NovelToon NovelToon
Vakum Pacaran

Vakum Pacaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Spiritual / Tamat
Popularitas:884.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aidahlia

[Trailer sudah tersedia di you tube author]

Dari kata ‘cinta’ semua menjadi gelap gulita jika tidak pandai mengarahkannya.

Memutuskan vakum pacaran adalah hal terbaik meski terasa pahit. Karena zina adalah dosa besar.

Dari ‘merelakan’ mereka bisa merasakan apa itu cinta sejati tanpa ada batasan lagi. Tanpa ada kata zina yang menjadi benteng tinggi yang tidak boleh dilewati. Jika benteng tinggi runtuh, maka hancurlah bersamanya menjadi kepingan yang putus asa.

-----
Instagram pribadi: @aidahliaa_
Instagram quote: @quotebymeforyou
Youtube: Aidahlia
Twitter: @aidahlia55
Telegram: Aidahlia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Sudah satu minggu Bibi Hana di rawat di rumah sakit. Ashila dan Arga tidak pernah meninggalkan Bibi Hana sendirian. Mereka sedang liburan sekolah, jadi mereka lebih memilih menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit. Kalau mau pulang mereka bergantian, pada intinya mereka tidak ingin meninggalkan Bibi Hana sendirian.

Senin depan Ashila masuk sekolah, dan sabtu depannya Arga tour pelepasan. Sebenarnya sabtu besok Ashila harus mengambil rapot bersama orangtua. Tapi kondisi Bibi Hana benar-benar sedang tidak baik, dan Arga, mana mungkin Ashila memaksa Arga untuk mengantarnya mengambil rapot, kasihan nanti dia tidak jadi ikut tour terakhir masa SMAnya.

Hal yang membuat Ashila aneh, sampai saat ini keluarga dari Aceh belum ada yang mengabarinya sama sekali. Arga pun merasa tidak ada yang perlu di jelaskan dengan hal ini. Ashila tetap berpostif thingking.

Hari ini ruangan Bibi Hana di penuhi oleh teman-temannya di salon. Bahkan Bosnya yang terkenal super sibuk pun datang untuk menjenguk Bibi Hana bersama anak keduanya.

Saat ini Ashila sedang ada di rumah. Dia sedang menggosok baju untuk besok sekolah. Malam ini Arga menyuruh Ashila untuk tidak ke rumah sakit, tapi Ashila menolak. Dia ingin selalu menemani Bibi Hana.

"Aku kerumah ya?"

Itu suara Bibah dari handphone Ashila yang sengaja di senderkan pada tembok tempat menggosok. Mereka sedang vidio call.

"Kamu lagi gak sibuk?"

Terdengar suara kekehan tawa.

"So sibuk banget, ya engga lah Shil, kan lagi liburan. Ini liburan terakhir, kita selama seminggu ini gak liburan bareng, yaudah aku matiin ya. Aku otw rumah kamu... Bay, Assalamu'alaikum."

Tut tut..

Ashila menarik simpulnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh..."

\*\*\*

Bibah suka dengan dekorasi kamar Ashila. Dia mengelilingi sudut ruangan. Dan sampailah pada rak buku Ashila, dia nyantol di sana.

"Aku baru tahu deh kamu suka koleksi buku," ucapnya sambil membuka buku bersampul hitam.

"Ya kamu kan baru pertama main ke kamar aku."

Bibah sudah tenggelam pada lembaran-lembaran buku bersampul hitam itu. Sementara Ashila dia masih menggosok. Yang ia gosok tidak hanya bajunya, ia juga menggosok baju Arga. Dia tidak tega kalau melihat Arga memakai baju lecek, Arga mana bisa menggosok, mengangkat jemuran saja tangannya masih kaku.

Bibah berpindah pada album foto yang sengaja Ashila tempel pada dinding-dinding di area meja belajarnya.

Di sana ada foto keluarganya di Aceh, keluarga di Jakarta, dia dan Ray, dia dan Arga, dia, Uni, Nada, dan Risma, dan ada pula foto dia dan Bibah.

"Kamu masih simpan foto Ray?"

Ashila mengangguk, matanya masih fokus pada gosokannya.

"Cuma foto itu yang tersisa, semua sudah aku bakar. Foto itu di waktu aku masih di MTs. Lihat saja wajahku sok kalem gitu," Ashila terkekeh kecil.

Bibah hanya tersenyum menimpali ucapan Ashila.

Setelah gosokannya rapih Ashila mengajak Bibah menikmati hembusan angin di balkon rumah Bibinya sambil bercerita.

"Ini tempat favorit aku sama Arga," Ashila tersenyum, "Kamu tahu Bibah, Arga itu kagum sama akhlak kamu, semoga dia bisa mendapat jodoh seperti kamu, tapi aku sih maunya kamu."

Bibah hanya tersenyum, "Jodoh itu hanya Allah yang tahu."

\*\*\*

Di pukul 11 siang Bibah izin pulang, dia disuruh Uminya ikut acara pengajian. Dia tidak mau menolak perintah Uminya, walaupun jarang ada anak seumurannya dia, itu tidak masalah, di sana dia banyak mendapat ilmu. Dan hitung-hitung belajar mencontoh calon istri yang baik untuk jodohnya kelak.

"Aku pulang ya Assalamu'alaikum.."

Motor metic berwarna abu-abu  yang di kendarai Abi Bibah sudah hilang dari pandangan. Ashila langsung menutup gerbang rapat-rapat.

Drt..drt..

Arga

Kamu nurut ya sama aku. Nanti jam 1 aku jemput kamu, kita kerumah sakit. Di jam 5 sore aku antar kamu pulang, kamu tidur di rumah. Nanti kamu ajak teman aja nginap di rumah, atau kamu nginap di rumah teman kamu. Aku gak mau nanti pas di sekolah kamu lemes. Harus mau (ini perintah)

Ashila terkekeh setelah membaca pesan dari Arga. Arga selalu mementingkan kesehatannya, semakin hari Arga semakin perhatian. Entah kenapa dia jadi seperti tidak ingin Ashila tergores sedikit pun.

Ashila

Ya in. Percuma aku tolak itu gabisa di ganggu gugat iya kan? :D

Nanti aku nginap di rumah Bibah aja.

Arga

Kudu, mesti, harus. Its okay. Prepare, Bay!

Sambil menunggu waktu zuhur Ashila memasak nasi goreng untuk ia bawa kerumah sakit. Arga pasti belum makan nasi, dia kalau sudah di rumah sakit lupa dengan keadaannya sendiri.

Ashila sengaja menaruh nasi goreng di atas meja makan, supaya saat di taruh di rantang tidak lembek. Adzan Zuhur sudah berkumandang. Ashila mandi dan sholat. Setelah itu dia menaruh nasi goreng itu di rantang. Tak lupa telur mata sapi dan air putih.

Setelah beres ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan.

12.56, semua beres.

Ashila mengunci semua pintu. Dia menunggu Arga di bangku luar.

6 menit setelahnya Arga datang. Ashila sudah menyiapkan aqua beku untuk Arga. Tadi beku, setelah 6 menit sudah ada airnya.

\*\*\*

Sesampai di rumah sakit Ashila langsung membuka rantang.

"Makan, ini perintah."

"Jangan bilang udah kenyang, hargain perjuangan aku," yang tadinya mulut Arga terbuka kini tertutup.

"Oke-oke."

Di pukul 2 siang Bibi Hana bangun dari tidurnya. Dia tersenyum lemah ke arah Ashila yang sedang merapihkan baju kotornya.

"Eh Bibi bangun, ada yang Bibi perlu?"

Bibi Hana menggeleng lemah, "Arga kemana?"

"Ke kamar mandi katanya kebelet pipis."

Bibi Hana terus menatap Ashila. Ashila tidak menyadari itu, dia sedang sibuk memasukkan baju kotor Bibi Hana kedalam tas jingjing.

"Hiks..." tiba-tiba Bibi Hana terisak.

Ashila langsung meninggalkan kegiatannya lalu menghampiri Bibi Hana dengan raut khawatir.

"Bibi kenapa? Shila ada salah ya? Maaf Bi.."

"Bibi yang salah sama kamu Shil. Hiks. Belum saatnya kamu tahu, jangan paksa Bibi untuk menjelaskannya. Hiks.."

Ashila terdiam, "Maksud Bibi?"

"Bibi belum siap, dan Bibi yakin kamu pun belum siap."

Cklek..

"Ibu kenapa?" Arga langsung menghampiri Ibunya.

"Apa yang di maksud Ibu kamu ga? Kenapa harus siap? Siap untuk apa?"

Arga menatap wajah Ibunya yang sudah di lumuri airmata.

"Gak ada apa-apa kok, mungkin Ibu aku mimpi... Ibu mau bicara apa? Siap untuk apa? Ibu mimpi ya?" Arga tertawa renyah.

"He..he, i-iya mungkin Ibu mimpi," Bibi Hana langsung mengelap airmatanya.

Ashila diam sesaat, hening.

Seulas senyuman Ashila melegakan Bibi Hana dan Arga, "Yaudah aku masukin bajunya lagi ya."

\*\*\*

Ashila tidak jadi nginap di rumah Bibah. Dia merasa tidak enak, apalagi keluarga Bibah terlihat serius semua, dia pasti tidak akan betah, yang ada tidur sambil tegang.Dia memilih untuk tidur di rumah sendiri.

"Coba ada Risma, Uni, Nada, mereka pasti mau temenin aku."

Tidak terasa airmata turun begitu saja. Memori persahabatan itu muncul kembali. Sudah saatnya ia mengakhiri ini semua. Dia selalu mengedepankan ego daripada nuraninya. Satu tekad di hatinya, aku akan gabung sama Risma dan Uni. Aku akan perbaiki persahabatan yang sempat hancur ini.

Ashila membuka blok Uni, Risma, dan Nada, di whatsappnya. Sudah saatnya mengakhiri. Tidak baik terus seperti ini. Sejahat apapun dia, selagi kata maaf terucap tanpa suruhan, paksaan, dan ancaman, dia masih di kategorikan manusia berakal. Apa pernah melihat monyet bermaafan? Tidakkan? Samakan saja orang yang tidak saling bermaafan dengan monyet. Sebagai umat islam kita harus menjaga tali persaudaraan. Agar islam selalu damai, anti teroris, anti permusuhan.

1
Erni Fitriana
mampir thor..aku tandai dulu
⟁sahabi🌱🐛
boleh minta Rey GK ?
🕌🍿zhaa
anak q suka bca hadist itu klo q lgi marah,laa taghdob walakal jannah,,,jdi berenti deh marah nya😊😊😊
⟁ Jojo 🌱🐛
wa'alaikumsalam wr wb 🙏 semangat kk
bintang
udah mampir dooong😊😊
Erni Hidayat
Selalu sukaaaaaaa
Almera Al-Farizi
udah baca dong
⟁sahabi🌱🐛
😭😭😭😭😭
⟁ Jojo 🌱🐛
kok sweet bnget Arga sama shila
⟁ Jojo 🌱🐛
bukan suami bukan pacar, TPI temen sepesial 🤣🤣😂😂
⟁ Jojo 🌱🐛
sumpah ngakak terus aku suka selain ada humornya, bnyak ilmu bermanfaat di novel ini good 😍😍😍
⟁ Jojo 🌱🐛
🤧🤧🤧🤧🤧terharu bnget baca tiap kata di novel ini
⟁ Jojo 🌱🐛
Shila ayo kembali ke jalan Allah lgi, jdilah Sheila yg dulu, polos dan baik hati
⟁ Jojo 🌱🐛
positif banget pesan moralnya 🤧🤧🤧
⟁ Jojo 🌱🐛
seneng bacanya 😊
⟁ Jojo 🌱🐛
suka karya mu Thor, ini karya ke mu ke 2 yg aku baca setelah baca karya mu di plat sebelah dear ustadz 😂😂 terus aku cari profilmu di sini 🤣🤣🤣🤣
Aidahlia: Alhamdulillah, terima kasih ya🤍
total 1 replies
Dyah Wulandari
ceritanya bagus banget , ada gregetnya juga sampai akhirnya happy🥰
Aidahlia: Terima kasih yaa💗
total 1 replies
re
Sah akhirnya
re
So sweet 😍😍😍😍😍😍
re
❤❤❤❤❤❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!