NovelToon NovelToon
KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-misteri dan gaib / Misteri / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.

Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.

Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.

Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?

Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?


SEASON KEDUA

Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.

Ke mana perginya gadis itu?

Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?

Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 35 KEMBALI KE RUMAH

Aku beranjak ke tempat parkir setelah mengambil obat ibu di apotik. Tak lupa kulambaikan tangan sebagai tanda terima kasih kepada seseembah yang tadi menyusulku ke kamar mandi, untuk memberitahu bahwa obat pesananku sudah tersedia. Laki-laki sepantaran Mbah Nur itu ternyata salah satu petugas kebersihan di rumah sakit ini.

Ibu dan Bapak nampaknya sudah cukup lama menunggu kedatanganku, Saking lamanya ibu sampai tertidur di kursi belakang Toyota Corona milik Pak Prapto. Sementara Bapak baru masuk ke mobil setelah menyuruhku masuk duluan.

"Antri ya di apotik?" tanya Pak Prapto setelah menstarter kendaraan roda empatnya.

"Hanya beberapa orang, tapi proses mempersiapkan obatnya yang lama." Jawabku enteng.

Lihai sekali Pak Prapto mengendalikan kemudi. Perjalanan ke rumah yang sedianya ditempuh sekitar satu jam-an, dipersingkat menjadi empatpuluh menit-an oleh Pak Prapto. Selayaknya warga kampung yang jarang melihat mobil mengkilat, mata mereka tidak mau lepas memperhatikan si silver yang kami naiki. Anak-anak kecil bahkan berlarian mengikuti mobil kami yang merangkak perlahan mengimbangi kerasnya batu penguat jalan.

Mobil yang kami naiki berhenti tepat di depan rumahku. Begitu melihat yang keluar dari mobil adalah keluargaku, warga kampung yang kebetulan ada di sana mengerumuni kami dan bahu-membahu membantu memindahkan barang-barang kami dari mobil ke ruang tamu.

"Bagaimana keadaanmu, Ningrum?" ujar Bu Hendra

"Alhamdulillah, sudah baikan, Jeng" jawab perempuan yang telah melahirkanku itu

Dari tengah hari hingga sore, para tetangga silih berganti menjenguk ibuku. Ada yang membawa gula, beras, buah-buahan, bahkan mie instant. Alih-alih bisa beristirahat, kami harus menemani para tamu. Mau bagaimana lagi? Itulah bentuk perhatian dan sekaligus adat-istiadat di kampung Jatisari. Justeru kalau tidak ada yang datang menjenguk, menandakan si empunya rumah dikenal sombong atau kurang baik pergaulan sosialnya. Ketika adzan maghrib dikumandangkan dari toa masjid barulah rumahku sepi seperti sedia kala.

"Wah! Masjid di kampungku sudah mulai beroperasi rupanya. Alhamdulillah ... ."

Berita kematian Agus sudah tersebar ke seantero kampung. Kasak-kusuk yang beredar di kalangan warga, mereka tidak ada yang mau mengurus jenazah bapaknya Cak Rosid itu. Bahkan penduduk tidak mau mayat penculik ibuku itu dikuburkan di kampung ini. Warga melakukan ini tentunya bukan tanpa alasan karena selama ini bromocorah itu sudah banyak meresahkan warga kampung. Tetapi aparat kepolisian dibantu staf desa tetap keukeuh ingin memakamkan jenazahnya di kampung ini dengan berbagai pertimbangan.

Setelah isya' warga kampung dikumpulkan di rumah Pak Suwarno untuk mendiskusikan hal tersebut. Diskusi berjalan dengan alot tetapi pada akhirnya penduduk harus mengalah, jenazah pembunuh itu tetap akan dimakamkan di kampung ini.

Malam harinya suasana begitu syahdu, hati terasa tentram dan damai. Suara indah binatang malam bersahutan dari kebun warga membuat kami sekeluarga bisa tidur lelap melepaskan segala penat fisik dan mental selama berada di rumah sakit. Saking enaknya tidur, kami bangun hampir ketinggalan sholat subuh.

Syukurlah, pagi itu Ibu sudah bisa memasak untuk kami kembali. Untuk sementara Bapak stay di rumah saja khawatir Ibu tiba-tiba limbung. Sedangkan aku disuruh masuk sekolah untuk mengikuti THB susulan.

Di sekolah, teman-teman menyambut hangat kedatanganku. Ketika ada waktu di luar kelas mereka semua mewawancarai apa yang aku lakukan selama di rumah sakit. Akupun menceritakan tentang dokter, suster, dan bagian-bagian rumah sakit. Hanya kepada Parto dan Juwari aku menceritakan teror arwahnya Agus. Mereka berdua bergidik ngeri mendengar ceritaku.

Pukul tiga sore setelah sholat ashar terdengar bunyi sirine ambulan. Mobil van putih itu berhenti tepat di depan rumah Cak Rosid. Warga ramai berkumpul di depan rumah bakul bakso itu. Mbah Nur juga ada di antara kerumunan warga.

"Sid, jenazah bapakmu mau disholatkan di mana?" tanya Mbah Nur.

"Di ruang tamu saja, Pak Kyai. Kursi-kursi sudah saya singkirkan, kasur sebagai alasnya juga sudah saya siapkan." Jawab Cak Rosid.

Petugas ambulan mengeluarkan jenazah dari bagian belakang roda empat. Jenazah itu sudah terbalut kain kafan dan dibuntel lagi dengan tikar anyam. Sesampai di luar mobil, Cak Rosid dibantu Mbah Nur dan beberapa warga lain mengangkat mayat tersebut ke dalam rumah dan meletakkannya di kasur di atas lantai.

"Ayo segera kita sholatkan jenazah bapakmu biar bisa segera dikuburkan."

"Inggih, Pak Kyai."

Hanya sedikit warga yang ikut mensholatkan jenazah. Aku dan Parto termasuk di dalamnya bersama sekitar empat sampai lima warga yang lain. Selain tempat sholat yang sempit, kalau melihat raut mukanya sepertinya warga malas untuk ikut mensholatkan. Ada keanehan yang kurasakan ketika sholat, aku yang berdiri di dalam paling ujung entah kenapa terasa ada orang lain yang berdiri di sebelah kananku ketika sholat, tetapi begitu salam, tidak ada siapa-siapa di sebelah kananku.

Selesai disholatkan, jenazah Agus langsung dipikul menuju kuburan. Sedikit sekali orang yang mau membantu memikul keranda. Aku dan Parto yang masih terhitung anak-anak bahkan ikut menyangga bagian tengah keranda supaya tidak patah atau ngejlok. Baru kali ini kami ikut menyangga keranda mayat. Ternyata agak ngeri juga mendengar suara 'kriet-kriet' dari sambungan besi yang sudah agak berkarat itu. Dengan bagian luar ditutup kain berwarna hijau bertuliskan lafal 'laailaahaaillallaaaah', sempat tersirat di otakku, mayat di dalamnya sedang terpejam apa melek ya?.

Astaghfirullah. Ternyata begitu jenazah sampai di kuburan, penggalian lubangnya belum selesai. Akhirnya warga memutuskan untuk menaruh keranda jenazah itu dulu di tengah gang kuburan sambil menunggu penggalian liang selesai.

"Sepurone yo, Mbah. Mayitmu dijemur disik ben garing (Maaf ya, Mbah. Mayatmu dijemur dulu biar kering)." Celetuk salah satu warga ketika menyaksikan keranda Agus ditaruh di tempat yang panas. Warga yang lain tertawa dengan kelakar orang tersebut. Aku sempat terkejut ketika mendengar keranda mayat itu tiba-tiba berderit sendiri, tetapi tidak ada orang lain yang melihatnya.

Setelah setengah jam menunggu akhirnya selesai juga penggalian lubang jenazah. Mbah Nur, Cak Rosid, dan Bapaknya Parto turun ke liang lahat untuk memulai prosesi penguburan jenazah.

"Jangan lupa tali pocongnya dilepas, Sid! Supaya nggak jadi demit bapakmu." Teriak salah seorang yang berada di atas lubang.

"Bola-bola tanahnya kok cuma ada tujuh?" teriak bapaknya Parto

"Waduh, nggak apa-apa wes? sudah keburu maghrib ini." Jawab salah satu warga.

Mendekati surup, barulah selesai pemakaman jenazah Agus. Di akhir acara pemakaman, Mbah Nur mengumumkan bahwa setiap selesai maghrib akan diadakan tahlilan di rumah Cak Rosid dan warga yang tidak berhalangan diharapkan menghadirinya. Setelah mendengar pengumuman dari Mbah Nur, wargapun pulang ke rumah masing-masing.

"Emang nggak apa-apa tah kalau bola tanahnya kurang satu?" tanyaku kepada Mbah Jun yang juga hadir ke pemakaman itu.

"Ya, semoga saja tujuh yang ada mampu menyangganya." Jawab Mbah Jun enteng.

"Menyangga gimana, Mbah?" tanyaku kembali.

Mbah Jun tidak menjawab pertanyaanku lagi, dia nyelonong pergi membawa sepeda ontelnya meninggalkanku dengan rasa penasaran dan khawatir.

Malam harinya acara tahlilan berjalan dengan lancar dihadiri warga sekitar. Tak banyak yang hadir pada acara tersebut, sekitar limabelas orang. Yang membantu memasak di rumah Cak Rosid juga hanya ibuku dan ibunya Parto. Setelah tahlilan selesai, aku membantu menggulung tikar di lantai, dari beberapa tikar yang dipakai ada satu tikar yang sepertinya tadi sore dipakai sebagai alas jenazah. Ngeri kurasakan ketika akan menggulung tikar bekas jenazah itu, tapi aku tetap menggulungnya meskipun ketika diputar seolah-olah mayat Agus ikut tergulung juga saat itu.

Begitu selesai membantu Cak Rosid, aku pamit pulang. Sedangkan Ibu dan Bapak masih di rumah Cak Rosid untuk beres-beres yang lain. Ibu sebenarnya masih belum sehat betul, cuma karena kasihan kepada Cak Rosid, makanya dia tetap nekad membantu.

Sesampai di rumah aku langsung masuk ke kamar. Aku berencana membaca-baca buku pelajaran yang sudah lama tidak aku sentuh karena besok aku masih ada THB susulan. Ketika asik membaca tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan. Pasti itu Parto, akupun agak berlari menuju ke arah pintu. Kutarik gagang pintu dan berniat menyambut kedatangan sahabatku itu

"Ayo masuk, To!" perintahku padanya padahal aku masih di balik pintu. Kemudian pintu kubuka lebar-lebar.

"Ayo masuk, A-a-a--a-a ... Toloooooooooooooong!

Ternyata itu bukan Parto, melainkan seonggok pocong dengan wajah hitam legam dan mata terbelalak berwarna merah. Dari sorot mata dan lingkaran hitam di pinggirnya, aku bisa memastikan kalau itu adalah pocongnya Agus. Kubanting pintu keras-keras dan kukunci rapat-rapat, tetapi di dalam aku masih kebingungan mau lari ke mana. Akupun berteriak kuat-kuat.

"Tolooooooooooooonggggggg ... "

-bersambung-

1
LyssLonely
uda baca 2020,sekarang balik lagi di tahun 2026
LyssLonely
uda baca 2020,kembali di tahun 2026
nayyy🐾
kesimpulanku :
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
Junan: baca sampai tamat kak
total 1 replies
Evellyn Decianaa
Udah baca pas 2020, 2024 sekarang baca lagi.. 😂😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
padahal baca ini siang2, tapi ntah kenapa ada rasa takut membacanya.
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung
Tantina Wyvaldia
gimana kalau p anton nikahi sepupunya parto?
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Tantina Wyvaldia
ceritanya terinspirasi "LIMA SEKAWAN", ya kak?
Tantina Wyvaldia
penuh kesenduan
Tantina Wyvaldia
get soul
Tantina Wyvaldia
astagfirullah
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Mini Upa
lumayqn bagus aku tungu dgn dgn kish selanjutx
Tantina Wyvaldia
kak author sukses bikin takut
Tantina Wyvaldia
semakin menarik dan pantas jadi yang terbaik, sayang, aku terlambat tahu cerita ini
van aridanaa
Kecewa
van aridanaa
Buruk
Fadlan
Luar biasa
cristian cris
kok aku yang patah hati ya gamonnya dari 2021 sampai 2024
Eka Pratiwi
sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!