Kevin, seorang pemuda tampan dan mapan terpaksa menikah dengan tante mungilnya, Wulan. Awalnya dia tidak menginginkan pernikahan itu, karna ia hanya menganggap Wulan sebagai adiknya dan hanya sebatas itu tidak lebih.
Wulan pengusaha muda itu, menyukai Kevin sedari mereka kecil, hingga ia nekat melamar Kevin.
Bagaimanakah perjuangan Wulan menaklukan hati Kevin yang biasa dia panggil Kak Shine itu??
Yuk baca dan lepaskan rasa penasaranmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titangnia E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wulan yang Protektif
Seminggu telah berlalu. Akhirnya tibalah saat Wulan untuk mengikuti ospek yang diadakan di kampus nya itu. Sekarang Kevin yang sudah menduduki semester akhir mulai fokus untuk menyusun skripsinya. Karena kepintarannya, ia bisa menyelesaikan SKS nya lebih cepat dari seangkatannya.
Saat itu, Kevin menghampiri Wulan di fakultasnya. "Tante Ulan" Pemilik nama itu mengalihkan pandangannya kepada pemanggil itu.
"Kakak, kok bisa tahu aku ada disini" Tanya Wulan antusias. Di sana juga ada Winda, Jasmin dan juga Pipit yang merupakan teman baru Wulan di sana. Sedangkan Cindy ia terpaksa melanjutkan kuliahnya di Singapore karena Papanya yang mengurus bisnis keluarga di sana.
"Lan, siapa? Ganteng banget" Jasmine yang sangat suka dengan pria tampan itu langsung bangkit rasa penasarannya untuk mengetahui pria tampan didepannya. Sedangkan Winda dan Pipit masih bengong dengan pemandangan indah didepan mereka.
"Perkenalkan, gue Kevin." Sapa Kevin mengulurkan tangan kepada mereka bertiga yang disambut dengan antusias.
"Udah siap kegiatan kampusnya?" Tanya Kevin "Udah Kak. Tinggal pembubaran aja" Kevin mengangguk mengerti. "Kalau gitu, aku tunggu di kantin depan situ ya." Kata Kevin kemudian berlalu meninggalkan mereka sesudah memberikan senyumnya yang membuat mereka serasa ingin pingsan.
"Pit Pit tampar gue cepat" Plak. Tamparan pun terbang ke pipi Winda "Aw sakit bego" Winda mengusap pipinya yang memerah itu. "Lo sendiri yang minta" "Pelan bisa kan" "Iye maap. Lagian buat apa sih" "Aduh Pit, lo gak sadar ya tadi pangeran barusan lewat"
"Iya kan Win, sumpah ganteng pakek banget." Seketika mereka bertiga menatap butuh penjelasan pada Wulan.
"Ada deh kepo." "Wulan pelit ah" Jasmin mengerucutkan bibirnya. "Tapi bentar deh, tadi dia bilang nungguin lo. Jangan bilang kalian pacaran?" Terka Winda
Wulan tersenyum kecut "Bukan pacar sih. Tapi gue suka dia udah lama sejak kami kecil. Sekarang kami tinggal serumah" "Hah!! Serumah?" Kata Jasmine sambil menggoyang - goyangkan badan Wulan syok.
"Ia lepasin dong pusing tahu" "Aku perjelas, maksudnya serumah, dia tinggal di rumah lo atau lo yang tinggal dirumahnya. Seperti itu kan Lan" Kata Pipit setelah berpikir agak keras
"Hm, mirip sih Pit. Tapi lebih tepatnya gue yang tinggal dirumahnya." "Begitu. Ada siapa aja dirumahnya?" "Dia punya saudara cowok gak?" "Cakep" Timpal Winda dan Jasmine tidak mau kalah.
"Dia anak tunggal, terus selain gue dan dia tidak ada orang lain dirumah itu"
"Yang benar Lan. Lo bercanda kan?" Tanya Jasmine setengah berteriak. "Santai aja kali. Lagian gue gak tinggal sama nya barusan udah beberapa tahun juga." "Gila sumpah kocak" "Udah lo serang belum Kakaknya?" Tanya Winda entah diserang yang bagaimana membuat Wulan bingung
"Serang? Maksudnya" Jasmine menepuk jidat sedangkan Pipi dan Winda geleng kepala Entah apa saja yang sudah dilalui anak ini di dunia yang penuh cobaan ini. Kayaknya dia tidak tahu arti kehidupan. Mereka bertiga saling bertatap seolah - olah memiliki pemikiran yang sama.
"Lupakan. Kita boleh dong sekali - kali main ke rumah lo Lan" Kata Jasmine antusias "Gak" Jawab Wulan datar "Ye, kenapa. Kan kita bisa kerja kelompok kan di rumah lo. Lo bilang juga tadi kan dekat dari kampus."
"Pokoknya gak boleh. Kalau mau belajar di kampus aja." Wulan yang tahu teman - teman nya itu ingin mengincar Kevin tidak membiarkan mereka datang kerumahnya dan Kevin. Mereka bertiga tertunduk lesu, pupus lah harapan mereka.
Seperti janji Kevin, ia menunggu sampai Wulan dapat menyelesaikan kegiatan fakultasnya dengan menunggunya di kantin.
"Sudah siap?" Tanya Kevin setelah Wulan menghampirinya di kantin. "Iya Kak. Makan dulu ya, aku laper nih" "Oke. Aku pesan dulu ya. Tante duduk disini." Wulan mengangguk patuh
Kevin heran dengan tantenya itu. Banyak makan tapi berat badannya tetap sama seperti tidak bisa bertambah. Mungkin hanya bertahan sebentar, namun setelah tercerna kembali lagi ke berat awal.
"Teman Tante tidak ikut makan bareng kita?" Tanya Kevin setelah menyendokan suapan pertamanya. "Kenapa Kakak menanyakan mereka, suka?" Kevin terdiam sejenak "Ia" Wulan menurunkan sendok garpu nya kasar di piringnya.
"Si siapa?" "Gimana?" Kakak suka yang mana? Winda, Jasmine atau Pipit" Kok bisa begini sih. Tahu begini mending aku aja yang nyamperin Kak Shine ke fakultasnya.
"Semuanya" "Semua? Kakak playboy ya?" Wulan mebelalakan matanya, tidak percaya. "Kok bilang aku playboy?" "Habis Kakak sendiri yang bilang naksir mereka bertiga" Wulan sudah menekuk wajahnya
"Astaga, Tante nafsir perkataanku bagaimana? Aku bilang suka bukan naksir." "Sama aja kan" Kata Wulan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Bukan begitu. Aku suka, masksudnya, senang karena Tante sudah punya teman baru disini. Jadi gak akan kesepian pas aku pergi nanti." Wulan mengerutkan keningnya?
"Kakak mau kemana?" "Aku.. bukan apa - apa" "Apaan cepat bilang. Kakak!!" Melihat keadaan sepertinya tidak bisa mengelak, akhirnya Kevin memberitahu Wulan. "Sebenarnya aku sudah dapat konfirmasi buat beasiswa S2 ku diluar negeri Tan" Jawab Kevin hampir tak terdengar
"Kenapa tidak disini aja Kak. Kan masih banyak kampus yang bagus juga" Mata Wulan terlihat memohon. "Tidak bisa Tan. Soalnya ini adalah impian aku sedari kecil" "Tapi aku tidak ingin pisah sama Kakak. Aku ikut kalau begitu"
"Tante, Tante gak bisa begini. Ini akan membuat Kakek sedih. Aku janji, akan sering mengabari Tante nantinya" Kevin berusaha menghibur tantenya itu. "Janji?" Akhirnya Wulan luluh hatinya setelah berpikir sejenak, dan tentunya juga karena bujukan Kevin "Iya janji" Jawab Kevin lega, tidak lupa mwnautkan jari kelingking mereka.
"Terus, kapan Kakak harus berangkat?" Masih tersirat nada sedih dalam kalimat itu. "Satu minggu lagi. Setelah aku pergi, Tante kembali kerumah Kakek ya" "Iya Kak" Wulan tidak melanjutkan kegiatan makannya. Nafsu makannya sudah menghilang entah kemana.
Mereka pulang kerumah mereka setelah menyelesaikan makanan mereka dikantin itu. Wulan tidak tahu, kalau itu adalah kesan terakhir Kevin yang dapat ia berikan kepada Wulan dikampus itu.
Titangnia E.
authornya lupa 🙈🙈
-AKU BUKAN LESBIAN.
Dapet dalam dari
" Bidadari Sang Gus "
Ditunggu vote , like dan komen katanya ..
Silahkan mampir juga ya....!!!!
kita saling dukung
Oke .....