Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05• Kisah lalu
Suara Ibu Desy menggema di ruang tengah yang tinggi. “Bara, Sayang. Turun, Nak. Sambut calon kakak iparmu…”
Naya masih terpaku di ambang pintu. Napasnya tercekat. Lututnya terasa lemas. Ia menatap ke arah tangga, berharap ia salah dengar.
Tapi tidak.
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Pelan. Berat. Naya kenal betul irama langkah itu.
Bara muncul di ujung tangga.
Ia memakai kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku. Wajahnya datar seperti kemarin pagi. Tapi begitu matanya menangkap Naya yang berdiri di samping Arkan, rahangnya sedikit mengeras.
Sedetik. Hanya sedetik.
Lalu ekspresinya kembali kosong.
“Ini Naya, Bar,” kata Arkan dengan bangga, merangkul bahu Naya. “Calon istri Kakak.”
Bara menuruni sisa anak tangga. Ia tidak buru-buru. Tidak senyum. Ia berhenti dua langkah di depan mereka.
“Mbak Naya,” ucapnya. Nadanya datar. Sopan. Seolah mereka memang baru pertama kali bertemu.
Naya ingin bicara. Ingin bilang, “Kemarin kamu yang nolongin aku.”Tapi lidahnya kelu. Ia hanya mengangguk kecil. “Halo, Mas Bara.”
Ibu Desy memperhatikan. Matanya menyipit tipis, menimbang. “Sudah kenal kan kalian? Bara kan sering lihat foto kalian di Insta Arkan.”
Jantung Naya mencelos. Jadi, Bara sudah tau kalau aku adalah kekasih Arkan.
“Baru lihat langsung,” jawab Bara cepat. Terlalu cepat. “Selamat datang, Mbak.”
Ia mengulurkan tangan.
Naya menatap tangan itu. Tangan yang kemarin memasangkan plester di lututnya dengan hati-hati. Tangan yang kemarin tidak banyak bicara, tapi tidak meninggalkannya.
Ia menyambutnya. Dingin. Kaku.
“Salam kenal,” bisiknya.
Bara mengangguk sekali, lalu menarik tangannya.
Ia berbalik lebih dulu, berjalan ke ruang tengah tanpa menoleh lagi.
Naya masih berdiri di tempatnya. Arkan menggenggam tangannya, tidak menyadari bagaimana telapak Naya mendadak berkeringat.
Di kepalanya hanya ada satu kalimat yang berulang Jadi selama ini… Bara tahu siapa aku. Tapi dia pura-pura.
Dan pertanyaan yang lebih menakutkan.
'Kenapa?'
......................
Ruang makan itu terlalu luas untuk hanya berempat. Cahaya lampu gantung kristal memantul di permukaan marmer, dingin dan tajam, seperti sorot lampu interogasi. Bau sup ayam yang terlalu wangi justru membuat tenggorokan Naya terasa tercekat.
“Minum teh dulu, Nak,” kata Ibu Desy. Suaranya halus, tapi nadanya tidak memberi pilihan. Cangkir porselen didorong ke arah Naya, uapnya naik pelan, menggantung di udara seperti kabut yang enggan pergi.
Naya tersenyum. Senyum yang ia pakai kalau sedang menahan sakit. “Terima kasih, Bu.”
Tangannya gemetar saat mengangkat cangkir. Panasnya merayap ke ujung jari. Ia meniup pelan, berharap uap itu ikut membawa napasnya yang mulai tidak beraturan.
“Bara,” panggil Ibu Desy tiba-tiba. “Menurut kamu gimana, mereka cocok kan?”
Sendok di tangan Bara berhenti. Bunyinya pelan saat menyentuh piring, tapi di telinga Naya, suaranya menggelegar.
Bara mendongak. Matanya bertemu mata Naya, hanya sedetik. Tatapan itu bukan kosong. Ada sesuatu di dalamnya, tertahan di balik kelopak yang terlalu tenang. Rahangnya sedikit mengeras. Lalu ia memalingkan wajah.
“Cocok,” ucapnya. Satu kata, kering, selesai.
Naya menunduk. Satu kata itu tidak menenangkan. Justru membuat dadanya semakin sesak.
Arkan tertawa kecil, meremas tangan Naya di bawah meja. “Dengar tuh, Nay. Adikku aja setuju.”
Tapi Naya tidak mendengar Arkan. Karena sejak tadi, ia bisa merasakan tatapan Bara yang sesekali jatuh ke arahnya. Cepat. Menghindar saat ketahuan. Seperti seseorang yang sedang mencuri pandang pada sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
“Kamu kerja di mana, Nay?” tanya Ibu Desy.
“Di perusahaan konsultan, Bu. Bagian keuangan.”
“Oh.” Ibu Desy mengangguk. Suaranya lembut, tapi matanya mengiris. “Kerja keras ya? Pantas kurus begini.”
Hening kembali turun. Hanya sisa bunyi sendok yang beradu dengan piring. Terlalu keras. Terlalu nyata.
Sampai Ibu Desy meletakkan cangkirnya. Dentingan porselen itu terdengar seperti palu sidang.
“Nay,” panggilnya. “Mama mau tanya sesuatu. Boleh?”
Naya menelan ludah. Rasanya seperti menelan pecahan kaca. “Boleh, Bu.”
“Kalau nanti kamu sudah jadi istri Arkan… kamu siap tinggal serumah sama kami?”
Naya mengangguk. Gerakannya kaku. “Iya, Bu.”
Ibu Desy tersenyum. Tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Bagus. Soalnya ada satu aturan di keluarga kami. Turun-temurun.”
Udara di ruangan itu terasa semakin tipis.
“Kalau sudah menikah, istri wajib jadi Ibu Rumah Tangga. Tidak boleh kerja di luar.” Nada Ibu Desy datar, seperti sedang membacakan peraturan. “Kamu sanggup kan, resign?”
Dunia Naya berhenti berputar.
Ia menoleh ke Arkan. Cepat. Putus asa. "Mas, tolong. Bilang ini cuma candaan" bisik Naya lirih.
Tapi Arkan hanya menghela napas. Ia mengusap tengkuknya. Wajahnya bersalah, tapi tidak cukup berani untuk membantah.
“Maaf, Nay. Aku lupa jelasin. Lupa bilang…” Suaranya nyaris tenggelam di antara denting sendok. “Intinya… ya, itu aturan Mama.”
Kata “maaf” itu jatuh ke lantai. Pecah. Dan Naya menginjaknya dengan sisa harga dirinya.
Tangannya di bawah meja mengepal. Cincin di jarinya terasa terlalu berat. Dengan suara yang ia paksa keluar, ia menjawab,
“Iya, Bu. Saya… sanggup.”
Di seberang meja, Bara tidak berkata apa-apa. Ia tidak menatap ibunya. Tidak menatap kakaknya.
Tapi Naya merasakannya.
Tatapan itu lagi.
Bara sedang menatapnya. Dalam. Berat. Dan Naya tidak mengerti kenapa tatapan itu membuatnya ingin menangis.
Bara belum tahu apa-apa soal sejauh apa hubungan mereka. Tapi, ia masih percaya pada kakaknya. Namun, melihat Naya mengiyakan sesuatu yang jelas-jelas merenggut napasnya, ada sesuatu di dada Bara yang retak pelan.
Ia tetap diam. Wajahnya tetap dingin.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kasihan.
Menit-menit berlalu cepat. Jawaban Naya menjadi palu terakhir yang mengakhiri pembicaraan tegang di meja makan itu.
Ia bangkit, menata piring-piring sisa makan dengan telaten. Gerakannya hati-hati, seolah kalau terlalu keras, suasana yang baru saja mereda akan pecah lagi.
“Nak, biar Bibi aja yang beresin,” kata Ibu Desy, mendekat. Suaranya lembut, tapi ada batas yang tak terlihat di sana.
“Ah… iya, Bu,” jawab Naya pelan. Ia mundur selangkah, menaruh piring di tangan Bibi yang baru muncul dari dapur.
Ibu Desy tersenyum tipis, lalu berbalik menuju kamarnya. Langkahnya tenang. Seolah ia baru saja memenangkan sesuatu.
Naya meninggalkan ruang makan. Kakinya membawanya ke ruang tengah. Dari kejauhan, ia mendengar suara tawa.
Tawa.
Ruang tengah yang tadinya hampa kini terisi suara Arkan dan Bara yang sedang mengobrol. Dan di antara tawa itu, ada guratan senyum di wajah Bara.
Senyum yang tak pernah Naya lihat sebelumnya.
Tujuh tahun lalu, mereka satu sekolah. Satu kelas. Satu meja. Tapi Naya tak pernah melihat Bara tertawa. Wajahnya selalu datar. Senyumnya mahal. Tapi anehnya, ia jadi siswa favorit di sekolah itu.
Nama Bara Laksamana selalu jadi bahan bisik-bisik. Pintar. Nomor satu. Tampan. Tapi terlalu misterius. Satu tahun kemudian ia menghilang tanpa jejak. Bangku di sebelah Naya kosong. Katanya, pindah sekolah.
Setelah lulus, Naya pernah berpapasan dengan Bara di perpustakaan kota. Penampilannya sama. Dinginnya sama. Kali itu ia memakai kacamata yang membuatnya terlihat seperti dosen muda. Naya sengaja mendekat, ingin menyapa. Tapi Bara menghindar. Seolah tak mengenalinya.
Dan sekarang, lima tahun kemudian, Naya bertemu lagi dengan Bara versi dewasa. Badannya lebih berisi. Lebih gagah. Tapi ketajamannya tetap sama. Namun sebelumnya ia tampak pura-pura tak mengenalnya, ada apa sebenarnya, membuat Naya penasaran.
Naya mendekat. Ikut bergabung. Sengaja duduk di sebelah Arkan.
“Bara, kamu kerja di mana sekarang?” tanyanya. Sengaja. Penasaran. Dan sedikit… menantang.
Begitu Naya duduk, guratan senyum di wajah Bara lenyap. Rahangnya mengeras sedetik. Ia menatap Naya sekilas, lalu membuang pandangan.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Beberapa detik terasa seperti jam.
“Perusahaan teknologi,” jawab Bara akhirnya. Singkat. Ragu.
“Aku duluan ya, Kak. Ada kerjaan yang belum beres,” lanjutnya. Terlalu cepat. Terlalu terburu-buru. Seperti sedang melarikan diri dari sesuatu.
Ia bangkit dan pergi, meninggalkan Naya dengan tanya yang belum tuntas, dan Arkan yang hanya bisa tersenyum canggung.