Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Menolak Bantuan Instruktur
Bantuan yang dibicarakan oleh instruktur Dio tidak terlalu buruk, namun entah kenapa Aurora merasa ragu. Seolah, Instruktur Dio menginginkan sesuatu yang besar darinya.
Sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Jadi bagaimana, nona Aurora? Apa anda berkenan?"
Aurora pun menurunkan pandangannya dan berpikir,
'Kalau aku bisa dengan lebih cepat menguasai Aura, aku mungkin akan menerimanya, tapi perasaanku tidak enak soal ini. L-lebih baik aku pikirkan ini lagi dengan hati-hati.'
Alexia sebelumnya pernah bilang bahwa dia harus lebih berhati-hati pada instruktur Dio. Aurora bingung kenapa Alexia yang jarang bicara tiba-tiba membicarakan hal itu.
Aurora tidak tahu apa maksudnya, tapi ia lebih memilih untuk percaya padanya. Itu karena Alexia tidak mungkin bicara sembarangan. Dia pasti punya alasan yang kuat.
Setelah berpikir sejenak, Aurora mengambil keputusan.
"Saya sebenarnya lumayan tertarik belajar dari pengguna Aura tingkat 4 yang berpengalaman seperti anda." balas Aurora hingga membuat instruktur Dio tersenyum lebar, berpikir bahwa tawaran tersebut akan langsung diterima.
"Tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya." lanjutnya.
Jawaban yang diberikan Aurora tidak sesuai ekspektasi yang dipikirkan instruktur Dio. Ekspresinya yang senang pun langsung berubah menjadi kebingungan dan kaget.
"Eh? K-kenapa anda menolaknya? Bukankah ini hal yang baik untuk anda? Apakah kemampuan saya tidak cukup?"
"T-tidak, bukan seperti itu. Jangan salah paham dulu."
Aurora menggelengkan kepalanya dengan panik.
"Saya akui bahwa anda itu kuat. Saya juga senang kalau bisa belajar di bawah bimbingan instruktur seperti anda."
"Lalu kenapa anda menolak tawaran saya?"
"Saya ..."
Aurora bingung harus menjawab bagaimana.
Dia takut salah bicara dan membuat instruktur Dio salah paham tentangnya. Apalagi, alasannya menolak adalah karena firasatnya, dan itu bukan karena kemampuannya.
Sebisa mungkin, Aurora tidak ingin menyinggungnya.
Saat memikirkan alasannya, Aurora sadar akan sesuatu.
Aurora mulai menyadari ada yang aneh dan berpikir,
'Kenapa instruktur Dio seperti terus memaksaku? Apa ini yang dimaksud Alexia untuk lebih berhati-hati padanya?'
Daripada menawarkan bantuan, sikap instruktur Dio saat ini seperti memaksakan keinginannya. Padahal tadi dia sudah menolaknya, tapi instruktur Dio tetap keras kepala.
Sama seperti yang terjadi padanya beberapa saat lalu.
'Kenapa semua orang hari ini sangat keras kepala? Tidak Alexia, tidak instruktur Dio... apa mereka sedang bosan?'
Aurora pun menghela nafas ringan dan berkata,
"Saya sangat berterima kasih karena anda menawarkan bantuan yang besar," Aurora bicara dengan nada rendah dan merasa bersalah. "Tapi maaf, instruktur Dio... saya sungguh minta maaf. Saya akan menolak tawaran anda."
Raut kebingungan di wajahnya kini berubah menjadi rasa kesal. Tatapan penuh harap tadi juga berubah jadi tajam dan penuh dendam. Padahal itu adalah tawaran terbaik yang dapat ia berikan, tapi dia menolaknya tanpa alasan.
"Bisa katakan alasan anda menolak tawaran saya?"
Aurora terdiam sesaat sebelum menjawab,
"Tidak ada, saya hanya tidak ingin saja." Aurora yang tadi sopan menjadi sedikit kasar. "Kenapa saya merasa anda seperti memaksa? Biarkan saya memutuskan ini sendiri."
"Saya tidak memaksa." instruktur Dio enggan mengakui.
"Saya hanya tidak ingin melihat anda kesulitan, makanya saya menawarkan bantuan." lanjutnya, masih memaksa.
Paksaannya kali ini lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
"Maaf, tapi jawaban saya masih tetap sama." kata Aurora sambil melangkah mundur dan meraih pintu. "Kalau itu saja yang ingin anda bicarakan, saya pamit masuk dulu."
Aurora menutup pintu dan meninggalkan instruktur Dio.
Tidak lama setelah itu, instruktur Dio mengertakkan gigi.
"Sial! Sialan!" umpatnya sambil mengepalkan tangan.
"Rencanaku untuk membawanya keluar dari kediaman ini dengan cara biasa gagal! Sepertinya aku perlu membawa gadis sialan itu pergi dengan cara yang kasar!" lanjutnya.
Setelah mengatakan hal itu, instruktur Dio berbalik pergi.
****
Beberapa saat kemudian...
Setelah menutup pintu, Aurora duduk di tepi kasur.
Dia menghela napas panjang dan berkata,
"Padahal aku tidak banyak bergerak, tapi aku sudah lelah lebih dulu." sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Aurora hanya ingin berlatih dengan tenang di kamar, tapi keributan selalu datang dan mengganggunya. Kepalanya terasa berdenyut saat memikirkan kejadian sebelumnya.
"Dan juga, ke mana Alexia pergi?" Aurora bangun sambil melihat ke jendela. "Apakah dia pergi secara diam-diam?"
'Tapi kenapa?' batinnya, penasaran dengan alasannya.
Jendela yang terlihat tertutup mengundang tanda tanya di kepala Aurora. Jika dia pergi, seharusnya Aurora bisa mendengar suaranya, namun suara jendela yang dibuka bahkan tidak terdengar. Itulah yang membuatnya heran.
Tiba-tiba, dia mendapatkan sebuah kesimpulan.
Aurora pun merinding saat memikirkan kemungkinan itu.
'T-tunggu... apa yang tadi datang itu bukan Alexia?' batin Aurora sambil melihat sekelilingnya dengan wajah panik.
Aurora pikir bahwa yang datang tadi itu bukan Alexia, tapi hantu. Dia mencoba menepis pikiran itu dari kepalanya, karena Aurora tahu kalau hantu tidak keluar di siang hari.
Bukan hanya sikapnya yang berubah, tapi dia sekarang suka memaksa, berbeda dengan Alexia yang ia ketahui.
"Tidak mungkin dia hantu, 'kan?" ujarnya, juga ragu.
Namun, sebuah suara yang keras tiba-tiba saja muncul.
Brakkk!
Aurora yang terkejut pun sontak berteriak, "Kyaaa!"
Setelah berteriak, Aurora langsung berjongkok di bawah sembari menutup telinganya. Matanya terpejam sangat rapat hingga kerutan kecil di sekitar dahinya pun tampak.
Kebetulan, dia sangat takut pada sesuatu yang tidak bisa disentuh seperti hantu. Karena alasan itulah Aurora tidak mau bertemu dengan hantu, atau melihat wujud mereka.
"A-aku tidak dengar apa-apa. Aku tidak melihat apapun."
Aurora terus mengatakannya dengan kalimat yang tidak jelas dan berantakan. Alexia yang baru keluar dari lemari berjalan mendekat sambil memiringkan kepala, bingung.
"Ada apa dengannya?" Alexia bertanya-tanya.
"Kakak?"
Alexia mengulurkan tangannya dan menyentuh bahunya, namun reaksi yang diberikan Aurora membuatnya kaget.
"J-jangan sentuh aku! Pergi, aku tidak mau melihatmu!"
Alexia sontak menarik tangannya kembali dan mundur.
'Sungguh, apa yang terjadi padanya?!' pikir Alexia.
"S-siapapun kau, tolong pergilah dari sini. Aku pasti akan mendoakan kematianmu saat aku berkunjung ke gereja besok pagi." ucapnya dengan suara yang masih bergetar.
Alexia yang mendengar itu pun mengerutkan alisnya.
"Sepertinya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini."
Jika menilai dari ucapannya barusan, Aurora sepertinya berpikir bahwa orang yang dia ajak bicara tadi bukanlah Alexia melainkan hantu. Alexia yakin dengan dugaannya.
Alexia menghela nafas ringan dan bergumam,
"Aku pikir manusia hanya takut pada hal yang tak mereka ketahui seperti kematian, namun sepertinya aku salah."
Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah kematian, itulah yang Alexia pahami dari dulu. Namun, reaksi yang diberikan Aurora sekarang membuka matanya sekali lagi.
Rasa takut tidak harus datang dari kematian.
'Tapi... apa tadi dia bilang ingin ke gereja besok pagi?'
Alexia lupa mengunjungi gereja waktu pergi menuju ke toko senjata. Padahal jaraknya lumayan dekat, tapi saat itu dia fokus pada Mita, jadi tidak kepikiran apapun lagi.
'Kuharap tidak terjadi apapun pada adik Siria.' batinnya.
"Kakak, sadarlah." Alexia menyentuhnya sekali lagi, tapi dia tetap tidak mau mendengarkan. Karena tidak punya pilihan lain, Alexia langsung menarik Aurora ke arahnya.
"Kakak, ini aku, Alexia. Cepat buka matamu sekarang!"
Aurora perlahan membuka matanya dan melihat Alexia di hadapannya, sedang menyentuhnya. Dia menoleh ke bawah dan melihat kakinya juga menapak di atas lantai.
Aurora menangis dan langsung memeluknya.
"Alexia... kamu pergi ke mana saja? Aku mencarimu, tapi tidak ada. A-apa kamu dibawa pergi oleh hantu di sini?!"
"Aku tidak bawa pergi," Alexia tidak punya pilihan selain diam dan membiarkan Aurora menenangkan diri. "Aku hanya bersembunyi di lemari, jadi berhenti menangis."
Padahal dia disuruh berhenti, tapi suaranya makin keras.
Alexia menyerah dan berpikir,
'Sampai kapan aku harus menunggunya berhenti?'