepat "Gak Mau!"
"Kamu masih marah sama Om?"
"Masih." Jawab Karin sembari berusaha memanjat lagi namun om Danu menarik badan Karin hingga gagal memanjat.
"Om Danu nyebelin banget sih." Pekik Karin, gadis itu jadi ke Triger dengan amarahnya pada Om Danu.
"Rin, om gak maksa kamu nikah sama Si Yayang, tapi kamu harus putusin pacar kamu si Kai itu." Ujar Om Danu tegas.
"Tapi Kai bilang dia gak seperti yang dituduhkan Ayah, itu foto foto itu cuma editan Om, semua cuma salah paham." Bantah Karin membela pacar yang kini masih sangat dicintainya itu.
Om Danu menarik nafas berat lalu menghembuskannya perlahan, dia tampak sudah sangat frustasi dengan keponakannya itu.
Dengan hati hati om Danu berucap "Rin Om Danu sama seperti Ayahmu, sangat sayang dan gak mau kamu jadi salah langkah, si Kai bukan cowok baik baik loh."
"Tapi kalaupun Karin putus sama si Kai kenapa juga Karin harus nikah sama Om Yayang sih! kenapa gak biarin Karin milih tambatan hati Karin sendiri." Ujar gadis bertubuh mungil 155 cm itu membantah lagi.
Om Danu garuk garuk kepala "Kalau om sih gak maksa kamu sama si Yayang, tapi mungkin Ayahmu punya pertimbangan lain yang menurutnya terbaik buat kamu cil."
"Nah itu yang Karin gak suka, semua orang dirumah ini gak ada yang bisa bantah Ayah, semua gak ada yang bisa belain Karin, dan Om Danu sama aja."
Pelipis Karin mulai bengkak tanda banjir air mata akan segera turun dari matanya.
Angin malam itu seakan menambah aura mellow di diri Karin. Daun daun di belakang rumah berjatuhan menambah kesan lebih sendu.
Tangisnya pecah, pecah saat berdebat dengan Om kesayangannya Om Danu.
Om Danu memeluk Karin, ia pun merasa kasihan dengan ponakannya itu, namun untuk membantah Kakaknya dia juga tak punya keberanian.
Bagas Pradipta adalah lelaki yang sangat tegas dan teguh pada pendiriannya, juga bukan orang yang sembrono dan asal ketika mengambil keputusan, Danu berfikir Kak Bagas pasti sudah memikirkan matang matang keputusannya menikahkan Karin dengan Arjuna Prayoga sahabat Danu itu.
"Rin, maafin Om Danu ya, tapi jujur selain si Yayang om juga gak ada Kandidat yang paling baik deh kayaknya yang bisa Om pilihin buat kamu, dia baik kok Rin, Om jamin kamu bakal hidup bahagia kalau sama si Yayang."
"Gak tau ah, pokoknya Karin sebel." Rengek Karin lagi.
"Iya iya deh Om Danu diem gak ngomong lagi, gimana kalau beli Milk Tea kesukaan kamu yuk, om anter." Ajak Om Danu menghibur ponakan manjanya itu.
Karin mengangguk setuju.