NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO

Status: tamat
Genre:Patahhati / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: farhati fara

Vania anastasha terpaksa memberikan rahimnya untuk mengandung seorang anak CEO arogan yang ingin memiliki anak tanpa ikatan pernikahan karena masih terikat dengan cinta masa lalunya.sedangkan dirinya butuh biaya untuk operasi ibunya


"akan kulakukan apapun asal ibuku selamat termasuk harus menjual tubuh yang tak berharga ini" Vania anastasia

"lahirkan seorang anak untukku..akan kubayar harganya...uang bukan masalah buatku asal anakku lahir" Julius granger

akankah keadaan berjalan sesuai apa yang diinginkan keduanya atau malah kebalikannya...
jawabannya ada di tulisan receh ini

baru belajar menulis...mohon saran dan kritiknya selalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Diluar kamar, Julian sedang berdiri tepat didepan pintu yang bisa mengantarnya untuk menemui Vania. Pria itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, sudah sejak beberapa jam yang lalu, ia sudah tidak sabar ingin masuk kekamar ini sekaligus gugup. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Vania namun menunda niatnya karena ia belum siap

Julian memutar tubuhnya lalu bertemu pandang dengan Pak Norman

"How do i look?"

"Anda sangat tampan tuan muda, tapi anda terlihat sangat gugup" jawab Pak Norman. Julian mengusap pelipisnya sambil tertawa pelan

"Aku memang gugup, bagaimana jika Vania tidak suka melihatku"

"Dia pasti suka tuan, yaah.. meskipun awalnya mungkin akan terkejut tapi aku yakin Nona Vania akan senang bertemu dengan anda, seperti anda yang bahagia bertemu dengannya"

"Kau yakin?" Julian meminta kepastian dengan menatap Pak Norman serius. Pak Norman tertawa pelan lalu mengulurkan tangannya merapikan dasi Julian

"Aku yakin.. karena aku tahu dia juga mencintaimu" Julian menganggukkan kepalanya lalu menarik nafasnya lagi, memutar tubuhnya dan memegang kenop pintu kamar itu. Pelan-pelan Julian membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk. Suara detakan jantungnya terdengar jelas ditelinganya, ia belum melihat dimana Vania berada namun rasanya ia akan lumpuh saat itu juga.

Julian terus berjalan masuk hingga keruang makan, sebuah meja bundar sudah tertata rapi oleh makanan yang sudah ia pesan. Julian menahan nafasnya melihat Vania berdiri memunggunginya, gadis itu sedang berdiri memandangi pemandangan dari luar jendela. Julian berjalan semakin mendekat, suara langkah kakinya pun mengetuk-ngetuk pelan lantai bermarmer dibawahnya.

Pelan-pelan Vania memutar tubuhnya karena mendengar suara langkah kaki seseorang, saat itulah Julian bisa melihat wajah Vania. Wajah wanita yang sudah ia rindukan, gadis itu terlihat terkejut melihat Julian. Julian pun tidak lagi mendengarkan suara debaran jantungnya yang berpacu cepat, ia diam karena terlalu terpesona dengan pemandangan didepannya. Tidak pernah dalam bayangannya sekalipun akan melihat Vania dalam balutan gaun mewah dan terlihat begitu mempesona. Apa Vania memang secantik ini?.

"Tuan Granger..?" suara Vania membangunkan Julian dari lamunannya. Julian memejamkan matanya, ia merindukan suara gadis itu. Julian membuka matanya lalu tersenyum kepada Vania

"Vania.." Vania menyentuhkan tangannya didepan dadanya, rasanya jantungnya berdetak melebihi kapasitas, tadinya ia pikir seseorang masuk untuk mengantarkan sesuatu lagi, betapa terkejutnya ia begitu ia membalikkan badannya Julian lah yang berada dibelakangnya

"Vania.." suara Julian membuat Vania yakin ia tidak sedang berhalusinasi

"Tuan Granger, kenapa anda disini?"

"Kenapa..? ini hotelku"

"Aah.." Vania menggerakkan matanya ke kiri dan kanan, apa maksud dari semua ini?, kenapa Mira membawanya kesini? Lalu kenapa ada Julian? apa Mira mengenal Julian? apa temannya itu sudah tahu siapa Julian?.

Vania menaikkan pandangannya ketika ia melihat ujung sepatu Julian berjalan semakin mendekatinya, matanya bertemu dengan mata Julian, pria itu menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan

"Vania.. aku merindukanmu" Vania mundur, menjauhi Julian. Melihat itu Julian pun berhenti mendekati Vania

"Kau tidak tahu betapa sulitnya aku menemukanmu"

"Kenapa..?" suara yang keluar dari mulut Vania terdengar serak

"Kenapa mencariku? Apa ada yang salah?"

"Tidak.. bukan karena ada yang salah, aku hanya mencarimu karena.." Julian diam lalu mengusap tengkuknya darimana dia harus mulai

"Bagaimana kalau kita duduk dan makan dulu? Kau belum makan kan?" Julian beranjak kesatu kursi lalu menariknya untuk Vania. Vania menggelengkan kepalanya

"Aku harus menemukan temanku" Vania pun menjauhi Julian dan berjalan kearah pintu

"Tidak..Tunggu dulu.." Julian menahan Vania dengan memegang lengan gadis itu. Vania yang terkejut menepis tangan Julian lalu mengusap tangannya karena tiba-tiba saja panas menjalar dari tempat yang disentuh oleh Julian. Julian mengeraskan rahangnya melihat penolakan Vania

"Tunggu.. aku sudah menyiapkan hidangan untuk kita berdua, setelah kau makan kita akan berbicara. Yaa..?"

"Aku harus menemukan Mira"

"Vania.."

"Dia yang membawaku kesini, aku ingin mendengarkan penjelasannya tentang semua ini, kenapa aku memakai baju ini, kenapa kau ada disini?"

"Kau terlihat cantik dengan baju itu"

Vania mengerutkan alisnya bingung, ada apa dengan Julian? pria itu tidak pernah mengatakan hal-hal seperti ini sebelumnya

"Aku harus pergi" Vania lagi-lagi memutar badannya dan beranjak kearah pintu, dan Julian tidak tinggal diam, pria itupun menyusul Vania dan menghadang langkah gadis itu

"Vania.. ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu, dengarkan aku dulu"

"Tidak tuan Granger, kesepakatan kita sudah selesai setahun yang lalu" Vania mengambil jalan lain dari tempat yang dihadang oleh Julian, namun sekali lagi Julian menghadangnya

"Tuan, izinkan aku pergi"

"Tidak, sebelum kau mendengarkan aku"

Aksi hadang menghadang itu terjadi untuk beberapa saat, Julian bertahan dengan tidak menyentuh Vania lagi karena gadis itu terlihat jelas tidak suka ketika ia menyentuhnya. Vania tetap bersikeras menemukan jalan lain hingga kepintu keluar. Lelah dengan permainan hadang menghadang itu Vania pun menghentikan langkahnya

"Apa maumu? Aku sudah meninggalkan bayi itu padamu, aku lihat tidak ada yang salah lagi" protes Vania, gadis itu menahan keras rasa sesak didadanya ketika mengatakan hal itu.

"Salahnya adalah, kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku"

"Aku meninggalkan surat"

"Aku tidak butuh surat, aku ingin kau yang mengatakannya langsung padaku"

"Baiklah.. akan kukatan sekarang, aku pergi tuan Granger, meninggalkan bayi itu padamu, puas?.Sekarang menyingkirlah dari hadapanku"

Vania menerobos jalan sempit antara Julian dan tembok sebagai usaha terakhirnya, namun hal itu justru membuatnya menyesal karena sudah nekad. Julian memeluknya, menahan gadis itu dengan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Vania

Vania menahan nafasnya sendiri karena tiba-tiba dipeluk seperti itu, nafas Julian menderu dikepalanya, punggungnya menempel dengan dada Julian menandakan kuatnya pelukan Julian

"Aku salah, aku salah karena tidak mengatakan ini dengan cepat, Vania.. aku tidak pernah menginginkanmu pergi dari hidupku, memintamu untuk membuat keputusan adalah suatu kesalahan besar. Aku menyesali hal itu selama setahun ini"

"Apa yang kau bicarakan?" Vania mengerutkan alisnya, ia semakin bingung. Ada apa dengan Julian.

"Aku sedang mencoba menjelaskan padamu bahwa aku ingin kau tetap berada disisiku, bersama putri kita"

"Tuan aku yakin kau sedang tidak berfikir logis"

"Ya Tuhan, satu tahun lamanya Vania.. kau pikir apa yang kupikirkan selama satu tahun ini?" geram Julian pun mengguncang Vania yang berada dipelukannya

"Aku tidak tahu, mungkin saja karena Mba Angel masih menolakmu kau jadi kehilangan akalmu" Vania meronta dari pelukan Julian, ia tidak suka dipeluk oleh pria itu, karena rasanya Vania tidak akan bisa berfikir jernih jika dipeluk seperti ini

"Yang membuatku kehilangan akal itu kau.. Sial, berhenti meronta"

"Kau menyakitiku, kau memelukku terlalu erat, aku bisa remuk" Julian terdiam, ia memang memeluk gadis itu terlalu erat

"Aku akan melepaskanmu asal kau janji tidak akan pergi, dengarkan dulu apa yang ingin kukatakan"

Vania menganggukkan kepalanya, pelan-pelan Julian pun melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang Vania, detik berikutnya gadis itu pun berlari menuju pintu dan keluar dari kamar hotel itu

"Sial.." Julian berlari mengejar Vania

.

.

.

Kritik dan saran diharapkan🙏🙏

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪👍
TATI PUTRISOLO
cinta bikin orang kdg enggk ada logika ya thour hahaaa
enggak lht dia bos yg anhkuh dingin kalau sdh bucin enggak jln logika dllnya/Angry/
Tifanny Lette
sya pernah baca novel ini di opera mini,, tahun 2014
tpi nma aktornya kyuhyun
🙏🙏
TATI PUTRISOLO
jgn bw perasaan vania takut sakit yg luar biasa... ak ikut aedih tp mau n keadaanya memang orang susahsdgkan ibu nya sakit parah..
Duwie Sartika
sapa lg Damian? masa tiba-tiba ganti pemain /Facepalm/
Duwie Sartika: aman kk, sepanjang baca cerita cm ini yg beda... /Smile/
total 2 replies
Les Tari
👌
safna
akan ada penyesalan untuk mu juliyan
safna
kasian pak norman
Mika chan
balita nggak sih?
Mika chan
aku jujur cari di google "apakah janin-" lansung ada dong
rere
Luar biasa
Faidhol Baroka
apa judul mira tor
Nurijan Daud
aku suka ceritanya...seru
Yuli
🤣🤣Dan aku menyukainya thor
Icha Afriyah
oke cerita nya
Ana Mirfat
Kecewa
Cinta Dalam Do'a
mntaaaap Author cerita smpai tamat nggaq setengah" sneng bacanya ..bikin lagi dong yg lain
Acil ipah Ipah
mewak aq thor 😭😭😭😭
Acil ipah Ipah
sedih bngt aq thor 😭😭😭
Ma Em
bagus Vania berikan sedikit pelajaran untuk Julian biarkan dia merasakan betapa berartinya dirimu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!