Sebuah fenomenal bernama Cloud Eat tiba-tiba saja muncul dan melenyapkan sihir dari dunia, hal itu juga membuat Dewi Listard yang mengelola dunia tersebut ikut melemah, karena itu ia pun memutuskan untuk turun tangan mengatasinya dengan bantuan seorang laki-laki bernama Sten.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 : Kunci Kedua Telah Di Dapat
Sebuah akar dari tanaman kembali menyerang kami berdua, berbeda denganku yang harus terus mengayunkan pedang bagi Rista yang terbang di langit-langit dungeon dia dengan mudah menghindarinya
"Rista ambil langsung kuncinya."
"Dimengerti."
Dengar jet pendorong dikakinya Rista melesat kedepan, kecepatannya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, ia menerobos tanaman-tanaman yang merambat itu dan langsung memegang kuncinya, disaat yang sama aku mengikuti Rista dari belakang.
Rista berfungsi sebagai pembuka jalan, saat ia terbang keatas, aku menusuk peri itu tepat di jantungnya.
Tanaman yang merambat mulai mengering bersamaan dengan tubuh peri yang ambruk kesamping.
Sekarang tinggal menghancurkan dungeonnya lalu kembali kekota.
Perlu waktu lama untuk masuk maupun kembali, jika ada sihir semuanya pasti akan lebih mudah.
Di kediamanku Alvidya membuat beberapa makanan untuk kami, pada awalnya dia selalu memasak makanan yang tidak enak, namun seiring dengan waktu dia sangat mahir melakukannya, sebagai suaminya aku turut senang.
Hari ini ia membuat daging kalkun yang besar dengan saus yang tampak menggoda, Mila tampak menyukainya, telinga lancipnya akan sedikit bergoyang saat ia senang.
"Rista jangan memainkan makananmu, apa kau ingin makan sesuatu yang lain?" ucap Alvidya tampak khawatir.
"Ah tidak usah... aku hanya kangen dengan rumahku di surga, jika sihir kembali aku ingin secepatnya kembali."
"Begitu, sayang sekali kita tidak bisa mempercepatnya, selagi disini nikmati saja apapun yang kau mau."
"Kalau begitu, boleh aku diam saja di rumah?"
"Di tolak," aku dan Yuyun berkata di waktu bersamaan.
Rista tampak kesal tapi ini demi kebaikannya, aku tidak ingin dia menjadi Hikikomori atau sebagainya, bahkan untuk Mila sendiri ia sering membantu pekerjaan rumah saat Alvidya berkerja di guild.
Ini sudah malam hari saat aku keluar rumah.. seperti biasanya aku akan berlatih di belakang rumah selagi mengayunkan pedang kayuku.
Latihan seperti ini akan berguna saat dalam pertarungan terlebih untuk melatih fisik serta mentalku.
Aku telah mengayunkan 1000 kali dimana hitungan tersebut adalah akhir dari latihan, selanjutnya aku menjatuhkan tubuhku selagi memandang bulan yang bersinar terang tanpa apapun menghalanginya.
Dalam waktu dekat ini sesuatu pasti akan terjadi, tidak hanya mengumpulkan tujuh kunci untuk mengembalikan sihir semula, kami juga harus mewaspadai pergerakan dari pemuja iblis itu... bukan tidak aneh jika mereka menargetkan kota Viola sebagai tumbal berikutnya.
Aku hanya memikirkan hal itu dalam pikiranku sampai Alvidya muncul dengan segelas air dingin yang dibawanya.
"Pastikan kau banyak minum setelah berlatih Sten."
"Terima kasih."
Aku duduk lalu mengirim air minum itu ke dalam mulutku, sensasi yang menyegarkan terasa menjalar keseluruh tubuhku.
"Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Alvidya.
"Bukan apa-apa, aku hanya berpikir ketika kita berhasil mengembalikan sihir ke dunia ini, maka itu akan menjadi perpisahan kita dengan Rista."
"Kurasa aku juga akan merindukannya saat itu terjadi, meski demikian itulah hal yang di putuskan Rista bagaimanapun dia adalah seorang Dewi dia mungkin lebih ingin tinggal disana."
Apa yang dikatakan Alvidya memang benar, saat waktunya tiba aku harus bersiap menerimanya.
Keesokan paginya aku kembali ketempat kerjaku yang biasa saja, beberapa kertas masih saja menumpuk dimejaku tanpa tahu kapan akan berkurang.
Leonardo muncul selagi menyerahkan sebuah kertas kearahku.
Aku melihatnya dan menemukan sebuah permintaan yang lumayan aneh.
"Aku tidak ingin melakukannya tolong ganti yang lainnya," katanya.
"Kurasa ini memang tidak cocok untukmu, karena tidak ada orang yang bisa menggantikannya mari buang ini ketempat sampah."
Leonora muncul lalu merebut kertas itu dari tanganku.
"Apa yang kalian lakukan? Ini adalah pekerjaan yang kita terima, sebagai orang yang bekerja di kemiliteran kalian wajib melaksanakannya."
Aku maupun Leonardo hanya mendesah pelan.
"Kalau begitu biar aku saja yang melakukan, Leonardo gantikan aku sebentar sampai ini selesai."
"Baiklah."
Dengan percaya diri Leonora berjalan meninggalkan kantor, aku sedikit khawatir padanya, karenanya aku akan mengikutinya dari belakang.
Aku berkata ke arah Leonardo.
"Tolong gantikan aku juga, aku akan mengawasi Leonora."
"Heeehhhhhh... tahu seperti ini lebih baik aku saja yang melakukannya," ucap Leonardo dari arah belakangku.