21++ Harap bijak memilih bacaan. Bukan bacaan untuk teenager, ABG, Bocil dan kawan-kawan.
Widia adalah mahasiswi tahun pertama yang mendadak harus menikah dengan pacarnya karena paksaan dari kakaknya.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Widia dan Ivan yang tidak pernah berkonflik besar tiba-tiba berpisah. Widia menghilang meninggalkan suami dan anaknya.
Setelah beberapa waktu, Widia yang dikira telah tiada ditemukan bersama dengan laki-laki tampan lain yang memperbudaknya sebagai istri.
Bagaimana perjuangan Widia untuk lepas dari 'GENDAM' Sang Suami setelah hadirnya madu yang meracuni hidupnya?
Base on true story, Cus … dibaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 35
Widia membuka ponsel untuk menyegarkan ingatan tanggal terakhir dia datang bulan. Dua hari ini tubuhnya seperti meriang dan dadanya terasa sakit. Persis sama dengan yang dirasakannya saat hamil anak pertama.
Menyadari sudah seminggu lewat dari jadwal tamu bulanannya, Widia mengeluh. Meski belum memastikan tapi perasaan Widia kuat mengatakan kalau dia hamil.
Waktunya seharian ini hanya dipakai tidur oleh Widia. Rasa kantuk dan malas menyerangnya, ditambah lagi tidak ada Erwin di rumah.
Widia juga izin tidak membantu Reni di warung karena ingin istirahat lebih banyak.
Hingga malam saat Erwin pulang, Widia masih saja berbaring tanpa melakukan apapun.
"Kenapa kamu? Kok agak pucat?" tanya Erwin menghampiri tempat tidur, meletakkan tangan di dahi Widia lalu kembali bertanya, "Sudah minum obat?"
Widia mengangguk lalu duduk di ujung tempat tidur. "Masih sore kok sudah pulang, Bang?"
"Iya, capek banget. Dani yang keliling nganter penumpang." Erwin meletakkan tas kecilnya, lalu mengelus perut, "Aku lapar, Wid!"
Menahan pusing, Widia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Kembali ke kamar dengan membawa sepiring nasi penuh dan segelas besar air. "Ini makannya, Bang!"
Erwin makan dengan lahap, seperti biasa dia lupa bertanya apa Widia sudah makan atau belum. "Besok masak ikan, Wid!"
"Iya, Bang!" sahut Widia singkat. "Oh ya kemarin Maya datang ke sini, cari Abang!"
"Hm … bilang apa dia?" tanya Erwin tak acuh.
Melihat gelagat Erwin, Widia menyimpulkan kedua orang itu pasti sedang dilanda masalah.
Dua kali Maya datang dengan raut antusias saat menanyakan keberadaan Erwin, cenderung memaksa Widia untuk membantunya bicara pada suaminya. Maya meminta Erwin agar mau menerima teleponnya.
Meski tidak mengatakan masalahnya, tapi Widia bisa melihat kegusaran Maya saat Widia mengatakan kalau Erwin juga belum menghubunginya selama keluar kota.
Widia menatap intens Erwin dan menjawab, "Cuma tanya kenapa Abang nggak bisa dihubungi?"
"Serius cuma itu aja?"
"Iya, tapi dua hari berturut-turut Maya datangnya. Kayaknya ada yang penting! Abang ada masalah apa sama Maya?" tanya Widia penuh selidik.
Erwin menggeleng, menjauhkan piring bekas makan lalu menyalakan rokok. "Mungkin aku mau berhenti kerja jadi sopir, Wid!"
Widia tidak mengerti arah pembicaraan Erwin yang menurutnya keluar dari topik utama, "Ada masalah apa memangnya, Bang?"
"Kita pindah dari sini, nanti malam aku akan bicara sama Dodi kalau aku berhenti. Sekalian ambil bayaran, besok pagi kita cabut!" kata Erwin datar. Dia menghisap rokoknya dan menghembuskannya dengan berat.
Erwin sengaja memblokir nomor Maya karena tidak ingin diganggu. Pengakuan Maya sehari sebelum dia keluar kota hampir meledakkan kepalanya.
"Aku hamil," kata Maya saat itu.
" … " Erwin hanya diam tanpa menjawab apapun. Itu adalah berita buruk yang paling tidak ingin didengarnya dari mulut Maya.
"Kamu mau tanggung jawabkan?" desak Maya.
Erwin langsung menaikkan alisnya, "Aku sudah punya istri, May!"
"Tapi ini anakmu, Win!" pekik Maya menaikkan suaranya.
"Kamu yakin? Aku tau kamu tidak hanya main sama aku, May … kamu itu simpenan orang. Gimana kamu bisa memastikan kalau itu anakku sementara ada orang lain yang juga ikut pakai tubuh kamu buat kebutuhannya?"
Tangan Maya dengan ringan menampar pipi Erwin, "Aku tidak menyangka kalau hubungan manis kita sama sekali tidak ada artinya kamu."
Erwin mendorong Maya kasar, "Aku menghargai hubungan kita yang tak lebih dari suka sama suka dalam melampiaskan hasrat. Tapi, untuk menikahimu … itu tidak mungkin!" jelas Erwin sarkas sesaat sebelum meninggalkan Maya yang sedang merebak. "Aku tidak mau merawat anak orang lain yang kau akui sebagai anakku!"
Di kamar, Widia tak berhenti mendesak Erwin agar mengatakan masalahnya. Memberikan alasan kenapa mereka harus angkat kaki dari rumah Reni?
"Kenapa kita harus pindah dadakan, Bang? Trus kita mau tinggal dimana? Abang udah dapat pekerjaan lain?" cerca Widia tanpa kenal lelah.
“Kau mau aku menikahi Maya? Dia hamil," jawab Erwin singkat.
Widia menganga, "Hah … itu anak Abang?"
"Nggak tau … dia itu perempuan murahan, main sama banyak orang! Udah jangan banyak tanya lagi, mending kamu beres-beres baju sama barang yang bisa dibawa. Kita berangkat besok subuh."
Erwin keluar meninggalkan Widia yang masih kesulitan mencerna cerita darinya. Tujuannya ke rumah temannya untuk pamit dan mengambil uang bayaran membawa travel keluar kota hari ini.
Widia mendadak mual mendengar pengakuan Erwin, tidak sedikitpun terbersit dalam pikirannya kalau hidupnya akan semakin rumit.
Membayangkan Maya adalah dirinya, Hati Widia terenyuh. Saat itu juga Widia melihat bayangan Ibunya yang menangisi kepergiannya. Widia pun tersedu.
***
erwin apa khabar ya?..
smoga nasib baik berpihak padamu