NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Tiga Generasi Menantu

Margaret mengira urusan Calvin Zhou sudah selesai sementara.

Ternyata ia meremehkan mulut seorang ibu yang anaknya dipukul.

Pagi itu, Mama Calvin Zhou datang ke Jalan Pemuda dengan dua tetangga dan satu kerabat perempuan. Ia berdiri tepat di depan toko dry goods tempat Elisa bekerja, lalu menangis keras seolah putranya baru saja dibuang ke laut.

"Anak saya baik-baik!" teriaknya. "Dia cuma suka gadis itu, tapi keluarga Lim memukul sampai masuk puskesmas!"

Pemilik toko mencoba menenangkan, tetapi Mama Calvin Zhou makin keras.

"Kalau gadis itu tidak menggoda, mana mungkin anak saya mengejar? Gadis baik tidak pulang malam-malam sendirian!"

Kata-kata itu seperti minyak panas dituang ke jalan.

Orang-orang berhenti. Pedagang sebelah menoleh. Pelanggan yang semula membeli gula batu mulai berbisik.

Elisa berdiri di balik rak kacang hijau, wajahnya putih. Ia sudah belajar berkata tidak. Ia sudah membuat catatan. Ia sudah memberi keterangan di Polsek. Tetapi satu mulut keras di depan toko bisa membuat semua keberanian itu terasa retak lagi.

Yang paling menyakitkan bukan teriakan Mama Calvin Zhou. Yang paling menyakitkan adalah cara beberapa orang menatapnya seperti sedang menghitung kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Seorang pelanggan yang biasanya memanggilnya ramah tiba-tiba tidak jadi masuk. Dua perempuan di kios sebelah berbisik sambil melihat dari ujung mata.

Elisa baru mengerti kenapa Mama selalu menyuruhnya mencatat. Ketika orang sudah memilih percaya pada gosip, air mata saja tidak cukup untuk membasuh nama.

Pemilik toko segera menyuruh pekerja kecil lari ke rumah Lim.

Setengah jam kemudian, Margaret datang.

Ia tidak datang sendiri.

Di sebelah kirinya, Vanessa berjalan cepat dengan selendang di bahu, mata menyala seperti orang hendak masuk arisan perang. Di sebelah kanannya, Ama duduk di becak, tangan memegang kipas bambu, wajahnya dipasang setengah sakit setengah galak.

"Kenapa harus bawa Ama?" bisik Vanessa di jalan.

Margaret menjawab, "Untuk berat."

"Berat badan?"

"Berat umur."

Ama dari becak langsung menyahut, "Aku dengar!"

"Bagus. Nanti dengar lebih banyak."

Begitu sampai di Jalan Pemuda, Mama Calvin Zhou masih berteriak. Ia menunjuk Elisa, yang kini berdiri di samping pintu toko dengan mata merah.

"Itu dia! Pura-pura polos!"

Vanessa maju duluan.

"Mulutmu dicuci pakai apa pagi ini? Air selokan?"

Kerumunan langsung bergeser.

Mama Calvin Zhou terkejut. "Kau siapa?"

"Aku Cici-nya. Kalau kau mau memfitnah anak gadis keluarga Lim, minimal tahu dulu keluarganya datang lengkap."

Margaret mengangkat tangan. Vanessa langsung mundur setengah langkah, meski bibirnya masih bergerak tanpa suara.

Margaret menatap Mama Calvin Zhou.

"Kita bicara di Polsek."

"Kenapa harus Polsek? Aku hanya minta keadilan!"

"Karena kau tidak sedang minta keadilan. Kau sedang menyebar fitnah."

Kata Polsek membuat beberapa orang mundur. Tetapi Mama Calvin Zhou sudah telanjur naik panggung sendiri. Ia tidak bisa turun tanpa kehilangan muka.

"Baik! Ke Polsek! Biar semua tahu keluarga Lim menindas orang kecil!"

Ama tiba-tiba memukul sisi becak dengan kipas.

"Orang kecil jangan bawa mulut sebesar gentong!"

Kerumunan tertawa.

Mama Calvin Zhou makin merah.

Di Polsek, suasananya berbeda.

Jalanan bisa memihak pada suara paling keras. Ruang pemeriksaan memihak pada catatan, saksi, dan orang yang bisa bicara tanpa kehilangan arah.

Adrian sudah menunggu di sana. Ia datang dari kantor dengan map berisi salinan surat pernyataan Calvin Zhou, catatan Elisa, keterangan pemilik toko, dan bukti biaya pengobatan Rp 5.000.000.

Inspektur Felix, petugas yang menangani laporan sebelumnya, melihat rombongan tiga generasi itu masuk dan langsung mengusap kening.

"Keluarga Lim lagi?"

Adrian tersenyum sopan. "Kami juga tidak ingin sering datang."

Vanessa langsung menangis.

Tangisnya begitu cepat sampai Inspektur Felix terkejut.

"Petugas, kasihanilah keluarga kami," kata Vanessa, suara bergetar sempurna. "Elisa itu gadis baik. Sejak kecil dia tidak pernah berani bicara keras. Sekarang dia diganggu, dikejar, ditarik tangannya, lalu masih difitnah. Ama kami sampai hampir pingsan mendengar cucunya disebut tidak benar."

Ama, yang baru saja duduk, langsung paham perannya.

Ia menekan dada. "Aduh... cucuku... nama keluarga Lim diinjak..."

Margaret menatapnya sebentar.

Ama menambahkan lebih pelan, "Aku pusing."

Vanessa makin masuk peran. "Ama kami sudah tua. Dulu hidupnya susah, makan bubur encer, membesarkan anak-anak di zaman susah. Sekarang masa tuanya harus mendengar cucu perempuan difitnah di jalan. Kalau Ama kenapa-kenapa, siapa tanggung jawab?"

Ama berhenti sebentar.

Cerita itu terlalu indah sampai ia sendiri hampir percaya.

"Benar," katanya. "Aku memang makan bubur."

Margaret menutup mata satu detik.

Inspektur Felix batuk untuk menahan tawa.

Mama Calvin Zhou mulai panik. "Aku tidak fitnah. Aku cuma bilang kemungkinan."

Adrian membuka map. "Kalimat yang Anda ucapkan di Jalan Pemuda didengar lebih dari sepuluh orang. Anda mengatakan Elisa menggoda putra Anda. Itu tuduhan terhadap kehormatan seseorang."

Margaret menyambung, suaranya dingin.

"Namanya pencemaran nama baik. Kalau diteruskan, kami buat laporan baru. Bukan hanya laporan gangguan. Laporan fitnah."

Tetangga yang ikut Mama Calvin Zhou langsung saling pandang.

Satu dari mereka berbisik, "Aku cuma ikut lihat."

Vanessa menangkap celah itu.

"Lihat? Bahkan temanmu tahu ini salah. Kau bawa orang untuk merusak nama gadis yang sudah berani melapor. Kalau hari ini kami diam, besok semua anak perempuan yang diganggu akan takut bicara."

Elisa berdiri di samping Margaret. Tangannya masih dingin, tetapi kali ini ia tidak bersembunyi di belakang rak. Ia melihat Mama Calvin Zhou langsung.

"Saya tidak menggoda putramu," katanya pelan. "Saya sudah menolak. Dia yang mengikuti."

Ruang itu hening.

Kalimat Elisa tidak keras, tetapi justru karena tidak keras, semua orang mendengarnya.

Inspektur Felix menoleh kepada pemilik toko yang ikut dipanggil.

"Benar dia pernah menolak?"

Pemilik toko mengangguk cepat. "Benar. Di depan kasir. Saya dengar sendiri."

"Benar Calvin Zhou datang berkali-kali?"

"Benar. Saya pikir anak muda bercanda, tapi setelah Elisa bilang tidak, saya juga melarang dia ganggu."

Margaret menatap Mama Calvin Zhou. "Dengar? Anakku bukan tidak bicara. Orang dewasa di toko juga dengar. Yang tidak mau mendengar adalah putramu."

Mama Calvin Zhou membuka mulut. Tidak ada kata yang keluar.

Ama merasa panggungnya hampir hilang. Ia tiba-tiba meraih ujung selendang Vanessa dan mengangkatnya ke arah leher sendiri.

"Kalau nama cucuku hancur, untuk apa aku hidup?"

Margaret langsung memegang tangan Ama.

"Ama."

Ama berkedip.

"Akting cukup."

Ama menurunkan selendang, lalu bergumam, "Baru mulai enak."

Inspektur Felix benar-benar batuk kali ini.

Namun efeknya sudah cukup. Mama Calvin Zhou dan dua pengikutnya kelihatan pucat. Mereka mengira datang untuk membuat malu keluarga Lim. Ternyata di depan catatan, saksi, dan tiga perempuan yang lebih keras, cerita mereka berubah menjadi lubang.

Adrian mendorong selembar kertas.

"Tulis permintaan maaf. Delapan ratus kata tidak perlu. Tapi harus jelas: tidak ada hubungan apa pun antara Elisa dan Calvin Zhou; tuduhan menggoda tidak benar; Anda tidak akan mengulang di Jalan Pemuda atau tempat lain."

"Delapan ratus kata?" Mama Calvin Zhou hampir menangis.

Vanessa langsung berkata, "Kalau tidak sanggup, aku bantu dikte. Aku pintar membuat orang menangis."

"Tidak perlu!" kata Mama Calvin Zhou cepat.

Akhirnya ia menulis. Tangannya gemetar. Dua tetangga yang ikut menandatangani sebagai saksi. Setelah itu, di depan beberapa pedagang yang dipanggil dari Jalan Pemuda, ia membacakan permintaan maaf dengan suara kecil.

Elisa berdiri tegak.

Setiap kata yang dibaca Mama Calvin Zhou seperti mengangkat satu batu dari dadanya.

Ketika kalimat "Elisa tidak pernah menggoda Calvin Zhou" terdengar, Elisa akhirnya berani melihat ke arah para pedagang. Beberapa orang menunduk malu. Pemilik toko mengangguk kepadanya, kecil tetapi jelas.

Itu bukan kemenangan besar. Itu hanya jalan kecil agar besok ia bisa kembali bekerja tanpa merasa semua mata sedang menelanjanginya.

Setelah semua selesai, Margaret membawa Elisa keluar dari Polsek. Di halaman, Vanessa masih mengusap mata.

Adrian menatap istrinya. "Kau menangis sungguhan atau pura-pura?"

Vanessa berpikir. "Awalnya pura-pura. Tengahnya sungguhan. Akhirnya bangga pada diri sendiri."

Ama mengangguk serius. "Kau berbakat."

Margaret tidak bisa menahan senyum.

Untuk pertama kalinya, tiga generasi perempuan yang dulu sering saling menusuk itu berdiri di pihak yang sama tanpa perlu dijelaskan panjang.

Malamnya, Adrian mengajak Inspektur Felix makan di warung bakmi dekat Polsek. Tidak mewah, tetapi cukup pantas. Totalnya Rp 500.000 karena Adrian sengaja memesan beberapa lauk tambahan dan membungkus makanan untuk petugas jaga.

Inspektur Felix menerima dengan santai, bukan sebagai suap, lebih seperti hubungan baik orang yang tahu urusan Pecinan tidak pernah sederhana.

Di tengah makan, ia berkata pelan, "Ada hal kecil. Mungkin kalian perlu tahu."

Adrian langsung meletakkan sumpit.

"Apa?"

"Beberapa hari lalu ada yang menanyakan data KK Jason. Jalurnya bukan resmi laporan. Lebih seperti orang mencari celah. Aku dengar asalnya dari pihak Tan."

Margaret yang ikut duduk di ujung meja mengangkat mata.

"KK Jason?"

Inspektur Felix mengangguk. "Kartu keluarga. Kalau ada orang mau memakai status keluarga, pernikahan, atau alamat untuk menekan, biasanya mulai dari sana."

Adrian tidak bicara.

Margaret mengambil tisu, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di samping mangkuk.

Matanya menjadi tajam.

"Vincent belum selesai," katanya.

Di luar warung, lampu jalan berkedip.

Kali ini, perang kecil di Polsek baru saja membuka pintu ke urusan yang lebih berbahaya: surat keluarga.

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!