Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Winda telah bersiap-siap untuk kembali berangkat ke Jakarta. Bapak dan Ibu Kino mengantarkan Winda sampai ke ujung jalan.
"Bapak Ibu, Winda berangkat dulu ya," kata Winda berpamitan sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Iya Nak, kamu hati-hati di jalan. Sampaikan salam ibu dan bapak untuk ibu Ami." kata ibu Kirno.
"Insya Allah Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Winda segera naik angkutan kota yang hendak membawanya ke terminal. Sesampainya di terminal, bus yang akan membawanya ke kota Jakarta telah menunggu. Winda sengaja berangkat pagi supaya begitu sampai di Jakarta tidak terlalu malam.
Setelah menempuh sepuluh jam perjalanan, Winda telah sampai di Jakarta. Tanpa menunggu lama lagi, Winda naik taksi menuju rumah kontrakan Septi.
"Assalamualaikum ...."
Winda mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah. Tak ada jawaban. Winda lebih kencang mengetuk pintu.
"Waalaikumssalam. Iya sebentar."
Terdengar suara Septi dari dalam. Ketika membuka pintu, Septi terkejut melihat siapa yang datang.
"Ya ampun Winda, kamu datang. Aku kangen banget sama kamu," kata Septi sambil memeluk Winda. Winda tersenyum sambil membalas pelukan Septi.
"Iya, mbak. Aku juga kangen sama mbak Septi."
"Yuk, masuk."
Septi melepaskan pelukannya dan mengajak Winda masuk ke dalam rumah sambil membawa tas yang berisi pakaian.
Septi membawa membuatkan secangkir teh untuk Winda.
"Minum dulu tehnya selagi masih hangat," kata Septi menyerahkan cangkir teh itu kepada Winda.
"Terima kasih Mbak."
Winda menerima cangkir teh itu dan meminumnya.
"Oh ya Win kamu mau kerja lagi ke tempat Pak Radit?" tanya Septi setelah Winda meletakkan cangkir tehnya di meja.
"Enggak mbak."
"Terus tujuan kamu datang ke sini apa?"
"Aku punya misi kemanusiaan Mbak."
"Misi kemanusiaan? Maksud kamu apa?"
"Aku kesini mau menjenguk Tante Ami. Kemarin Kak Vika telepon aku katanya Tante Ami sakit dan mau ketemu aku."
"Kamu nanti ketemu Pak Radit dong."
"Ya mau gimana lagi. itu kan rumah dia. lagian tujuan utama ke sana bukan untuk dia melainkan untuk Tante Ami."
"Oh gitu. Ya udah sekarang kamu istirahat dulu ya. Pasti kamu capek kan!"
"Iya mbak. aku juga udah kangen sama kasur dan kamar itu. Masih kosong kan?"
"Ya masih lah emang siapa sih yang mau menempati."
Winda tertawa mendengar perkataan.
"Ya udah ya Mbak aku kamar dulu."
"iya."
Winda segera bergegas menuju ke kamarnya. Winda mengedarkan pandangannya menyusuri sudut kamar yang telah beberapa bulan lalu menjadi tempat melepas lelah. Karena sangat capek, Winda pun lekas tertidur pulas.
####
Pagi harinya. Winda tengah sibuk di dapur membuat sarapan.
"Ngapain, Win?" tanya Septi menghampiri Winda.
"Ini mbak, lagi bikin nasi goreng buat sarapan."
"Oke. Aku mandi dulu ya."
"Iya, mbak."
Septi masuk kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk berangkat kerja. Selesai bersiap, Septi menuju meja makan untuk sarapan.
"Oh iya Win, jadi hari ini kamu ke rumah pak Radit?" tanya Septi di sela-sela sarapan.
"Iya, mbak. Jadi."
"Jam berapa ke sana?"
"Mungkin nanti agak siangan."
"Ya udah kalau gitu aku berangkat kerja dulu ya."
"Iya mbak. Hati-hati di jalan."
"Oke. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Septi pergi keluar rumah untuk menuju ke tempat kerjanya. sepeninggal Septi Winda kembali ke kamarnya untuk merapikan pakaiannya yang semalam masih berada di dalam tas. setelah selesai semua Winda pun segera mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah tante Ami.
Dua jam kemudian. Winda telah sampai di rumah Tante Ami. Winda memastikan bahwa mobil yang biasa dinaiki Radit dan Vika tidak ada di rumah. setelah dirasa aman Winda segera menuju pintu gerbang. Linda melihat Pak Asep sedang memangkas rumput tak jauh dari gerbang.
"Assalamualaikum Pak Asep," siapa Winda. Pak Asep terkejut dan menoleh ke arah gerbang. ketika tahu siapa yang datang Pak Asep segera menghampiri Winda dan membukakan pintu gerbang
"Waalaikumssalam. Eh Mbak Winda. mari masuk Mbak."
"Terima kasih Pak."
Winda segera masuk. dia melihat berkeliling seolah-olah mencari sesuatu.
"Cari siapa Mbak Winda?" tanya Pak Asep.
"Mas Radit sama Kak Vika sudah berangkat ke kantor ke kantor?"
"Iya Mbak. Mereka berangkat udah dua jam yang lalu. Mbak Winda terlambat datang sih."
Winda hanya tersenyum mendengar perkataan Pak Asep.
"Oh ya katanya tante Ami lagi sakit ya? Sakit apa Pak?"
"Oya Mbak Udah seminggu ini Nyonya Ami sakit, hanya saja enggak tahu sakit apa. Kata Isah, beliau panggil-panggil Mbak Winda terus."
Winda hanya terdiam mendengar penuturan Pak Asep. Dia tak menyangka apa yang menimpanya akan membuat Tante Ami syok.
"Mbak Winda, ada apa?" panggilan Pak Asep menyadarkan Winda dari lamunannya. Winda tersenyum.
"Enggak ada apa-apa pak. Kalau begitu aku percaya ke dalam dulu ya pak. mau jenguk Tante Ami."
"Silakan Mbak."
Winda berlalu meninggalkan Pak Asep seorang diri. Dia menuju ke rumah utama.
"Assalamualaikum,"
Winda mengucapkan salam sambil menekan bel pintu.
"Waalaikumssalam."
Terdengar suara Isah menyambut salam dari Winda. ketika membuka pintu dan tahu siapa yang datang Isah terkejut.
"Ya Allah Winda!"
Isah segera memeluk Winda. Dia sangat bahagia bertemu Winda kembali.
"Apa kabar mbak?" tanya Windows sambil melepaskan pelukan Isah.
"Kabar baik. Kamu sendiri bagaimana? kamu kemana aja baru kelihatan?"
"Alhamdulillah aku juga baik. kemarin aku baru pulang kampung Mbak nengokin orang tua."
"Oh gitu. Masuk yuk!"
Winda mengikuti langkah kisah menuju dapur, sebelum dia menemui Tante Ami.
"Mbak katanya Tante Ami lagi sakit ya? sakit apa?" tanya Winda.
"Iya Win. sudah seminggu ini beliau sakit hanya saja enggak tahu sakit apa."
"Kenapa nggak dirawat di rumah sakit?"
"Nyonya Ami yang nggak mau. Beliau panggil panggil nama kamu terus. Memangnya ada apa sih antara kamu sama nyonya Ami?"
Winda mengangkat bahunya.
"Enggak ada apa-apa sih Mbak. Oh ya aku mau jenguk Tante Ami, boleh?"
"Boleh. tapi sepertinya beliau lagi tertidur."
Windaa mengangguk. lalu dia menuju ke kamar Tante Ami. dengan perlahan Winda membuka pintu kamar.
"Assalamualaikum, tante."
Dengan perlahan Winda mendekati tempat tidur, di mana Tante Ani sedang terbaring. Winda duduk di kursi samping tempat tidur. Digenggamnya jemari tangan tante Ami. merasa ada yang menggenggam jemari tangannya Tante Ami membuka matanya, dan terkejut melihat Winda.
"Win ... Winda, benarkah ini kamu, sayang?"
"Iya tante. Ini Winda."
"Ya Allah Winda, akhirnya kamu datang juga sayang. Tante kangen banget sama kamu."
Tante Ami berusaha bangun dari tidurnya tetapi dicegah oleh Winda.
"Tante tidur aja."
Tante Ami tersenyum dan mengangguk. dia membelai pipi Winda. Tante Ami tak percaya orang yang dirindukannya datang. Winda meneteskan air matanya melihat keadaan tante Ami. Dia tak menyangka kejadian waktu itu akan membuatkan Tante Ami seperti ini.
meluncur ke cerita lainnya