NovelToon NovelToon
Remember Again (Istri Rasa Depkolektor)

Remember Again (Istri Rasa Depkolektor)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Keluarga & Kasih Sayang / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:97.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asma Khan

➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡

Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.

Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.

Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.

Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.

Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35#Treatment untuk Menantu

Ketenangan hidupnya mulai terusik ketika mendapatkan kamar dari salah satu anak buah yang mengatakan ada beberapa pihak yang berusaha mencari tahu tentang keberadaan wanitanya. Tidak habis pikir saja karena semua sudah berlalu selama ini tapi kenapa baru hari ini ada percikan?

Panggilan sudah berakhir tapi siapa yang bisa meredam emosi hatinya? Apa ia harus mempercepat pernikahan atau membawa pergi wanitanya dari Indonesia saja? Dilema di dalam hati semakin bertambah karena masa pingitan yang diberlakukan oleh ulah sang mama sendiri. Serba salah, maju tidak bisa, apalagi mundur.

"Permisi, Tuan Al. Boleh saya masuk ke kamar Nona muda untuk mengirim petugas salon yang di pesan nyonya besar?" Si kepala pelayan yang bertugas melaporkan segala sesuatu sebelum bertindak hanya berusaha meminta izin agar tidak disalahkan, jika terjadi sesuatu selama acara berlangsung nantinya.

Al yang menghadap ke luar jendela dengan tangan bersembunyi di balik celana hanya berdehem membuat si kepala pelayan undur diri. Suasana hati tuan muda tidak baik dan itu bisa dikenali dari sikap tak biasa yang menyebarkan aura dingin di sekitarnya. Apa yang terjadi pada padanya?

"Mari, mbak-mbak sekalian, aku antar ke kamar Nona Muda." Si pelayan mengulurkan tangan mempersilahkan para petugas untuk ikut berjalan bersamanya.

Kedatangan para petugas salon merupakan permintaan dari Mama Khadijah. Tentu saja hal itu untuk melakukan perawatan secara rutin pada calon mempelai wanita. Meski sebagai seorang wanita ia menyadari sang menantu bahkan tidak menyukai hal-hal berbau kecantikan. Kenapa ia berspekulasi seperti itu karena selama tinggal bersama Asma tak sekalipun sibuk untuk mempercantik diri.

Namun mengingat hari besar akan datang sebagai seorang ibu mertua sekaligus mama calon mempelai wanita. Ia ingin melihat Asma tampil dalam versi terbaik sebagai istri tuan muda Kendrick Al Zafran. Tidak ada salahnya membuat semua orang terpesona dan menjadi ratu semalam.

Keinginan sederhananya bahkan sudah dimulai sejak pagi buta. Dimana ia sendiri sibuk merawat wajah Asma dengan memakaikan masker dari beberapa jenis. Entah sudah berapa kali ganti masker setiap dua jam sekali. Satu hal pasti yaitu lelah.

Namun gadis itu tidak bisa mengeluh karena semua tetap diawasi oleh Mama Khadijah sendiri. Wanita itu enggan beranjak dari kamar gadisnya dan tidak membiarkan pelayan manapun untuk melakukan perawatan wajah Shine. Mama Khadijah benar-benar memperhatikan segala sesuatunya tanpa terkecuali.

"Sekarang kamu harus pakai masker terakhir dan Mama janji, ini yang terakhir." Mama Khadijah mencoba membujuk Asma yang ia tahu pasti sudah lelah mengikuti aturannya.

Asma hanya bisa menghala napas mencoba tetap menikmati perawatan. Bisa saja menolak tapi ia tak ingin mengecewakan Mama Khadijah karena terlihat begitu bahagia dan antusias dengan pernikahannya. Meski hati semakin merasa semua tidak sesuai harapan.

Entah kenapa, ia mulai merasa jiwa terbelenggu rasa takut yang berlebihan. Di dalam hati semakin terasa sesak tak bisa menikmati waktu yang seharusnya detik-detik membahagiakan dalam hidupnya. Perasaan kian tak menentu hingga perang batin menambah kegelisahan.

"Lakukan saja seperti keinginan Mama. Shine hanya ingin melihat senyum bahagia di wajah mama." ucap gadis itu membiarkan sentuhan tangan wanita yang kini membalurkan cairan berwarna emas tanpa aroma.

Jangan tanya itu masker kegunaannya untuk apa karena ia tidak hafal jenis-jenis masker sendiri. Apa manfaat dan masker dari mana dengan jenis apa? Ia hanya bisa menerima dan merasakan sensasi dari setiap masker yang sudah ia jajal.

Keseruan Mama Khadijah sedikit terusik di saat terdengar suara ketukan pintu. Lalu bersambut permintaan izin untuk masuk ke dalam kamar yang sudah jelas suara dari pelayan. Sesaat wanita itu masih sibuk membalurkan cairan masker ke permukaan wajah Asma.

Setelah selesai barulah ia meletakkan wadah kaca ke atas nakas dan membiarkan menantunya untuk tetap diam di tempat, sedangkan ia sendiri berjalan menghampiri pintu kamar untuk membukakan pintu. Dimana kepala pelayan membawa beberapa orang yang ia tahu, mereka petugas dari salon.

"Oke, kamu bisa pergi dan biarkan mereka tetap bersamaku. Oh ya, kirimkan makan siang untuk kami ke kamar dan jangan lupa kirim makan siang yang untuk suami dan putraku!" titah Mama Hadijah membuat si kepala pelayan mengangguk, kemudian membungkukkan setengah badan sebelum pergi meninggalkan depan pintu kamar.

"Kalian, ayo, masuk! Calon pengantinnya ada di dalam, tapi jangan sentuh wajahnya. Perawatan wajah hanya aku yang berhak melakukan tanpa bantuan kalian." Mama Khadijah mengingatkan dengan tegas apa yang tidak boleh dilakukan para mbak-mbak yang akan memberikan treatment pada menantunya.

Begitu posesif bahkan terlihat seperti mertua yang sangat menjaga. Sehingga membuat para petugas salon mereka cukup sungkan untuk memberikan jawaban hingga menunduk menganggukkan kepala. Siapa yang tidak kenal dengan nyonya Khadijah?

Wanita tegas tetapi memiliki banyak pengalaman dan ilmu tentang kecantikan. Wanita itu juga bukan seorang wanita yang selalu memperhatikan kecantikan selayaknya para wanita sosialita tetapi memiliki wajah yang selalu tampil apa adanya hanya saja selalu terlihat anggun mempesona.

Natural? Ya itulah Mama Khadijah, wanita yang memiliki keistimewaan seperti yang terpancar dari wajah seseorang nyonya. Meski begitu tak semua orang bisa menjadi Nyonya Khadijah karena wanita itu memang spesial dimata tuan besar Zafran.

Satu per satu dari kelima petugas salon masuk ke dalam kamar Nona muda. Pemandangan pertama menghentikan langkah kaki mereka ketika terlihat seorang gadis yang bersandar di atas tempat tidur dengan wajah tertutup masker berwarna emas. Rambut terikat menjadi satu digelung tinggi dengan kulitnya yang putih.

Sepertinya gadis itu jarang keluar tetapi tatapan teralihkan ke arah kursi roda di sebelah sisi tempat tidur sang Nona muda. Apa gadis itu lumpuh? Satu pertanyaan itu membuat para pekerja salon saling pandang. Kehidupan ini seperti langit dan bumi.

Di luar sana banyak gadis yang sehat tetapi kenapa gadis lumpuh yang menjadi istri dari seorang tua muda? Pemikiran dangkal itu membuat para petugas salon merasa tinggi hati. Mereka terlalu over dalam menilai seseorang hanya karena fisik bahkan sebelum mengenal lebih lanjut.

"Apa yang kalian lihat? Cepat mulai!" titah Mama Khadijah dengan mengeraskan suara karena melihat tatapan mata tak suka dari para petugas salon saat menatap Shine.

Hati manusia tidak bisa ditebak tapi firasat seorang ibu selalu mengenali bahaya ketika pandangan jahat jatuh menatap anaknya. Namun ia tak ingin mengatakan apapun karena pada saatnya nanti pasti akan menyadari bahwa menantunya sempurna.

Shine tidak memiliki kekurangan apapun tetapi sekarang lebih baik diam agar bisa membungkam tatapan mata sok cantik dari para petugas salon. Ia ingin ada pelajaran agar tidak menilai orang sesuka hati. Sebenarnya ia sengaja tidak menyingkirkan kursi roda dari sisi kamar sang menantu karena itu bisa digunakan sewaktu-waktu ada keadaan darurat.

Para petugas salon mulai meletakkan alat-alatnya di sisi lain kamar yang terlihat memiliki banyak tempat seraya berdiskusi melakukan pembagian tugas masing-masing. Mereka juga bingung karena pekerjaan kali ini tetap diawasi oleh nyonya besar.

Jelas saja Mama Khadijah tidak akan membiarkan Shine seorang diri karena saat ini mata gadisnya juga terpejam tertutup irisan timun tapi tiba-tiba terdengar suara dari arah ranjang.

"Mama makan dulu! Sebentar lagi waktunya makan siang dan mama tidak bisa makan telat, lagi." Shine mengingatkan mama mertuanya karena ia juga ingat waktu.

Apalagi seharian ini sang mama mertua selalu bersamanya. Wanita yang ia harap mau mendengarkan justru berjalan menghampiri sofa. Lalu duduk seraya mencomot sebuah apel serta mengambil pisau buah yang terlihat tajam nan runcing. Tak lupa menyiapkan piring kecil yang sudah ada di sebelah keranjang buah.

"Kenapa cuma Mama yang makan? Kita akan makan bersama, lagi pula para pelayan baru saja akan menyiapkan makanan dan pasti akan di antar ke kamar. Sekarang bisa menikmati apel terlebih dahulu atau pir, bisa juga anggur. Come on, Shine. Disini sudah banyak makanan." balas Mama Khadijah tak mau mengalah.

Jawaban sang mama membuat Asma tidak ingin berdebat hanya tentang makanan karena ia tahu sang mertua memiliki sikap keras bahkan lebih keras darinya. Hanya saja ketika sudah menggunakan hati terlalu lembut. "Baiklah, terserah Mama saja. Asalkan perut Mama tidak sampai kosong."

Obrolan itu menggambarkan seberapa dekat antara ibu mertua dan menantunya tetapi para pekerja salon harus tetap memulai pekerjaan. Dimana mereka menyingkap selimut Asma. Lalu meminta nona muda untuk duduk di tepi ranjang tapi Mama Khadijah menolak dan membuat Asma berbaring.

Suka, tak suka, para petugas salon memulai treatment pertama yang dimulai dari kaki dan tangan. Sehingga mereka melakukan perawatan dengan cara lain untuk tugas kali ini. Tanpa mereka sadari hati Asma menjerit ketika sentuhan banyak tangan memegang tangan dan kakinya.

Gadis itu tidak nyaman tetapi berusaha untuk tetap tenang. Perlahan tapi pasti perawatan mulai dilakukan dan entah berapa lama akan merasakan sentuhan sensasi dingin bercampur aroma wangi yang merasuk masuk ke rongga hidung.

Ketika ia pikir sudah selesai tiba-tiba ada tangan yang berusaha untuk melepaskan gaun yang ia kenakan. "Ma, udahan ya. Shine sudah tidak nyaman," Gadis itu mengangkat tangan membuat para pekerja menghentikan kegiatannya.

Mama Khadijah meletakkan apel yang baru ia makan setengah ke atas piring, lalu beranjak dari tempatnya dengan langkah kaki menghampiri ranjang membuat beberapa pekerja mundur menjauh meninggalkan menantunya. Tangan terangkat mengusap kepala Asma seraya membisikkan sesuatu.

"Oke kalian lanjutkan treatment-nya! Pastikan semua baik-baik saja dan jangan sampai melukai menantuku." Mama Khadijah kembali turun dari atas ranjang tetapi tanpa menurunkan tatapan mata tenang yang menenggelamkan.

Drama penolakan Asma berakhir kepasrahan. Gadis itu tak bisa berkutik ketika para pelayan memulai treatments lebih jauh lagi. Perawatan yang membuat ia pasrah seperti bayi polos dan tidak bisa melakukan apa-apa. Rasa malu dibenamkan dalam-dalam karena perawatan itu keinginan sang mama mertua.

Sementara di sisi lain, hawa panas kian menguasai hati. Penyerangan yang tertuju mengusik ketenangan hidupnya bukan hanya dari satu arah, hal itu menambah kemarahan yang membakar rasa sayangnya. Sebuah peringatan yang baru saja ia dapat membuat darah semakin mendidih.

Langkah kaki berjalan gusar menuju sebuah ruangan. Tidak ada niat untuk mengetuk apalagi mengucapkan salam, pintu di dorong tanpa permisi bersambut tatapan mata tajam siap menerkam. Kedatangannya yang dilanda emosi tak membuat sang penghuni ruangan terkejut sedikitpun.

"Siapa kamu sebenarnya? Papaku atau musuhku?" tanyanya tanpa permisi setelah berdiri di depan pintu dengan tatapan tertuju ke depan. Dimana seorang pria duduk di kursi kebesaran membalas tatapannya dengan sorot mata kecewa.

Ayah mana yang ingin melihat kehancuran putranya sendiri? Tentu tidak ada tapi ketika seorang anak berjalan ke arah yang salah, maka kewajiban orang tua untuk mengingatkan. "Al, coba ulangi pertanyaanmu!"

1
Abdul Fatah
menjelaskan rumitnya pemikiran perempuan , cerita ny bagus cuma terlalu bertele-tele .
Ela Jutek
tau anak mu gak bisa bertahan gimana kamu Non
Ela Jutek
ahh nyesek lah
Ela Jutek
nona mu pingsan tuh, tapi bugus si pengacau udah tertahan sementara
Ela Jutek
tuh si Kia kemana sih kok gak jagain
Ela Jutek: gak deh kek nya kak
total 4 replies
Ela Jutek
istri mu kan emang keras kepala pak bos, sabar sabar saja🙄
Ela Jutek: Aamiin
total 8 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
si Bagas mulutnya enteng banget, ya kali orang tatap²an dikira gay😩
Ela Jutek
wow keren
Ela Jutek
nggak lope you too deh Al, kamu jahat soal nya
Ela Jutek
masa gak percaya sama Bagas sih Fay
Ela Jutek
war biasa kamu Al🙄
Ela Jutek: semuanyahh
total 2 replies
Ela Jutek
eh si mantan toh
Ela Jutek: harus dan kudu
total 6 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
kira² siapa yg ngikutin Rey sama Bagas ya🤔 apa jgn² Al 😳
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
Bagas Lo gila hah, bisa²nya ngajakin Rey ke bar😒
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
sebentar ini rapat macam apa? perasaan biasanya kalau rapat tahunan ya gk ada pesta khusus istri para pengusaha gini🙄
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
jangan bilang itu si Al🙄 please lah Asma udh bener² di kamar ngapain keluar sih 😩
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
please lah Al, yg Lo harapin tuh udh punya suami, jadi mustahil buat balik sama Lo mana dia lagi hamil juga kan🙄
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
hm, kayaknya Bagas masih ragu buat melangkah ke hubungan yg lebih serius☺️
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
mulai posesifnya, kayaknya Bagas emang hobi sembunyiin masalah, sesekali harus dikasih pelajaran 🙄
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
mau gk mau harus balik ke Jakarta kan, lagian mau sampai kapan menghindari masalah? apa di rapat tahunan itu nantinya Rey ketemu sama Al🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!