NovelToon NovelToon
Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.4
Nama Author: MURADIF

*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].

SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.

[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]

⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.


*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*


✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32: Tangisan Masa Lampau. (Part 2.)

Setibanya di tengah hutan Selatan, provinsi Selatan. Malam hari itu juga ketiga figur pengemban amanat Walikota Seleh, berdiri dalam hati-hati melindungi sang gadis malang dan menanti presensi ras Malaikat.

Entah bagaimana, hawa hutan ini terasa bagaikan berada dalam makam anker dan gelapnya malam laksana misteriusnya kematian. Gadis itu nampaknya mentransfer aura demikian yang membuat dua tokoh dewasa punya impresi tersendiri mengenai ini.

Selain dari gadis malang yang tak bicara sedikit pun, dirinya bahkan tak tersenyum saat Nerta berusaha menggugahnya tersenyum, seakan-akan kesengsaraannya telah sampai pada kondisi di mana sebuah senyuman sudah tak berarti lagi digunakan.

Kemurungan dan kesuraman yang dipertontonkan gadis malang itu malah membuat Nerta tak tega hati untuk menyelidiki penderitaannya.

Hingga dikesunyian malam yang membentang, suara raungan seekor siluman anjing mengagetkan mereka, dan insting mereka secara impulsif mengarahkan mereka untuk mengambil ancang-ancang.

Tatkala udara bertiup kencang, beberapa ras Siluman anjing tiba-tiba menyerang mereka.

“Aku yang urus!” Inky mulai maju melakukan proteksi. “Kau jaga bocah itu!”

Nerta tak mengeluh, bergerak sesuai instruksi Inky. Berdiri sesigap mungkin di samping gadis malang. Sementara sang gadis tetap memaku sesuai bakatnya.

Inky bergerak gesit, 'Tsrat' 'Cleb' bilah pedang yang digenggamnya dengan sepenuh hati sukses menumbangkan beberapa siluman anjing yang hina.

Kakinya yang indah bergerak terstruktur bagai menari bersama angin, dan ayunan pedangnya yang lihai seolah merepresentasikan sesosok wanita tangguh. Terlihat liar dan berbahaya.

Tak ada yang banyak dilakukan Nerta. Seluruh siluman anjing yang mendekat secara pesat dihabisi oleh hebatnya Inky memainkan pedang. Kecepatannya mengagumkan dan gerakan matanya sinkron bersama kecepatan tebasannya.

Oleh karenanya, hanya dalam waktu tiga puluh menit, 10 siluman tewas di tangan Inky, sedangkan tiga lainnya gugur oleh partisipasi Nerta dengan pedangnya.

Realitas kembali hening dan agak berkerisik gara-gara bergoyang-goyangnya dedaunan pohon nan rimbun. Mereka kembali menanti di tempat yang sama.

Tak ada bintang malam ini, dan hari berganti begitu saja. Di hari ke dua yang sama kelamnya, beberapa siluman kembali hadir menyerang.

Nerta serta Inky pun kembali berjibaku mengusir atau melenyapkan mereka. Dengan tertib juga terampil, satu koloni itu untungnya dapat diatasi. Mereka tewas seluruhnya.

Di hari ke tiga semua aman terkendali. Kelengangan malam mengisi tempo itu. Di hari ke empat, ke lima hingga hari ke 120 segalanya juga syukurnya lengang dan sepi. Tanpa siluman, hanya ada penantian.

Arwah manusia seperti gadis malang itu tidak butuh makan. Kecuali kalau dia punya ilmu, kemungkinannya dia menyantap sebagai mana umat jin makan, atau bahkan tidak sama sekali. Dan gegara gadis malang adalah arwah, otomatis segala organ tubuhnya yang hancur secepatnya akan beregenerasi kembali. Tentunya arwah tak mungkin mati, namun sebaliknya, rasa sakit dan senang dapat dialami oleh sesosok arwah ini.

Hari-hari pun bergulir, empat bulan, lima bulan dan akhirnya dua tahun terlintasi. Nerta serta Inky masih sanggup bertahan dari beberapa serangan koloni siluman atau bertahan dari sebuah lamanya penantian.

Kesabaran adalah modal penentu yang membuat mereka senantiasa menjalani amanat itu tanpa keluhan. Masih belum mengeluh, dan seyogianya tidak mengeluh.

Dari sini, siklus waktu terus berputar, hari-hari pertumpahan darah menyertai mereka. Segala teknik pedang kepunyaan Inky seluruhnya telah dituangkan. Dan segala kebungkaman sang gadis terus berlangsung menciptakan kerahasiaan.

Perjuangan itu telah melepas waktu yang lama. 3 tahun 11 hari adalah momentum yang malam ini sudah mereka alami. Hutan tetap lengang dan suram. Kesunyian ikut melanda keadaan dan entah kapan gadis malang itu mau bicara. Bicarakan keluh kesahnya—mungkin. Barangkali, kebisuan sang gadis akan selamanya terjaga.

Nerta duduk bersila di tanah, menyelia gadis malang di hadapannya dalam raut muka analisis. Rembulan tengah bulat menumpahkan kemilau sinarnya dan Nerta mulai bertanya—lagi. “Adik ... bolehkah kakak menjadi mediasi kegelisahanmu?”

Sengap. Hanya sengap gadis itu dengan tertunduk muram, membiarkan uraian rambut-rambut hitamnya terjurai lurus menghalangi bentuk wajahnya. Seakan-akan menyembunyikan romannya dari kengerian pandangan mata, atau mungkin sebaliknya, takut menghadapi kenyataan dan terlampau menakutkan ditatap figur asing.

Nerta biarkan pertanyaannya lenyap dalam udara, kini tatapannya begitu mendalam dalam renungan. Berpikir, mungkin saja Nerta belum cukup familier bagi sang gadis. Mungkin juga, Nerta belum mendapat kepercayaan hati dari gadis itu.

Tetapi, Nerta mengajukan pertanyaan lain: “Bolehkah, kakak tahu, siapakah nama adik?”

Tak digubris. Masih tak digubris rangkaian kata-kata Nerta. Kepedulian Nerta yang ter-representasi dari tatapan, gestur tubuh, kesediaan melindungi, atau kalimat tanyanya, tak dibalas sang gadis. Mungkin belum, atau bisa jadi, tak akan pernah.

Inky sang wanita cuek berparas imut hanya berdiri miring masa bodoh, mengawasi lingkungan sekitar. Membelakangi sang gadis malang, seakan-akan gadis itu hanyalah patung yang akan dijual pada kolektor patung dan Inky wajib menjaganya dari para bandit.

Tubuh gadis malang itu kurus kering, kulitnya putih kesi, bajunya putih lusuh, seperti pakaian bekas yang telah dikencingi puluhan ekor anjing lalu digunakan tanpa dicuci. Rok gadis itu hitam panjang hingga ke tumit. Sebuah gaya busana ras Manusia yang sederhana dan hanya berharga karena demi menutupi eksotisme keindahan tubuh.

Sudah tiga tahun lebih kaki kurus gadis itu menopang bobot tubuhnya yang dibebani kesengsaraan hidup dalam posisi berdiri. Tak ada pegal baginya. Dengan demikian, gadis itu juga telah menunjukkan kalau duduk agaknya hanya berlaku untuk mereka yang dapat hidup lega, jadi tidak cocok untuk sosok kotor seperti dirinya.

Jemari kakinya dipenuhi lecet berdarah merah, melukiskan perjuangan yang tiada akhir, jemari tangannya yang rapuh sangat kurus agak bergidik getir, tubuh bungkuknya nampak kepayahan memikul siksa moral. Sungguh, gadis itu seperti sudah memahami esensi Neraka yang selama ini masyarakat beradab perbincangkan.

Terbesit rasa empati kala iris hitam Nerta memindai gadis itu lekat-lekat. Ini adalah pertama kalinya jejaka itu mendapati sesosok gadis manusia yang memiliki kehidupan yang tak seindah gadis manusia pada umumnya.

Menciptakan rasa empati mendalam dari kejiwaan Nerta. Semakin meluap seiring menyaksikan betapa memilukannya gadis itu. Dan sekonyong-konyongnya, Nerta buru-buru bangkit mendekatinya.

Kemudian berlutut dan mendekap gadis malang itu dalam rasa prihatin dan kasihan. Dua emosi itu melebur satu dalam pelukan yang semakin erat pada gadis itu. Sebuah pelukan untuk menenangkan jiwa letihnya sang gadis. Pelukan, kalau di dunia ini, di alam ini, masih ada sosok yang peduli di antara yang tidak peduli.

“Tenanglah ... adik kecil ... tenanglah ....” Entah mengapa mata Nerta mulai berkaca-kaca begitu tak tega. Memeluk gadis itu laksana kakak kepada adiknya yang seakan telah hilang dan kini kembali pulang. “Keadilan pasti akan memihakmu ... jadi, tenanglah.”

Hati Nerta entah bagaimana tersentuh oleh kemurungan sang gadis. Seolah kesunyian hutan membantu mentransfer rasa trauma sang gadis yang sangat menyiksa.

Kendati tak diketahui perasaan hingga emosi apa yang saat ini terbentuk pada gadis itu. Dalam diam terpaku, sang gadis tak bicara, tak juga menolak. Membiarkan seorang pria yang peduli padanya mendekapnya erat.

Sementara di sana, rupanya Inky memandangi sikap berempati Nerta. Menyiarkan pandangan cuek dalam kagum. Kagum kalau nyatanya, Nerta masih punya hati dan empati kuat walaupun bukan pada rasnya sendiri.

______________________________________________________________________

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.

(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)

1
Kinia
semangat ya (:
setiyowati b
lg mau baca nih thor... moga asyik
Harman LokeST
njuuuuuuuuuut author
Fahrur Rozi
seperti filem sinetron ajh
🍾⃝ʙͩaᷞiͧ ǫᷠiͣɴƓǫɪɴƓ 💞🇵🇸
baru mulai baca..semgat ka
arfan
up
zien
hadir 🌹🌹❤❤
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
zien
Hadir ❤❤
zien
Hadir 💗💗
zien
hadir ❤❤
Si Autor (IG: Anterta.): 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
Gyatsa Dzaky
bahasanu tinggi nian
Dave19
👍
Botha Hantu
ikut
zien
Semoga sukses selalu💗💗🌹🌹
zien
Hadir 💐💐
zien
hadir💗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!