NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Sarapan dan Senyum

"Kadang cinta nggak butuh jawaban langsung, cukup hadir dan terasa di setiap detik yang kita lewati bersama."

...***...

Pagi itu, suara motor terdengar dari depan rumah, suara yang sudah terlalu familiar bagi Rayna untuk disalahartikan.

Ben.

Tanpa perlu menoleh, Rayna tahu siapa yang datang. Bahkan sebelum pintu terbuka, keberadaan Ben sudah lebih dulu memenuhi halaman rumahnya.

Seperti biasa, Ben masuk begitu saja tanpa permisi, seolah rumah itu juga miliknya. Pintu terbuka, langkah kakinya terdengar santai, dan kehadirannya langsung mengusik ketenangan pagi Rayna.

Dan entah sejak kapan, Rayna tidak lagi merasa keberatan akan hal itu.

Rayna berjalan ke ruang tamu, langkahnya santai tapi senyumnya sudah lebih dulu muncul saat melihat sosok yang berdiri di sana.

“Hai,” sapanya ringan.

“Cie… ada yang ulang tahun hari ini.”

Ben langsung tersenyum lebar, senyum yang sama sekali nggak bisa ia sembunyikan.

“Gue kira lo lupa,” katanya, berusaha terdengar biasa saja.

Namun di dalam hatinya, suara lain justru berteriak kegirangan.

Umm… gemes.

Rayna inget ulang tahun gue.

Tatapan Ben tanpa sadar melembut saat menatap Rayna. Bukan karena ucapan itu besar, tapi karena Rayna mengingat dan baginya, itu sudah lebih dari cukup.

“Mana mungkin gue lupa,” jawab Rayna santai.

“Orang semalem kita ngobrolin itu.”

Ben terdiam sejenak, ingatannya langsung melayang ke obrolan semalam. Sudut bibirnya terangkat kecil.

"Oh iya juga ya,” katanya sambil mengangguk pelan.

Lalu matanya bergerak ke arah luar rumah. “Eh, nyokap lo udah berangkat? Gue nggak liat mobilnya di depan.”

“Iya,” Rayna menjawab. “Mama udah berangkat dari pagi banget.”

Ben mengangguk, lalu tanpa sadar matanya beralih ke arah dapur. Ada suara kegiatan di sana, bunyi wajan, langkah kaki, dan aroma masakan yang samar tercium.

“Terus itu siapa yang lagi masak?” tanyanya sambil menunjuk dapur.

“Ohh,” Rayna tersenyum kecil. “Itu ART baru. Namanya Teh Riri.”

“Hemm…” Ben mengangguk pelan.

“Pasti karena nyokap lo sibuk, jadi manggil ART ya.”

Rayna mengiyakan singkat.

“Yuk, kenalan,” ajak Rayna sambil melirik ke arah dapur.

“Okey,” jawab Ben ringan.

Mereka berjalan berdampingan menuju dapur. Di sana, Teh Riri masih sibuk di depan kompor, tangannya cekatan mengaduk nasi di atas wajan panas. Bunyi ceklek-ceklek spatula berpadu dengan asap tipis yang naik perlahan.

Aroma nasi goreng menyebar ke seluruh ruangan, hangat, gurih, dan menggoda. Seketika, perut Ben yang sejak tadi kosong mulai berontak pelan.

“Wah,” gumamnya lirih.

“Wanginya parah sih.”

Rayna terkekeh kecil, melirik Ben yang tampak sudah tak sabar. Pagi itu, dapur terasa hidup, bukan hanya karena masakan, tapi karena kehadiran mereka berdua di dalamnya.

Teh Riri akhirnya menoleh ke arah mereka berdua. Senyumnya langsung merekah saat melihat Rayna datang bersama seorang laki-laki.

“Wahh,” katanya sambil tersenyum lebar.

“Ini teh siapa? Meni kasep pisan. Kabogoh kamu ieu, Teh?” tanyanya sambil tetap mengaduk nasi goreng.

Ben refleks langsung nyerobot bicara.

“Halo, gue Ben, tunangannya Rayna.”

Rayna spontan melirik tajam ke arahnya. Bukan karena kata tunangan itu, melainkan karena cara bicara Ben yang terlalu santai.

“Ben,” tegurnya pelan tapi jelas.

“Ngomongnya jangan gue–lo ah. Nggak enak sama Teh Riri.”

“Emm… sorry, sorry,” Ben terkekeh kikuk.

“Kenalin, saya Ben. Tunangannya Rayna,” katanya lagi, kali ini lebih sopan. “Hehe.”

Teh Riri tertawa kecil mendengarnya.

“Aduh, teu nanaon atuh, Neng,” katanya ramah.

“Mau bilang gue, saya, urang, atawa naon wae juga sama teteh mah teu masalah,” lanjutnya sambil tersenyum hangat.

Suasana dapur langsung mencair. Aroma nasi goreng semakin menggoda, dan pagi itu terasa jauh lebih akrab dari biasanya

“Hah?” Ben mengernyit kecil, terlihat sedikit bingung dengan bahasa campuran yang digunakan Teh Riri.

Rayna langsung tertawa kecil.

“Teh Riri ini dari Tasik, Ben. Makanya kalau ngomong suka campur-campur sama bahasa sunda gitu. Kadang gue juga nggak ngerti,” katanya sambil terkekeh.

Ben ikut tersenyum, nyengir kecil sambil mengangguk-angguk, seolah paham… meski sebenarnya belum sepenuhnya.

“Eh iya atuh, punten ya,” ujar Teh Riri ramah.

“Suka kebiasaan da ini teh,” lanjutnya sambil tetap fokus memasak.

Tak lama, nasi goreng di wajan terlihat matang sempurna. Teh Riri mematikan kompor, lalu dengan cekatan menyendok nasi ke dua piring. Aroma gurihnya makin kuat saat piring-piring itu diisi penuh.

Ia kemudian berjalan mendekat, membawa dua piring nasi goreng hangat ke arah Ben dan Rayna.

“Nih, mangga,” katanya sambil tersenyum.

“Mudah-mudahan cocok.”

Ben dan Rayna saling pandang sejenak, pagi itu terasa sederhana, tapi entah kenapa hangatnya beda.

“Tadi Neng Rayna pesen sama teteh,” ujar Teh Riri sambil tersenyum penuh arti, “katanya dibikinin porsi lebih. Eh, ternyata buat si Aa ganteng ini, ya.”

Pipi Rayna seketika memerah. Ia menunduk sedikit, pura-pura sibuk merapikan sendok di piring.

Ben menangkap perubahan itu dengan jelas. Ia menatap Rayna cukup lama, lalu tersenyum - senyum yang penuh arti dan sedikit usil.

“Emm,” Ben berdeham pelan.

“Sekarang udah mulai perhatian ya,” katanya santai.

“Padahal kemarin-kemarin saya nggak dibolehin sarapan di sini loh, Teh.”

Rayna langsung menoleh.

“Ben!”

Teh Riri terkekeh.

“Oh iya? Masa sih?”

“Iya, Teh. Bener,” Ben mengangguk mantap.

“Kemarin-kemarin tuh sok jaim banget orangnya,” lanjutnya sambil melirik Rayna.

“Padahal aslinya mah… cinta dan pengen perhatian gini nih.”

Rayna mendengus kesal, tapi senyum kecil tak bisa ia sembunyikan.

“Ngaco,” gumamnya pelan.

Sementara itu, Teh Riri hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah paham betul suasana di antara mereka berdua.

“Teteh, ayo makan bareng kita,” ajak Rayna tulus.

“Iya, Teh, ayo,” Ben ikut menimpali sambil tersenyum.

Teh Riri mengibaskan tangannya pelan, senyumnya tetap hangat.

“Ah, engga. Silakan kalian sarapan dulu aja,” katanya lembut.

“Teteh mau mulai ngerjain pekerjaan lainnya. Teteh udah sarapan kok.”

Rayna mengangguk, meski ada sedikit rasa sungkan.

“Oh iya, Teh. Makasih ya.”

“Iya, sama-sama,” jawab Teh Riri sambil kembali ke arah dapur, meninggalkan mereka berdua dengan piring nasi goreng yang masih mengepul hangat.

Ben menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rayna.

Untuk sesaat, suasana jadi lebih tenang, hanya ada bunyi sendok menyentuh piring dan aroma pagi yang menguar.

Dan di antara kesunyian itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh… tanpa perlu diucapkan.

“Gue mau tanya sama lo,” kata Ben tiba-tiba, menatap Rayna dengan serius.

“Lo… udah cinta ya sama gue?”

Rayna tersentak. Mata dan mulutnya terbuka lebar, hampir tersedak dengan suapan yang baru saja masuk.

Instingnya membuat ia cepat-cepat meneguk air.

“Tuh kan… sampe tersedak gitu,” goda Ben sambil menyuap nasi gorengnya.

“Fiks… cinta sih sama gue.”

“Apaan sih lo, Ben!” Rayna masih setengah terbatuk.

“Lo tuh banyak ngomong, tau! Makanya gue tersedak!”

“Dih, nyalahin gue lagi,” balas Ben santai.

“Ya emang lo!” seru Rayna sambil menepuk dada Ben pelan.

Ben mencondongkan tubuh sedikit, menatap Rayna serius.

“Tapi bener kan? Lo udah cinta sama gue.”

Rayna tak langsung menjawab. Ia mengalihkan perhatian, mencoba menyelamatkan diri dari topik panas itu.

“Emm… enak juga masakan Teh Riri. Jadi penasaran sama menu lainnya, ya gak?”

Ben tersenyum, tapi matanya tetap menyorot Rayna.

“Iya sih, bener. Enak ini, kaya masakan di restoran bintang lima.”

Rayna tersenyum tipis, sedikit lega, tapi hatinya tetap berdebar. Ia sadar, pertanyaan Ben tadi bukan candaan biasa.

Bersambung...

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Aruna02
cie di publish🤭🤭
🪅D@ B®♓⛎♏
kasian vando nih, jatahnya udah di embat duluan sama si Ben 🤣
🪅D@ B®♓⛎♏
Ah, mama no no no melulu,, entar kecolongan loh ma 🤭
NyonyaGala
tau sih perasaan eve tapi gatau karakternya semoga waras ya thor 😅
Ramun🍓😈
mudah mudahan aja evenm GK berniat buruk saat di puncak nanti
GreenForest
Eve nih di bilang ulet juga bukan. Semoga aja jadian sama David
Ramun🍓😈
Si eve itu psti cemburu gitu. Smoga dia gak berniat buat ngehancurin hubungan Ben dan Rayna🥹
Ramun🍓😈
Ben pandai bnget manfaatin keadaan🤣🤣
🪅D@ B®♓⛎♏
cerita tentang Ken sedih banget, pantas aja Ben terpukul setiap kali ingat saudara kembarnya
🪅D@ B®♓⛎♏
di depan mama mereka angguk angguk No no no,,, di belakang mama entar yes yes yes🤭
NyonyaGala
dih david jangan dikasi tau ege, biarin aja jadi rahasia soal eve suka sepihak ama ben
NyonyaGala
ben jagonya manfaatin kesempatan emas buat manja ama raynaa🤣🤣
GreenForest
jelas banget kalau eve itu cemburu
GreenForest
Ben manjanya, nyari kesempatan
Ramun🍓😈
David mulutnya gak ada remnya 🤣
Ramun🍓😈
smoga Event nggak jadi badai🥹
🪅D@ B®♓⛎♏
betul tuh, yg bikin malu itu kerjaan jadi maling walau pakaiannya bagus dan keren tapi kalo kerjaannya maling ya memalukan 🤭🤣
🪅D@ B®♓⛎♏
pede banget kamu Ben, pamerin calon istri. Ingat baju seragam sekolahmu itu loh ben🤭
Aruna02
jangan bilangin suka sama ben ikh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!