Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 34
Masalah yang belum selesai kini ditumpuk dengan rumor palsu. Begitu cepat tersebar ke penjuru negara. Itu membuat sang terkait hanya bisa tersenyum nanar, melihat layar handphonenya tanpa mengubah posisinya yang tengkurap di atas kasur. Tidak peduli bagaimana penampilannya saat ini.
"Hari libur ku benar-benar kacau." Pahit Yumna yang benar-benar tidak mau beranjak dari tempat tidurnya saat ini. Dan Yumna tidak ingin berangkat kerja. Kenapa Yumna semalam sangat ceroboh?
Spontan Yumna menutup kepalanya dengan selimut yang masih melekatkan pada tubuhnya, saat pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sosok pria tampan dengan wajah kusutnya, kacamata bulat yang bertengger sedikit miring. Khas orang yang baru saja bangun tidur.
"Yumna kau sudah bangun? Yumna katakan apa yang terjadi? Kenapa bisa wanita gila itu memposting foto mu dengan Lingga? Sebenarnya apa yang kau cari." Cerocos Rama yang seperti kereta itu semakin membuat Yumna malas menunjukkan wajah lelahnya saat ini.
Tapi bukan Rama namanya jika dia diam dan memilih pergi saat tidak mendapat tanggapan sedikit pun dari Yumna. Tangan kekar itu sedikit menyibak begitu saja selimut putih yang menutup kepala Yumna yang refleks mengganti posisi kepalany. Karena Yumna benar-benar tidak mau menjadi tersangka.
"Yumna!" Rama berusaha untuk tidak meninggikan suaranya. Karena posisi Rama semalam juga ada di sana. Hanya saja, Rama menyembunyikan tubuhnya untuk tidak diketahui oleh Yumna. Tapi jika Rama tahu akhirnya seperti ini, mungkin Rama akan melangkah mendekati Yumna dengan Lingga semalam. Agar rumor palsu itu tidak tersebar.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya membalas terguran dari Lingga." Balas Yumna, benar-benar malu saat keluar dari rumah. Karena sebagaian wajah Yumna terlihat dipostingan itu.
Dan saat itu juga Yumna dengan cepat merubah posisinya menjauh duduk bersila, menatap Rama yang sedikit terkejut melihat sikap Yumna. "Bukankah semalam kau juga ada di sana?" Ingat Yumna dan mungkin Rama akan berada di pihaknya, saat berhadapan langsung dengan Tirtha.
Diam sejenak, Rama menelan ludahnya. Raut wajahnya menyimpan seribu makna yang sulit untuk diutarakan. "Tidak!! Aku tidak ada di tempat itu?" Kepala Rama menggeleng pelan.
"Aku ada di tempat di mana kau melihat ku. Aku tidak mengikuti mu." Kebohongan itu sangat terlihat jelas di wajah Rama. Dan entah kenapa Rama masih bisa menggoda Yumna di saat situasinya tidak bisa diajak bercanda.
"Benarkah? Kau tidak mengikuti ku?" Alis Yumna naik keatas. Menatap lekat ke arah dua bola mata Rama. Untuk mencari titik kebohongan itu.
"Ohh! Aku tidak ada di sana." Tanpa menunggu tanggapan dari Yumna, kini Rama memilih keluar dari kamar saudaranya itu secepat mungkin. Sebelum Yumna melayangkan novel yang ada diatas meja belajar Yumna samping tempat tidurnya itu. Karena sudut mata Rama dapat melihat gerakan tangan kanan Yumna yang dengan perlahan mengarah pada benda itu.
"Aish!!" Sebenarnya Yumna tidak ingin mengumpat. Tapi Rama membuat benaknya semakin kesal. Rasanya Yumna ingin menjambak sarang burung yang ada di atas kepala Rama.
"Bersiaplah secepat mungkin, karena kau harus menemui Tirtha saat ini juga." Seruan yang menggema dari Rama itu. Semakin membuat Yumna menaruh rasa ingin mengakhiri hidup Rama saat ini juga.
Kaki itu terus melangkah dengan kepala yang sedikit menunduk, membiarkan surai panjangnya menutupi wajahnya. Jika pun masker putih melamar pada wajah Yumna, wanita itu tidak memiliki kepercayaan diri untuk saat ini. Karena Yumna tidak mau orang-orang di sekitarnya melihat ke arahnya.
Dan hal itu membuat dia pria yang berjalan di belakang Yumna hanya bisa tersenyum dan berbisik akan tingkah Yumna yang terlihat sangat menggemaskan di pandangan mereka.
Tibanya di dalam perusahaan Yumna baru bisa menegakkan pandangannya. Karena dapat Yumna pastikan jika para staff karyawan di sana juga tidak akan percaya dengan apa yang anonim itu posting.
Dan dengan mandirinya, Yumna melangkah ke arah di mana ruangan Tirtha yang berada di lantai paling atas bangunan itu. Tanpa menunggu perintah, Yumna akan langsung menghadap Tirtha. Karena Yumna harus mengatakan apa yang telah terjadi, dan Yumna tidak lagi peduli dengan ancaman dari Natussa.
Karena wanita itu, Yumna dengan Lingga menjadi bahan utama topik hari ini. Banyak media yang menggiring opini tentangnya. Dan lebih parahnya lagi, media sosial Yumna begitu mudah ditemukan oleh penggemar Lingga yang terus menyudutkan Yumna.
Jika Yumna tidak pantas untuk Lingga. Dan Lingga begitu sempurna untuk Yumna.
"Wahhh! Bagaimana bisa mereka menulis seperti ini? Apa mereka tidak takut jika aku menuntut mereka? Monolog Yumna yang menyandarkan kepalanya pada dinding lift itu. Mengantarkan Yumna pada tujuan utamanya hari ini.
'Tidak ada yang sempurna di dunia ini' kalimat itu yang ingin sekali Yumna tulis untuk memberi balasan para penggemar fanatik itu. Tapi sebisa mungkin Yumna harus menahan jemarinya, agar tidak kebablasan. Jika pun niat membela diri sendiri itu sangat benar sama sekali.
Membuang napas berat, sembari menyimpan handphonenya didalam tas putih selempang itu. Yumna keluar dari lift dengan langkah lesu ke arah ruangan Tirtha yang langsung mendapati sekretaris Titha.
"Apa pak Tirtha ada di dalam?" Suara di balik masker dari Yumna tidak membuat sekretaris itu memandang tidak sopan cara Yumna bicara. Karena sang sekretaris tahu apa yang tengah terjadi.
"Dia baru saja datang. Masuklah, mungkin dia juga tengah menunggu mu." Balasnya dengan senyum cantik yang baru kali pertamanya Yumna lihat dari seorang sekretaris di perusahaan tempatnya bekerja.
"Terima kasih." Sopan Yumna, sekilas mengangguk. Kini berjalan sedikit untuk masuk ke dalam ruangan Tirtha, dengan hati yang membatin. "Orang secantik dia, kenapa Tirtha tidak tertarik?"
Tanpa ragu kepalan tangan kanan Yumna mengantuk pintu besar di hadapannya. Dan tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik ruangan, Yumna membuka pintu itu untuk masuk ke dalam yang membuat Tirtha menoleh ke belakang.
"Kau ingin memberiku penjelasan?" Sudut bibir Tirtha sedikit tersungging. Tapi Yumna tidak dapat melihatnya dengan jelas. "Duduklah, aku akan mendengarnya."
"Jika kau memberiku pesangon, aku akan menjadi benalu di rumah itu." Ucap Yumna sembari melangkah ke arah sofa yang kini Yumna duduki dengan damai.
Hal itu membuat Tirtha tertawa kecil. Karena merasa tingkah Yumna benar-benar masih seperti dulu, belum berubah sama sekali. Dan rasanya Tirtha ingin membawa wanita itu pulang ke rumahnya. Akan tetapi, Tirtha bisa melakukannya.
"Katakan tanpa harus kau tutupi. Kenapa kau bisa bertemu dengan Lingga semalam? Apa kau mendapat tugas dari Sella?" Kalimat itu keluar dari mulut Tirtha yang membuat Yumna mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
Tidak berpikir berulang kali, Yumna melihatkan pesannya bersama Natussa kepada Tirtha. Sedikit ragu mengambil alih handphone Yumna, yang berada di depan matanya atas meja.
"Dia meminta ku untuk menemuinya karena dia bersama Malla. Tapi nyatanya, dia malah membodohi ku. Seharusnya aku ingat saat memasuki perumahan itu. Tapi, aku melupakannya." Jelas Yumna dengan senyum getirnya.
"Darimana kau mendapat nomor handphonenya?" Benda persegi di tangan Tirtha, pria itu letakkan kembali di atas meja. Membalas tatapan Yumna.
"Aku mengirimnya pesan lewat media sosialnya. Aku mendapatkan dari sana." Yumna tidak akan menutupinya sedikit pun. Karena bertingkah sendiri tanpa mencari bantuan dari orang-orang berpengalaman itu menyulitkan hidupnya. Seharusnya sejak awal, Yumna mengatakan itu pada manusia-manusia baik di sekitarnya.