NovelToon NovelToon
La Señorita

La Señorita

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:15M
Nilai: 4.9
Nama Author: Alianna Zeena

Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.

Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.

Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

La Señorita 33 : La Promesa del Jaguar

Vote sebelum membaca😘😘

.

.

Kaki itu melangkah lebar, pagi yang sibuk untuknya. Mendapat kabar mengerikan membuatnya dengan cepat datang ke rumah sakit. Di lantai yang sama dengan Lucia, seorang pria tua tengah sekarat akibat tembakan di perut. Dia berlari, hingga akhirnya sampai di ruang operasi bagi pasien VVIP.

"Bagaimana keadaannya?"

"Pelurunya tidak mengenai organ penting, Señor Andrean selamat, dia hanya butuh istirahat."

Norman tidak bisa berhenti mengeluarkan napas lega, matanya terpejam sambil mengusap keringat di dahi. "Gracias," ucapnya pada dokter itu. 

Dia mengintip dari pintu kaca, dimana di sana Andrean terlelap. Norman yang berdiri di lorong, melihat Louis yang keluar dari pintu lain. Dia segera mendekati majikannya, rahang Norman mengatup merasa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Señor."

"Apa benar apa yang aku dengar?"

Norman menunduk. "Maaf, Señor."

Louis mengeluarkan napas berat, tidak seperti perkiraan Norman. Pria didepannya benar-benar berubah, mungkin karena dua sosok perempuan yang masih bergemul di bawah selimut menunggu sinar matahari membangunkan mereka.

"Kau sudah makan?"

Norman kembali tertegun. "No, tidavía no."

"Ikut denganku," ucapnya membawa Norman ke dalam ruangan Lucia, di mana pemilik manik biru itu masih terlelap di atas ranjang bersama buah hati mereka.

Louis mengambil roti, dia melemparnya pada Norman. "Makanlah, jangan sampai kau sakit dan membuatku susah."

Sebuah perhatian yang jarang Norman dapatkan selama dia bekerja bersama Louis, umurnya dibawah pria itu, Norman belajar banyak dari Louis. Dan kini pemilik manik hitam itu mengajarkan sesuatu yang aneh padanya, tentang kepedulian.

"Cari Ricco dan pria sialan itu, aku yakin mereka belum jauh."

"Sí, Señor."

"Dan, kita harus dapatkan buku silver itu."

Dengan termenung, Norman menjawab, "Sí."

Pria latin itu tetap diam di tempat dengan roti yang dia pegang, pikirannya melayang memikirkan apa yang akan terjadi jika Louis tahu siapa ayah kandungnya. Bagaimana jika dia membunuhnya dengan kejam, karena sebenarnya pria yang menjadi ayahnya tidak layak mendapatkannya.

Heran dengan Norman yang masih di kamarnya, Louis bertanya, "Kenapa kau masih di sini?"

"Bolehkan aku bertanya, Señor?"

"Ya, apa yang ingin kau tanyakan?"

Norman terdiam sesaat, dia berdehem. "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu ayah kandungmu?"

"Kau tahu apa yang akan aku lakukan, aku akan membunuhnya."

"Bagaimana jika dia punya alasan kuat meninggalkanmu dan ibumu?"

"Alasan seperti apa? Selama 30 tahun lebih hidupku aku belum menemukan jawaban."

Keterdiaman, termenungnya Norman membuat Louis kembali bertanya, "Apa ada yang ingin kau sampaikan?"

"Tidak, Señor." Lalu dia bergegas pergi keluar dari sana.

Lucia yang sedari tadi memang sudah bangun itu bergerak, mendudukan dirinya dan menatap Louis yang berdiri dekat jendela. "Apa yang terjadi?"

"Tidurlah kembali."

"Kenapa ribut-ribut?"

Saat Lucia hendak turun, Louis segera mendekat dan mencegahnya untuk memperbanyak gerakan. "Lepaskan aku, jangan pegang aku."

Pemilik manik hitam itu memutar bola matanya malas, merasakan Lucia kembali pada tingkah sebelumnya. Louis menggaruk keningnya yang tidak gatal dan membiarkan Lucia duduk di sofa. 

"Tidur lagi."

"Apa yang terjadi?" Kepalanya mengadah menatap Louis yang berdiri tepat di depannya. "Apa yang terjadi, Louis?"

"Ricco menembak Andrean, dia baru selesai di operasi."

"Apa?" Lucia berdiri seketika, membuat Louis menekan kepala pemilik manik biru itu hingga kembali duduk. 

"Diam dan jangan kemana-mana, tunggu Louisa di sini."

"Kau sendiri mau kemana?" Tangannya menahan Louis untuk melangkah. "Aku ikut."

"Tunggu Louisa, bagaimana jika dia terbangun sendirian?"

"Nanny ada di depan 'kan? Aku ikut, aku ingin melihat keadaan Andrean," ucapnya melangkah mendahului.

Louis menggeleng dibuatnya, tingkah Lucia benar-benar menyebalkan. Dia pintar memanfaatkan momen. Seakan tahu dirinya akan menuruti apapun karena janin itu, padahal sebelumnya Louis sudah tahu Lucia mengandung.

Sebelum keluar menyusul perempuan bermanik biru itu, Louis membenarkan posisi tidur Louisa yang terlentang dengan mulut terbuka. Beberapa kali dia menepuk bibirnya. "Tutup mulutmu, Little Bunny, tenggorokanmu bisa kering."

Seakan mendengar, Louisa melakukannya lalu membalikan badan membelakangi Louis. Dia mencium puncak kepala putrinya sebelum keluar dari ruangan.

Louis dibuat terkejut dengan Lucia yanh berdiri tepat di depan pintu, tubuhnya yang kecil, bahkan sebatas dada Louis, membuatnya hampir tidak terlihat. "Ada apa?"

"Dimana ruangannya? Aku malu sendirian."

"Kau ingin bergandengan?"

Tatapan Lucia turun pada tangan Louis yang terulur, perempuan itu mendengus. "Tidak mau," ucapnya kembali melangkah lebih dulu di koridor.

Louis terkekeh pelan, dia mengikuti dari belakang. Hingga Lucia melewati letak sebenarnya, Louis bersiul hingga perempuan yang memakai baju tidur rumah sakit itu membalikan badan, dengan memasang wajah heran. Pipinya merah mengetahui dirinya salah, Louis menunjuk pintu yang benar, "Ini ruangan Andrean," ucap Louis kini mendahului masuk.

Melihat sosok pria tua yang sudah sangat lama bersama dirinya, selang oksigen menghiasi, mata Andrean terbuka menatap sinar matahari yang muncul di depannya. Dia sadar kedatangan Louis. "Señor…."

"Tetap di tempatmu, Andrean," ucapnya sambil mendekat. Manik Louis menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala Andrean. "Hanya perutmu yang terluka?"

"Ya, ini juga dikarenakan aku sudah tua."

"Mungkin sudah saatnya kau libur, Andrean."

"Tidak, Señor," ucap suara tuanya yang pelan. "Aku dengan senang hati jika bisa melihat anak-anakmu tumbuh besar."

"Kau sudah terlalu tua untuk melakukannya, aku akan membuatkan rumah untukmu."

"Tidak, Señor." Matanya memperlihatkan jelas ketidakinginannya akan hal itu. "Aku masih ingin bekerja denganmu, aku senang jika kau memberiku kesempatan melihat anak-anakmu tumbuh."

Louis dengan wajahnya yang datar berucap, "Baiklah, terserah padamu, Andrean."

"Gracias, Señor."

Ketika Louis membalikan badan, dia kembali dihadapkan dengan Lucia. Pria itu memegang kedua bahu Lucia. "Ayo biarkan Andrean beristirahat."

"Aku ingin bicara dengannya," desis Lucia menguatkan pegangan tangan Louis di bahunya. 

"Dia akan istirahat."

"Matanya terbuka."

"Aku tidak apa-apa, Señor. Señorita bisa bicara denganku."

Lucia memperlihatkan wajah penuh kemenangannya, dia menyingkirkan tangan Louis. "Lihat Louisa, aku rasa dia bangun."

Kalimat itu yang membuat Louis terpaksa pergi, meninggalkan Lucia yang kini berdiri di samping Andrean. "Apa yang terjadi, Andrean?"

"Ya, seorang musuh Señor Louis menembakku."

Lucia mendesah pelan. "Kasihan sekali dirimu, kenapa kau tidak menerima tawaran Louis tentang rumah pensiun?"

Mengalihkan pembicaraan, Andrean balik bertanya, "Kau hamil? Aku sudah menduga itu, selamat untuk purra kedua De La Mendoza."

Raut wajah Lucia menjadi kecut. "Aku tidak pernah menginginkan hal ini, Andrean."

"Tapi kau senang bukan melihat Louisa mendapatkan apa yang diinginkannya?"

"Ya, tapi aku juga ingin mendapatkan apa yang aku inginkan."

"Apa yang kau inginkan, Señorita?" Kebungkaman Lucia membuat Andrean melanjutkan. "Kau ingin Señor Louis mencintaimu 'kan? Dia melakukannya Lucia, kenapa kau tidak menerima lamarannya?"

"Aku tidak bisa, aku masih meragukan rasa cintanya."

"Dia sangat mencintaimu, Lucia, kenapa kau tidak menerimanya saja?"

Lucia terdiam. "Masih ada Penelope di hatinya, aku ingin menunggu sampai dia benar-benar hilang dan hanya mencintaiku. Dia bilang aku nyawanya, waktu akan membuktikan segalanya."

***

"Mum, kapan Daddy akan pulang?"

Pertanyaan yang membuat jantung Lucia berdetak kencang, pasalnya dia juga tidak bisa menjanjikan kapan datangnya Louis. Dia menatap ponsel, tepatnya pada bagian tanggal. Terhitung sudah tiga hari pria itu meninggalkan dirinya dan Louisa. 

Kalimat ini yang dikatakannya sebelum pergi. "Aku akan membereskan mereka yang mengancam keselamatanmu dan Louisa."

Dan sampai detik ini, Lucia belum mendapatkan kabar apapun. Bertukar pesanpun tidak. Pernah sekali Lucia mencoba menghubungi Louis, tapi pria itu tidak menjawab pesan ataupun mengangkat telponnya. 

"Dia akan segera pulang," jawab Lucia yang sedang berbaring miring, menghadap Louisa yang sedang bermain orang-orang sekecil ibu jarinya. Tangan Lucia terangkat untuk menyelipkan anak rambut putrinya sebelum mengelus perutnya yang datar. "Bersabarlah, dia akan segera pulang."

Lucia tidak bisa berbohong kalau dia merindukan pria itu, dia merindukan rayuan-rayuan dan kata-kata manis yang tidak pernah Louis sampaikan sebelumnya. Membuat Lucia kecanduan, menjungjung tinggi ego sampai dia selalu menolak Louis untuk menikahinya.

Padahal, alasannya sudah jelas, Louis sudah mengungkapkan perasaan ditambah dengan dirinya sedang hamil. Namun, entah kenapa alasan itu tidak terlalu kuat baginya. Lucia masih enggan memasuki ruang pernikahan, ada sedikit ketakutan juga keraguan. Bertanya dalam pikiran, 'Apakah benar Louis mencintaiku? Aku butuh bukti lebih banyak lagi.'

"Mum…"

"Ya, Sayang?"

"Lee ingin melihat wajah Daddy, seperti yang selalu kita lakukan sebelumnya."

Lucia mengembuskan napasnya pelan, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Louis kembali. Sayang, pria itu tidak menjawab. Dan Lucia harus memberikan jawaban seperti sebelumnya, "Sepertinya Daddy sedang tidur karena lelah bekerja."

Membuat manik hitam Lucia menatap keluar jendela yang terbuka, menampakan langit kelam. "Ini sudah malam?"

"Ya, dan ini saatnya Lee tidur, oke?"

"Lee ingin menunggu Daddy sebentar lagi, Mum."

"Sayang…." Lucia mendudukan dirinya. "Daddy tidak akan pulang malam ini, kau harus tidur."

"Bagaimana jika Daddy tidak datang-datang seperti saat kita di Palma?"

Tentu saja kalimat itu mengingatkan Lucia akan sakitnya yang dia lewati selama berada di Pulau itu. Dia mengusap pipi putrinya, menggendongnya dan menurunkannya ke atas ranjang. Dia menutup jendela, tapi membiarkan gorden terbuka. "Ayo tidurlah, ini sudah larut."

"Lee rindu tidur bersama Daddy," ucap bibir kecilnya.

"Berbaliklah menatao keluar jendela."

Louisa melakukannya, dia membiarkan ibunya mengusap punggungnya. "Lihat keluar sana, ada bintang 'kan?"

"Ya…."

"Mum yakin Dad juga sedang menatap bintang."

"Benarkah?" Mata hitamnya menatap Lucia sesaat, senyumannya melebar saat mendapatkan anggukan. 

"Ya, kalian tidur bersama. Dia suka bintang bukan?"

"Ya, Daddy bilang bintang seperti mata Mum yang bersinar."

Lucia menghentikan gerakan tangannya, dia tersenyum lalu mencium kepala putrinya. "Tidurlah, Sayang, besok akan menjadi hari yang baru untukmu."

Setelahnya Lucia menyelimuti putrinya, dia mematikan lampu dan keluar dari kamar itu. Lucia menyandarkan punggungnya di pintu, sambil mengusap perutnya yang masih datar. "Tuhan, jangan biarkan pikiranku kacau, tolong hilangkan rasa gundahku."

Sekali lagi, Lucia mencoba menghubungi Louis dengan kecemasan di wajahnya. Seperti Louis, Norman juga tidak mengangkat panggilannya. Dia melangkah gontai ke kamar. Di walk in closet, tepatnya di nakas depan kaca besar, di sana ada buket yang sudah layu beserta cincin safir yang diperuntukan bagi Lucia. Tulisannya masih sama. Dia mengingat Louis berkata, "Aku harap kau akan memakainya saat aku kembali."

Di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Louis meneguk vodka, matanya berkeliling menatap beberapa orang yang mempertaruhkan uang demi keberuntungan. Hidup di Casino bukanlah hal yang mudah, berkali-kali mata hitam itu menangkap pria yang kalah taruhan dan marah besar.

Kemudian sosok berjas abu mendekat, dia memakai kumis palsu, dengan kacamata hitam. Duduk di samping Louis, berlaga tidak mengenal satu sama lain.

"Bagaimana kondisinya?" Tanya Louis.

"Dia masuk ke ruangan lantai dua, dengan kepingan uang yang akan dia pertaruhkan," jawab Norman memberi isyarat pada bartender untuk membuatkannya minuman.

"Berapa kali dia akan bermain?"

"Dia memiliki waktu yang panjang." 

"Punya tanda bukti?"

Norman menerima minuman dari bartender, dia membalikan badan hingga duduk membelakangi bar. "Dia menarik uang dari akun bank di Skotlandia, dan itu adalah dana pemerintah untuk membuat tank pertahanan," bisik Norman membuat Louis tersenyum miring.

"Bagaimana dengan Alejandro dan Paolo?"

"Alejandro berhasil menjadi seorang senator, dan Paolo bersama dengan ikan."

"Oke…" Louis menatap jamnya. "Saatnya aku memantau," lanjutkan kemudian melangkah menatap setiap permainan di Casino.

Bertaburan pria-pria berjas yang diikuti wanita-wanita seksi untuk mendapatkan uang. Ratusan bahkan jutaan dollar mereka taruhkan demi keberuntungan. 

Louis mendekati salah satu pria yang baru saja selesai dengan permainannya, wajahnya terlihat mengenaskan. "Holla, Señor, sepertinya anda sedang tidak beruntung malam ini?"

"Siapa dirimu?" Kepalanya mengadah menatap Louis yang berjas hitam, sekelam kemeja dan maniknya. "Beraninya menyentuhku."

"Aku punya sesuatu untuk uang koinmu dalam sakuku," ucap Louis mengeluarkan sebuah kalung permata dari sakunya. "Ini cukup untuk bertaruh 'kan? Menggantikannya dengan benda-benda bulag itu."

"Apa yang kau inginkan?"

Louis mendekat, dia menunduk agar bisa membisik, "Naiklah ke lantai dua, ada permainan dengan peluang besar dan taruhan menggila. Kau bisa memainkannya di sana, aku memberinya percuma."

Pria tua berkepala plontos itu masuk ke dalam jebakan, dia lari ke tempat yang Louis maksud. Sementara pemilik manik hitam itu memilih bermain sesaat menunggu kekacauan di atas sana. 

Hingga tiga puluh menit kemudian, saat Louis sudah memenangkan beberapa juta dollar, terdengar suara keributan dari atas. Louis tersenyum miring dan meninggalkan permainan.

Tangga menuju lantai dua ada dibagian belakang, dijaga oleh pria-pria bertubuh besar. Awalnya, mereka menghadang Louis, sampai pria itu akhirnya menurunkan kacamata dan membuat keduanya ketakutan. 

Louis naik, dia melewati lorong sebelum akhirnya sampai di pintu berwarna emas. Dengan pelan dia membuka, melihat jelas bagaimana seorang pria berjas biru memukuli pria lainnya dengan penuh amarah.

"Senior Aldehan," ucap Louis membuat pria itu menghentikan pukulan.

Dia menatap ke arah yang memanggilnya, matanya membulat melihat pria yang tidak asing baginya. "Kau….." jemarinya menunjuk pada Louis.

"Ya, aku Louis De La Mendoza, pemilik Casino ini."

"Sudah kuduga kau adalah dalang dibalik kekejaman Dioses La Asesino."

"Lalu?"

Pria berperut buncit yanh statusnya sebagai ayah Amelia itu tertawa, dia melihat teman-temannya yang sebelumnya ikut dalam permainan bersama dirinya. "Lihatlah kawan-kawanku, kalian akan menjadi saksi untuk mengadili pria bertopeng ini."

Louis tersenyum miring. "Kau akan didakwa atas penganiayaan."

Mata tua itu menatap pria yang sudah terkapar di lantai. Dia adalah pria yang sama yang Louis beri kalung berlian. "Lalu? Kejahatanmu lebih besar."

"Tidak, rekamanmu yang akan menggoncang dunia, Mentri."

"Tidak ada kamera di sini, anak buahku sudah memastikannya."

Tatapan Louis menuju pada teman sebaya Aldehan, yang membuat mereka bertiga berjalan dan berdiri dibelakang Louis. Aldehan tertegun seketika.

"Aku memiliki kamera, mereka merekamnya."

Ketiga orang itu memperlihatkan apa yang ada dibalik jas, telinga bahkan sepatu. Terdapat kamera kecil yang sangat tersembunyi di sana.

"Dan, Senior Aldehan, kau juga menggunakan uang pemerintah, aku punya bukti kau membeli apartemen dan real estate dari uang pertahanan negara."

Tangan Aldehan mengepal menahan amarah. Apalagi saat Louis mendekat. "Selain itu…." Dia mengeluarkan ponsel, memainkan sebuah video yang mana membuat Aldehan semakin naik pitam. "Kau akan dibuat malu saat video anakmu sedang melakukan hubungan badan tersebar. Ngomong-ngomong, pria dalam rekaman itu adalah Paolo, dia anak buahku."

Kembali melangkah mundur supaya melihat wajah marah Aldehan. "Aku tidak menginginkan banyak, kau hanya perlu mengundurkan diri secara baik-baik sebelum aku membongkar semuanya. Juga, kurung putrimu supaya tidak mempermalukanmu lagi."

"Kau…. Kau tidak akan pernah menguasai Madrid."

"Tidak, Senior, aku tidak menguasai Madrid, aku menguasai Spanyol, akan kusebar antek-antek Dioses La Asesinos hanya untuk mengawasimu bergerak sedikit saja."

"Kau akan hancur."

"Tidak, aku tidak akan hancur, karena aku adalah penghancur, pemimpin klan Dioses La Asesinos, aku adalah dewa para kematian, termasuk milikmu, Senior."

***

Tepat pukul empat dini hari, Louis masuk ke mansion yang sudah lama dia tinggalkan. Beberapa musuhnya yang memungkinkan untuk menyakiti keluarganya telah hilang. Tinggal satu lagi. 

Mendapatkan pesan seperti ini dari Norman di dini hari

04.00

Norman : Aku rasa Andy dan Ricco melarikan diri ke Amerika, aku akan mengejarnya.

"Shit!" umpat Louis dengan penuh amarah, tanpa dia ketahui ada sosok mungil yang mengintainya.

"Shit?"

Manik hitam Louis membulat, dia membalikan badan menatap Louisa yanh sedang duduk diantara sofa dan guci, dengan sepotong kue cokelat di tangannya. "Hei, Little Bunny, apa yang sedang kau lakukan?" Louis berjongkok.

"Shit?"

"No, no, no, itu kata yang buruk."

"Daddy mengatakannya."

"Itu kesalahan, Sayang," ucapnya mengambil Louisa ke dalam pangkuannya, dia duduk di sofa. "Apa yang sedang kau lakukan hum?"

"Lee lapar."

"Kenapa tidak membangunkan Nanny atau Mum, atau Lina atau--"

"Mereka terlelap, Daddy, mereka menjaga Lee di siang hari."

Louis tidak bisa berpaling dari manik hitam Louisa yang bulat, ditambah pipinya yang mirip dengan bakpao. "Kenapa Daddy lama sekali?"

"Apa kau merindukan Daddy?"

"Sangat," ucapnya dengan mata bulat. "Lee rindu Daddy."

Louis membalas pelukan hangat Louisa, dia mencium puncak kepalanya dan membawanya menuju lantai dua. "Ini sudah dini hari, kau harus kembali tidur, Sayang."

"Lee tidur bersama Daddy?"

"Daddy akan menemani Lee sampai tidur," ucapnya membaringkan putrinya di atas ranjang.

Sesuai janji, Louis berdiam di sana selama beberapa menit. Mulut Louis terus saja menceritakan kisah yang Louisa inginkan, ditambah beberapa nyanyian yang akhirnya membuat putrinya terlelap.

Dia mencium kening anaknya sebelum keluar dari sana. Louis melangkah lebar menuju kamarnya, dimana dia mendapati Lucia terlelap di sana. 

Louis mendekat, dia berjongkok supaya wajah mereka sejajar. Melihat dengan jelas bagaimana alisnya yang tebal, hidung mancungnya yang mungil dan bibirnya yang agak tebal. Sebuah kecantikan yang tidak bisa didefinisikan sebagai keindahan. Jauh di atas itu, Louis memilih memandang perut datar Lucia. Dialah perempuan yang Tuhan kirim untuk mengandung malaikat-malaikatnya.

Keberadaan buah hatinya membuat Louis ingin melangkah pada yang baik, setelah dia berhasil menyingkirkan semua yang mengancam.

Tanpa diduga, Louis mengeluarkan sebuah kalung berbentuk salib dan memakaikannya pada Lucia.

Tangannya menggenggam tangan pemilik manik biru itu. "Aku mungkin memimpin jaguar di luar sana, aku mungkin pembunuh berhati dingin, tidak ada yang mengatakan hal baik untuk pemimpin Dioses La Asesinos. Tapi, untuk memimpin sebuah keluarga, aku janji akan memberikan cinta dan kasih. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik, Lucia."

---

Love,

ig : @Alzena2108

1
Cheese Taro
jalan jalan dengan sepatu rodakuhhh
Budi Madridista
skrng 2026 baca lgi, tapi authornya udah gak prnah up 1 story pun lgi
Wayan apriani
Luar biasa
kereen
Wayan apriani
Lumayan
Anonim
kak dri 2020 nunggu karya yg kya gini lg kak
Bellz
kangen jdi baca ulang, Thor kapan comeback
Anonim
bodoh bgt si lucia ini tolol
wikha Sandra
🤣🤣🤣
riririrururu
Aku balik lagii🫶🏼🫶🏼🫶🏼
☘️⃟🆑🍾⃝🎐⃟ͧC͠ʜᴀᷫғͧɪᷠɪ̽ɴⷡᴛᷧ͜ᴀͤ
kan nangis lagi tiap sampai di part ini 😭😭😭😭😭
Indry
2025 aq download beberapa aplikasi novel buat cari lagi novel ini, salah 1 yg terbaik menurutku, pertama x baca beberapa taon lalu 😍
Indry
Pertama kali baca pas Covid skrg 2025 download apk ini buat cari la senorita 🤩
Indry
Aku instal lagi karna kangen mau baca la senorita 😍
Nur Janah
udah baca th 2022 , baca lagi sekarang th 2025 tpi heran ya gak lupa alurnya
Meli Pahliani
wanita bodoh dan lemah
Meli Pahliani
Lucia bodoh
Tantri Syawal
i hate this novel but i love this novel/Sob/
Tantri Syawal
aaaa wanita ini terobsesi dengan luis
Tantri Syawal
kenapa ceritanya merendahkan wanita 😭
Travel Diaryska
aleman emg lucia ini lama2, ga demen sama tsundere
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!