Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 34
Ardhi dan Aya memacu kendaraannya membelah padatnya jalan raya. Mereka keluar dari kota besar menuju daerah pinggir kota Prancis
"Beib.. darimana kamu tahu orang yang membawa Ina bukan Papa? Aku saja tidak menyadarinya.." Aya membuka percakapan setelah keduanya terdiam cukup lama
Ardhi tersenyum
"Dia sangat pandai memanfaatkan perasaan seseorang. Karena terlalu senang bertemu Papa, kau jadi tidak melihat beberapa kejanggalan sayang."
Aya menoleh "Jadi kamu nggak seneng ketemu Papa?"
"Duuh bukan itu maksudku. Tentu senang, tapi aku lebih rasionalis bukan?"
"Hmm.."
Keduanya kembali terdiam melihat jalan yang seakan tiada berujung
"Papa tidak pernah menyebutku tuan Al Farobi.."
Aya menoleh "Apa?"
"Kejanggalan pertama, Papa tidak pernah menyebutku tuan Al Farobi. Kedua, kalau Sam pergi ke Belanda pastilah Papa ikut karena semua keluarga besar ada di sana. Ketiga.. Papa sangat sehat dan fit setelah menempuh perjalanan belasan jam. Biasanya Papa langsung check up ke dokter dulu."
"Woow.." Aya menggeleng "Aku bahkan tidak menyadarinya.."
"Yang penting sekarang kita sudah dekat dengan posisi Ina. Kamu tunggu di mobil ya." Perintah Ardhi
"Maaf pak Al Farobi, aku menolak. Aku juga ikut masuk. Tenang saja, aku tidak akan merepotkan." Kata Aya sambil mengancingkan jaketnya
Ardhi menghela nafas. Kalau sudah begini, Aya tidak akan merubah pendapatnya.
Mobil Ardhi berhenti di pepohonan. Sekitar 200 meter terlihat bangunan rumah besar diantara pepohonan pinus
"Berhenti di sini. Ayo turun. Ingat, harus tetap di dekatku ya." Kata Ardhi mengingatkan Aya.
Wanita itu mengangguk lalu menyusul Ardhi turun. Keduanya mengendap-endap mendekati bangunan besar itu
Trek!!
Ardhi dan Aya menoleh ke arah sumber suara. Ardhi dengan sigap menodongkan senjata yang ia bawa ke arah suara itu sambil tangan lainnya menjaga Aya untuk tetap di belakangnya
"Beib, penguntit..." bisik Aya sambil mencengkram lengan Ardhi
Ardhi memberi isyarat diam dengan menempelkan telunjuknya di bibir. Keduanya bersembunyi di balik pohon saat terdengar suara langkah
"Satu..dua..tiga.." hitung Ardhi dalam hati, pria itu lalu keluar dari tempat persembunyiannya sambil menyerang sang penguntit
Bugh!
Tinju Ardhi berhasil di tahan oleh sang penguntit. Mata Ardhi terbelalak saat mengetahui identitas sang penguntit
"Kau…"
***
Ina terpaku melihat Felix menyeringai di bawah tangga
"Mungkin yang lain bisa kau bohongi, nona.. Tapi tidak dengan Felix.."
Ina berpegangan pada susuran tangga saat Felix mendekatinya. Ina melirik, jarak lantai tidak terlalu jauh. Saat Felix makin dekat dan hendak menggapainya, gadis itu melompat melewati susuran tangga ke lantai
Tap! Mendarat sempurna!
Felix terkejut melihat gadis berkerudung yang terlihat anggun itu ternyata lincah bagai kancil. Ina tidak buang-buang waktu, di cincingnya gamisnya lalu gadis itu segera berlari menuju pintu keluar
Seorang bodyguard menahannya. Gadis itu dengan lincah menghindari tangkapan bodyguard itu sambil mengayunkan tendangannya. Kena! Bodyguard itu terduduk sambil memegang ulu hatinya yang nyeri
Ina kembali berlari. Semakin dekat dengan pintu.. sedikit lagi..
DOR!
Ina terkejut melihat pintu kayu di depannya rusak tertembak. Gadis itu menghentikan larinya dan berbalik melihat Felix yang mengacungkan senjata. Nafas gadis itu tersengal
"Bergerak sedikit, peluru ini akan bersarang di tubuhmu nona."
Ina terdiam saat Felix mengangkat dagunya dengan ujung pistol
"Cantik dan bersemangat.. "bisik Felix sambil membelai pipi Ina. Refleks Ina menghindari tangan Felix membuat pria itu terbahak
"Felix.. saatnya membawa gadis itu ke kamar besar." Kata salah seorang bodyguard
"Ayo!" Felix menarik kasar tangan Ina. Gadis itu memberontak sambil memukuli tangan Felix
"Lepas..sakit.." kata Ina yang masih berusaha agar dirinya tidak ikut tertarik. Felix mendecih sambil menatap Ina
"Ck menyusahkan saja."
Pria itu langsung memanggul Ina di pundak, tidak memperdulikan teriakan dan rontaan Ina. Felix terus berjalan menuju kamar besar yang dimaksud
***
Lean terbelalak mendengar pengakuan Harry
"Jadi kau.."
Harry menatap Lean
"Benar..akulah yang menyuruh membunuh Louise dan Indira."
Lean menggeram
"Kenapa..kenapa kau lakukan itu?!"
Harry mendesah
"Louise menyelidiki perputaran narkoba kan.. sudah kubilang, dia membahayakan jaringan, membahayakan diriku." Harry menatap Lean lekat.
"Jadi kau otak dari perdagangan narkoba itu…"
Harry terbahak
"Pintar. Karena itu akupun tidak ingin kasus Louise kembali terkuak." Harry menghampiri Lean lalu membelai kepala Lean. Refleks pemuda itu menghindar. Harry segera mencengkram rahang Lean, membuat pemuda itu meringis
"Katakan cucuku sayang, dimana kau simpan data-data untuk polisi? Aku akan bermurah hati tidak membunuhmu."
Mata mereka bertatapan. Keduanya sama-sama memiliki mata biru keabu-abuan yang tajam. Siapa sangka akan berakhir seperti ini.
Lean mendesah
"Akan kuberi tahu, kakek..mendekatlah."
Harry mendekat, Lean membisikkan sesuatu
"Pergilah ke neraka.."
Secepat kilat Lean mengayunkan tangannya yang sudah terbebas dari borgol mendorong dan meninju Harry. Pria tua itu terhuyung ke belakang
Lean dengan sigap melempar pin mansetnya ke arah tangan bodyguard Harry yang mengacungkan senjata. Tangan bodyguard itu tertusuk pin manset. Senjatanya terjatuh.
Dengan cepat Lean berguling memungut senjata itu lalu menembakkan ke arah bodyguard-bodyguard Harry yang lain. Tidak membunuh, hanya menembak tangan mereka agar senjata mereka terlepas dan tidak bisa menembak untuk sementara
Harry terkejut saat bodyguardnya dilumpuhkan begitu mudah oleh Lean. Saat pria itu bangkit, Lean segera menodongkan senjata ke arah Harry
Keduanya saling berpandangan dengan nafas menderu
"Kau.." desis Harry
Lean menyeringai. Tidak sia-sia ia mempelajari semuanya dari Leo
"Menyerahlah kakek. Ayo bawa aku keluar dari tempat ini dan aku akan meringankan tuntutan pada kakek."
Harry menyeringai
"Kau mengancamku? Tidak ada yang pernah bisa mengancam seorang Knight."
Lean mendekatkan senjatanya ke arah Harry, membuat pria itu seakan menahan nafasnya
"Hanya seorang Knight yang bisa mengancam seorang Knight, bukan begitu kakek?"
Harry tertawa terbahak-bahak
"Kau benar sekali nak.. Bawa masuk!" Perintah Harry pada seseorang di luar
Lean berpindah tempat untuk melihat ke arah pintu, masih dengan menodongkan senjata ke arah Harry.
Pintu terbuka, terdengar jeritan seorang gadis yang membuat darah Lean berdesir
"Tidak.. semoga bukan dia.." bathin Lean
"Lepaskan! Tidak sopan!!"
Terlihat Felix datang memanggul seorang gadis di bahunya. Felix menurunkan gadis itu lalu membalikkan tubuh gadis itu menghadap ke arah Lean. Pinggang gadis itu dipeluk erat oleh Felix agar tidak bisa lari kemana-mana sementara sang gadis masih meronta
Lean membeku menatap mata yang juga menatapnya
"Ina.." desis Lean
"Abang…" desis Ina
Harry menyeringai melihat Lean lrngah, dengan sekali sentak senjata yang dipegang Lean terjatuh. Pria itu langsung meninju Lean hingga terhuyung menabrak tembok
"Bang Lean!" Jerit Ina
Harry tertawa
"Hanya seorang Knight yang mampu mengancam seorang Knight. Betul sekali, Alexander. Sekarang kau bisa apa?" Tanya Harry
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...