"Belum ketemu juga!? Kalian akan mati jika tidak menemukannya!" Bentak Rafanda Airen, mengacaukan acara pertunangannya sendiri.
"Rafa, semua orang---" Kalimat Titania disela.
"Aiyue menghilang. Jadi jangan menggangguku dengan acara konyol ini." Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan area ballroom.
"Dia hanya sekretaris! Asisten! Pembantu! Aku calon istri yang setara denganmu!" Teriak Titania, memegang jemari tangan Rafanda, bersamaan dengan beberapa pengawal yang menghalanginya pergi.
"Bukan! Aku yang memberinya nama Aiyue, sedangkan namaku Airen." Rafa tertawa dalam tangisannya mengeluarkan senjata api dari dalam jasnya.
Dor!
*
Bagaimana tentang seorang anak berusia 7 tahun, yang tersenyum dengan sengaja memilih bayi mungil untuk menemani hidupnya. Memberinya nama Giovani Aiyue, serupa dengan namanya Rafanda Airen.
Mengendalikan hidupnya bagaikan boneka, Aiyue adalah boneka kecil dalam kendalinya. Boneka yang pada akhirnya retak meninggalkannya,karena telah memiliki hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Berbakti
"A... Aiyue?" Yoshida tergagap, adiknya seharusnya mengetahui orang ini adalah Rafanda Airen bukan? Pria yang sudah mengkhianatinya bahkan sempat berencana menikah dengan wanita lain. Ingat! Selama 23 tahun Aiyue tinggal dengan Rafanda Airen.
"Aku kesepian jadi---" Aiyue menghela napas kasar kemudian tersenyum."Intinya dia tidur di tempat ini. Agar dapat melayaniku kapanpun."
"Melayani kapanpun?" Gumam Rafa menelan ludahnya, membayangkan Aiyue mengenakan pakaian tipis berwarna putih hampir transparan. Membawa gelas berisikan wine, rambut digerai indah. Memanggil namanya dengan nada serak yang dibuat-buat.
Inilah sebabnya pria berumur 30 tahun itu mau tidak mau harus menikah, sebelum menerkam Aiyue suatu hari nanti. Walaupun menikahi orang yang sama sekali tidak sesuai dengan tipenya.
Bayangkan, bayi yang dibantu dimandikan olehnya, diberi susu, digantikan popok, diajari berjalan. Setelah dewasa malah dilecehkan olehnya. Ada dua alasan kenapa dirinya memasukkan Titania diantara mereka. Pertama Aiyue sudah bagaikan anggota tubuhnya, kedua karena status. Walaupun alasan kedua tidak begitu penting, yang terpenting yang ada dalam otaknya adalah melecehkan bayi kecil yang dulu disuapi olehnya.
Tapi setelah Rafa mengetahui perasaan Aiyue padanya. Barulah pandangannya berubah, bayi kecil itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, yang meninggalkannya.
Aiyue mengangguk."Mengambilkan air tengah malam. Hal-hal semacam itu. Kamu cantik..." ucapnya mengedipkan sebelah matanya.
Sedangkan Yoshida memijit pelipisnya sendiri."Kamu tidur di kamar pelayan!"
"Baik..." Bianca tersenyum bagaikan gadis polos tidak berdosa. Tidak berdaya, tanpa perlindungan, tapi memiliki kulit halus bak porselen.
"Terserah saja, tapi nanti temui aku ya?" Pinta Aiyue, menyeka debu di bagian bahu pakaian Bianca. Bibir gadis itu terlihat jelas, ciuman hangat dia area pemakaman kala hujan turun kembali terbayang dalam benak Rafa.
"Aku ingin ke kamarku. Aku sakit perut!" Ucap Bianca merasakan ada bagian tubuh yang protes untuk dipuaskan.
"Aku akan mengantarmu." Yoshida menatap ke arah adiknya. Tidak mungkin Giovani Aiyue yang selalu berada di samping Rafanda Airen hampir 24 jam sehari tidak mengenalinya. Menyipitkan matanya lalu pergi bersama Bianca.
Brug!
Suara pintu tertutup terdengar. Bersamaan dengan Aiyue yang berbaring di atas tempat tidur. Dirinya tidak tertawa sama sekali, bahkan tidak dapat tertawa. Jemari tangannya gemetar, mengingat wajah yang disentuhnya.
"Cantik..." Gumamnya tersenyum merindukan Rafa. Cinta pertama, sekaligus orang yang menghancurkan hidupnya. Tapi jika difikirkannya lagi, kembali pada keluarga kandungnya terasa benar-benar hambar.
Tidak diijinkan bekerja, harus menjadi orang lain yang merupakan bukan dirinya. Apa itu cara orang tua mencintai? Dirinya hanya berperan sebagai boneka yang berbakti disini.
Lalu apa bedanya dengan berada di sisi Rafa?
"Ini lebih buruk..." Gumamnya menitikkan air matanya, harus berpura-pura menjadi orang lain untuk dicintai keluarga kandungnya sendiri.
Apa dirinya harus berterimakasih pada Rafa karena telah menukarnya? Mungkin sosok Aya Himawari yang ceria dan manja yang diperlukan keluarga ini dari awal.
Dirinya hanya ingin dipeluk, dibanggakan oleh keluarganya, jika bisa ingin meminta cinta yang selama 23 tahun tidak didapatkannya.
Menghapus air matanya yang mengalir. Hanya ada satu pertanyaan yang ada dalam otaknya. Kenapa Rafanda Airen, makhluk paling kikir di dunia datang ke tempat ini, dengan memakai pakaian wanita. Tanpa memperhitungkan biaya tiket pesawat dan set peralatan make up wanita yang mahal.
Serta bagaimana dengan acara pertunangannya? Bukannya dalam beberapa minggu lagi Rafa seharusnya menikah?
"Apa ini strategi untuk kembali mengambil peliharaannya?" Gumam Aiyue, merindukan tapi juga membencinya. Sialnya jujur saja, tadi Rafa benar-benar terlihat manis, memakai pakaian wanita.
Tapi apapun tujuan Rafa, yang jelas dirinya harus meminta bantuan agar Hidan bisa pergi. Sedangkan Aiyue sendiri akan ada disini untuk sementara waktu. Menunjukkan baktinya sebagai anak yang dilahirkan, masih memiliki orang tua walaupun mereka tidak mencintainya.
*
Sementara Rafa, pemuda itu memukul dinding kamar mandi. Sakit perut? Itu hanya alasannya saja. Entah berapa calon anak mereka yang sudah dibuang olehnya.
Tapi itulah kenyataan pahit. Bagaikan kutukan dalam keluarga mereka, yang dikatakan Rury adalah sebuah kenyataan. Dirinya memiliki napsu yang besar pada Aiyue seiring menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Napasnya terengah-engah, merasa lebih lega kala aliran air membasahi tubuhnya sendiri.
"Aku bisa gila!" Gumamnya yang telah berada di kamar mandi dalam kamar pelayan.
Namun, sejenak dirinya kembali menatap ke arah cermin. Ini memang harus dilakukan olehnya cepat atau lambat. Menerima kenyataan dirinya hanya dapat mencintai bayi mungil yang dibesarkan olehnya.
*
"Dia siapa? Ryu dimana?" Pertanyaan dari Enlai, menghela napas, menikmati makan malamnya.
Wanita cantik berpakaian layaknya pelayan profesional, mengenakan celana panjang wanita dan kemeja putih rapi menuangkan minuman ke dalam gelas Aiyue.
"Namanya Bianca, dia adalah pelayan baru yang aku rekrut. Ryu Kimura...dia bukan orang biasa, dia putra tertua keluarga Kimura. Kemari memastikan jika pernikahan pasti akan terjadi." Jelas Yoshida, menyuapi mulutnya sendiri dengan potongan kentang.
"Aya dulu juga memiliki asisten pribadi, kenapa tidak menggunakan---" Kalimat sang ayah terhenti menyadari reaksi Yoshida tidak seperti harapannya.
"Bisakah ayah menghormati putri kandungmu?" Tanya Yoshida, menatap ke arah Aiyue yang berusaha tersenyum. Tengah makan sembari menyuapi Emi yang terkadang menampik tangannya hingga sendok terjatuh.
"Aku tidak mengharapkan apa-apa darinya. Aku hanya ingin dia menggantikan posisi adikmu Aya Himawari. Dia itu anak kami yang asli, adikmu yang asli, tapi---" Kalimat Enlai disela.
"Tapi apa? Aku menyayangi mendiang Aya, sangat menyayanginya hingga menutupi segala kesalahannya. Ayah tau kenapa aku menjadi jaksa memilih tidak berkarier lebih tinggi seperti menjadi pengusaha?" Tanya Yoshida, tidak mendapatkan jawaban dari ayahnya.
"Karena Aya tidak ingin jauh dariku. Bahkan aku tidak memiliki kekasih juga karena Aya Himawari. Dia selalu menceritakan keburukan wanita-wanita yang ingin aku perkenalkan pada kalian. Awalnya tujuannya baik, tapi lama kelamaan dia semakin mengada-ada. Mantan pacarku yang seorang dokter kecanduan narkotika? Apa dia sengaja agar perhatianku hanya tertuju padanya?" Tanya pemuda itu, berusaha tersenyum.
"Aya Himawari, dia adik yang aku sayangi dengan tulus. Sekaligus seseorang yang paling aku benci..." lanjutnya.
Plak!
Satu tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Yoshida. Pipinya terasa benar-benar kebas.
"Ma... maafkan ayah. Ta...tapi Aya Himawari, dia adikmu tidak pantas sebagai seorang kakak untuk menghina bahkan menuduh adiknya sendiri." Enlai yang tertunduk, jemari tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya dirinya menampar putra kebanggaannya.
"Lalu apa ayah juga pantas, meminta anak yang selama 23 tahun terpisah dengan kita untuk menggantikan orang yang merebut posisinya!?" Tanya Yoshida pada ayahnya.
"Ini juga untuk kesembuhan ibumu! Sebagai seorang putri seharusnya dia berbakti pada ibumu! Hanya memakai dan bertingkah seperti Aya, apa sulitnya!?" Bentak Enlai menggebrak meja.
"Berbakti apa Aya Himawari pernah berbakti pada kalian? Apa yang pernah dilakukannya untuk kalian?" Yoshida terdiam sejenak menghela napas kasar berusaha tersenyum dengan air matanya yang mengalir.
masa tamat begitu aja🙄😭😭😭
but
aku puas banget,Rafa ketulah sama omongannya sendiri ya ttg bapaknya
nice ending
beautiful story'
love full buat othorrrrr
aku makin padamu
malah jadi takut kita
aku suka keributan ini
kuaci udah abis Ama othor,CK
bentar lagi farell Dateng
makin serruuuu
tapi kalau mang dr sana nya kau setia
ada 1001 alesan buat kau setia
hidup itu pilihan bukan,sekali lagi?
biasa pada celap celup sama bini orang apa
kok kyk gitu di normalisasi kan