" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Meera sampai melempar asal ponsel nya ke atas ranjang begitu ia memasuki kamar nya.
Bagaimana tidak,di sekolah ia sudah cukup lelah menghadapi ocehan- ocehan orang tentang nya yang katanya telah di campakkan oleh pangeran Rafael.
Dan sejak setelah hubungan mereka berakhir, Rafael tak pernah absen mengirimi nya pesan, menghubungi nya hingga berulang kali,jika ia tak mengangkat panggilan telepon dari pria itu,maka akan di pastikan Rafael akan mengancam nya.
" Kok mukanya cemberut gitu? Bukan nya happy ya habis dari nonton bareng" nyonya Vanessa merasa heran saat melihat wajah murung Putri nya.
Sejak berakhirnya hubungan pertunangan Meera dan Rafael,sang mama lebih banyak meluangkan waktu bersama sang putri, keluarga mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama.
" Pangeran Rafael.....kenapa sih dia itu nyebelin banget,ganggu terus" ungkap nya dengan nada menggerutu.
Nyonya Vanessa mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang putri, pangeran Rafael? Ganggu? , maksud Meera apa? tanya beliau dalam hati, karena sejak pertunangan itu di batalkan,Meera hampir lak pernah lagi bercerita tentang Rafael,lalu kenapa sore ini.
Melihat wajah heran sang mama,Meera baru menyadari bahwa mamanya tak tau apa yang terjadi antara dirinya dan Rafael akhir-akhir ini, mereka sering berdebat dan bahkan sesekali hampir terjadi pertengkaran hebat.
" pangeran ga henti-hentinya nelpon dan kirim pesan,kan ganggu banget ma, padahal rencana kami sehabis dari nonton ga mau langsung pulang,katanya ada cafe yang baru launching, mereka tu ngajakin mampir sebentar" merah bercerita dengan nada yang sangat kesal.
" kan kamu bisa katakan pada pangeran bahwa kamu merasa terganggu dengan tindakan nya itu, walaupun pangeran melakukan itu mungkin karena ia khawatir sama kamu,kan memang sejak kecil dia selalu mengkhawatirkan kamu kalau jauh dari nya" nyonya Vanessa hanya dapat memberikan solusi.
Untuk bertindak lebih lanjut, beliau rasa sedikit sulit,biar bagaimanapun yang berurusan dengan putrinya itu adalah putra pemimpin negara itu,dan juga tindakan Rafael tidak mengancam atau merugikan Meera.
" Gimana mau bicara seperti itu pada batu" omel Meera bergumam namun masih dapat jelas terdengar di telinga mama nya.
Nyonya Vanessa menggeleng mendengar Omelan putrinya.
" Ya sudah deh,mama mau lanjut kerja,ada beberapa hal yang masih harus mama periksakan,kamu langsung mandi tapi jangan terlalu lama berendam,setelah selesai langsung turun makan malam " rasanya tak akan habisnya mengahadapi hubungan dua anak muda itu.
Meera mengagguk,setelah kepergian sang mama,ia langsung menuju kamar mandi, ia merasa harus merendamkan tubuhnya di air hangat, otot-otot nya terasa lelah,hampir seharian jalan bareng Cecilia, Gio dan teman-teman seniornya itu.
Gio akan kembali ke negara nya,maka itu beberapa hari terakhir ia terus membawa Meera, Cecilia dan teman nya yang lain jalan-jalan menikmati kebersamaan mereka,gio akan melanjutkan studinya di negara nya.
📥-" sampai rumah ingat langsung mandi,makan dan istirahat,kita masih ada waktu satu hari lagi kok, besok kalau kamu tidak keberatan aku mau ngajakin kalian barbeque an di mansion nenek aku" .
Meera membaca pesan dari Gio,ia baru selesai mandi dan melihat layar ponselnya menyala, melihat nama yang muncul Meera segera membukanya.
Meera belum sedikitpun memiliki perasaan lain pada Gio, walaupun sudah satu tahun lebih mereka saling mengenal,namun ia merasa nyaman berteman dengan seniornya itu, Gio selalu bisa ngertiin apa yang ia inginkan,dan tak terlalu banyak mengaturnya.
Sikap Gio terlihat begitu sangat dewasa saat mereka jalan bersama,dan lagi ia merasa nyaman karena tidak adanya pengawalan seperti saat ia bersama Rafael.
📤-" terimakasih kak,kakak juga sama ya,biar besok masih ada tenaga buat ajak kami senang-senang lagi" balas Meera .
Mata Meera melirik beberapa pesan yang masuk dari beberapa nomor yang tak ia save dan nomor pribadi Rafael juga.
📥" Ra..udah pulang?"
📥-" Ra..."
📥-" Ra... angkat telepon kakak,jangan buat kakak khawatir".
📥-" Nymera Elvaretta Lennox...."
Meera sampai menghela nafasnya saat membaca beberapa pesan masuk dari Rafael.
Ia memejamkan matanya menahan diri agar tidak berteriak karena terlalu emosi dengan kelakuan Rafael,menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan, itulah yang Meera lakukan sebagai solusinya.
Belum selesai ia dengan usahanya meredam emosi, ponselnya kembali berdering dan menampilkan nomor orang yang menjadi sumber pemicu emosinya.
Klik....
Meera mengangkat panggilan nya, langsung terdengar suara bariton yang sudah sangat ia kenal,Meera bisa merasakan Rafael tengah menahan emosi nya, bicara nya terdengar berat.
📱-" Ra..." panggil Rafael setelah terdengar ia menghela nafas berat,namun Meera masih belum menjawab.
📱-" Nymera Elvaretta Lennox..kamu mau..." belum selesai Rafael bicara,Meera sudah lebih dulu memotong ucapan pria itu dengan nada tinggi.
📱-" PRINCE RAFAEL BENITEZ YANG TERHORMAT TOLONG JANGAN HUBUNGI SAYA LAGI....AAAAA" Meera bahkan terdengar berteriak saat berbicara,dan berlanjut dengan ia yang langsung mematikan panggilan juga ponselnya.
Meera mendudukkan dirinya di depan cermin dalam walk in closet milik nya,ia menatap pantulan dirinya di cermin,tak terasa air matanya mengalir deras membasahi pipinya,dan. Meera tak menghentikan nya,ia justru tersedu-sedu dengan wajah yang menunduk pada meja riasnya.
" Kenapa Tuhan...kenapa harus seperti ini? Bagaimana aku bisa melupakan dia sepenuhnya kalau dia terus seperti itu " gumam Meera.
Meera seperti kehabisan cara untuk menghadapi kelakuan Rafael akhir-akhir ini, penjagaan terhadap nya semakin di perketat,ia merasa seakan di teror oleh Rafael dan ia semakin merasa risih.
***
Di dalam ruangan nya, Rafael terdiam cukup lama setelah mendengar teriakan Meera padanya, walaupun tidak secara langsung,namun bisa Rafael rasakan betapa Meera marah padanya dan membantah nya.
" Kau akan mendapatkan hukuman nya jika waktunya tiba Nymera,kau berani membentak calon raja mu,awas saja kamu" omel Rafael seraya melangkah menuju westafel,ia ingin membasuh wajahnya berharap bisa lebih menyegarkan pikiran nya yang terasa kacau.
Bagaimana tidak kacau dan semakin kacau,jika orang-orang suruhan nya terus mengirimkan nya berbagai foto dan video Meera yang tengah jalan-jalan bersama Cecilia dan Gio.
Rafael sampai memarahi anak buahnya itu yang menurutnya sengaja membuat nya marah,namun ia juga merasa harus tau apa saja yang Meera lakukan bersama mereka di luar rumah.
abis digampar Meera, sekarang bapaknya Meera, btw gpp namanya juga usaha, kerahkan seluruh usaha dan sabarmu ya EL
Ganbatte 💪
harus konsekuen dong dengan pilihan nya...ya sana jalan aja atau berkencan sama si Camelia..kan ngebet banget sama pangeran 😄
ini pasti akan sedikit lebih sulit.
Meeramu sudah berubah, dia bukan lagi Meera yg dulu
merana deh🤣
Meera kamu harus semakin kuat..
belajar menghadapi tantangan hidup
yg tentu tidak mudah.. yakinkan diri bahwa kamu kuat kamu bisa💪💪