Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Pintu dapur tertutup perlahan setelah Santi pergi. Menyisakan suasana hening yang menggantung cukup lama di antara Feryal dan Bilal.
Feryal masih duduk diam di kursinya, pikirannya sibuk mencerna banyak hal sekaligus. Tentang mamanya maupun tentang percakapan barusan.
Dan tentang ajakan misterius untuk besok pagi yang entah kenapa membuat perasaannya kembali tidak tenang.
Sementara itu Bilal berjalan mendekat pelan lalu duduk di kursi sebelahnya.
“Kamu nggak apa apa?” tanyanya lembut.
Feryal menghembuskan napas panjang. “Aku nggak ngerti harus lega atau malah makin takut.”
Bilal tersenyum kecil. “Berarti masih normal" Feryal melirik kecil “kamu bisa santai banget ya.”
“Bukan santai" jawab Bilal pelan. “Aku cuma belajar kalau nggak semua hal harus diselesaikan malam ini juga.”
Deg. Kalimat itu mengingatkan Feryal pada dirinya sendiri beberapa waktu lalu. Saat ia selalu ingin jawaban cepat untuk semua kegelisahannya.
Kini perlahan ia mulai sadar… beberapa hal memang butuh waktu untuk dipahami.
Ponselnya kembali bergetar kecil di atas meja, Kaizan lagi. “Insting gue bilang suasana abis tegang. Tapi lo masih selamat kan anak Bali?” Refleks Feryal terkekeh kecil.
Bilal yang melihat perubahan ekspresi istrinya ikut mengangkat alis tipis. “Si indigo itu lagi?” tanya Bilal penasaran.
“Iya.” jawab Feryal sambil menggeleng geli. “Kadang aku bingung dia manusia apa antena berjalan" celetuk Feryal yang membuatnya lucu sendiri akan kelakuan teman balapannya itu.
Bilal terkekeh pelan untuk pertama kalinya malam itu. “Dia emang terlalu peka.”
Feryal mengangguk. “Tapi dia baik.”
Dan memang begitu. Kaizan tidak pernah hadir sebagai seseorang yang mencoba mengambil tempat tertentu di hati Syahira ataupun Feryal.
Ia hanya seseorang dengan insting yang terlalu tajam, yang sering kali bisa membaca suasana bahkan sebelum orang lain sadar apa yang sedang mereka rasakan. Kadang menyebalkan, kadang terlalu tepat.
Tapi justru itu yang membuat keberadaannya terasa penting bagi orang orang di sekitarnya. Feryal membalas singkat “masih hidup. belum meledak.”
Balasan datang cepat “syukurlah. Gue males kalau harus terbang ke Bali buat jadi tim evakuasi mental.”
Feryal langsung tertawa kecil kali ini. Tawanya ringan, tulus, dan cukup membuat Bilal memandangnya beberapa detik lebih lama.
Karena sudah lama sekali ia tidak melihat Feryal setenang itu setelah pembicaraan berat. “Apa?” tanya Feryal sadar diperhatikan.
“Nggak apa apa.” Bilal menggeleng kecil. “Aku cuma suka lihat kamu ketawa lagi.”
Deg. Feryal langsung salah tingkah dan buru buru mengunci layar ponselnya “Gombal.”
“Fakta.”
“Halah" Bilal hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya berdiri. “Udah malam. Istirahat yuk," Feryal mengangguk pelan.
Namun saat mereka berjalan menuju tangga, langkah Feryal perlahan melambat. Pikirannya kembali pada ucapan mamanya tadi. Besok pagi temani mama ke suatu tempat.
Entah kenapa… instingnya mengatakan bahwa pertemuan itu tidak akan sederhana.
Dan di sisi lain rumah, di dalam kamarnya sendiri, Santi berdiri di depan jendela sambil memandangi langit malam Bali yang tenang, tatapannya jauh, pikirannya penuh.
Ia teringat sorot mata Feryal tadi. Cara putrinya memandang Bilal. Cara Bilal menjaga jarak namun tetap selalu ada di sisi Feryal, Santi memejamkan mata pelan.
“Kenapa hidup kamu jadi sesulit ini, Fey…” bisiknya lirih. Karena sebagai seorang ibu, Ia mulai sadar.
Cepat atau lambat, akan tiba saat dimana Feryal harus menentukan sendiri jalan hidupnya. Malam semakin larut saja, suara jangkrik saja sudah mulai terdengar dari kejauhan dari luar rumah.
Bercampur dengan hembusan angin Bali yang tenang namun entah kenapa terasa dingin malam itu. Dikamar feryal dudul di tepi temoat tidur sambil memeluk lututnya pelan. Kedua netranya menatap kosong lantai.
"Bi,.."
"Hmm?" sahut Bilal yang sedang merapikan koper mereka. "Kalau besok Bunda marah sama aku gimana?."
Gerakan Bilal terhenti sesaat, ia menoleh perlahan, lalu berjalan mendekat sebelum duduk di depannya.
"Ya kiga hadapin ya."
“Kalau bunda nyuruh aku buat milih gimana?."
Deg. Bilal terdiam beberapa detik, namun kali ini, ia menggenggam tangan Feryal erat.
"Aku enggak akan rebut kamu dari ibu kamu,..Fey," ucapnya pelan.
"Tapi aku juga nggak akan ninggalin kamu sendirian."
Kalimat itu membuat dada Feryal kembali terasa penuh. Hangat,..tapi juga menyakitkan di waktu yang sama.
Karena semakin Bilal bersikap tenang seperti itu, semakin ia sadar bahwa pria itu benar benar sedang berusaha menjaga dirinya tanpa menekan sedikitpun.
Feryal menunduk pelan, jemarinya menggenggam tangan Bilal lebih erat tanpa sadar.
"Aku takut nyakitin salah satu dari kalian," bisiknya lirih.
Bilal menghembuskan napas pelan lalu mengusap punggung tangan istrinya perlahan.
"Kamu enggak harus jadi musuh siapa siapa cuma karena lagi mencari jawaban biat diri kamu sendiri."
Suasana jadi hening seketika, namun kali ini bukan hening yang menyesakkan. Melainkan hening yanh perlahan membuat Feryal merasa dipahami.
Bilal lalu tersenyum kecil, berusaha sedikit mencairkan suasana. "Lagi pula,..bunda kamu belum lempar sandal ke aku kan?" Feryal langsung menoleh cepat. “Bilal!”
“Apa? Itu indikator bahaya tingkat tinggi.” Refleks Feryal tertawa kecil meski matanya masih terlihat lelah. Dan suara tawanya itu membuat Bilal diam beberapa detik lebih lama.
Rasanya sudah lama sekali sejak ia bisa membuat Feryal tertawa tanpa ada jarak diantara mereka, “Makasih ya,” gumam Feryal pelan, Bilal mengernyitkan dahinya heran.
“Untuk?” tanya Bilal.
“Masih sabar" sahut Feryal dan Bilal menggeleng kecil. “Aku juga banyak salah, Fey.” Keduan netra mereka pun bertemu sesaat. Tidak ada lagi ego yang saling bertahan seperti dulu. Yang tersisa hanyalah dua orang yang sama sama sedang belajar memperbaiki bagaimana caranya mencintai satu sama lain.
Dan di luar kamar, langkah kaki terdengar pelan melewati lorong atas, Bunda Santi, wanita itu berhenti sebentar di dekat kamar putrinya. Tidak sengaja mendengar suara tawa kecil dari dalam kamar Feryal.
Dan entah kenapa dadanya terasa sesak dan karena ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui terlalu cepat dan begitu khawatir dibuatnya.
Dikarenakan Bilal bukan sekadar hadir pada kebidupan anak sulungnya, Pria itu benar benar menjadi tempat pulang untuk putrinya. Santi memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya kembali berjalan menuju kamarnya sendiri.
Sementara di dalam kamar, Feryal akhirnya merebahkan tubuh perlahan di kasur. Lampu kamar sudah diredupkan dan Bilal ikut berbaring disampingnya, menjaga jarak nyaman seperti sebelumnya. “Tidur ya,” ucap Bilal pelan. Feryal mengangguk kecil.
Namun beberapa detik kemudian, “Bi?” tanya Feryal.
“Iya?” sahut Bilal.
“Kalau besok aku nangis malu nggak ya?” Bilal langsung menoleh sambil menahan senyumnya.
“Nggak" sahutnya singkat.
“Kalau aku kabur?” tanyanya lagi.
“Nanti aku kejar" sahutnya lagi
“Kalau aku panik?”Bilal tersenyum kecil kali ini. “Ya ampun Feyku sayang ya pasti ku temenin dong, kan kamu istfiku sayang.”
Deg. Feryal menatap langit-langit kamar sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Dan untuk pertama kalinya menjelang pertemuan besar itu, rasa takutnya tidak lagi terasa sepenuhnya gelap.
Karena sekarang, ada seseorang yang berdiri disampingnya. Bukan untuk menentukan jalannya melainkan untuk tetap tinggal karena apapun pilihannya yang nanti harus ia hadapi selanjutnya.