Farel adalah seorang Ceo tampan yang bersikap dinggin bertemu dengan gadis cantik yang cuek bernama Nayla.
hal itu membuat pertengkaran bak kucing dan anjing jika mereka bertemu.
Namun karena takdir, mereka di satukan dalam ikatan cinta pernikahan.
Apakah mereka akan bersatu atau bahkan mereka akan berpisah?
Bagaimana kah kelanjutan nya?
Simak terus ceritanya ya
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, dan vote nya ya readersku😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bibit cinta mulai bersemi
2 hari sudah Naila terbaring lemah.
dan kondisi nya pun sudah mulai membaik
Pak juna dan Bu naya Yang sudah menemani Naila hari itu pulang.
"Mama pulang ya nay, cepet sembuh, makan yang banyak"
"Iya ma, makasih"
"Banyakin makan buah juga nay biar cepat pulih, jangan makan yang pedas dulu"
"Iya pa"
"Ya udah ya nak Farel, kita balik duluan, titip Naila"
"Pasti pa, akan saya jaga sebisa mungkin pa"
"Papa percaya kamu"
Bu naya dan pak juna meninggalkan ruangan.
"Masih sakit?"
"Udah agak mendingan"
"Mau makan apa?"
"Nggak ada"
"Ya udah nanti makan yang banyak"
"Makan terus capek ih"
"Biar cepat pulih kamu"
Naila tak bergeming
"Kenapa kamu nggak ke kantor?"
"Nunggu kamu, dodol"
"Aku nggak usah di tunggu bisa kok, ada suster juga! kalau kamu mau kerja ya gpp"
"Aku tuh suami kamu Naila, apa gunanya aku jadi suami kamu kalau nggak ngerawat kamu, nggak ngejagain kamu"
hoammm...
"Kalau ngantuk tidur aja" kata Farel dengan menyelimuti tubuh Naila
"Kamu tidur mana?"
"Disitu" dengan menunjuk arah sofa
Beberapa menit kemudian Naila sudah tertidur
Farel yang sudah bosan dengan handphone nya memutuskan untuk tidur
Sebelum tidur ia mengecup kening Naila.
"Cepat sembuh Nay, mimpi indah"
Naila yang sudah tertidur, saat merasa ada yang mengecup kening nya pun sontak sadar. namun ia tak membuka matanya, sehingga apa yang dikatakan Farel pun ia mendengar.
Farel pun mulai beranjak ke sofa dan mulai tidur tanpa selimut. hanya menyilangkan kedua tangannya agar terasa hangat
setulus itu kah dia?
sesabar itu dia merawat ku.
mama.. terimakasih atas lelaki pilihan mu, tak kusangka dia setulus ini merawat Naila.
ya Tuhan..
terimakasih atas lelaki yang kau kirimkan kepada ku ini.
maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik untukmu mas.
Tak terasa bulir bulir air matanya jatuh.
.
.
Matahari mulai menampakkan sinarnya.
Pagi itu dokter memberitahu bahwa Naila sudah bisa pulang.
Farel pun sibuk mengemasi barang-barang nya.
Saat Naila mencoba membantu membereskan, Farel pun dengan sigap merebut nya.
"Udah diam aja"
"Di bantuin nggak mau"
"Biar aku aja, kamu duduk aja"
Setelah selesai membereskan barang-barang nya. mereka pun akhirnya pulang.
"Loh, kita kemana?"
"Pulang lah"
"Bukanya belok kanan harusnya?"
"Itu kan rumah papa, sekarang kita pulang ke rumah kita"
"Hah? rumah kita?"
"Hemmbt"
"Maksudnya yang di kota x itu?"
"Iya"
"Lah, kan barang barang Naila masih ada yang di sana?"
"Udah di bawain Rekhan semuanya"
"Hahh, secepat ini?"
"Iya! Kenapa? nggak suka?"
"Suka sih, tapi..."
"Tapi apa?"
"Eng... Aku nanti sendirian dong kalau kamu belum balik"
"Dasar bocah banget ya kamu, suntikan takut, nggak bisa minum obat, penakut lagi" kata Farel dengan tertawa
"Ketawa nya seneng banget ya?" kata Naila melirik tajam ke arah Farel
"Kenapa liat nya gitu? ganteng? udah tau kok"
"Ihhh..Pede banget sih"
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah baru mereka.
Disana sudah ada pak Joko dan bik Mina sebagai pembantu baru mereka.
"Selamat datang pak, Bu"
"Loh ini siapa?"
"Dia pembantu di rumah kita, dan pak Joko ini satpam nya"
"Oh, bagus dong! jadi gue masih ada temen ngobrol"
"Iya Nona, di dalam sudah siap makanannya tuan, silahkan"
"Terimakasih bik Ija"
"Sudah menjadi tugas saya non"
Naila dan Farel makan malam.
"Enak"
"Iya, apalagi kalau kamu yang Masakin tambah tuh pahala kamu"
"Naila maksud nya?"
"Emang istri aku ada berapa Naila, selain Naila kamu?"
"Kali aja ada yang lain"
"Mulai ngaco deh"
"Hmmmbtz.. Bisa kok gue"
"Oke, gue pegang ya kata kata kamu"
"Oke siapa takut"
"Oh iya obat kamu jangan lupa diminum!"
"Iya"
"Coba minum nya langsung aja"
"Nggak bisa gue"
"Bisa"
"Nggak ah obat nya gede gede gitu, mana bisa?"
"lebih enak gitu, dibanding cara kamu! lebih kerasa pahit nya kalau kaya kemaren"
Farel mengambil obat dan segelas air.
"Nih, coba!"
"Nggak ah, malah nggak masuk di tenggorokan gue ntar"
"Masuk!" Farel menarik tangan Naila yang akan berdiri
Naila akhirnya mau mencoba
"glek..."
"langsung telen! jangan dirasain!!"
"huftzzz!!!"
"Bisa kan?"
"Deg deg an tau!"
"Sekarang kalau minum obat gitu aja"
Naila hanya memutar bola matanya
21.30
"Ngantuk.. Mau tidur!!"
Farel membuntuti Naila akhirnya.
"Jangan di matiin dulu lampunya, nunggu aku tidur dulu"
"Nggak bisa! kamu lama"
"Bentaran doang, ini udah mau tidur"
Klik!!!! lampu sudah padam
"!! tega ya kamu, gelap tau! Aku nggak bisa tidur "
"Udah tinggal merem aja"
nggak ngerti apa gue takut?
Naila memeluk Farel karena ia benar benar takut
tiap malam aja nay takut nya!
Fareel tertawa penuh kemenangan
di tengah malam, ia membalas pelukan Naila tanpa di sadari Naila.
.
.
Pagi telah tiba
ia terkejut karena melihat dirinya tengah berpelukan dengan Farel.
"Apaan nih" kata Naila mengalihkan tangan Farel dari tubuhnya
Naila pun bangun melakukan rutinitas pagi nya.
"Oh iya gue kan udah janji Masakin mas Farel?"
lalu ia pun bergegas ke dapur dan mulai memasak.
"Non Naila biar bibi aja yang masak"
"Oh nggak apa apa bi, ini saya masak juga cuma sedikit kok"
"Ada yang bisa di bantu non?"
"Nggak ada bi, makasih"
"Beneran non?"
"iya bi"
"Kalau begitu saya bersih bersih dulu ya non"
"Ok bi"
Bau masakan tercium hingga ke dalam kamar.
"Naila masak?"
"Nggak lupa ternyata dia"
Farel pun turun setelah siap dengan semuanya.
"Masak nih"
"Iya dong, Naila belum pikun kali"
"Bagus deh"
"Nih! segini,.. lagi apa nggak?" tanya Naila yang sedang mengambilkan nasi untuk Farel
"Udah "
Mereka pun sarapan bersama
"Nay, kamu masih mau ke kantor?"
"Masih"
"Tapi nunggu kamu pulih dulu"
"Iya ini juga udah mendingan kok"
"Jangan lupa diminum obat nya"
"Iya"
10 menit berlalu
"Ya udah berangkat ya"
"Eh bentar!" kata Naila menuju lemari dekat TV
"Kenapa?"
"Belum pake dasi nya"
kata Naila dengan membawa dasi ditangannya
"Nay pakein" kata Naila tanpa menunggu jawaban dari Farel
Farel terus memandangi Naila saat memakaikan dasi nya.
"Kenapa liat nya gitu?" tanya Naila yang sebenarnya salting
"Nggak apa apa"
"Nih!! udah" dengan merapikan kemeja Farel
Naila mencium tangan Farel.
"Makasih nay" Farel mencium kening Naila
Membuat Naila kikuk.
Naila terdiam sesaat.
"Eng.. eh.. iya" kata Naila menahan senyum nya.
"bye, berangkat ya" kata Farel dengan melambaikan tangannya
"Hati hati" Naila membalas lambaian tangan Farel
Setelah mobil farel meninggalkan rumah, ia akhirnya menumpahkan rasa binggung nya.
"Ah Naila! hal kecil kaya gitu aja bisa buat bahagia?"
"Hah?? Lo bahagia nay?"
"Eh kenapa sih gue jadi gini"
ia tersenyum sendiri
Baca Part awal kayaknya seru..