Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Balas Dendam Rian yang Mulai Menyusun Strategi
Di saat Paviliun Timur mansion aliansi Alberto di ibu kota diselimuti oleh kehangatan kasmir Milan dan aroma parfum mewah oud seharga puluhan juta rupiah, belahan bumi lain di sudut utara Surabaya justru sedang menguapkan aroma pembusukan moral yang pekat. Malam kian larut, meninggalkan sisa-sisa hujan tropis yang menyisakan genangan air comberan hitam berbau karat di sepanjang gang sempit kawasan pelabuhan.
Di dalam sebuah gudang logistik terbengkalai yang atap sengnya bocor dan terus-menerus meneteskan air dengan ritme yang monoton, sosok Rian duduk di atas sebuah peti kayu bekas palet pengiriman barang. Wajahnya yang kasar tampak kian kuyu, dipenuhi oleh guratan urat kemarahan yang membiru di bawah pendaran redup lampu bohlam lima watt yang berayun-ayun ditiup angin malam. Pakaiannya—sebuah kemeja flanel kumal dengan noda minyak jahit dan celana jins robek di bagian lutut—tampak kotor, merepresentasikan keruntuhan total dari silsilah kekuasaan domestik berskala kecil yang biasanya dia banggakan di depan Alessa.
Dua jam yang lalu, Rian baru saja menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana rumah petak kontrakan kumuh yang menjadi saksi bisu dari setiap sabetan ikat pinggang berdarahnya telah rata dengan tanah. Sebuah buldoser raksasa tanpa pelat nomor, dikawal oleh sekelompok pria tegap berjas hitam kaku yang fobia fasyun warna-warni, telah menghancurkan seluruh memori fisik tempat itu hanya dalam waktu tiga puluh menit linear. Tidak ada ganti rugi, tidak ada sosialisasi sepihak; yang ada hanyalah sebuah dekrit pembersihan mutlak yang ditinggalkan di atas puing-puing berupa selembar kertas berlapis emas dengan stempel resmi aliansi Alberto.
Kehilangan properti sewaan dan runtuhnya wilayah kekuasaannya bener-bener memicu gelombang kesedihan yang teramat mendalam di dalam diri Rian—bukan karena dia peduli pada estetika bangunan semen lumutan tersebut, melainkan karena hilangnya objek pelampiasan amarah pekatnya. Alessa, gadis semprul yang selama ini dia anggap sebagai aset hak milik absolut yang bisa diinjak-injak setiap kali dadu judi di Terminal Pasar Turi kalah berputar, kini telah resmi direngkut oleh kekuatan kosmik finansial yang terlalu masif untuk dia jangkau.
"Sialan! Bangsat!" Rian meraung parau, suaranya yang serak bergema di antara pilar-pilar gudang logistik yang lembap. Dia menghantamkan ikat pinggang kulitnya yang berkepala besi tebal ke atas permukaan peti kayu dengan bunyi dentang yang sangat kriminil, menciptakan cipratan air genangan ke udara. "Siapa bajingan berjas mahal itu?! Berani-beraninya dia membawa lari Alessa dan meratakan wilayah gue! Apa dia pikir dengan uang triliunan rupiahnya dia bisa membeli silsilah hak kepemilikan gue atas anak yatim piatu itu?!"
Kebingungan psikologis tingkat akut berpadu secara frontal dengan harga dirinya yang hancur berkeping-keping. Rian tahu, menghadapi pria seperti Giovanni Alberto secara langsung menggunakan otot kasarnya adalah tindakan bunuh diri massal dengan tingkat efisiensi waktu seratus persen. Namun, amarah dingin yang bergejolak di dalam lambungnya menolak untuk membiarkan aliansi tak tertulis itu berjalan mulus. Di duniaku yang serba hitam di pelabuhan Surabaya, pengkhianatan harus dibayar menggunakan silsilah darah, bukan dengan nota audit keuangan internasional.
Di sudut kegelapan gudang, sesosok pria kurus dengan tato jangkar kapal di lehernya perlahan melangkah maju. Pria itu adalah Gendut, tangan kanan Rian dalam urusan jaringan perjudian dadu ilegal sektor utara.
"Kang Rian..." kata Gendut, suaranya bergetar tipis menahan intimidasi dari aura keberingasan Rian malam ini. "Gue sudah menyuruh anak-anak buat melacak plat nomor mobil limusin hitam yang menjemput Alessa di Terminal Pasar Turi semalam. Laporannya bener-bener gak masuk akal, Kang. Semua data kepemilikan mobil itu dikunci oleh sistem yurisdiksi tingkat tinggi di ibu kota. Orang-orang kita yang mencoba mendekati area bandara kustom bahkan langsung menghilang tanpa sisa, kemungkinan besar ditarik ke sektor logistik utara oleh tim forensik mereka."
"Gue gak peduli!" Rian mencengkeram kerah baju Gendut dengan jemari tangannya yang kasar dan hitam penuh noda oli. "Biarpun bajingan kanebo kering itu punya imunitas diplomatik berlapis emas, dia pasti punya titik lemah! Alessa itu gadis semprul dari Surabaya. Dia gak bakalan bisa bertahan lama di dalam ekosistem mewah tanpa memicu guncangan kultural. Lidah sarkasnya pasti bakal bikin masalah di sana!"
Rian melepaskan cengkeramannya, lalu mulai berjalan mondar-mandir di atas lantai semen yang retak dengan ritme kaku yang sarat akan silsilah pembalasan dendam. Tameng rasionalitas kriminilnya mulai bekerja, menyusun strategi balas dendam yang tidak lagi mengandalkan konfrontasi fisik frontal, melainkan sebuah sabotase domestik tingkat tinggi.
"Dengar, Gendut," desis Rian rendah, matanya berkilat memancarkan kebencian yang pekat di bawah bayangan lampu bohlam yang berayun. "Kita tidak bisa menyerang markas mereka di ibu kota. Kamar baru Alessa di sana pasti luasnya setara lapangan sepak bola dengan penjagaan antipeluru tanpa toleransi kesalahan. Tapi... kita bisa menyerang reputasi finansial mereka lewat silsilah masa lalu Alessa."
"Maksud Kang Rian gimana?" Gendut mengernyitkan dahinya yang penuh keringat dingin.
"Alessa masih punya utang legalitas di toko roti milik Ko Alung," kata Rian dengan seulas senyuman getir dan kaku yang terukir di sudut bibirnya. "Dan jangan lupa... kontrak kerja pelarian yang dia tanda tangani dengan agensi digital ByteDance di mid-2024 belum sepenuhnya dicabut secara sepihak. Kalau kita menyebarkan dokumen palsu yang menyatakan bahwa Alessa adalah seorang buronan kriminil yang membawa lari modal perjudian sektor utara, aliansi Alberto pasti bakal mengalami distorsi fungsional dalam proses audit hukum mereka. Miliarder kaku itu gak bakal mau reputasi internasionalnya rusak cuma gara-gara melindungi seorang gadis semprul berwajah lebam!"
Strategi Rian kali ini bener-bener dirancang dengan ketelitian seorang penjahat kelas teri yang mencoba mengusik ketenangan raksasa finansial. Dia tahu betul bahwa di duniaku para elit, citra dan legalitas adalah aset kasta tertinggi yang harus dijaga dengan presisi sempurna. Dengan menyerang Alessa menggunakan silsilah utang masa lalu dan tuduhan konspirasi domestik, Rian berharap bisa memaksa Giovanni Alberto untuk membuang Alessa kembali ke jalanan tanpa alas kaki, tempat di mana ikat pinggang kulitnya sudah menunggu dengan kesadaran penuh untuk menyelesaikan silsilah penyiksaan yang tertunda.
"Kang..." Gendut menelan ludahnya dengan susah payah. "Tapi bagaimana kalau asisten pribadi bos besar itu, si Dion, mendeteksi pergerakan intelijen kita? Kemarin saja mereka meratakan ruko kontrakan kita tanpa suara dekoratif sedikit pun. Ini bener-bener konspirasi tingkat tinggi, Kang."
"Dion itu cuma robot fasyun hitam-putih yang bergerak pakai kalkulasi angka!" bentak Rian, amarahnya kembali meluap kasar, memukul pilar semen terdekat hingga buku jarinya berdarah tipis. "Mereka boleh punya teknologi kloset otomatis buatan Jepang atau paspor kover kulit domba kustom, tapi mereka gak punya insting bertahan hidup di dalam lumpur kemiskinan seperti kita! Kita bakal pakai jaringan preman pelabuhan sektor utara untuk menyusup ke jalur logistik makanan Paviliun Timur. Kita selundupkan dokumen masa lalu Alessa langsung ke atas meja makan marmer hitam mereka, tepat di samping piring kaviar tiga puluh juta rupiah milik mereka!"
Rian menarik napas panjang, menatap darah yang merembes di sela-sela buku jarinya dengan tatapan hampa yang dipenuhi janji proteksi kegelapan. Konfrontasi domestik baru ini telah resmi dia deklarasikan di bawah atap gudang logistik yang bocor ini.
Dia mengeluarkan sebuah foto usang dari dalam saku flanelnya—sebuah foto Alessa saat masih mengenakan hijab biru pudar dengan ekspresi wajah ketakutan yang masif sebelum pelariannya semalam. Dengan gerakan kaku penuh kebencian, Rian menyulut ujung foto tersebut menggunakan korek api gas murahnya, membiarkan api membakar habis wajah sang gadis sarkas hingga menyisakan abu hitam yang hanyut di dalam genangan air comberan.
"Nikmati saja dulu gaun merah beludru kasmir kasta tertinggimu itu, Alessa," bisik Rian lirih, suaranya mengandung getaran ancaman pembunuhan karakter yang sangat kriminil. "Nanti, waktu silsilah utang masa lalumu ini sampai di tangan Il Miliardario, kita lihat saja apakah bisikan sei bellissima miliknya masih berlaku, atau dia sendiri yang bakal melemparmu kembali ke pelukan ikat pinggang gue dengan tingkat efisiensi waktu sembilan puluh delapan persen. Permainan strategi balas dendam ini baru saja dimulai, Gadis Semprul."
Malam kian larut di pelabuhan Surabaya, menenggelamkan gudang terbengkalai itu ke dalam keheningan yang sarat akan kalkulasi rencana kotor. Di tempat lain yang terpisah ratusan kilometer linear, roda takdir aliansi Alberto dan gadis bergaun merah kian berputar mendekati pusaran badai sabotase domestik yang siap menguji seberapa kuat kertas berlapis emas mampu menahan hantaman masa lalu yang menolak untuk rata dengan tanah.