NovelToon NovelToon
CUKUP SATU

CUKUP SATU

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: EmeLBy

Sebaiknya mampir dulu di OB MILIK CEO Sebab latar dan tokoh pada karya ini adalah kelanjutan dari kisah tersebut.

Ada tentang rumah tangga Gilang dan Gita.
Ada drama rumah tangga Kevin dan Muna.
Juga kisah cinta Asep dan Siska.

Ini lapak baru tapi pemain lama.
Nikmati keseruan, gombal, juga bucinnya.

Selamat membaca🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 : BAIKAN

"Cukup kasih sayang eneng banyak banyak a'. Itu udah cukup." Gita meyakinkan suaminya.

"Ga semudah bicara neng. Emang ada mata uang sayang? emang bisa beli apa apa tuh pake cinta. Ga ada neng. Semuanya butuh uang."

"Iya... emang. Di mana belanja ya pake uang a'ayank. Ga ada yang gratis di dunia ini."

"Nah tuh... eneng juga tau kan. Ngenes hati a'a neng. Liat nominal eneng sekali belanja, bahkan hampir sama dengan harga mobil yang mampu a'a beli untuk kita. Tapi, apa yang eneng punya? Audi R8 itu mencapai 7 M, neng. Hanya sebagai hadiah ultah dari orang tua eneng tahun kapan. Apa kabar hati a'a neng?" Gilang sekalian saja menumpahkan uneg unegnya selama ini. Kaget donk, istrinya sekaya apa.

"Terus, salah eneng di mana?" tanya Gita bingung dengan suaminya yang ternyata sensitif.

"A'a baru tau, pasti dalam hati eneng hanya menertawakan kemampuan a'a yang cuma kasih nafkah 3,5jt tiap bulan buat eneng, tentu bagi eneng hanya untuk belanja korek kuping saja." Umpat Gilang yang sudah berdiri menghadap view indah di depannya. Namun tetap tidak membantu menenangkan jiwanya. Emosinya masih meluap, bagai muara sungai yang berarus deras. Ia tak marah sebenarnya, hanya malu jika ia tak mampu menyeimbangkan kehidupan keluarga istrinya.

"Eneng ga ngerti, ada apa sesungguhnya yang terjadi a'." Lirih Gita pelan.

"Sebenarnya kita sedang membahas belanjaan eneng yang banyak? jika a'a keberatan. A'a cukup bilang sama eneng, itu boros, itu salah dan jangan di ulangi. Bereskan?" Gita melembut seperti berbicara dengan dirinya sendiri saja, tanpa ingin mengharap jawaban dan respon dari suaminya.

"Atau kita sedang membahas tentang kemampuan suami menafkahi istrinya? Hah... mau seratus ribu sebulan pun, jika hanya itu kemampuan suami, istri bisa apa? bukankah yang paling penting itu niat dan ke ikhlasannya? Agar nanti nafkah itu di terima istri dengan rela juga di bawa kedalam doa untuk selanjutnya dapat menjadi berkah yang berlipat kali ganda atas keikhlasan sang pemberi dan penerima? Ah... entah lah. Terserah a'a mikirnya bagaimana..." Kalimat Gita menggantung, semakin rumit ia rasa hal yang mereka persoalkan.

"Bukan... bukan salah eneng. A'a hanya sedang kecewa saja dengan diri sendiri betapa yang a'a bisa beri selama ini tak bernilai sama sekali, a'a miskin neng." Ya iyalah jiwa miskin Gilang tetiba meronta donk, sama kali dengan readers dan nyak othor juga.

"Miskin dari mana? a'a itu pria mapan. Usia 30 tahun, memiliki pekerjaan tetap, sudah punya rumah, ada mobil juga. Untuk standart umum manusia, itu sudah cukup. Di mana letak miskinnya? Di luar sana masih banyak pemuda seusia a'a yang masih melunta lunta mencari pekerjaan, atau masih berjuang menyelesaikan pendidikannya, bahkan ada yang bekerja kasar untuk mencukupi kebutuhan untuk membeli susu anak anaknya. Apa yang merubah hati a'a sehingga tak bisa bersyukur atas semua pencapaian a'a? Deg... Gilang tertohok. Sendirinya bingung kenapa ia begitu baper.

"Gilang Surenra yang Gita kenal tidak begini. Pikirannya positif, hatinya luas, tak pernah menggunakan ukuran orang lain untuk menjadi pedoman hidupnya. Ia tak pernah peduli dengan pandangan orang terhadapnya, baginya hanya tidak melanggar perintah Allah dan menyenangkan orang yang ia sayang untuk di lindungi itu tujuan hidupnya. Itu alasan mengapa aku jatuh cinta padanya, aku ingin di bimbing seorang imam yang kuat seperti dia. Tapi, kenapa hari ini aku kehilangan sosok pria itu?" Gita panjang lebar menyatakan isi hatinya, bahkan melepas atribut panggilan sayang yang selalu tersemat selama ini. Pertanda ia oun telah dalam mode serius mungkin berujung ngambek.

"Maaf neng... A'a keder. Sumpah. A'a ngerasa hanya sampah di keluarga eneng."

"Bukan keluargaku yang menganggap begitu, tapi pikiranmu sendiri yang beranggapan begitu. Letakan harga dirimu setinggi tingginya, agar tak seorangpun tak bisa menginjakmu. Tapi bukan berarti, kamu menghina orang di bawahmu, agar kamu tetap di hormati."

"Tapi... kita sungguh jauh berbeda neng."

"Bisa kah kita sederhanakan saja konsep rumah tangga kita yang ga usah mengukur semuanya dari materi semata. Aku lelah." Ujar Gita tegas. Gilang berbalik memandang sendu ke arah istrinya yang sudah dalam modeb tidak baik baik saja.

Gilang tersadar kebaperannya sudah merusak mood istri tercintanmya. Tapi bagaimanapun Gilang manusia, ia juga punya hati dan perasaan. Ia bukan malaikat yang tak pernah salah, sisi hitam hatinya juga kadang bisa di pengaruhi bisikan setan yang dengan cara apapun bisa menghasutnya dengan cara yang tak iya sadari.

“Astagafirullah… Astagafirullah. Maafkan a’a neng. Ujarnya mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Magrib akan menjelang. Tanpa perintah dan kata kata ia sudah membentang dua sajadah di lantai. Gita paham, lalu beingsut turun ranjang dan melakukan hal yang sama, mereka pun sholat berjamaah.

Selesai sholat, Gilang sudah menyambut tangan kanan istrinya yang sudash mencium punggung tangannya dengan takzim. Lalu Gilang meraih kepala Gita untuk menberikan ciumannya. Tapi tubuh Gita justru bergetar menahan tangisnya. Gilang lansung merangkum tubuh Gita dalam pelukannya.

“Maafin a’a neng.” Sendu Gilang tulus, ia tak sengaja menyakiti hati istrinya. Ia hanya bermaksud jujur dengan perasaan yang sedang melanda hatinya.

“Maafkan Gita juga, belanja ga ijin sama a’a.” Tangisnya pecah dalam dada Gilang.

“Itu uang eneng, itu hak eneng menggunakannya untuk apa. A’a yang salah, a’a yang baper, a’a yang merasa tidak berguna.” Papar Gilang lagi.

“A’a… a’a sayang eneng?”

“Kenapa harus tanya itu lagi?”

“Kalau a’a sayang, tolong. Jangan lagi bahas tentang perbedaan kita. Harta ini semua hanya titipan a’. Sewaktu waktu bisa habis, hilang kembali pada yang berhak untuk menikmatinya. Jadi tolong a’… eneng tidak mau kita bahas soal harta, kekayaan atau apapun yang buat kita berdua salah paham.” Pinta Gita masih dalam tangisannya terisak isak.

“Iya… maaf. Maafkan a’a. A’a ga bisa nahan perasaan a’a tadi. Maksud a’a mau jujur ke eneng, tapi maaf. Mungkin penyampaian a’a yang salah.” Gilang mengusap air mata Gita dengan tangannya.

“Ia… janji. Ini tidak akan kita bahas. Ini cambuk untuk a’a. Kau malu ya berusaha, bukan mengutuki diri. Bukan.” Gita memeluk tubuh suaminya erat.

“Iri boleh a’a, tapi jangan dengki. Hari ini a’a boleh iri dengan pengeluaran eneng yang banyak itu, tapi pastikan di tahun berikutnya. A’a lah donatur eneng satu satunya, karena a’a sudah jadi pengusaha yang sukses, sangat suses. Oke a’.”

“Amin.” Sahut Gilang.

“Neng ga malu, suami ga modal?”

“Eneng yang harusnya malu, sebab itu hasil pemberian orang tua. Eneng belum bisa nabung kayak a’a. A’a yang hebat.” Ucapnya yang sudah berdiri dan melepas mukenanya. Akan berganti dengan pakaian lain.

“A’a belum hebat kalo belum bisa bayarin istri a’a belanja dengan duit sendiri.” Ujar Gilang sudah tampak tersenyum.

“Ga uasah di bahas lagi deh.” Hardik Gita bercanda.

Tingtluing.

Notif SMS Gita berbunyi. Ia segera membuka ponselnya. Manik matanya memandang Gilang dengan tatapan bingung, setelah membaca isi pesan teks tersebut.

Bersambung…

Isinya apa yak?

Makasih

🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏

1
bunda n3
hahaha, asep malah lebih parah dari Gilang ini
bunda n3
hahaha, nyak time menang tuuh
bunda n3
semoga diagnosa dokternya salah, dan ada keajaiban
bunda n3
kelakuan kevin emang diluar nurul
bunda n3
bukan motor aj yg di modifikasi hahaha
bunda n3
ternyata prediksi ami benar
bunda n3
jangan sampe ada OB di dalam wc wkwk
bunda n3
hahaha, jangan sampai Gita jadi wasit
bunda n3
hahaha, pantes aja lama
bunda n3
lah, itu siapa yg ngetok, kasian lagi nanggung
bunda n3
Gilang bijaksana banget
bunda n3
cucu sendiri ga diakui, sementara cucu orang lain yg blm jelas diakui, aneh
bunda n3
waduuh a'Gi aya aya wae,
bunda n3
hahaha, mending masuk liang aj deh muna sama kevin wkwk
bunda n3
ternyata Asep dah sering juga
bunda n3
waduh Asep ternyata...
bunda n3
gemes banget sama Asep nih
bunda n3
misi ambu berhasil
bunda n3
duuh si ambu
bunda n3
nah lho, malah bikin curiga wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!