NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selesai latihan

Aisa membuka mata sepenuhnya.

Ia menutup buku catatannya perlahan, lalu menyimpannya ke dalam saku baju. Matanya menatap Mizuki, bukan dengan tatapan tajam seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda.

Seperti rasa bersalah atau penyesalan.

"Maaf soal tadi," ucap Aisa pelan.

Jari-jarinya menggenggam erat ujung bajunya sendiri.

"Sepertinya, latihanku tadi terlalu keras,"

Mizuki menggeleng. "Terima kasih sudah menolongku,"

Aisa terdiam. Matanya menerawang ke suatu titik di dinding, tidak benar-benar melihat apa-apa. Seolah-olah ia sedang berperang dengan sesuatu di dalam kepalanya sendiri.

Lalu ia menjawab.

"Itu bukan apa-apa,"

Suaranya datar. Tapi ada getar di akhir kalimat. Getar yang tidak bisa disembunyikan.

"Besok... aku akan melatihmu sedikit demi sedikit,"

Mizuki mengerjap. Alisnya berkerut.

"Sedikit demi sedikit? Maksudnya gimana?"

Aisa menghela napas.

Ia berdiri dari kursi, merapikan ujung bajunya yang kusut, lalu menatap Mizuki dari atas.

Di bawah cahaya TV yang redup, bayangan Aisa jatuh panjang ke lantai. Seperti pohon tua yang melindungi tunas kecil di bawahnya.

"Besok kau akan tahu," katanya. Bukan untuk menghindari pertanyaan. Tapi seperti memberi janji.

"Sekarang tidurlah,"

Mizuki membuka mulut ingin bertanya lagi. Tapi mulutnya menguap lebih dulu. Matanya yang barusan segar mulai terasa berat lagi. Tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan menuntut istirahat.

Ia hanya mengangguk.

"Baik, Kak,"

Keesokan harinya.

Mizuki beraktivitas seperti kemarin, sarapan pagi. Pemanasan, yang berbeda hanyalah latihan yang dijalani Mizuki.

Kali ini, setiap rintangan tidak langsung di lewati begitu saja. Tapi dilatih secara bertahap, selama beberapa kali.

Aisa tidak memaksanya langsung menyelesaikan semuanya. Mizuki mengulang satu rintangan sampai gerakannya terbiasa, baru pindah ke rintangan berikutnya.

Latihan terasa lebih ringan dari kemarin. Tapi tetap melelahkan.

Setelah latihan.

Aisa duduk di pinggir area latihan. Ia menepuk tanah di sampingnya.

"Mizuki, kau pernah tidak menggunakan kemampuan penirumu itu ke hal lain? Selain meniru wujud,"

Mizuki duduk di sampingnya. "Tidak. Aku hanya meniru wujud benda yang kuingat,"

Aisa menghela napas.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kemampuanmu itu diperkuat? Sekalian kuajari sihir yang berguna untukmu nanti,"

"Sihir?" Mizuki menoleh bingung.

"Sihir itu nama lain dari kemampuan," jawab Aisa secara langsung.

"Oh... aku setuju,"

Mizuki terdiam sebentar.

"Tapi kenapa?"

"Sudahlah, nanti kau akan tahu," jawab Aisa singkat.

Mizuki tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk.

Aisa berdiri.

Ia mengulurkan tangannya, dan di telapak tangannya muncul cahaya kecil berwarna biru pucat. Tidak menyilaukan. Hanya terang samar, seperti kunang-kunang.

"Kemampuanmu saat ini baru sebatas mengubah wujud. Itu baru lapisan paling luar," jelas Aisa.

Mizuki memperhatikan dengan saksama.

"Setiap kemampuan memiliki lapisannya sendiri, semakin dalam lapisannya, semakin istimewa kemampuan itu,"

Aisa menggenggam tangannya, dan cahaya itu hilang.

"Kalau boleh tahu, meniru apa saja itu?" tanya Mizuki yah

Aisa tersenyum.

"Kau akan mengetahuinya nanti,"

Hening sebentar. Angin pagi berembus pelan. Dedaunan bergesekan pelan di atas kepala mereka.

Kemudian Aisa bicara lagi.

"Omong-omong, bagaimana caramu mendapatkan kemampuan meniru itu?"

Mizuki terdiam sejenak, mengingat-ingat.

"Awalnya aku bingung ingin menciptakan kemampuan," ucapnya pelan.

"Lalu, saat ibuku membaca hasil nilai dari sekolahanku..."

Ia menarik napas.

"Dia bilang, fisik dan kepintaranku tidak ada yang bagus. Kalau ketemu penjahat, harus pintar bersembunyi,"

Aisa mengangkat alis. "Bersembunyi?"

"Iya, aku tanya ibuku, bagaimana caranya?"

Mata Mizuki menerawang jauh, seolah melihat bayangan ibunya di antara pepohonan.

"Ibuku bilang, aku harus bisa meniru wujud benda di sekitarku. Persembunyian yang terbaik adalah menjadi salah satu benda di sekitarnya,"

Aisa tidak menyela. Ia hanya mendengarkan.

"Lalu, aku mulai membayangkan bisa meniru wujud benda yang kulihat," lanjut Mizuki.

"Setelah membayangkan, aku mulai mencoba,"

Ia melihat telapak tangannya sendiri.

"Awalnya ada energi yang menyelimuti tubuhku. Namun tidak terjadi apa-apa,"

"Setelah terus mencoba... akhirnya aku berhasil berubah wujud,"

Aisa mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya. Bukan bangga. Tapi seperti sedang menghubungkan potongan-potongan teka-teki.

"Ibumu cerdas," kata Aisa akhirnya.

Mizuki tersenyum kecil. Senyum yang sedikit sedih.

"Iya,"

Aisa berdiri. Ia menepuk debu dari pakaiannya.

"Ayo kita lanjutkan latihan, kali ini memperkuat kemampuanmu,"

"Baik, kak," balas Mizuki.

Latihan dimulai lagi.

Mizuki disuruh meniru sesuatu yang belum pernah ia coba sebelumnya.

Mulai dari meniru wujud pohon, batu, monster, dan sebagainya. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Kadang bentuknya mirip tapi gerakannya kaku. Kadang teksturnya pas tapi ukurannya salah.

Tapi Mizuki tidak menyerah. Walaupun awalnya sulit, ia terus mencoba.

Bahkan sesekali, Aisa mengajarinya sesuatu yang baru baginya.

Mizuki belajar pelan-pelan. Tidak terlalu cepat. Tapi tidak pernah berhenti.

-----------

Beberapa hari kemudian...

Mizuki sekarang sudah lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan kemampuan menirunya sudah lebih cepat dan akurat.

Suatu pagi, setelah latihan rutin, Aisa memanggilnya.

"Kemari,"

Mizuki mendekat.

Aisa menyentuh bahunya. Satu per satu, kertas-kertas yang selama berhari-hari menempel di tubuh Mizuki mulai ia lepas.

Setiap kali kertas itu terlepas, Mizuki merasakan tubuhnya semakin ringan. Seperti beban tak terlihat yang selama ini ia pikul, kini diangkat perlahan.

Kertas terakhir jatuh ke tanah.

Mizuki menarik napas. Ia melompat kecil.

Biasanya lompatan itu berat. Kaki seperti terikat. Tapi sekarang...

"Ringan..." ucapnya hampir tidak percaya.

"Tubuhku terasa sangat ringan,"

Aisa mengangguk. "Karena selama ini kau latihan dengan beban berat yang menempel di tubuhmu. Sekarang beban itu diangkat. Tubuhmu sudah terbiasa dengan kondisi berat. Saat normal, kau akan terasa lebih cepat dan lebih lincah,"

Mizuki mengepalkan tangannya. Membuka. Mengepal lagi.

Ada energi kecil yang mengalir di antara jari-jarinya. Tidak sekuat Aisa. Tapi itu miliknya.

"Apa latihan selanjutnya, Kak?" tanya Mizuki.

Aisa tersenyum kecil.

"Besok tidak ada latihan. Sudah waktunya untuk kembali ke dunia asalmu,"

Mizuki mengerjap. "Dunia asalku? Apa maksudnya?"

"Kau tidak menyadarinya? Kau berada di dimensi luar dari dunia manusia,"

"Aku tidak mengerti," kata Mizuki jujur.

"Yasudah. Lagian aku yang akan mengantarmu. Sekarang siapkan keperluanmu,"

Mizuki mengangguk. "Baiklah,"

Ia berbalik menuju rumah pohon.

"Tunggu,"

Mizuki menoleh. Sebuah kantong kecil melayang ke arahnya. Dengan reflek, ia menangkapnya.

"Gunakan uang itu sebaik mungkin. Kau tidak mau kelaparan saat mencari ibumu, kan?"

Mizuki menggenggam kantong uang itu. Hangat. Masih ada sisa suhu dari tangan Aisa.

"Terima kasih, Kak Aisa,"

"Sama-sama,"

Mizuki menatap Aisa beberapa saat. Lalu ia berlari. Tidak mau Aisa melihat air mata yang mulai menggenang.

Setelah Mizuki pergi.

Angin berembus. Daun-daun berguguran.

Aisa masih berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak. Tidak berkedip.

Dari balik pepohonan, langkah kaki terdengar.

Seorang perempuan keluar dari balik pohon.

"Halo... saudariku," ucapnya dengan jelas.

Mendengar itu, Aisa menoleh ke arahnya.

"Kamu..."

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!